
Saat sedang berselfy dan berfoto bersama dengan Utari, aku bisa melihat Yoga mengarahkan ponselnya ke arah kami, sepertinya diam-diam di ikut mengambil foto kami berdua. Aku ingin melarangnya, tapi aku takut Yoga mengelak sengaja mengambil fotoku, karena di dalamnya ada gambar Utari juga, yang tidak lain adalah calon istrinya.
Terpaksa aku berpura-pura tidak melihat apa yang Yoga lakukan. Dan kembali melanjutkan aktifitas mengambil gambar sebanyak- banyaknya.
Bian dan yang lain memasang tenda untuk tidur kami, ternyata bukan hanya rombongan kami yang sedang melakukan pendakian, di sini ada beberapa tenda lain dari rombongan pendaki yang berbeda. Entah dari daerah mana mereka berasal, saat ku perhatikan kebanyakan adalah laki-laki, dan mereka juga sama, baru sampai dan baru mendirikan tenda.
Setelah puas berfoto-foto, aku dan Utari bergabung dengan yang lain membantu mendirikan tenda untuk bermalam nanti, Bian membuat api unggun untuk kami menghangatkan badan, karena semakin malam, udara di atas gunung terasa semakin dingin. Pantas saja Bian kekeh membelikan aku jaket yang sangat tebal saat di mall kemarin, meski aku sudah berusaha menolak, ternyata inilah alasannya. Udara di sini sangat dingin, meski kami sudah duduk melingkari api unggun.
Jaket tebal dengan harga hampir satu juta, harga yang bagiku tidak masuk akal saat itu, tapi kini jadi masuk akal, karena dengan menggunakan jaket tebal pemberian Bian ini tubuhku mulai merasa hangat. Hanya saja kaki dan bagian wajahku masih terasa agak dingin karena tidak tertutupi oleh jaket.
Bian dan Riko merebus air untuk membuat kopi, juga membuat mie rebus untuk kami makan malam. Masih ada sosis yang sengaja Haidar bakar di perapian, dan juga nasi yang tadi kami beli saat di warung makan.
Aku jadi teringat saat tadi Bian menanyakan kemana pemilik warung nasi terdahulu, yang disebutnya dengan nama Mbah Gono pada pemilik yang sekarang. Ternyata beliau sudah tiada, karena sakit yang dideritanya beberapa bulan lalu. Saat mendengar berita itu, Bian dan ketiga kawannya nampak sedih, mungkin Mbah Gono adalah orang yang baik, sehingga mereka berempat merindukannya. Sayangnya mereka tidak bisa bertemu lagi karena ternyata Mbah Gono sudah tiada.
" Makan dulu, karena kami nggak bawa tempat buat makan, kita biasanya makan langsung di pancinya. Kalian berdua nggak papa kan kalau makan se panci berenam bersama kita?".
Haidar menyodorkan panci yang tadi untuk merebus mie, sudah ada nasi yang dimasukkan kedalamnya dan juga sosis bakar.
" Sini, biar aku suapi calon istriku pakai tangan ku saja, biar kesannya romantis, padahal sih karena lupa nggak bawa sendok, dan ngirit biar nggak buang air minum terlalu banyak buat cuci tangan ", gumam Bian.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. " Bukankah masih ada roti di tas, kenapa tidak makan roti saja?", tanyaku.
" Jangan...!", seru mereka berempat kompak.
Aku dan Utari saling menatap, kemudian tertawa mendengar kekompakan mereka melarang ku memakan roti. " Memangnya kenapa kalau makan roti?", tanyaku penasaran.
" Roti itu untuk sarapan pagi besok, sudah ada jadwalnya masing-masing. Nggak boleh dirubah", ujar Riko.
" Ayo makan nasi ini saja, biar bisa tidur nyenyak malam ini, bukankah perut kenyang, tidurpun nyaman", gumam Haidar.
Kami berenam makan bersama dari satu panci. Tapi jujur entah karena lapar atau karena udara yang dingin, membuat nasi dengan lauk mie dan sosis bakar ini terasa sangat nikmat. Kami semua sudah kenyang dan tinggal menunggu rasa kantuk datang, udara makin malam semakin terasa dingin menusuk tulang. Setelah mencuci tangannya, Bian duduk dibelakang ku dan mengapit ku di antara kedua kakinya, memelukku dengan sangat erat dari belakang.
" Biar kamu nggak kedinginan", gumamnya, sambil menggosok-gosokkan tangannya kemudian di tempelkan di pipiku yang sangat dingin, agar aku merasa hangat.
Bian langsung mendapat protes dari Riko dan Haidar, karena membuat iri mereka yang datang tanpa membawa pasangan. Juga mendapatkan tatapan tajam dan kesal dari Yoga yang duduk disebelah Utari, namun hanya bersebelahan saja tidak seperti Bian yang dengan cepat berinisiatif memeluk tubuhku.
Ku biarkan Bian memelukku, memang udara dingin, meski sudah memakai jaket, dengan dipeluk Bian jadi lebih hangat, mungkin Bian juga butuh kehangatan. Sama seperti aku yang sedang kedinginan, karena itulah Bian memelukku.
Ku lihat Yoga berdiri dan berjalan menjauh dari api unggun sambil membawa botol air mineral yang sudah kosong , alasannya ingin buang air kecil. Semua percaya begitu saja dengan ucapannya. Padahal bisa aku lihat, Yoga terlihat begitu kesal dengan sikap Bian terhadapku. Tapi Yoga tidak bisa melarang ataupun protes dengan perlakuan Bian padaku. Kami calon suami istri dan akan menikah sebentar lagi.
Malam ini cuaca terang benderang, dan langit terlihat sangat cantik, dari tempat kami berada, jika menatap ke atas, seolah kita sedang diselimuti jutaan bintang, benar-benar indah dan menakjubkan. Persisi seperti di film-film romantis yang pernah aku tonton di YouTube.
Aku sengaja menengadah dan menyandarkan kepalaku di bahu Bian, Bian berkali-kali mengecup keningku. Dan masih aku biarkan, namun aku mengingatkannya, " Jangan berlebihan, kasihan yang lain cuma sendiri ke sini", ucapku menghentikan perlakuan Bian yang semakin menjadi.
Bian hanya mengangguk, dan menghentikan aksinya yang sejak tadi terus mengecup keningku berkali-kali.
" Aku sudah ngantuk nih Ra... kita masuk kedalam tenda yuk...", Utari mengajakku masuk ke dalam tenda. Namun Bian justru semakin erat memelukku.
" Raya belum ngantuk, dia masih ingin menikmati keindahan bintang-bintang, kamu masuk saja dulu kedalam tenda, nanti Raya nyusul, iya kan Ra....", ucap Bian dengan penuh penekanan.
Padahal tadi aku hendak setuju dan masuk ke tenda mengikuti Utari untuk tidur lebih awal, agar tidak merasakan betapa dinginnya malam ini. Namun sepertinya Bian menginginkan aku tetap berada di posisiku saat ini.
Aku tahu Bian belum mengijinkan aku masuk tenda dan tidur, dan memang benar aku belum mengantuk, bagaimana bisa aku mengantuk jika jantungku berdegup kencang seperti saat ini, ketika Bian memelukku dari belakang. Aku bisa merasakan jantung Bian yang juga berdetak cepat karena berada pada posisi begitu dekat denganku.
Tapi keadaan ini membuat tubuh kami terasa lebih hangat, jantung yang memompa darah lebih cepat membuat kami merasa hangat karena darah kami yang mengalir lebih cepat di dalam tubuh.
Aku jadi merasakan kedamaian saat berada dekat dalam pelukan Bian seperti saat ini, di atas pegunungan dengan udara malam yang dingin, langit hitam dengan taburan bintang yang sangat indah. Persis dengan bayanganku dulu saat aku masih SMP.
Dulu aku selalu menginginkan berkemah dan mengikuti kegiatan api unggun seperti saat ini, bermain gitar dan bernyanyi bersama-sama dengan yang lain, menatap keindahan langit malam bertabur bintang bersama orang yang aku sayang. Hanya saja orang yang dimaksud sudah berbeda.
Jujur... dulu aku membayangkan melakukan hal seperti ini bersama Yoga. Bukan Bian, karena dulu aku hanya menganggap Bian sebagai sahabatku saja.
Sedangkan Yoga, dia adalah laki-laki yang sangat aku cintai saat itu, bukankah hal yang wajar aku membayangkan melakukan hal yang romantis bersama laki-laki yang aku sayang?.
Ya Tuhan.... apa yang aku pikirkan, kenapa justru tiba-tiba kepikiran dengan Yoga, otakku pasti sedang konslet karena udara yang semakin dingin. Dan kemana pria menyebalkan itu, bukankah tadi dia pamit untuk buang air kecil, kenapa sampai sekarang belum kembali-kembali, seharusnya dia sudah kembali dan berkumpul bersama kami disini?.
" Ya sudah kalau begitu aku masuk ke tenda duluan ya Ra..., nanti kalau kamu sudah ngantuk, langsung nyusul masuk kedalam saja", suara Utari membuat aku tersadar dari lamunan.
Aku mengangguk, " Iya Ri, kamu tidur duluan saja, nanti kalau aku sudah ngantuk aku segera nyusulin kamu ke tenda", jawabku.
" Selamat malam semuanya, aku tidur duluan ya, soalnya tambah malam tambah dingin, aku nggak kuat duduk diluar lama-lama", ucap Utari. Utari pun masuk ke dalam tenda yang berada persis di belakang posisi dudukku. Haidar dan Riko hanya melambaikan tangan pada Utari yang juga melambaikan tangan pada kami saat memasuki tenda.
" Steve kok nggak balik-balik, apa dia bergabung dengan grup pendaki lain?, ini sudah lama sejak dia pamit untuk buang air kecil tadi, apa nggak papa pergi lama-lama?", tanyaku yang mulai khawatir ada salah satu dari rombongan yang tak kunjung kembali. Bukan karena Yoga spesial, jika pun yang lain yang pergi lama, aku juga akan mengkhawatirkan nya.
" Nggak papa, mungkin dia lagi gabung sama pendaki dari grup lain, atau sedang menatap bintang sendirian di suatu tempat, nanti juga dia balik, ini bukan pertama dia begini, Steve memang sering duduk sendirian sambil menatap bintang, seperti kamu. Dia bilang dulu cinta pertamanya pernah menginginkan untuk berkemah, dan melihat bintang di langit bersama-sama. Namun sepertinya itu belum kesampaian, karena mereka sudah putus duluan sebelum mewujudkan hal tersebut".
Aku menatap Bian yang sedang menjelaskan kisah Yoga lirih di samping telingaku. Bagaimana bisa Bian mengerti begitu banyak tentang Yoga. Apa Bian tahu siapa nama cinta pertama Yoga?, jangan-jangan sebenarnya dia sudah tahu, tapi tetap diam, karena nama Raya itu ada banyak sekali di dunia ini.