Healing

Healing
78. Kebetulan yang Direncanakan



Saat aku dan Bian berjalan keluar dari butik, di ikuti salah satu karyawan butik yang membawakan koper berisi gaun dan kebaya pengantin yang akan aku pakai jumat besok, Kami berdua berpapasan dengan Yoga dan Utari. Ternyata memang benar mereka berdua ada disini. Untung saja Juna sudah pulang terlebih dahulu.


Utari dan Yoga keluar dari ruang manager butik, dan berjalan keluar juga diikuti oleh dua karyawan butik yang masing-masing membawa koper besar di tangannya. Ya tentu saja pasti gaun Utari tidak muat jika di masukkan ke dalam satu koper saja, karena ada 3 gaun pengantin dan satu kebaya yang dipesannya.


" Hai calon pengantin..!, senang sekali bisa ketemu lagi disini, kenapa pas kebetulan banget tiap datang ke sini kita bisa ketemu begini. Padahal ngatur jadwal yang aku dan Steve sama-sama senggang itu lumayan susah lho..., tapi selalu kebetulan bisa bareng kalian, bukankah itu sebuah kebetulan yang aneh".


Benar sekali ucapan Utari, sungguh kebetulan yang aneh, atau jangan-jangan Yoga punya mata-mata yang mengawasi ku, sehingga bisa tahu kemana saja aku pergi, dia mengikuti ku tiap aku ke sini, dan seolah semuanya dibuat menjadi seperti sebuah kebetulan.


Dan seperti biasa Utari selalu menyapa kami terlebih dahulu dengan sikap riangnya. Hal ini lah yang membuat aku merasa sangat bersalah saat aku dan Yoga kembali berbuat kesalahan kemarin. Aku merasa menjadi wanita yang sangat jahat karena melakukan hubungan gelap di belakang pasangan kami. Seolah aku menjadi tokoh antagonis yang hampir saja mengacaukan rencana pernikahan gadis sebaik Utari.


Apalagi Yoga diam-diam sudah membangun rumah untukku dan Shaka, rumah yang sangat besar dan terletak di dekat pantai, sungguh indah pemandangan disana, meski secara terang-terangan aku sudah menolak rumah itu. Karena aku merasa tidak pantas mendapatkan itu semua.


Dulu kami memang berpacaran, namun aku menyayangi nya dengan tulus. Menyayangi anak SMP yang belum berpenghasilan, anak SMP yang dengan berani mendekati ku dan menyatakan cinta pada ku, yang dengan berani datang ke rumah, berusaha akrab dan mendekati keluargaku sebagai bukti keseriusannya.


Namun sayang kami harus menghentikan hubungan yang kami jalin karena kesalahan yang kami lakukan, apalagi setelah kedua orang tua kami sama-sama sudah kecewa dengan keputusan masing-masing pihak.


Sedikitpun aku tidak pernah mengharapkan Yoga memberikan harta bendanya padaku, dulu aku menyayangi nya bukan karena di anak orang kaya. Tapi karena ketulusan dan sikap baik yang selalu Yoga tunjukkan padaku. Hingga semua rasa sayang untuknya menjadi hilang karena sikap Yoga yang berubah karena keadaan kami yang rumit.


" Mungkin saja ini bukan kebetulan, tapi sesuatu yang sudah di rencanakan", ucapku menanggapi Utari.


Utari dan Bian langsung menatap aku penuh tanya, hanya Yoga yang melirik sebentar dan kembali membuang pandangannya.


" Iya... kan aku dan Bian memang sudah merencanakan hari ini akan mengambil gaun pengantin ke sini. Bukankah itu adalah sesuatu yang sudah direncanakan?".


" Dan kalian berdua bukankah juga sudah merencanakan jauh-jauh hari saat mencari jadwal kapan mau kesini, jadi pertemuan kita ini adalah kebetulan yang sudah direncanakan bersama pasangan kita masing-masing. Bukan keputusan dadakan yang tanpa direncanakan".


" Oh ya maaf banget nggak bisa ngobrol lama, aku sama Bian mau balik, urusan sewa menyewa sudah beres, apa kalian juga sudah beres urusan baju pernikahan nya?".


Utari langsung mengangguk, " Untung diet aku selama sebulan ini berhasil, jadi tubuh aku tetap sama seperti waktu pengukuran. Kalau aku makan seperti biasa tiga kali sehari, sudah pasti bentuk tubuhku akan berubah", ucap Utari.


Padahal kalau menurutku sih tubuh Utari justru terlalu kecil, kalau lebih berisi sedikit lagi, mungkin Utari akan terlihat lebih seksi. Dan mungkin Yoga akan dengan mudah melupakan aku karena tubuh seksi Utari, sayangnya tubuh Utari terlalu langsing.


" Kita makan siang bareng yuk... tapi jangan di restoran Bian, kali ini aku mengundang kalian untuk makan siang di tempat yang kemarin di rekomendasikan sama teman aku, agak jauh sih tempatnya, sekitar 2 jam perjalanan, karena restoran nya di sekitaran pesisir pantai, disana masakan seafood nya enak banget. Gimana, kita kesana?", ajak Utari.


Bukankah tadi Utari sendiri yang mengatakan jika dirinya sedang diet, jadi diet macam apa yang mengajak kami semua makan siang di restoran seafood.


Aku menatap Bian, meminta pendapatnya. " Aku terserah sama Bian saja, memang belum ada rencana mau kemana hari ini, awalnya aku berniat menghabiskan waktu di rumah saja".


" Ya sudah kita berangkat ke sana sekarang. Di jamin nggak akan kecewa dengan masakannya, meski harus capek karena menempuh perjalanan cukup lama, tapi rasa capek itu akan terbayar setelah menikmati masakan di sana", Utari berusaha meyakinkan Bian.


Bian yang jago masak jadi penasaran dengan olahan seafood yang menurut Utari rasanya sangat enak itu seperti apa. Dan Bian setuju untuk makan siang bersama.


" Boleh juga, mau pakai mobil siapa?", tanya Bian.


" Mobilku saja, biar mobil kamu tetap di sini Bi".


Ternyata Yoga dan Utari datang ke butik menggunakan mobil Utari, katanya biar koper yang berisi gaun langsung masuk bagasi mobil Utari dan bisa langsung dibawa pulang tanpa memindah-mindahkan lagi.


" Ya sudah, boleh juga, kita berangkat sekarang?, sudah jam 11, mungkin belum sampai tempat tujuan aku sudah lebih dulu merasa lapar. Sebaiknya aku ke minimarket dulu, beli biskuit atau apa saja yang bisa buat ganjel perut", ucap Bian.


Kami pun berangkat menggunakan mobil Utari, Yoga dan Bian duduk di depan, karena Utari minta duduk di belakang bersamaku. Tentu saja agar bisa ngobrol berdua dengan leluasa.


Mobil berhenti saat kami melewati minimarket, Bian turun dan membeli empat botol minuman bersoda, dan beberapa macam biskuit dengan berbagai varian rasa, ada yang rasanya manis, asin dan juga pedas. Sepanjang jalan Bian ngemil biskuit sambil ngobrol santai dengan Yoga, sedangkan aku dibelakang harus mendengarkan Utari yang bercerita tiada henti.


Perjalanan yang ternyata memerlukan waktu tidak sampai 2 jam, dan aku ternyata cukup familiar dengan rute perjalanan ini, bahkan sangat faham dengan jalan yang kami lewati, ini mirip rute saat kemarin aku pulang dari rumah Yoga. Atau jangan-jangan Utari juga tahu kalau Yoga punya rumah di daerah pesisir?. Entahlah....


Yang jelas rumah Yoga harusnya dari perempatan belok kanan, sedangkan restoran seafood dari perempatan masih lurus, memang tidak terlalu jauh, dan jika di kira-kira bisa di tempuh dengan jalan kaki dari rumah Yoga ke restoran ini.


Restoran seafood yang letaknya tidak terlalu jauh dari bibir pantai. Dengan konsep restoran yang makannya di gazebo-gazebo kecil yang terpisah.


Saat kami masuk kedalam, Utari memilih tempat duduk lesehan di gazebo yang atapnya terbuat dari daun kering. Posisi gazebo yang menghadap ke pantai membuat suasana makan siang terasa lebih indah.


Sebelum masakan yang kami pesan jadi, kami disuguhi dengan kelapa muda yang baru memetik dari pohonnya, sungguh terasa manis dan sangat segar. Membuat rasa haus seketika hilang dengan sendirinya.


" Harusnya nanti setelah menikah, kamu buka cabang restoran Bi, di kota sebelah, atau di kota ini, kan di restoran kamu sudah ada Riko yang handle, aku jamin pasti bakalan rame restoran kamu, karena masakan di restoran kamu itu memang sangat lezat. Karena itulah aku setuju waktu Steve menyarankan pernikahan kami memesan makanan dari restoran kamu".


Bian mengangguk, " memang sudah ada rencana, aku dan Riko juga sudah mencari lokasi yang strategis untuk membuka cabang restoran, ada beberapa tempat yang kami incar, tapi belum kami putuskan mau ambil yang dimana karena ada tiga tempat yang menurut kami sangat strategis".


" Apa aku boleh tahu dimana saja?, mungkin aku bisa mengira-ngira dimana yang paling strategis, siapa tahu pendapat ku bisa dijadikan tolak ukur", ujar Utari.


" Kenapa kamu terlihat sangat tertarik dengan bisnis?, apa pekerjaan menjadi dokter gigi itu membosankan?", tanya Bian.


Semenjak tadi hanya Bian dan Utari yang terus mengobrol, seperti biasa, jika ada Utari, Yoga selalu menyetel mode sunyi. Alias sedikit bicara. Aku sudah tidak heran dengan hal itu. Yoga berlagak so cool, padahal jika sedang berdua saja denganku, Yoga itu seperti ibu-ibu tetangga yang banyak bicara.


" Tidak juga Bi...., aku hanya tertarik saja, dan pengen tahu banyak tentang teman-teman Steve, biar ada bahan obrolan kalau tiba-tiba ketemu di jalan".


" Oh ya, ada yang mau aku tanyakan juga. Apa Raya akan tetap bekerja setelah kalian nanti menikah?", pertanyaan Utari kali ini membuat Yoga yang sejak tadi bermain-main dengan ponsel langsung menatap ke arahku. Pasti Yoga penasaran dengan jawaban Bian.


" Aku akan menjadikan Raya pendamping hidupku, itu artinya Raya akan terus mendampingi ku dimana pun berada. Baik di rumah, di restoran, ataupun saat bepergian. Raya sudah bukan karyawan ku lagi, setelah menikah besok otomatis dia menjadi istri pemilik restoran, jadi buat apa bekerja. Aku akan mencukupi semua kebutuhannya, dari kebutuhan lahir, sampai kebutuhan batin. Akan ku cukupi semua kebutuhan Raya sebagaimana tugas seorang suami terhadap istrinya".


Ucapan Bian membuat raut wajah Yoga nampak tidak senang. Aku bisa melihat Yoga membuang pandangan dan menatap pasir yang ada di bawah sana. Seperti menahan amarah yang sudah hampir meluap.