
" Mumpung belum terlalu malam, mampirlah ke apotek untuk membeli salep yang bisa membuat luka cepat sembuh dan kering".
" Lihatlah wajah kamu sekarang, kamu seperti anggota geng mafia yang mau menikah, ada banyak sekali luka di wajah. Padahal kan besok lusa itu momen penting, dan akan di ambil foto sebanyak-banyaknya. Harusnya kalian berdua itu berfikir sampai ke sana, dan tidak terbakar emosi hingga menimbulkan luka seperti itu".
Aku masih saja berusaha menasehatinya agar Bian tidak kembali tersulut emosi seperti sore tadi.
" Cih... sebenarnya aku enggan membahas tentang si brengsek itu, tapi kamu harus tahu Ra, tadi sore akhirnya Utari tahu semuanya dari Steve sendiri. Seperti orang gila dia mengungkap rahasia yang selama ini di simpannya sendiri, Steve menceritakan semua sisi buruknya di masa lalu pada Utari".
" Kamu tahu sendiri kan Utari itu tipe orang yang sangat ceria, tapi saat mendengar pengakuan Steve dia langsung pingsan disana, dan konyol nya, bukannya membantu Utari dan menggendongnya ke mobil, dia malah menyuruh satpam butik untuk mengangkat Utari dan mengantar ke rumah sakit. Entah laki-laki macam apa yang tidak perduli saat calon istrinya pingsan, bahkan membiarkan calon istrinya di gendong orang lain".
" Kalau aku jadi dirinya, aku pasti akan langsung panik melihat kamu pingsan di depanku, aku pasti langsung menggendong mu dan membawamu ke rumah sakit. Aku jadi semakin yakin kalau selama ini Steve memang tidak pernah mencintai Utari, dia hanya setuju saja dengan perjodohan itu, sebagai bentuk kompromi ".
Bian sedang berusaha menceritakan keburukan Yoga padaku, aku paham dia berusaha membuat Yoga terdengar buruk olehku, sebenarnya Bian berlebihan melakukan hal itu. Karena tanpa menceritakan keburukan Yoga, akulah orang yang paling tahu tentang semua sifat buruknya.
Hanya saja kali ini berbeda. Semua keburukan Yoga yang diceritakan oleh Bian justru menjadi nilai positif Yoga bagiku. Yoga memang pernah mengatakan jika sejak dulu hanya aku yang dicintainya, hanya aku wanita yang sudah disentuhnya. Dan cerita Bian tadi membuatku berpikir, jika apa yang pernah di ucapkan Yoga padaku beberapa waktu lalu bukanlah sebuah kebohongan.
Yoga memang tidak pernah menyentuh perempuan lain, meski perempuan itu adalah Utari, tunangannya, yang sebentar lagi akan sah menjadi istrinya.
Benarkah jika aku meminta pada Yoga agar tidak menyentuh istrinya, maka dia tidak akan menyentuhnya sama sekali?. Tapi aku tidak pernah meminta hal itu pada Yoga, lalu kenapa Yoga tetap tidak mau menyentuh Utari meski dalam keadaan darurat seperti tadi saat Utari pingsan?, bahkan Yoga menyuruh security untuk menggendong dan mengantar Utari ke rumah sakit.
" Kamu kenapa malah melamun Ra?, dan itu... dari siapa?", Bian menunjuk kalung yang sedang ku pakai.
" Hah?... oh ini kado dari Juna dan Shaka, kata mama, tadi siang mereka berdua muter-muter nyari kado untukku. Karena penasaran langsung aku buka deh kadonya, di depan mereka berdua, dan ternyata hadiahnya cantik banget, kalung dengan liontin berbentuk love dan ada permata merah di tengahnya. Aku jadi terharu karena mereka begitu perhatian padaku Bi. Langsung aku pakai deh kado dari mereka, Shaka yang memakaikannya tadi. Mereka sangat bahagia karena aku menyukai kadonya".
Bian tersenyum sambil menghembuskan nafas lega. " Syukurlah kalau itu dari Juna dan Shaka, aku sempat berfikir buruk, kalau itu dari Steve, maaf", ujar Bian jujur.
Aku hanya mengernyitkan keningku, karena sejak mengetahui bahwa laki-laki yang dulu menghamili ku adalah Yoga. Sikap Bian jadi lebih posesif, belum lagi pikiran-pikiran negatif nya yang jadi lebih sering muncul.
" Karena inilah alasannya, mengapa aku tidak menceritakan dengan jujur siapa sebenarnya ayah Shaka. Aku sudah menduga jika akhirnya kamu akan menjadi sering berpikiran negatif padaku".
" Dan aku pikir, jika aku bercerita sejak awal, mungkin tidak ada acara double date nonton bareng bersama Utari dan Steve, tidak ada acara naik gunung bersama dengan sahabat-sahabat kamu, persahabatan kalian pasti akan menjadi kacau jika aku berterus terang sejak awal. Sungguh aku tidak mau menjadi penyebab rusaknya persahabatan kalian yang sudah kalian jalin sangat lama, bukan baru satu atau dua tahun, tapi belasan tahun Bi".
Bian mengangguk, " Sekarang aku tahu maksud dan alasan kamu yang sebenarnya, sejak tadi siang, aku terus menduga, membuat asumsi dan mengira-ngira sebenarnya apa alasan kamu tidak jujur tentang siapa ayah Shaka sejak awal. Memang benar yang kamu takutkan pasti akan terjadi jika kamu bercerita jujur sejak awal".
" Bukan aku membenci Steve karena aku cemburu padanya, atau aku marah karena dia laki-laki brengsek yang dulu merenggut mahkotamu, yang seharusnya akulah yang mengambilnya, dan bukan juga karena dia ternyata laki-laki yang menghamili mu. Tapi aku marah dan membenci Steve karena sikapnya yang benar-benar brengsek, siapapun laki-laki yang melakukan hal itu pada perempuan mana saja, aku tida akan pernah bisa memaklumi nya, aku tidak mungkin bisa tetap bersikap baik dan berpura-pura baik-baik saja dengannya".
" Laki-laki seperti itu tidak pantas untuk dijadikan teman, apalagi sahabat. Dia bahkan lebih rendah dan lebih jahat dari seekor binatang. Kenapa aku bisa berkata seperti itu?, karena binatang jantan saja pasti akan menyayangi, melindungi dan menjaga anak dan juga betinanya. Sedangkan yang Steve lakukan adalah meninggalkan kamu dan menghilang setelah merusak hidupmu, bahkan kamu pernah mengatakan jika dia dan keluarganya menyuruhmu menggugurkan kandungan mu, itu berarti mereka juga berencana menjadi seorang pembunuh".
" Saat ini aku bahkan jadi merasa malu karena dulu aku begitu mempercayai kata-katanya, dulu aku begitu bangga menjadi sahabatnya. Karena dia tidak pernah sekalipun bercerita tentang kisah kelam nya padaku. Yang sering kali Steve bicarakan pada kami bertiga adalah bahwa dia tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang adalah pacarnya di SMP, dan gadis itu adalah kamu Ra".
" Tapi meski aku tahu hal itu, aku tidak akan menyerah begitu saja, karena aku mencintaimu bagaimanapun keadanmu Ra, aku tidak perduli mas lalu mu dan orang-orang di masa lalu mu. Aku hanya tahu, aku mencintai kamu dan akan menikahi mu, menjadikanmu teman hidupku hingga akhir khayatku nanti".
Berbeda dengan Bian yang sangat tulus mencintai ku, dan menerimaku dengan segala kekurangan yang kumiliki. Aku bersyukur Tuhan mempertemukan kami lagi, dan aku bersyukur, setelah derita panjang dalam hidupku, aku menemukan sosok yang menjadi penyembuh lukaku di masa lalu.
_
_
Aku membalikkan badan karena mobil Bian sudah pergi dan tak terlihat lagi setelah melewati tikungan. Setelah ngobrol panjang dan cukup lama di mobilnya, sekarang hatiku terasa lebih lega dan terasa plong, seperti ada beban berat yang menghilang dari pundak ku.
Saat ini jam setengah 9 malam, aku berjalan santai menuju ke rumah. Mama dan papa sudah kembali dari toko dan belanjaannya akan di antarkan besok oleh karyawan toko. Karena belanja dalam jumlah banyak, sedangkan mama dan papa membawa motor, tentu saja tidak bisa membawa belanjaan yang banyak itu.
Mama dan Papa juga tadi melihat mobil Bian terparkir di pinggir jalan, tapi sepertinya mama dan papa tidak tahu jika kami berada di dalamnya, karena kaca mobil Bian yang nampak gelap jika dilihat dari luar.
Awalnya Bian ingin menyapa mama dan papa, tapi aku larang, karena wajah Bian yang banyak luka, jika mama dan papa melihat keadaan Bian, pasti mereka akan khawatir dan bertanya apa yang terjadi. Jika sampai mereka tahu Bian berkelahi dengan Yoga, urusan nya bisa semakin panjang.
Suasana malam ini sangatlah sepi, tidak ada orang berlalu lalang melewati gang yang sedang ku lewati sendirian.
" Raya....".
Suara lemah seorang perempuan yang memanggilku dari arah belakang membuatku merinding, karena sekarang aku berjalan seorang diri. Ku beranikan diri untuk menengok ke belakang. Ku tatap seorang suster berpakaian putih berdiri sambil mendorong kursi roda yang diduduki seorang perempuan dengan wajah pucat dan rambut panjang terurai berantakan.
Awalnya aku kaget dan degup jantungku berdebar dengan cepatnya teringat film horor yang pernah ku lihat bersama dengan Bian, Utari, dan Yoga waktu itu. Karena ada hantu susternya juga. Namun saat melihat wajah pucat gadis yang duduk di kursi roda membuatku sedikit lebih tenang.
" Utari...,kenapa malam-malam begini datang kesini?, kamu lagi sakit...wajah kamu pucat banget Ri", aku berjalan menghampiri Utari yang juga mendekat ke arahku karena suster masih terus mendorong kursi roda itu untuk mendekat.
Aku masih berdiri menatap utari yang terlihat sangat berbeda dari biasanya. Utari yang ceria, berubah menjadi gadis lemah dan tak berdaya. Aku tahu saat ini perasaan Utari pasti sangat kacau. Antara sedih, sakit hati, kecewa, merasa dibohongi, dan semua perasaan buruk akibat mengetahui kebenaran tentang Yoga.
Tapi untuk apa Utari malam-malam datang kemari dengan keadaannya yang belum sehat?, apa mungkin dia datang untuk memarahiku?, mungkin dia datang untuk meluapkan kemarahannya padaku, atau mungkin Utari ingin membuat perhitungan terhadapku?.
Jika benar itu tujuan kedatangannya, akan aku terima dengan lapang dada dan akan ku dengarkan sumpah serapahnya padaku. Aku memang sudah melakukan kesalahan karena tidak memberi tahu yang sebenarnya sejak awal. Jadi jika kedatangan Utari kemari untuk menyalahkan aku, akan ku terima dan ku dengarkan semua makian darinya.
Beberapa menit kami berdua hanya saling menatap. Tak ada satupun dari kami yang berbicara. Aku memang sengaja diam, karena aku tidak tahu mau bicara apa padanya. Mau menjelaskan juga tidak tahu harus dimulai dari mana. Karena itulah aku hanya bisa diam, sebenarnya lebih tepatnya aku sedang mempersiapkan hatiku untuk menerima luapan kemarahan Utari.
Tapi bukannya memarahi aku, justru kini kulihat punggung utari yang bergerak naik-turun sambil menangis terisak. Utari menangis hingga sesenggukan di depanku tanpa berkata-kata. Aku masih tetap berdiri tegak di depannya, ingin sekali aku memeluk Utari yang sudah ku anggap sebagai teman baikku, tapi aku takut jika Utari justru akan marah jika aku memeluknya.
Mungkin sekarang Utari tak lagi menganggap ku sebagai teman, melainkan seorang perempuan yang sangat dibencinya. Karena aku penyebab dari semua kekacauan yang terjadi. Aku tidak tahu bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Yoga, aku berharap pernikahan mereka akan tetap dilaksanakan. Meski Utari sudah kecewa pada Yoga.
Dulu memang aku berharap pernikahan mereka batal, karena aku merasa kasihan pada Utari yang sudah dibohongi oleh Yoga dan keluarganya. Tapi sekarang Yoga sudah jujur dan menceritakan semuanya, membuat harapanku berbeda. Kini yang ku harapkan Utari bisa menerima kekurangan Yoga, karena aku tahu betapa dirinya sangat mencintai Yoga. Aku berharap dia bisa bahagia dan tetap menikah dengan orang yang sangat dicintainya.