
Yoga melajukan mobilnya dengan sangat cepat, beruntung ada rumah sakit yang dekat, hanya 5 menit perjalanan, kami langsung sampai didepan IGD rumah sakit, kulihat Yoga langsung keluar dari mobil dan berlari memanggil perawat yang ada di IGD.
Dua orang perawat mendorong brankar sambil berjalan cepat menuju mobil Yoga. Yoga langsung membuka pintu mobil dan membantuku mengeluarkan Shaka dari dalam mobilnya. Shaka dibaringkan di atas brankar, dia tersadar, namun tiba-tiba muntah-muntah begitu banyak sampai mengenai Yoga yang sedang berdiri di samping brankar.
" Maaf...", ucap Shaka lemah, dengan kepala masih terkulai di brankar, namun matanya yang sayu menatap ke arah Yoga.
Ini kali pertama ayah dan anak itu bertatap muka, tapi dalam situasi yang sangat menyedihkan.
Perawat membantu mendorong brankar ke dalam bilik. Dokter langsung melakukan tindakan penanganan, aku dan Yoga menunggu di depan bilik saat perawat memasang infus dan mengganti baju Shaka dengan baju pasien, karena baju yang Shaka kenakan basah karena hujan, juga kotor terkena muntahan.
Yoga pergi keluar begitu saja tanpa pamit, dan kembali setelah pergi sekitar 5 menit, ternyata dia dari kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang tadi kena muntahan Shaka dengan kaos oblong warna hitam, mungkin dia punya persediaan baju di mobilnya.
Saat ini aku dan Yoga berdiri hanya saling menatap tanpa ada yang berkata-kata. Aku mendengar suara Shaka yang masih terus muntah-muntah.
Sebenarnya aku sudah merasa sangat tidak nyaman dengan bajuku dan juga bau tubuhku, tapi tengah malam begini semua toko sudah tutup, aku harus bisa menahan sebentar lagi dengan pakaian yang basah dan kotor ini.
Dokter keluar dari bilik dan menatap kami berdua. " Apa kalian keluarganya?".
Aku dan Yoga langsung mengangguk cepat.
" Bagaimana keadaan Shaka, kenapa dia tiba-tiba pingsan, dan juga muntah-muntah Dok?", tanyaku.
Dokter mengajakku ke ruangannya dan menjelaskan bagaimana kondisi Shaka.
" Nak Shaka mengalami dehidrasi, dan sepertinya mengalami stress, sehingga memicu asam lambung nya naik, apalagi sepertinya dia tidak makan apapun dalam waktu cukup lama, soalnya saya periksa perutnya kosong, justru terdapat banyak gas di lambungnya".
" Karena itulah kami langsung menginfus nya. Agar ada cairan yang masuk, nak Shaka sudah terlalu lemah, tekanan darahnya hanya 80/60, itu sangat rendah".
" Lalu sebaiknya bagaimana Dok?, apa Shaka harus di rawat?, atau boleh pulang?".
Pikiranku saat ini sangatlah kalut, besok hari pernikahanku, tapi putraku sakit dan di rawat di rumah sakit, dan semua ini terjadi karena kesalahan ku sendiri. Tuhan... bantulah aku, ku kira setelah pernikahan ku besok, semuanya akan berubah menjadi baik, tapi mengapa untuk menuju hari esok saja terasa begitu lama dan begitu banyak masalah yang muncul.
" Kalau saran saya, sebaiknya nak Shaka dirawat disini beberapa hari, tunggu sampai kondisinya benar-benar pulih, karena perlu nona ketahui, menyembuhkan luka fisik dengan menyembuhkan luka batin itu lebih mudah dan lebih cepat menyembuhkan luka fisik yang kelihatan. Sedangkan nak Shaka, dia juga stress berat, dia harus bertemu dengan psikiater, dan mendapatkan perawatan. Itu saran saya".
Ucapan dokter tadi terus terngiang di telingaku sepanjang aku berjalan melewati lorong rumah sakit.
Saat ini sudah jam 1 dini hari, Shaka sudah dipindah di ruang rawat inap, semua administrasi sudah dibereskan oleh Yoga, itu yang ku dengar dari perawat yang ada di IGD. Karena tadi saat aku kembali ke IGD, Shaka sudah tidak ada di bilik nya.
Aku sampai di ruang Anggrek nomor 2, inilah kamar Shaka dirawat, tadi perawat IGD yang memberi tahuku. Akupun langsung masuk kedalam setelah mengetuk pintu. Kamarnya tidak terlalu luas, tapi hanya ada satu pasien di kamar itu, hanya Shaka seorang diri, bersama dengan Yoga yang menemaninya sambil duduk di kursi plastik di samping tempat tidur.
Mereka berdua saling berdekatan, tapi semuanya diam, tak ada yang bicara. Saat aku mendekat ke ranjang, Yoga berdiri dan memberikan kursi yang di dudukinya untukku. Yoga sendiri memilih untuk keluar dari kamar itu, tapi baru Yoga menarik handle pintu, ku dengar suara Shaka yang lemah.
" Jika dia teman kakak, sebaiknya kakak menyuruhnya untuk pulang, sudah larut malam, pasti keluarganya menunggu di rumah, tolong sampaikan terimakasih banyak, dan mohon maaf karena sudah merepotkan".
Selesai mengatakan hal itu Shaka memiringkan badannya dan membelakangi aku dan Yoga. Yoga menatapku saat aku menatap ke arahnya.
Aku pun mengikuti Yoga keluar, menuruti perkataan Shaka untuk menyuruh Yoga pulang. Shaka belum tahu jika Yoga adalah ayahnya. Dia mengira Yoga adalah temanku.
" Apa sejak tadi Shaka tidak mengajakmu bicara?".
Sengaja ku tanyakan hal itu karena penasaran, mereka berdua bersama-sama cukup lama, apa terus saling berdiam diri atau mereka sempat mengobrol.
" Shaka terus diam, hanya sesekali menatap ke arahku, aku pun tidak berani mengajaknya bicara, kami baru pernah bertemu, dan tidak cukup dekat sekedar untuk ngobrol, apalagi dia sedang sakit. Tapi melihat keadaannya mengingatkan aku pada diriku di masa kelam itu, aku pernah berprilaku seperti Shaka yang murung dan menjadi pendiam, sepertinya dia depresi".
" Aku akan meminta pada pihak rumah sakit agar Shaka di lakukan pemeriksaan psikologi juga, aku tidak mau dia semakin down karena terlalu banyak pikiran".
" Maaf sebelumnya, tapi aku sempat mendengarkan percakapan mu dengan Shaka, sepertinya kamu tetap pada pendirian mu untuk menjadikan Shaka sebagai adikmu, padahal Shaka sudah tahu jika kamu ibunya. Apa tidak sebaiknya kamu jujur saja. Mungkin Shaka sedih, dan merasa menjadi anak yang tidak diakui karena sikapmu".
" Tapi jika kamu mengijinkan, aku ingin menebus semua kesalahanku di masa lalu, aku ingin Shaka menjadi anak yang kembali ceria dan berprestasi. Aku ingin mendukungnya untuk mencapai cita-citanya. Meski tidak sebagai ayahnya, karena besok Bian lah yang akan menikahi mu. Aku tidak keberatan jika harus melihat Shaka dari jauh seperti sebelumnya".
Ternyata Yoga benar-benar perduli pada Shaka. Dengan melihat apa yang dilakukannya hari ini aku tidak lagi meragukan ketulusannya pada Shaka.
" Utari bagaimana?, apa dia tidak keberatan dengan apa yang akan kamu lakukan?, besok kamu dan Utari juga akan menikah, itu berarti kamu sah menjadi suaminya, sebagai sepasang suami istri kamu harus terbuka padanya. Jika memang kamu ingin bertanggung jawab dengan masa depan Shaka".
Yoga mengangguk mendengar ucapan ku.
" Utari tidak pernah mempermasalahkan hal itu, seperti yang kamu katakan, dia menerimaku dengan segala kekurangan ku. Meski sudah tahu seburuk apa aku di masa lalu, dia tetap bersikukuh, tidak mau membatalkan pernikahan kami, dan mengatakan akan menerima semua konsekuensi dari keputusannya itu".
" Dan karena permintaan darimu lah, aku besok tetap akan menikah dengan Utari, meski aku sama sekali tidak mencintainya".
Aku mengerti, Utari memang benar-benar mencintai Yoga.
" Lalu bagaimana dengan Shaka?, dia sedang di rawat, dan besok kita sama-sama akan menikah, apa tidak papa dia sendiri di rumah sakit?", tanya Yoga padaku.
" Tenang saja, ada aku, aku akan menjaga Shaka".
Aku dan Yoga menengok bersamaan ke asal suara, entah sejak kapan Juna berdiri di sana, mungkin dia mendengar semua percakapan ku dengan Yoga.
Tadi saat keluar dari ruang dokter, aku memang sempat menelepon Juna dan mengabari jika aku sudah menemukan Shaka, tapi Shaka pingsan dan dibawa ke rumah sakit, tentu saja aku menyuruh Juna tidak memberi tahu mama dan papa, mereka akan sangat khawatir jika tahu keadaan Shaka.
Aku juga meminta Juna membawa baju ganti untukku, beserta baju dalaman juga pembalut, karena aku sudah merasa sangat risih dengan pakaianku.
Bug.....
Pukulan keras mendarat di wajah Yoga, padahal luka di wajahnya belum sembuh. Tapi Juna malah menambah lukanya dengan menonjok wajah dan tubuh Yoga beberapa kali. Yoga tetap diam dan tidak membalas meski Juna terus memukulinya.
Yoga menerima luapan kemarahan Juna yang sudah di pendam nya belasan tahun. Bagi Yoga mungkin pukulan Juna tidak seberapa dibanding penderitaan yang aku dan Shaka alami selama ini.
" Cukup Jun, sudah cukup, kakak mohon!", seruku, untung saja ini tengah malam, sehingga tidak ada orang lain yang menyaksikan kejadian ini, karena aku buru-buru menghentikan Juna yang sedang emosi.
Aku memohon pada Juna untuk tidak memukuli Yoga lagi.
" Dia sudah membantuku menemukan Shaka, jangan lakukan hal yang bisa membuat Shaka jadi semakin penasaran, Shaka tidak tahu siapa ayah kandungnya, dan sekarang dia sedang istirahat di dalam, kalau kamu melakukan ini, justru akan membuat Shaka jadi curiga".
Juna menuruti permintaan ku, aku menceritakan duduk permasalahannya, mengapa Shaka kabur, dan semua tentang Yoga secara singkat. Juna masih menatap Yoga dengan tatapan penuh kebencian. Tapi Yoga tetap berada di sana dan tidak kabur seperti seorang pengecut.
" Jadi besok aku yang akan menjaga Shaka di sini, tenda dan dekorasi pengantin sudah selesai dibuat, kakak pulanglah membawa motor yang aku bawa, ini kuncinya".
" Katakan pada mama dan papa, Shaka sudah ketemu, tapi dia ada urusan denganku. Tetap lakukan pernikahan kakak meski kami tidak ada".
Ku gelengkan kepalaku, " nggak mungkin Jun, aku mau kamu dan Shaka menyaksikan pernikahanku besok. Biar nanti aku minta ijin pada dokter untuk membawa Shaka pulang sebentar, menghadiri acara pernikahanku".
" Kamu tunggu disini, tapi jangan memukulinya lagi, kamu bisa lihat kan, wajahnya sudah babak belur bekas berkelahi dengan Bian kemarin".
Juna menatap ke arah Yoga saat aku mengatakan wajah Yoga luka-luka setelah berkelahi dengan Bian.
Aku pergi ke toilet umum untuk mengganti pakaian ku, baru aku menemui dokter untuk meminta ijin.
Lima menit mengobrol dengan dokter, namun hasilnya tidak sesuai dengan keinginan. Dokter tidak mengijinkan Shaka di bawa pulang karena fisik dan psikis nya yang masih down.
Aku menemui Juna dan Yoga yang saling berdiam diri dan duduk berjauhan di depan kamar Shaka. Keduanya menghampiriku menanyakan bagaimana hasilnya.
" Shaka tidak di perbolehkan pulang, meski sebentar, karena fisik dan psikis nya yang masih down", ucapku dengan suara lirih.