
" Kaka Raya, setelah menikah pasti akan tinggal bersama dengan suami kakak kan?, karena Shaka dengar dari Kak Bian, kalau rumahnya besar dan hanya ditinggali oleh kak Bian seorang. Tentu saja Kak Raya pasti akan di boyong oleh kak Bian kerumahnya setelah kalian menikah", Shaka bicara dengan wajah sedih.
Aku tahu di setiap perpisahan pasti akan menimbulkan kesedihan, tapi aku tidak mengira akan secepat ini, aku belum benar-benar menikah, tapi rasanya perpisahan dengan keluarga ku sudah diambang mata.
" Memang sebagai istri, kan harus mengikuti suaminya kemana suaminya pergi, apalagi rumah ini kecil, mungkin Kak Bian akan merasa kurang nyaman jika harus tinggal di sini selamanya, apalagi kak Bian sudah punya rumah sendiri yang lebih besar dan tidak ada yang menempati, kan sayang kalau rumahnya ditinggal".
" Apa Shaka mau ikut tinggal di rumah kak Bian kalau Kak Raya sudah menikah nantinya?, kak Bian bilang nggak keberatan kalau Shaka mau tinggal sama kami, apalagi Shaka adik kakak yang cerdas dan ganteng, pasti kak Bian akan sangat senang dapat adik yang bisa dibanggakan seperti Shaka".
Aku berusaha membujuk Shaka agar dia berubah pikiran dan mau tinggal bersama denganku dan Bian nantinya. Namun Shaka tetap pada pendiriannya, dia mau tinggal di rumah ini bersama mama dan papa.
Tak ada yang bisa aku lakukan kecuali menyetujui keputusannya. Meski itu artinya aku harus sering-sering datang ke rumah ini setelah menikah nanti untuk memantau perkembangan Shaka. Dia sedang dalam masa puber, pasti akan bertemu dengan banyak hal-hal baru.
Aku si lebih merasa tenang karena ada mama yang setiap hari berada dirumah dan bisa memantau Shaka. Tidak seperti saat aku remaja dulu, yang luput dari pantauan orang tua karena mama dan papa sama-sama sibuk bekerja. Dan akhirnya aku melakukan suatu kesalahan besar dalam hidup ku.
Hanya saja Shaka anak laki-laki, sama seperti ayahnya yang diam-diam datang ke rumahku sepulang sekolah. Tapi ku harap apa yang terjadi pada kami orang tuanya tidak akan pernah dilakukan oleh Shaka. Karena itulah aku setuju saat Shaka ikut masuk tim sepak bola, dan juga sekarang sibuk di sekolahnya.
Karena akan lebih tenang jika Shaka selalu di kelilingi banyak orang, dan tidak berpacaran terlebih dahulu seperti aku dulu.
" Kasihan mama dan papa kalau Shaka juga pergi dari rumah ini, kan kak Juna sudah pergi, kak Raya juga pergi, kalau Shaka pergi juga mama dan papa hanya akan tinggal berdua saja, bagaimana kalau salah satu dari mereka sakit, atau butuh bantuan?. Karena itulah Shaka akan tetap disini membantu mama dan papa kalau sewaktu-waktu mereka butuh bantuan Shaka".
Aku mengangguk, dalam hati aku merasa sedih, namun sekaligus bangga karena putraku berpikiran dewasa, dia sangat pengertian dan sangat menyayangi mama dan papa.
" Kakak sangat bangga punya adik seperti kamu, yang menyayangi mama dan papa begitu besar. Kakak jadi malu, sebagai anak perempuan justru rasa sayang kakak kalah oleh adik kakak yang cowok".
" Makasih Shaka... sudah mau menemani mama dan papa, dan tidak berniat meninggalkan mereka berdua sedikitpun. Kakak pasti akan sering main kesini untuk menjenguk kalian setelah kakak menikah nanti".
Shaka mengangguk cepat. " Tentu saja, kan kakak satu-satunya anak perempuan mama dan papa, jadi harus lebih perhatian di banding aku ataupun mas Juna yang anak cowok" , ujar Shaka.
Aku mengangguk, tentu saja aku akan sangat perhatian pada mama dan papa, karena mereka berdua yang selalu ada di saat aku dalam keadaan suka maupun duka sejak dahulu kala. Tidak pernah memojokkan aku meski jelas-jelas dulu akulah yang bersalah.
" Kata mama Jumat besok kamu mau ikut acara kemah ya?, apa mau kakak tengokin di sana?". Aku sengaja mengganti topik pembicaraan agar tidak terus melow.
Shaka mengangguk, aku tidak menyangka dia mengangguk dan ingin di tengokin, karena setahuku biasanya remaja cowok akan malu jika di tengok oleh keluarganya.
" Baiklah besok Jumat akan kakak tengokin ke tempat kemah, mumpung kakak libur kerja, mau dibawain apa kalau kakak kesana?", tanyaku.
" Apa saja Shaka suka, nggak bawa apa-apa juga nggak papa, Kak Raya kan sudah kasih uang saku buat Shaka cukup banyak".
Aku mengernyitkan keningku mendengar jawaban Shaka, apa mama mengatakan kalau uang itu dariku?, seharusnya tidak perlu, karena aku sebenarnya inginnya Shaka tidak pernah tahu kalau itu uang dariku.
Benarkah ini Shaka putraku?, anak yang biasanya selalu berdebat denganku, anak yang suka ngeyel dan bertengkar dengan ku, kini menjadi anaknya yang penurut dan sangat sopan. Seperti bukan Shaka yang biasanya.
" Kapan kakak kasih uang saku buat Shaka?", elak ku.
Shaka justru berdiri sambil berkata, " Kak Raya selama ini sudah sangat baik padaku, tapi aku terlambat menyadarinya. Makasih ya kak. Maaf Shaka tinggal ke kamar dulu, Shaka ngantuk".
Ku lihat Shaka masuk ke kamarnya dan menutup pintu itu dengan rapat. Aku pun ikut masuk ke kamarku untuk istirahat, aku yakin mama dan papa mendengar percakapan kami tadi dari dalam kamar mereka.
Saat sampai di kamar dan merebahkan diri, kulihat ada pesan masuk dari Yoga. Dia menuliskan entah sampai berapa layar. Seperti sebuah surat yang begitu panjang. Aku pun membaca pesan dari Yoga dari yang paling atas.
*Raya*...
Andai kamu tahu, aku tidak pernah sekalipun membuka hatiku untuk wanita lain. Meski sebentar lagi aku akan menikah, tapi jujur hati ini masih tetap hanya tertulis namamu di dalamnya*.
*Bohong... gombal... atau apalah yang kau sebutkan untuk memberi julukan padaku, akan aku terima meski semua itu bukanlah kebiasaan ku, karena hanya padamu lah aku melakukan gombalan dan beberapa kebohongan yang terpaksa harus aku lakukan, tapi yang jelas semua itu karena aku mencintaimu Raya, sampai saat ini cuma kamu*.... *dan hanya kamu*.
*Mimpi untuk bisa bersatu lagi denganmu sampai saat ini masih sering hadir di tiap malam dalam tidurku, apalagi setelah kembali bertemu denganmu setelah sekian lama kita tak berjumpa. Rasanya harapan untuk bisa kembali saat itu terbuka lebar*.
*Namun saat mengetahui ternyata kamu menjalin hubungan dengan sahabat dekatku, dan mengetahui besarnya rasa marah dan kebencian kedua orang tuamu padaku, yang langsung mengusir ku saat aku berusaha datang dengan niat baik kerumah mu, akhirnya harapan untuk kembali bersatu denganmu seolah semakin mengecil*.
*Aku tidak tahu bagaimana cara agar kita bisa kembali bersama, beberapa cara sudah terpikirkan, namun sepertinya akan terlalu banyak yang tersakiti jika aku bertindak sesuai dengan kemauan ku, termasuk kamu dan juga putra kita Shaka*.
*Shaka ternyata sangat mirip denganku. Matanya, hidungnya, wajahnya sama seperti aku saat seumurannya. Kamu pasti berusaha bersabar karena harus melihat wajahku setiap hari di wajah putra kita. Karena aku tahu kamu masih sangat sangat membenciku*.
*Seandainya kamu tahu Ra... bagaimana usahaku menahan keinginan untuk bisa menemui putra kita. Aku sering sampai emosi sendiri karena sering kali tiba-tiba sudah sampai di depan sekolah Shaka dan ingin turun dari mobil dan menemuinya*. *Namun untung saja aku bisa mencoba tetap bertahan di dalam mobil*.
*Aku hanya berusaha untuk bisa menghormati keinginanmu agar aku tidak menemuinya. Karena kebahagiaan hidup nya adalah yang paling penting. Aku rela tidak dikenalinya, meski akulah ayah kandungnya*.
*Aku berharap kamu menemukan kebahagiaan hidupmu Ra.... meski laki-laki yang kamu pilih itu bukan aku, tapi sahabat dekatku*.
..........
Aku sampai lelah membaca pesan dari Yoga, yang lebih mirip dengan teks pidato, begitu panjang. Aku menghapus semua pesan yang dikirimi Yoga. Yang pertama karena itu tidak penting, yang kedua karena kalimatnya sungguh membosankan, dan yang ketiga nggak mungkin dong aku membiarkan pesan itu dibaca oleh Bian.
Demi kebaikan bersama, secepatnya kuhapus pesan itu dari ponselku. Sekaligus nomor Yoga juga aku hapus. Meski tak menyimpannya, tapi karena sering membaca nomor Yoga, aku justru jadi hafal nomor Yoga di luar kepala. Karena nomor WhatsApp nya tergolong lumayan cantik, sehingga mudah di hafal.
Ku matikan ponselku tanpa membalas pesan panjang itu. Aku pun memejamkan mataku dan berusaha tidur, untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga guna menghadapi hari esok.
Semoga saja besok semuanya berjalan lebih baik dari hari ini yang penuh drama...