
Malam ini aku tidur dengan sangat pulas, mungkin karena rasa lelah setelah seharian melakukan perjalanan jauh dan aktifitas yang menguras tenaga juga pikiran. Rasanya baru saja memejamkan mata, tapi aku sudah mendengar pintu kamarku di ketuk dari luar.
" Raya... sudah jam 6 pagi, apa kamu tidak mau bangun?, mama tahu kamu lagi libur sholat, tapi nggak bangun se siang ini juga. Adik-adik kamu yang cowok saja sudah pulang dari masjid dan lagi bantuin mama bikin adonan. Kamu malah tidur terus!".
Suara teriakan mama pagi ini memang sangat berisik dan membuat kesal, tapi pasti aku akan merindukan suara teriakan ini setelah aku tinggal di rumah Bian nanti. Tidak akan ada lagi yang membangunkan aku sambil berteriak-teriak seperti mama saat ini. Justru mungkin yang ada, setelah bangun dan hendak keluar kamar, Bian akan menahan ku lagi dan lagi.
Aku pun turun dari ranjang dan keluar kamar agar mama tidak terus menerus berteriak memanggil-manggil namaku. Ternyata benar, Juna dan Shaka sedang membantu mama. Juna yang sedang memegang mixer dan Shaka yang sedang mengayak tepung. Rajin sekali mereka berdua. Aku pasti akan merindukan masa-masa seperti saat ini kelak.
" Anak gadis kok bangun sudah siang, malu sama ayam tetangga yang subuh-subuh sudah bangun dan berkokok", mama masih saja ngedumel karena kebiasaan ku yang akan menjadi pemalas jika sedang datang bulan. Mama memang sudah paham kebiasaan buruk ku itu.
Aku hanya nyengir kuda mendengar sindiran mama, dan terus berjalan menuju kamar mandi untuk sekedar cuci muka. Namun sayangnya saat ku sentuh air di dalam gayung terasa begitu dingin. Alhasil ku urungkan niatku untuk cuci muka, dan menuju dapur, mengambil air hangat sedikit untuk cuci muka, baru kembali berjalan ke ruang tengah berniat untuk membantu mama.
" Raya bantu ngapain nih ma?", tanyaku, karena aku bingung harus melakukan apa.
Dulu saat Shaka masih bayi, aku memang pernah berjualan kue dan gorengan yang aku titipkan di warung-warung, tapi semenjak aku bekerja di restoran dan waktu kerjaku seharian penuh, aku sudah jarang berkreasi, bahkan hampir tidak pernah lagi membuat kue dan sejenisnya. Karena setiap pulang kerja sudah merasa capek dan butuh istirahat.
" Kamu ke samping rumah saja papa sudah memetik daun pisang buat bungkus bikin lemper nanti malam. Kamu bersihkan dan potong-potong sekalian daun pisangnya selebar ini", mama memberi contoh agar aku tidak bingung.
" Tadinya papa yang mana suruh ngerjain tugas motong daun pisang, tapi tadi ada orderan masuk, lumayan buat nambah-nambah pemasukan", ujar mama menjelaskan.
Aku langsung mengangguk dan pergi ke samping rumah, disana sudah ada banyak daun pisang menumpuk masih dengan batangnya. Aku masuk lagi melalui pintu belakang menuju dapur untuk mengambil pisau, dan kembali ke tempat dimana daun pisang menumpuk. Namun kehadiran seseorang membuatku sungguh terkejut.
Pria yang mengendarai motor Kawasaki ninja warna merah dengan menggunakan helm yang menutup wajahnya. Tapi aku tahu siapa pria itu meski wajahnya tak kelihatan sedikitpun.
Yoga...
Untuk apa pagi-pagi begini dia datang kemari. Ada mama dan papa di rumah, juga ada Juna yang ingin sekali menghajarnya jika sampai mereka bertemu. Berani sekali dia datang kesini seorang diri.
Karena khawatir akan terjadi keributan, aku bergegas menghampiri nya yang masih duduk di atas motor, " Untuk apa kamu kesini ?, apa kamu belum puas hampir mengacaukan semuanya?, kamu bisa menimbulkan keributan jika sampai mama, papa, dan Juna tahu kamu disini", ucapku lirih penuh penekanan.
" Kalau kamu tidak mau terjadi keributan disini, ikutlah denganku, aku ingin bicara sama kamu, dan ini penting", ucap Yoga seraya membuka kaca helmnya, namun aku tahan tangannya agar dia tidak membuka helmnya.
" Aku tidak bisa, aku sudah berjanji pada Utari untuk tidak lagi bertemu denganmu, jadi ku mohon, pergilah kamu dari sini sekarang juga, sebelum yang lain melihat keberadaan mu disini", aku memohon pada Yoga agar segera pergi, namun bukan Yoga namanya jika dia pergi begitu saja sebelum keinginannya tercapai.
" Aku akan tetap disini dan bicara disini kalau kamu tidak mau ikut pergi dan bicara denganku Ra".
Sudah ku duga, dia pasti akan memaksakan kehendaknya seperti biasa, mungkin lebih baik aku masuk ke dalam rumah dan membiarkan yang lain mengetahui jika Yoga ada disini, tapi bagaimana jika Juna menghajarnya habis-habisan, aku yakin wajah Yoga saat ini sudah penuh luka akibat insiden perkelahian dengan Bian kemarin.
Aku tidak mungkin menambah banyak luka untuknya, bukan karena aku memikirkan Yoga, aku tidak perduli Yoga mau babak belur seperti apa, justru yang aku pikirkan adalah Utari. Mereka besok juga akan menikah sama sepertiku, pasti akan memalukan jika wajah pengantin pria penuh dengan luka. Dan lagi, aku sudah berjanji pada Utari semalam, jika aku tidak akan lagi bertemu dengan Yoga. Masa baru semalam berjanji, paginya sudah mengingkari, manusia macam apa aku ini.
Tapi kan posisinya sekarang bukan aku yang menemui Yoga, dialah yang datang ke rumahku, jadi untuk yang ini bukan salahku, aku tidak berniat mengingkari janji.
" Ayo buruan naik motorku Ra, ini bener-bener penting, dan aku harus ceritain ini sama kamu". Yoga masih terus membujukku.
Tidak... aku tidak boleh termakan bujukan nya lagi, aku harus jadi wanita yang berpendirian teguh. Tidak boleh gampang goyah.
Mama dan yang lain sempat melihatku lari masuk kerumah dan menutup pintu dengan cukup keras.
" Kak Raya kenapa?, kok kaya orang dikejar hantu begitu?, eh bukan orang dikejar hantu, tapi kayak bencong yang ngamen di perempatan dikejar Satpol-PP", Shaka sengaja bercanda melihatku yang masuk dengan tergesa-gesa dan ekspresi panik.
" Sembarangan kamu kalau bicara, memang kakak mirip sama bencong?, kasihan kak Bian dong kalau kakak kaya bencong. Itu... tadi ada kambing tetangga yang lepas dari kandang, aku takut kambing itu nyeruduk, makanya kakak buru-buru masuk ke dalam rumah", ucapku, terpaksa berbohong.
Mama, dan Shaka langsung berdiri menghampiriku dan mengintip ke luar melalui jendela.
" Mana ada kambing?, nggak ada kok", ujar Shaka, karena memang tidak ada kambing tetangga yang lepas.
" Sudah jalan agak jauhan mungkin, lewat sini kan tadi pas kakak masuk, sekarang kambingnya sudah jauh pasti", ucapku meyakinkan.
Saat ku lihat keluar, ternyata Yoga masih berada di tempat tadi, dia itu benar-benar keras kepala. Bahkan sekarang dia meneleponku, laki-laki menyebalkan, memangnya hal penting apa yang mau dibicarakan denganku.
Sebenarnya aku tidak perduli mau sepenting apa pun yang Yoga bicarakan, karena aku sudah tidak perduli lagi dengan kehidupannya.
" Itu telepon berdering kenapa nggak di angkat kak ?, apa nggak penting?", tanya Shaka lagi.
" Betul nggak penting, dari teman kakak, paling mau curhat, males banget kakak dengerin dia curhat", wah... begitu banyak kebohongan yang aku katakan sepagi ini.
" Ya sudah sana selesaikan tugas kamu beresin daun pisang, jangan bikin alasan yang aneh-aneh kalau cuma mau kabur dari tugas, pakai bawa-bawa kambing tetangga buat alasan", ujar mama yang tidak memperhatikan keberadaan yoga yang berada di luar, masih duduk di atas motor, memakai helm sambil menatap ponsel karena sedang meneleponku.
Mama dan Shaka kembali ke ruang tengah bergabung dengan Juna yang masih setia mengocok adonan kue. Mereka tidak curiga dengan keberadaan Yoga disana.
" Buruan beresin daun pisangnya Ra, di luar mendung, mungkin sebentar lagi turun hujan, bisa basah daunnya kalau kehujanan", mama masih saja menyuruhku ke samping rumah untuk membereskan daun pisang.
Tapi aku melihat Yoga masih tetap di sana, aku pun terpaksa keluar, dari pada mama terus-terusan berisik menyuruhku membereskan daun pisang.
Aku diluar dan membereskan daun, tanpa menoleh ke arah Yoga, aku tahu Yoga masih disana, dan berjalan mendekat ke arahku.
" Aku sudah bilang aku nggak mau pergi sama kamu, kalau mau bicara ngomong saja disitu, aku juga bisa dengar, tapi jangan lepas helm kamu", ujarku sambil membereskan daun.
Kulihat Yoga mengangguk, " kemarin aku sudah jujur pada Utari tentang yang terjadi pada kita di masa lalu. Aku berharap dia menyampaikan pada orang tuanya, dan orang tuanya akan marah dan membatalkan pernikahan kami, tapi ternyata Utari sepertinya tidak memberi tahu orang tuanya tentang yang ku ceritakan padanya. Karena itulah mungkin besok aku akan tetap menikah dengannya".
Aku masih diam mendengarkan penjelasan Yoga sambil menyobek-nyobek daun pisang selebar contoh yang mama berikan tadi.
" Kalau kamu keberatan dengan pernikahan ku dan Utari, aku akan pergi dari acara besok, bukan pergi, tapi aku tidak akan hadir di acara pernikahan ku besok, dan aku akan menghilang selamanya Ra, aku tidak akan merusak acara pernikahan mu dengan Bian, tapi aku tidak bisa meneruskan hubungan ku dengan Utari".
" Aku tidak mencintainya, dan aku tidak bisa menyentuhnya, seperti seorang yang memperoleh karma, setiap kali aku berusaha menyentuh wanita lain, wajahmu tiba-tiba saja muncul, dan membuatku tak bisa melakukan apapun dengan wanita lain".
Benarkah yang Yoga ucapkan adalah kebenaran, dia sudah terlalu banyak berbohong padaku, dan sekarang aku tidak bisa percaya begitu saja dengan ucapannya.