Healing

Healing
44. Tersesat



" Kamu mau mengirimkan foto itu bagaimana?, apa kamu punya nomor ponselku?", tanyaku pelan.


Yoga mengangguk. " Sudah lama aku punya nomor kamu, aku ambil diam-diam dari ponsel Bian, tapi aku belum mengirim foto-foto bintang yang dulu aku ambil padamu. Aku kira sekarang itu sudah tidak perlu, kamu sudah melihatnya secara langsung, bahkan sesuai keinginanmu, melihatnya bersama laki-laki yang kamu cintai ".


" Aku sangat iri pada Bian, dia begitu mencintai kamu dan dengan bebasnya mengekspresikan rasa cintanya di depan semua orang. Berbeda denganku yang hanya bisa menatapmu dengan diam-diam, karena kamu bukan lagi milikku, dan ada gadis lain yang harus aku jaga perasaannya".


" Kalau kamu tidak percaya dengan ungkapan perasaanku saat ini, tidak apa, dulu kamu sudah pernah memberiku kesempatan untuk menunjukkan kesungguhan ku padamu, namun aku menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku menyesal karena tidak menggunakan kesempatan itu dengan baik. Jika boleh serakah, aku ingin kamu memberiku kesempatan kedua. Namun sepertinya itupun tak mungkin, melihat keadaan kita yang sama-sama sudah terikat dengan orang lain".


Yoga terus bicara tanpa henti, aku tetap diam dan mendengarkan semua yang ingin diucapkannya. Dia seperti laki-laki yang mempunyai dua kepribadian. Dingin, pendiam, dan cuek saat bersama yang lain. Tapi cerewet, dan banyak bicara saat sedang bersamaku.


Sudah aku duga sejak tadi. Dari tatapan matanya Yoga memang seolah seperti ingin menyampaikan sesuatu padaku, hanya saja menunggu waktu dan keadaan yang tepat, dan saat inilah saat yang tepat itu. Kami hanya berdua, tak ada orang lain.


" Kalau kamu sudah tahu itu semua, sebaiknya sekarang kita kembali ke tenda, sudah cukup lama kita pergi, mungkin saja Utari sudah bangun dari tidurnya, karena dia yang tidur paling awal". Aku membalikkan badan dan turun dari atas batu besar yang tadi sebagai tempat aku berpijak.


Yoga menahan ku dengan melingkarkan tangannya di bahuku, Yoga memelukku dari arah belakang. Aku berusaha memberontak tapi tenagaku tidak lebih kuat darinya.


" Kumohon dengarkan aku sebentar saja Ra...", pintanya.


Aku pun hanya bisa diam dan mendengarkan apa yang ingin dikatakannya lagi.


" Maafkan aku Raya... maaf untuk sikap pengecut dan menyebalkan yang sudah aku lakukan selama ini. Kalau memang kita tak berjodoh, aku hanya berharap kamu bisa memaafkan semua kesalahanku di masa lalu".


" Tentang anak kita, mungkin kamu tidak akan pernah memberi tahuku dimana keberadaannya, tapi bagaimanapun aku tetap ayahnya, dulu aku menuruti keinginan ibuku karena aku tak punya pilihan. Saat itu aku masih membutuhkan dukungan dari ibu dan ayahku agar aku bisa sukses seperti sekarang ini. Sejujurnya aku juga menginginkan kamu melahirkan buah cinta kita berdua. Tapi kali ini aku tidak akan memaksamu memberi tahu apapun tentang anak kita. Yang penting kamu dan anak kita hidup tenang dan bahagia".


" Jika kamu butuh apapun untuk keperluan anak kita, kamu bilang saja padaku, ijinkan aku membantu untuk biaya hidupnya. Mungkin sekarang dia sudah remaja, dan membutuhkan banyak biaya. Aku tidak akan memintamu mengenalkan dia padaku. Hanya saja aku sebagai ayahnya berkewajiban mencukupi kebutuhan hidupnya. Bahkan aku berhutang banyak padamu, untuk biaya hidupnya selama ini. Bukan hanya biaya sekolah, tapi biaya dia makan, jajan, bahkan biaya saat kamu melahirkan. Bisakah kamu memberiku nomor rekening mu untuk mengirimkan biaya bulanan anak kita?".


" Jangan salah sangka, ini real biaya untuk anak kita, bukan aku ingin memberikan padamu, karena aku yakin Bian akan sangat mampu mencukupi semua kebutuhan hidupmu setelah kalian menikah, tapi anak kita, sampai kapanpun dia tetap tanggung jawabku Ra... meski telat, tapi aku sungguh-sungguh ingin menebus semua kesalahanku di masa lalu".


Benarkah yang diucapkan Yoga?, apa dia bilang?, ingin menebus semua kesalahan di masa lalu?. Haruskah aku mempercayainya kali ini?.


" Ra.... aku masih mencintaimu, dan akan tetap mencintaimu sampai kapanpun, meski mungkin kamu tidak akan lagi membalas perasaanku, karena cintamu sudah kamu berikan pada Bian. Seandainya laki-laki lain yang kamu pilih, mungkin aku masih berusaha merebutmu dari nya. Tapi Bian adalah sahabat baikku, aku yakin dia akan menjadi suami yang baik untukmu".


Tentu saja, Bian adalah laki-laki terbaik, dan apa lagi ini..., Yoga benar-benar sudah hilang akal, bilang dia masih mencintaiku?, bagaimana kabar Utari jika dia sampai tahu calon suaminya mencintai orang lain.


" Jika suatu hari Bian menyakitimu atau meninggalkan kamu, datanglah padaku, aku akan selalu ada di tempat yang sama, meski mungkin nantinya sudah ada wanita lain di sampingku", ucap Yoga.


Semakin dibiarkan Yoga semakin bicara banyak dan ngawur, aku harus segera mengakhiri ini.


" Yoga.... bisakah kita kembali ke tenda sekarang?, aku tidak mau ada seorangpun diantara ke empat orang yang pergi bersama kita tahu jika kita sudah saling mengenal sebelumnya, bahkan aku tidak mau mereka tahu tentang masa lalu kita. Aku sudah bahagia dengan hidup ku sekarang, bersama Bian, aku harap kamu juga bahagia hidup bersama gadis sebaik Utari".


" Jangan bahas lagi tentang masa lalu yang hanya akan membuat kita sama-sama terluka".


" Akan aku pikirkan untuk menerima atau tidak bantuan finansial untuk anakku, jujur selama ini hidup nya sangat sederhana karena hidup bersamaku, kadang aku juga merasa bersalah jika melihatnya harus hidup susah karena keterbatasanku".


Perlahan ku lepaskan rengkuhan tangan Yoga yang melingkar di bahuku. Yoga tak lagi menolak, dan melepaskan pelukannya.


Aku menghadap ke arahnya untuk kembali mengajak balik ke tenda.


Seketika aku mendorong Yoga agar menjauh, meski sebenarnya aku menikmati ciuman lembut Yoga yang membuatku teringat ciuman pertama kami, 13 tahun silam, pelan, lembut dan melenakan.


Ya Tuhan apa yang sudah aku lakukan... aku tidak boleh terperosok dalam kesalahan yang sama.


" Apa maksudmu Ga... berani sekali kamu menciumku!", bentakku dengan suara keras sambil menampar pipi Yoga dan mendorong tubuhnya agar Yoga menjauh.


" Kamu yang dulu mengatakan ingin berciuman di bawah taburan bintang. Aku masih mengingatnya Ra, semua harapanmu. Aku hanya berusaha mewujudkan, meski terlambat, sangat terlambat", ucap Yoga dengan tatapan sendu.


" Itu dulu Ga, dan sekarang yang kita lakukan ini adalah kesalahan, aku tidak bisa terus bersamamu, atau aku akan lagi dan lagi membuat kesalahan besar", teriakku dengan suara keras.


Aku tidak bisa terus berlama-lama disini, atau Yoga akan melakukan hal yang lebih jauh dari ini. Aku tidak boleh mengkhianati Bian, dia akan sangat kecewa jika tahu apa yang baru saja aku lakukan.


Karena Yoga masih tetap berdiri di tempatnya, ku beranikan diri berjalan sendiri menuju cahaya temaram yang berada cukup jauh dari tempat kami berada. Sejak tadi aku mengajak Yoga kembali ke tenda, tapi dia tidak merespon, dan terus mengulur waktu agar kami tetap berdua di tempat itu.


Meski dengan perasaan yang takut, aku tetap melangkahkan kakiku menuju cahaya temaram itu. Meninggalkan Yoga yang yang tidak berusaha mengejar ku. Dia masih berdiri dan memegang pipinya yang mungkin terasa pedih karena tamparanku tadi.


Aku terus berjalan dan berjalan di kegelapan malam, suara ayam hutan sudah mulai terdengar bersahutan, itu pertanda pagi akan segera tiba, namun sudah hampir setengah jam aku berjalan, aku belum sampai juga di tenda.


Apa aku tersesat?, aku hanya berusaha mendekati cahaya itu, tapi sepertinya aku tidak sampai-sampai sejak tadi.


Rasa takut membuatku menangis, aku benar-benar ketakutan saat ini, malam-malam berjalan sendirian di gunung, dan aku tidak tahu jalan kembali. Kenapa aku tadi pergi sendiri, seharusnya apapun yang terjadi aku harus kembali bersama Yoga.


Tapi Yoga itu sangat menyebalkan, dia terus mencari kesempatan di dalam kesempitan. Sekarang aku harus bagaimana, aku berdiri di persimpangan jalan, harus ke kanan atau kekiri. Aku bingung memutuskan harus kemana aku melangkah.


Yang Maha Pelindung, tolong lindungilah aku dari segala macam bahaya yang mungkin ada di sekitarku. Aku hanya berserah diri padamu.


Akhirnya ku putuskan untuk berjongkok dan tidak lagi berjalan, aku sudah lelah sejak tadi berjalan, tapi tak juga sampai. Jika di teruskan aku takut jalan yang kuambil salah, dan justru membuatku semakin jauh dari pos.


Semoga saja Bian atau Utari segera bangun dan menyadari aku tidak ada di tenda, dan mereka akan mencariku. Hanya itu satu-satunya harapanku. Aku terus berjongkok dan menunduk, aku tak berani melihat ke arah lain. Saat ini masih gelap, dan semua jadi terlihat seram dan menakutkan.


Bahkan suara angin berhembus pun jadi terdengar menakutkan di telingaku. Ku tutup telingaku dengan kedua tangan. Dan ku baca doa doa yang aku bisa.


Betapa bodohnya aku bertindak semauku sendiri, seolah aku tahu jalan pulang saja. Aku menyesal kenapa tadi tidak membangunkan Bian saja. Kenapa aku mau begitu saja pergi buang air kecil di temani Yoga. Aku menyesal dan sangat-sangat menyesal.


Semoga saja matahari segera bersinar, agar aku bisa mencari jalan untuk kembali ke pos. Bodohnya aku, bahkan aku tidak membawa HP, seandainya bawa HP aku pasti bisa menyalakan baterai dan mencari jalan pulang.


Dalam kesunyian malam semua suara terdengar menyeramkan, bahkan saat ini aku seperti mendengar langkah seseorang yang mendekat ke arahku. Benar itu orang atau bukan?, bahkan aku tidak berani untuk melihatnya. Aku tetap berjongkok dan menunduk sambil memeluk kedua kakiku.


Mungkin saja itu bukan manusia, karena sejak tadi tak terdengar mengucap sepatah katapun, semoga saja bukan hewan buas. Atau sesuatu yang aku takutkan sampai aku tak berani menyebut namanya. Aku semakin menunduk dan terus membaca doa apa saja sebisaku. Dan suara langkah itu semakin mendekat ke arahku.


Aku pasrahkan hidupku ini padamu Ya Robbi, tapi jika di perbolehkan, aku masih ingin hidup lebih lama, karena ada putraku Shaka yang harus aku biayai hidupnya.


Pikiranku semakin kacau, ketakutan membuatku membayangkan hal yang tidak-tidak.