
" Kak.... kak Raya, kereta sudah berhenti Kak. Sekarang kita turun ". Juna membangunkan aku yang sejak beberapa waktu lalu tertidur dengan pulasnya.
" Jadi kita sudah sampai?", tanyaku seperti orang linglung karena baru bangun tidur. Sambil mengusap sisa air mata yang masih menempel di ujung kelopak mataku. Kepalaku terasa sedikit pusing, mungkin efek habis menangis lama, sampai tertidur, membuat kepalaku jadi pusing.
Sambil mengerjap-ngerjapkan mata, ku tatap keluar jendela, di luar sudah gelap, dan suasana tidak terlalu ramai. Ku ambil ponsel di tas selempang ku untuk mengecek jam berapa sekarang. Baru jam 8 malam, tapi stasiun nampak sepi.
Aku keluar dari gerbong kereta mengikuti kemana Juna melangkah, ternyata di luar hujan deras pantas saja stasiun tidak terlalu ramai, padahal ini di kota besar.
" Apa kakak lapar?, kita mau makan di sini atau beli makanan dan dibawa pulang, makan di kontrakan?", tanya Juna sambil terus berjalan keluar dari stasiun.
Di depan stasiun ada banyak toko, dan penjual makanan, termasuk toko oleh-oleh yang meski sedang hujan terlihat ramai dengan pengunjung.
" Kita makan disini saja, jadi nanti sampai kontrakan kamu sudah kenyang", Aku menunjuk rumah makan Padang yang terletak tidak jauh dari posisi kami saat ini, dan Juna setuju untuk makan malam nasi Padang yang bisa mengenyangkan agar tidur malam ini nyenyak. Itu berlaku untuk Juna tentunya, karena aku sudah tidur cukup lama, dan mungkin malam ini akan susah untuk tidur. Apalagi tidur di tempat baru, butuh pengenalan dengan suasana baru.
" Nasi dua dengan lauk rendang dan yang satu ayam goreng, makan disini Bu", ucap Juna sambil meletakkan tas ransel ku di kursi kosong.
Aku duduk bersebelahan dengan Juna dan menunggu penjual nasi Padang mempersiapkan makanan kami.
" Dari sini ke kontrakan kamu jauh nggak Jun?".
Juna mengangguk mendengar pertanyaan ku, " Jika naik kendaraan sekitar setengah jam perjalanan. Tapi kalau jalan kaki mungkin bisa satu setengah jam baru sampai", terang Juna.
Aku hanya mengangguk mengerti, mau jalan kaki atau naik kendaraan aku tidak masalah, hanya saja sedang hujan, jadi aku meminta pada Juna untuk memesan mobil online, agar barang bawaan kami tidak basah di perjalanan.
Kami berdua makan dengan lahap, karena memang perut terasa sangat lapar. Ternyata menangis sepanjang jalan cukup menguras tenaga juga. Apalagi rasa masakan Padang memang paling pas di lidah jika sedang hujan seperti saat ini, sensasi pedasnya bisa menghangatkan tubuh.
Juna meletakkan separuh ayam gorengnya di piringku dan mengambil separuh rendang milikku untuk nya. Itulah yang sejak dulu aku dan Juna lakukan jika kami makan di luar. Sengaja membeli menu yang berbeda agar bisa saling bertukar makanan. Dan ternyata sampai sekarang Juna belum melupakan kebiasaan kami saat masih kecil.
Sikap nya membuatku mengulas kan senyum untuk pertama kali sejak kami turun dari kereta tadi.
" Aku sudah memesan mobil onlinenya Kak, nanti kita berjalan keluar dari sini terlebih dahulu, mobilnya sudah menunggu di depan stasiun", ucap Juna saat kami berdua selesai menghabiskan makanan kami.
Kami berdua berjalan tidak terlalu jauh, dan mobil sudah menunggu di depan stasiun, dekat dengan rumah makan Padang yang kami kunjungi tadi.
" Ke kampung ABC Mas?, Jalan Senopati gang 2 ya?", driver mobil online menanyakan tujuan kami berdua, agar tidak salah. Juna membenarkan tujuan yang diucapkan oleh sang driver.
" Baru datang dari luar kota ya Mas?, barang bawaannya banyak banget?", tanya driver lagi saat membantu Juna memasukkan tas ranselku ke dalam mobil.
" Iya bang", hanya itu jawaban yang Juna berikan.
" Kenal juga nggak sama supir itu, ngapain pakai kasih penjelasan panjang lebar, jawab 'iya' saja sudah cukup", gumam Juna saat mobil online tadi sudah pergi. Kami berdua berjalan memasuki pintu gerbang yang masih terbuka lebar meski sudah malam hari.
" Kita sudah sampai di depan kontrakan, dan kontrakan ku yang itu Kak", ucap Juna sambil menunjuk ke salah satu kamar dengan pintu tertutup dan lampu yang masih padam.
Kontrakan Juna terdiri dari banyak pintu dan ada 3 lantai, untung saja milik Juna di lantai satu, jadi tempatnya pas untuk berjualan. Juga tidak melelahkan harus naik turun tangga jika di lantai dasar.
Aku berjalan mengikuti Juna. Sesekali Juna mengangguk dan tersenyum pada orang-orang yang lewat. Memang sudah malam, tapi suasana di sekitaran kontrakan masih ramai, apalagi hujan mulai reda. Jadi banyak yang memilih keluar kamar, cari angin.
" Habis mudik Jun?, beberapa hari lampu kontrakan mati mulu?", tanya pemuda yang duduk di depan kontrakan sebelah kontrakan Juna.
" Iya Bang, habis ngambil surat-surat buat urus kontrak kerja besok, bang Rasid nggak mudik akhir pekan?", Juna bertanya pada tetangga kamarnya sambil membuka kunci pintu kontrakannya.
" Kagak, balik juga nggak ada yang pengen di lihat. Semenjak babe dan enyak kagak ada, males gua balik, di rumah cuma ada Mpok gua yang hobi banget minta duit kalo gua balik".
" Lu bawa siapa Jun?". Tanya Rasid sambil menatap ku lekat.
" Kak Raya ini bang Rasid tetangga kontrakan Juna".
Aku dan Rasid saling berjabat tangan, sepertinya Rasid seumuran denganku, dan dari logatnya dia sepertinya orang Betawi.
Juna sudah berhasil membuka pintu kontrakan, setelah menyalakan lampu, Juna mempersilahkan aku untuk masuk. Dia keluar lagi untuk mengambil ransel kami yang tadi di letakkan di lantai depan.
" Wah, udah selesai masa training nya ya?, nggak kerasa lu udah disini lumayan lama, masih inget pertama lu dateng ke sini sama si Miko, Miko masih kerja di tempat lu?", tanya Rasid.
" Masih bang, Bang Miko kemarin sudah dapat promosi sekarang sudah jadi manager di pabrik".
Aku masih bisa mendengar percakapan Juna dan Rasid yang tengah membahas tentang seseorang yang mereka kenal.
Tak lama kemudian Juna masuk ke dalam dan menutup pintu kontrakan.
" Kakak tidur di kamar, terus kamu tidur dimana Jun?", aku melihat hanya ada satu kasur kecil berukuran 90x200 yang hanya muat untuk satu orang saja tergeletak di lantai.
" Juna bisa tidur di ruang tamu, ada tikar dan juga selimut, jadi nggak dingin, besok malam kita bisa cari kasur lagi, sekalian belanja perabotan dapur, untuk kakak masak".
Aku mengangguk setuju.
Untung saja cuaca malam ini tidak begitu dingin, jadi tidak apa untuk semalam, Juna tidur beralaskan tikar saja. Besok kami akan belanja besar membeli banyak perabotan. Semoga saja besok terang, agar tidak ada perubahan rencana.
Kami berdua tiduran di ruang yang berbeda, hanya di sekat papan triplek. Dan seperti dugaanku, aku tidak bisa tidur malam ini, karena tadi sudah lama tidur di kereta.
Aku memilih mengambil ponselku dan melakukan video call dengan mama dan papa, mengabari jika aku dan Juna sudah sampai di kontrakan, Juna pun bergabung saat aku , mama, dan papa sedang ngobrol.
Selesai ngobrol dengan mama dan papa, Jun kembali ke ruang tamu untuk tidur, aku memilih melakukan browsing resep masakan Indonesia. Memang sudah cukup lama aku tidak masak, dan besok akan ku mulai lagi dari awal, jika dulu saat masih remaja, aku bisa membuat kue dan gorengan sambil mengurus bayinya Shaka, maka sekarang akan lebih mudah, karena tidak ada yang harus aku urus.
Tiba-tiba saja aku jadi teringat dengan Shaka, bagaimana keadaan Shaka sekarang?, karena penasaran aku mengirimkan pesan kepada Yoga. Tentu saja untuk menanyakan kabar Shaka. Yoga hanya melihat pesan dariku, tapi tidak membalasnya, entah kenapa, tapi hal ini sangat tidak biasa. Karena biasanya Yoga sangat cepat membalas setiap kali aku mengirimkan pesan.
_
_
Saat subuh aku terbangun karena mendengar suara Juna sedang mandi. Apa setiap hari sepagi ini dia bangun?. Ternyata Juna tumbuh menjadi pemuda yang rajin dan tekun.
Aku memilih bangun dan duduk di atas kasur sambil memeriksa ponselku. Berharap pesan yang ku kirim pada Yoga mendapatkan balasan, namun Yoga belum juga membalas, justru ada pesan dari Bian menanyakan keadaanku dan bagaimana suasana di tempat yang baru.
Tapi hanya ku baca, karena memang sebaiknya aku dan Bian tidak lagi sedekat dulu, kami bukan lagi pasangan, dan tidak baik jika kami terus berhubungan secara intens seperti dulu.
Mungkin luka di dalam hati kami akan sulit terobati jika kami terus bertukar kabar dan menunjukkan perhatian dengan menanyakan hal-hal kecil mengenai kegiatan sehari-hari.
Ku letakkan kembali ponselku di kasur dan aku keluar dari kamar karena melihat Juna sudah selesai mandi. Gantian aku masuk kamar mandi untuk wudhu. Aku dan Juna sholat subuh berjamaah di ruang tamu. Setelah itu Juna mengajakku keluar untuk mencari sarapan.
" Kita sarapan di warung depan sana Kak, nanti Juna langsung berangkat, karena harus nunggu bis jemputan di halte depan. Kakak nggak papa kan balik ke kontrakan sendiri?".
Aku mengangguk, " Iya nggak papa lagian nggak terlalu jauh dari kontrakan, kakak bisa ingat jalan pulang".
" Apa setiap hari kamu bangun dan berangkat kerja sepagi ini?", tanyaku pada Juna yang sedang mengecek surat-surat penting yang akan di bawanya untuk di serahkan sebagai persyaratan kontrak kerja.
" Iya Kak, soalnya kalau ketinggalan bis jemputan harus nyari kendaraan lagi, dan itu harus bayar sendiri, terlalu banyak pengeluaran jadinya".
Ternyata selain rajin dan tekun, Juna juga sangat berhemat hidup disini. Semoga saja usaha keras nya membuahkan hasil yang maksimal. Juna bisa jadi orang sukses di masa mendatang.