Healing

Healing
50. Mba Bos



" Tadi pagi Shaka begitu bahagia saat aku memberikan baju baru yang kamu berikan, katanya suruh sampaikan terimakasih banyak. Mama dan Papa juga mengatakan hal yang sama. Terimakasih Bi... karena kamu begitu baik kepada keluargaku.".


Bian mengangguk sambil tetap menghadap fokus ke depan, mengemudikan mobilnya sambil mendengar perkataan ku. Bian nampak sedang memikirkan sesuatu, entah apa yang mengganggu pikirannya. Tapi dia nampaknya memikirkan sesuatu yang serius.


Mendung yang menggelayut akhirnya menurunkan titik-titik air hujan yang mulai turun membasahi bumi pagi ini, membuat banyak pengendara motor lebih memilih untuk menepikan kendaraannya terlebih dahulu untuk memakai mantel.


Saat mobil Bian berhenti di lampu merah, Bian menggenggam tangan kananku dengan tangan kirinya.


" Kemarin Shaka mengatakan tidak mau ikut tinggal di rumahku setelah kita menikah nanti, tapi kamu nggak akan merubah keputusan kamu karena Shaka akan tetap tinggal bersama mama dan papa kamu kan Ra?", tanya Bian sambil meremas pelan jari jemariku.


Bian nampak khawatir saat menanyakan hal itu. Mungkin Bian takut aku berubah pikiran karena Shaka. Dia memang putraku, tapi aku tidak bisa memaksa kan kehendak memintanya mengikuti kemana aku tinggal, karena dimatanya, dia adalah putra kedua orang tuaku. Di matanya aku hanya seorang kakak perempuan.


Jadi hal itu yang sejak tadi mengganggu pikiran Bian, dia khawatir aku akan merubah keputusan ku karena jawaban Shaka kemarin.


" Nggak akan ada yang berubah Bi... Aku akan tetap tinggal sama kamu, nantinya kamu yang akan jadi suamiku, jadi aku akan ikut kemanapun kamu tinggal. Hanya saja aku mau ijin terlebih dahulu sebelumnya sama kamu, Shaka adalah putraku, dan kamu tahu bagaimana keadaan perekonomian kedua orang tuaku. Aku akan tinggal bersama kamu, tapi aku ingin kamu tetap mengijinkan aku bekerja. Karena aku harus tetap membiayai Shaka meski dia tinggal bersama mama dan papa. Aku tidak mau Shaka menjadi beban bagi kedua orang tuaku terus menerus".


" Mama dan papa semakin tua, jadi aku tidak bisa memasrahkan Shaka sepenuhnya untuk mereka biayai. Shaka adalah tanggung jawab ku".


Bian kembali mengangguk sambil membelokkan setir mobil ke kiri. Kami sudah sampai di depan restoran. " Tentu saja, aku tidak akan keberatan sama sekali jika kamu ingin tetap bekerja untuk membiayai Shaka, aku juga akan membantu kamu membiayai hidupnya, bagaimanapun setelah menikah, Shaka akan menjadi putraku juga. Dan sebagai ayahnya, bukankah sudah menjadi kewajiban ku membiayai semua kebutuhannya?".


Aku tersenyum mendengar ucapan Bian, juga berterimakasih padanya.


Hari ini pekerjaan di restoran tidak terlalu sibuk, karena seharian hujan terus turun, pengunjung yang datang ke restoran juga tidak terlalu banyak. Namun ada banyak delivery order dalam jumlah yang cukup banyak dari kantor-kantor pemerintah dan juga sekolah-sekolah. Sampai aku harus mengantarkan pesanan dengan bantuan Bian menggunakan mobil.


Jam 2 siang aku sudah selesai berkeliling mengantarkan pesanan, dan bisa sedikit bersantai di restoran. Ku sempatkan melihat pesan di ponselku, karena sudah ada beberapa chat yang masuk, termasuk chat dari Yoga yang belum sempat ku baca.


Aku pergi ke toilet agar bisa santai membacanya. Khawatir Bian tiba-tiba sudah ada di belakangku jika aku membacanya di tempat umum. Bisa kacau semuanya jika itu terjadi.


Ku baca pesan dari yang paling atas, ternyata benar, baju dan topi berwarna krem itu Yoga yang memasukkannya di ranselku. Entah kapan dia bisa memasukkan baju itu ke tasku, apa dia menyelinap masuk kamarku saat aku tidak di dalamnya, tapi kapan?, entahlah...


Yang jelas tidak akan mungkin aku pakai topi dan baju itu. Sepertinya akan aku berikan pada orang lain. Oh iya, tadi Rita dan Hani menanyakan oleh-oleh padaku, mungkin akan ku berikan baju dan topi pemberian Yoga pada Rita dan Hani. Mereka berdua pasti senang.


Ku hapus semua pesan dari Yoga, termasuk nomornya juga ku hapus. Yang penting aku sudah menyimpan foto saat aku berdiri di atas batu dengan latar belakang langit hitam dengan taburan bintang. Memang sangat indah, dan sayang untuk di hapus.


Aku keluar dari kamar mandi dan duduk bergabung dengan Rita dan Hani yang duduk santai di depan dapur karena hanya ada beberapa tamu yang masih tinggal dan sedang makan.


" Lihat dong foto-foto kamu pas lagi di Rinjani Ra...aku belum pernah seumur hidupku naik gunung. Pasti capek ya Ra..?", tanya Rita.


" Ya iyalah Mba Rita, mana ada orang naik gunung nggak capek. Mba ini ada-ada saja, naik tangga saja capek, apalagi naik gunung yang tingginya mencapai ribuan MDPL", gumam Hani yang duduk di sebelahku.


Ku serahkan ponselku setelah kubuka galeri foto didalamnya. " Nggak banyak yang aku punya, cuma beberapa foto saja. Kalau mau lihat yang banyak, buka saja akun sosmed Riko atau Bian, ada postingannya dan banyak banget fotonya", ucapku.


" Betul juga, aku kan ngikutin akun sosmed punya Riko. Aku lihat di postingannya saja, yang di ponsel Raya nggak keren, karena yang buat foto HP murahan. Kalau yang di postingan Riko pasti pakai HP keren kan Ra...?". Rita mengembalikan ponselku dan membuka ponselnya, masuk ke salah satu aplikasi sosial media dan membuka akun milik Riko.


Rita berdecak kagum melihat foto yang di upload di sana. " Wah ini sih kalau kita ikutan manjat, baru nyampe setengah gunung sudah nyerah. Lihat saja, tinggi banget gunungnya Han... Kamu keren Ra... bisa menaklukkan gunung di pendakian pertama", puji Rita.


Aku hanya tersenyum mendengar pujian Rita, " Aku juga tidak nyangka bakalan bisa manjat setinggi itu. Beruntung yang lain sabar menuntunku sampai puncak".


"Hani melihat foto-foto itu dengan diperbesar. " Gila, keren-keren banget cowok-cowok ini, sudah kaya, ganteng, fisiknya juga kuat, bakalan bahagia lahir batin Mba Raya menikah dengan Mas Bos. Coba bayangin, mendaki gunung yang tinggi banget kayak gini aja sudah biasa bagi mereka, apalagi mendaki gunungnya mba Raya yang segitu, staminanya nggak diragukan lagi, bisa semalaman nonstop di kamar, hehehehe...", Hani terkekeh sambil menutup mulutnya.


" Jangan bayangin loh Han, mas bos sudah cinta mati sama Raya, nggak bakalan ngelirik kamu sedikit pun", ujar Rita sambil berdiri dan membereskan meja bekas pengunjung yang sudah pergi.


Setelah meletakkan di tempat cuci piring, Rita kembali duduk bergabung bersama aku dan Hani.


" Oh iya... besok aku bawain oleh-oleh buat kalian berdua. Tapi apapun bentuknya itu no komen, atau nggak jadi aku kasih sama kalian berdua", ujarku.


Rita dan Hani saling berpandangan.


" Kamu serius Ra, ada oleh-oleh buat kita?, wah tumben banget kamu punya duit buat belanja oleh-oleh". Rita yang sangat paham dengan kondisi keuanganku tentu saja kaget saat aku mengatakan akan memberi mereka berdua oleh-oleh.


" Bukan aku kok yang beli, aku juga di kasih sama temennya Bian, besok aku bawakan ".


Hani menatapku heran, " Kalau barang pemberian, kenapa malah dikasihkan ke kita?. Apa mba Raya nggak suka sama barangnya?, atau kekecilan?", tanya Hani penasaran.


" Enggak, cuman aku sudah berniat mau ngasih itu sama kalian berdua, orang yang paling sering aku mintai tolong dan aku repotin disini", ucapku lirih.


Jam baru menunjukkan pukul setengah 4, tapi Bian sudah menghampiriku dan mengajakku pulang, karena restoran sepi, dan karena rencana kami yang akan pergi ke rumah pak RT dan pak RW.


" Ya sudah pergi saja mas bos, nggak ada pekerjaan juga disini, masih ada aku dan Mba Rita, jadi aman terkendali", ucap Hani, saat tadi aku menolak untuk pulang terlebih dahulu.


Aku merasa tak enak hati pada kedua rekan kerjaku karena kemarin sudah tiga hari ngga berangkat dan sekarang mau pulang lebih awal. Rasanya nggak enak, meski yang ngajak adalah bos-nya.


" Tuh kan, Hani sama Rita saja nggak masalah kita balik duluan, ayo, nanti nggak terlalu sore ke rumah pak RT nya", ucap Bian.


" Rumah pak RT?, mau ngapain?", tanya Hani.


" Mau ngurus surat-surat buat daftar nikah, kenapa?, mau ikut?", tanya Bian bercanda.


Hani hanya nyengir sambil menggeleng , " Nggak mas bos, semoga semuanya lancar dan dimudahkan urusannya. Kalau sudah mau daftar, berarti bentar lagi dong menikahnya?", tanya Hani kepo.


Bian langsung mengangguk cepat, dan aku hanya tersenyum tipis.


" Waaah.. selamat-selamat, Mba Raya beneran bakal jadi Mba bos disini, senengnya...", gumam Hani.


Aku dan Bian akhirnya pulang terlebih dahulu di banding yang lain, masih ada setengah jam sampai jam pergantian shift.


Mengurus persyaratan pernikahan ternyata nggak terlalu ribet. Semuanya dipermudah dan cepat selesai.


Bahkan di hari Jum'at saat kami mendaftar di kantor KUA, juga semua urusannya di permudah.


Penghulu dan petugas kantor KUA semuanya bersikap baik dan sangat kooperatif. Nama kami berdua sudah masuk di list pendaftaran pernikahan. Tanggal yang kami minta ternyata cukup banyak juga yang sudah membooking di tanggal yang sama.


Tapi penghulu bilang tidak masalah, apalagi kami akan menikah di kantor KUA, bukan di rumah, jadi akan lebih efisien waktu.


Hitung mundur 3 minggu mulai dari hari ini, adalah hari dimana aku dan Bian akan menjadi pasangan suami istri yang sah. Semoga saja tidak ada halangan apapun.