Healing

Healing
97. Rapuh



Sampai di stasiun aku duduk di salah satu kursi yang menghadap ke rel, kereta belum berangkat, karena memang aku dan Juna berangkat sedikit lebih awal dari rumah, agar tidak buru-buru di perjalanan, selain itu mengantisipasi jika sesuatu terjadi saat di perjalanan menuju stasiun, tapi untungnya perjalanan ke stasiun aman dan lancar.


Juna menurunkan tas ranselku dari dalam mobil, dia sendiri tidak membawa banyak barang, sehingga Juna yang membawa barang bawaan ku kemana-mana.


Kami duduk bersebelahan, saat ini jam menunjukkan pukul 4 kurang 15 menit, berarti masih ada waktu 10 menit sampai kereta yang akan kami tumpangi melaju.


" Aku mau ke toilet umum sebentar ya kak, Kakak tetap disini, kalau haus, mama membawakan air putih di tas ku", ujar Juna sambil menitipkan tas ransel nya padaku.


Tas ransel besar milikku dan tas milik Juna aku letakkan di kursi yang berada tepat di sebelahku. Suasana stasiun kereta lumayan ramai, mungkin karena hari minggu, banyak orang yang hendak berangkat lagi ke kota, untuk melanjutkan rutinitas bekerja esok hari.


Aku lebih memilih mengecek ponselku yang sejak tadi aku simpan di tas selempang yang kubawa. Tidak ada pesan ataupun panggilan masuk, karena itu hendak ku simpan kembali ponselku kedalam tas.


Tapi belum aku menutup resleting tas ku, ponselku bergetar, ada panggilan masuk di ponselku. Saat aku cek ternyata Bian yang menelepon, ku biarkan saja panggilan itu, tak berniat untuk mengangkatnya. Aku sedang tidak ingin membicarakan ataupun membahas hal-hal yang bisa membuatku merasa sedih.


Karena jika aku angkat, aku yakin Bian menelepon karena ingin membahas mengenai batalnya pernikahan kami kemarin.


Sejak kemarin aku sengaja tidak memikirkan tentang batalnya pernikahanku, ku sibukkan otakku untuk memikirkan rencana dan langkah apa yang akan aku lakukan kedepannya di tempat tinggal yang baru. Karena meratapi nasib buruk yang sudah terjadi, dan menangisinya sungguh menguras tenaga dan pikiran, aku tidak ingin berlarut menjadi orang yang terus menerus berkubang dalam kesedihan.


Batalnya pernikahan tidak boleh membuat aku menjadi wanita yang lemah dan rapuh, aku harus menjadi wanita kuat dan tidak boleh cengeng. Aku harus bergerak maju untuk menunjukkan kepada semuanya jika aku baik-baik saja. Meski yang sebenarnya aku sangat sedih dan rapuh.


" Kenapa telepon dariku tidak kamu angkat?", suara Bian mengagetkan aku yang sejak tadi sedang melamun.


Bian berdiri tegak didepan ku, matanya yang merah menatap tepat ke mataku dengan bahu naik turun dan nafas yang tidak teratur. Sepertinya dia habis berlarian menuju ke sini. Tapi siapa yang memberi tahu padanya jika aku ada di sini saat ini?.


Aku bingung harus menjawab apa, tidak mungkin aku membuat alasan palsu karena saat ini Bian berada tepat di depan ku.


" Jadi kamu mau pergi tanpa pamit padaku?, kamu mau pergi dari sini karena pernikahan kita batal?. Apa iya itu alasan kamu pergi Ra..?".


Bian masih menatapku dengan lekat, aku sampai tak berani membalas tatapan matanya.


" Maafkan aku", ucapku sambil menundukkan kepalaku. Aku tahu saat ini Bian sedang emosi, dia marah dengan keadaan yang tidak mendukung hubungan kami. Dan dia kesal karena tidak bisa mengelak dari keadaan ini.


" Untuk apa kamu minta maaf Ra?, apa kamu merasa gagalnya pernikahan kita karena kesalahan mu?".


Bian menekuk lututnya mensejajarkan wajahnya dengan wajahku, Bian menarik daguku agar menatap ke depan, ke arahnya.


" Kamu tidak bersalah Ra, kamu sama sekali tidak bersalah, akulah yang harusnya minta maaf, karena aku pengecut, dan tidak berani menentang perintah orangtuaku. Aku sebenarnya sangat malu untuk bertatap muka lagi denganmu. Tapi kamu akan pergi, dan ini satu-satunya kesempatan aku bisa bertemu dan bicara langsung denganmu"


" Aku minta maaf Ra, sungguh-sungguh minta maaf sama kamu, dan asal kamu tahu Ra, sampai detik ini aku masih tidak bisa memaafkan diriku sendiri, aku masih sangat mencintai kamu Ra. Aku tidak bisa kehilangan kamu".


Tiba-tiba Bian memelukku dengan begitu erat, sampai aku hampir tidak bisa bernafas. Kemudian Bian berbisik lirih di telinga ku. " Jika kamu mengijinkan, aku akan pergi bersama kamu, dan kita bisa menikah disana. Aku bisa membuka restoran baru di tempat baru yang akan kita tempati. Aku akan membahagiakan kamu Ra, tidak akan ada lagi orang yang mengatur hidup kita dan melarang pernikahan kita".


Bian masih saja terus mencoba meyakinkan aku jika dia masih sangat mencintaiku.


" Cukup Bi... kamu tidak boleh bersikap seperti ini, keluarga kamu, orang tua kamu, mereka adalah orang-orang yang sudah mengurus kamu dan mendukungmu sejak kamu kecil, mereka yang menjadikan kamu seperti sekarang".


" Kamu jadi orang sukses, menjadi orang yang berhasil. Jangan hanya karena wanita seperti aku, kamu sampai memutus hubungan dengan mereka, terutama ibumu, beliau orang yang sudah mengorbankan nyawanya untuk melahirkan kamu Bi, doa ibumu yang paling mustajab, jadi jangan sampai kamu menyakiti hatinya".


" Aku tidak menyalahkan kamu, atau keluargamu atas kegagalan pernikahan kita. Karena kesalahannya memang ada pada diriku yang terlalu banyak kekurangan. Mungkin kita berdua juga salah karena sejak awal tidak langsung menceritakan keadaanku yang sebenarnya pada orang tuamu".


" Sebagai seorang wanita yang sudah menjadi ibu juga, aku bisa mengerti kenapa ibumu bersikap seperti itu. Tidak papa Bi... mungkin memang kita tidak berjodoh. Yang namanya cinta memang tidak harus saling memiliki. Aku mencintaimu, karena itulah aku menerima keputusan pembatalan pernikahan kita".


" Beginilah caraku mencintaimu, segeralah lupakan aku, dan semoga saja kamu menemukan gadis baik, yang akan menggantikan posisiku di hatimu, dan menemanimu hari-hari mu sampai tua nanti".


" Aku tidak pernah membencimu Bi... kamu laki-laki yang sangat baik. Dan aku akan selalu mengenang kamu sebagai sahabat terbaikku".


" Terimakasih untuk semua kenangan manis yang sudah kamu berikan dalam hidupku. Tidak akan aku lupakan semua kenangan indah saat kita bersama. Salam juga buat Riko, dan sampaikan permintaan maaf ku karena tidak bisa berpamitan langsung dengannya".


Pemberitahuan keberangkatan kereta berbunyi, para penumpang kereta diminta untuk masuk ke gerbong masing-masing. Aku tahu sejak tadi Juna sudah berdiri tak jauh dari tempatku dan Bian berada. Namun dia tidak mendekat, sengaja memberi waktu untukku dan Bian berbicara berdua dari hati ke hati.


Aku mengangguk memberi isyarat pada Juna jika percakapan ku dengan Bian sudah selesai. Juna pun mendekat dan membawa semua barang bawaan kami.


" Aku titip Raya ya Jun, tolong jaga dia baik-baik di sana, aku pasti akan datang ke tempat kalian suatu hari nanti", ucap Bian.


Juna menatap Bian dan mengangguk, " Kak Bian tidak perlu mengkhawatirkan kak Raya, karena dia tinggal bersamaku. Sebaiknya kakak pikirkan diri kakak sendiri, sepertinya kak Bian butuh sandaran untuk beberapa waktu kedepan".


Bian hanya menunduk tak menanggapi ucapan Juna, karena memang benar begitulah adanya. Saat ini Bian sangat rapuh. Sama sepertiku. Kami saling mencintai, tapi kami tak bisa bersatu. Hal itu membuat kami berdua sama-sama rapuh.


Aku masuk ke dalam gerbong kereta dan duduk di samping jendela. Bian masih berdiri sambil menatap ke arahku. Dari tatapan matanya aku bisa tahu, sebenarnya dia sangat berat melepaskan kepergian ku. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Tak lama kemudian kereta api mulai melaju, aku bisa melihat Bian terkulai lemah, jatuh dan berlutut di lantai sambil menutupi wajahnya yang saat ini tengah menangisi kepergian ku.


Sedih... sudah pasti itu yang kami rasakan. Kami berdua benar-benar masih saling mencintai. Karena seharusnya, jika tidak ada kekacauan kemarin, hari ini adalah perjalanan kami berdua untuk berbulan madu. Dan kini justru kami berdua harus terpisah jarak yang begitu jauh. Kebahagiaan berbulan madu hanyalah angan-angan saja.


Air mata yang sudah ku tahan sejak tadi saat bersama Bian akhirnya lolos juga. Aku tak tega melihat Bian terpuruk seperti itu, tapi aku juga tidak boleh egois dengan terus bersamanya.


Bukannya aku tak mau memperjuangkan hubungan kami. Tapi aku hanya berusaha bersikap sadar diri. Memang sejak awal aku sadar, aku tidak pantas untuk menjadi pendamping hidup Bian. Hanya saja Bian yang selalu meyakinkan aku, dia selalu menunjukkan sikap baiknya dan membuatku terbuai dengan sikap baiknya. Aku pun dengan mudah dibuatnya jatuh cinta. Dan lupa diri siapa aku ini.


Tapi kini aku kembali tersadar siapa aku ini, hanya perempuan bodoh dan kotor yang tidak pantas mendambakan sebuah hubungan suci pernikahan.


Ku tutup lembar kisah cinta ku bersama Bian, padahal baru beberapa halaman, tapi terpaksa harus aku sudahi demi kebaikan dan kebahagiaan semua.


Aku tahu Juna tengah melihatku secara diam-diam. Tapi dia memberiku waktu untuk menumpahkan air mataku, agar aku merasa lebih baik. Karena kadang dengan menangis bisa membuat hati sedikit lebih baik.


Pepohonan dan bangunan nampak berlarian di luar sana, laju kereta api semakin lama semakin cepat. Langit yang biru dengan sedikit corak putih mulai berubah warna menjadi jingga, menandakan hari mulai senja. Entah sudah sampai dimana kini aku berada. Yang aku tahu saat ini, aku merasa begitu lelah setelah menangis cukup lama. Ku pejamkan mataku untuk beristirahat sejenak, sebelum kereta api berhenti dan mengantar kan aku sampai di tempat baru.