Healing

Healing
46. Cerita Masa Lalu



Malam ini kami beristirahat di penginapan, lumayan larut kami masuk ke dalam kamar, karena Bian dan yang lain terus menahan ku berada di depan kamar. Bian terus bercerita bersama keempat kawannya masa saat mereka masih kuliah.


Aku satu-satunya yang tidak ikut bercerita dan menjadi pendengar setia. Karena Utari tentu saja mengenal semua nama yang disebutkan dalam obrolan mereka. Hanya aku yang benar-benar tidak tahu dan hanya ikut-ikutan saja, jika mereka tertawa, aku pun tertawa seperti mereka.


Hingga larut malam, Utari bertanya tentang masa SMP ku, aku pun tidak banyak bercerita. Justru Bian yang menceritakan tentang masa-masa kami SMP, aku yang beberapa kali ikut tampil dengan permainan piano. Dan Bian yang mengatakan mulai naksir padaku sejak saat itu. Katanya aku terlihat sangat cantik dengan seragam SMP, dengan rok putih dan rambut yang di kuncir dua dengan pita putih.


Kata Bian aku seperti bidadari yang turun dari langit. Begitu bersinar dan terlihat paling cantik. Saat tampil di atas panggung memainkan jari-jariku diatas tuts piano sambil bernyanyi.


" Jadi Raya pandai bermain piano?, waah... kalau begitu, bagaimana kalau aku minta tolong sama Raya, untuk menyumbang lagu saat pernikahanku nanti, gimana Steve, apa kamu setuju?", tanya Utari dengan begitu bersemangat.


" Tentu saja, aku akan sangat senang jika ada yang tampil bermain piano di pesta pernikahan kita. Apalagi jika sekaligus bernyanyi, itu akan lebih bagus", ucap Yoga.


Sungguh jawaban yang sangat memuakkan. Benar-benar si Yoga itu, pria bermuka dua dan berkepribadian ganda. Bagaimana semalam dia bicara padaku seperti itu, dan bagaimana saat ini dia bicara bersama yang lain seperti ini. Yang jelas saat ini aku semakin membencinya.


" Tapi maaf, aku sudah berhenti bermain piano, mungkin aku juga sudah lupa bagaiman memainkannya, terakhir aku bermain piano itu saat kelas 8 SMP, saat acara kelulusan sekaligus perpisahan dengan siswa siswi kelas 9. Itu berarti sudah sekitar 14 tahun yang lalu, sepertinya aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu Utari".


" Aku khawatir, justru akan mengacaukan acara pesta pernikahan kalian, karena penampilan ku yang amburadul", tolak ku, sambil meminta maaf.


Sudah pasti acara pesta pernikahan mereka akan kacau balau jika aku hadir dan muncul di acara itu. Apalagi jika sampai aku ikut menjadi bagian pengisi acara. Bisa-bisa Bu Herni dan Pak Priyo shock melihatku yang tiba-tiba muncul di acara pernikahan putranya.


" Kan masih lama Ra... kamu bisa berlatih lagi selama sebulan ini", bujuk Utari.


" Tapi selama sebulan itu aku juga akan sangat sibuk, karena aku dan Bian juga akan melaksanakan pesta pernikahan kami, sama seperti kalian. Maaf ya...", jawabku masih kekeh menolak.


" Oh iya.... benar juga, kita menikah di bulan yang sama. Semoga saja tanggalnya nggak sama, biar kalian bisa datang ke pernikahanku, begitu juga dengan aku dan Steve yang bisa menghadiri acara pernikahan kalian", ujar Utari.


Namun harapanku berbeda dari harapannya, aku justru ingin tanggal pernikahan kami sama, biar aku tidak perlu datang ke pernikahan kalian, dan kalian tidak perlu datang ke pernikahanku. Agar acara berjalan lancar, baik acara pernikahanku, maupun pernikahanmu. Itulah yang aku harapkan.


" Oh ya Ra.... Semoga saja saat kamu hamil, aku juga hamil, biar kita hamilnya barengan, dan saat keluar nanti anak kita sepantaran deh...".


" Kan seneng tuh ada teman sharing, saat lagi hamil, saat melahirkan, terus saat merawat anak-anak. Pasti akan sangat menyenangkan karena kita sama-sama baru menikah, dan baru mau punya anak, sama-sama pengalaman kita masih nol", Utari bicara dengan begitu polosnya. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk.


Sekilas Yoga menatapku, begitu juga dengan Bian, karena mereka berdua tahu, seandainya aku hamil dan punya anak nanti, itu bukanlah pengalaman pertama. Aku sudah pernah merasakannya belasan tahun yang lalu. Tapi baik Bian maupun Yoga, keduanya bungkam dan tak ada yang bicara.


" Wah ini calon ibu-ibu belum saja sah, sudah bahas masalah anak. Kayak sudah siap banget buat dihamilin ", Haidar langsung terkekeh mendengar ucapannya sendiri.


" Ye... memang itulah tujuan menikah, biar bisa punya keturunan, nggak usah ngeres deh pikiran kamu", ucap Utari dengan sewot.


" Mending kita lanjut ngobrol di kamar saja yuk Ra.... disini ada tukang komen, nggak asik, mending ngobrol di kamar sambil selonjoran, kaki masih pada pegel-pegel begini", ajak Utari.


Aku mengangguk setuju. " Aku ke kamar duluan ya Bi...", pamit ku pada Bian. Bian pun melepas genggaman tangannya. Ya, sejak tadi Bian terus menggenggam tanganku sambil bercerita dan bersenda gurau dengan yang lain. Sebenarnya tujuannya agar kami sama-sama merasa lebih hangat, di udara malam yang sangat dingin ini.


Di kamar tentu saja lagi-lagi aku hanya menjadi pendengar setia, semua cerita Utari. Karena begitu banyak cerita dalam kehidupannya dari masih sekolah, saat dirinya SMA, dan mulai mengenal ke empat pemuda yang bersama kami tadi, sampai saat dia kuliah dan menjadi seorang dokter gigi.


Sangat berbeda dengan cerita hidupku yang monoton dan hanya dipenuhi dengan cerita sedih dan memalukan. Bukannya aku tidak mau cerita tentang masa laluku, tapi memang tidak ada kisah bahagia yang ku alami semenjak aku selesai sekolah.


Semuanya hanya cerita memilukan, penuh perjuangan dan air mata. Semisal diriku ini diibaratkan sebuah gelas kaca, mungkin bentuk ku saat ini sudah hancur lebur menjadi serpihan yang sangat kecil-kecil. Karena hidupku ibarat sudah di banting, kemudian di banting lagi, dan dibanting lagi berulang kali. Sampai hancur se hancur-hancur nya. Seperti itulah perumpamaan nya.


" Kalau kamu Ra... sejak tadi kamu cuma dengerin aku cerita, sekarang gantian dong kamu yang cerita tentang pengalaman hidup kamu. Aku juga penasaran pengen denger kisah kamu, pasti seru deh. Gadis secantik kamu, pasti banyak kan cowok yang naksir?", goda Utari sambil menggoyang-goyangkan tanganku.


" Masa sih Ra... paling juga sebenarnya kisah hidupmu seru, tapi kamu khawatir aku menceritakannya pada Bian kan?, tenang saja, aku nggak bakal cerita sama siapa-siapa kok", ujar Utari, masih mencoba membujukku bercerita.


" Bian bilang kamu itu paling cantik dan bersinar saat SMP, berarti pasti dulu cowok yang deketin kamu banyak kan Ra?, apa Bian pacar pertama kamu?", Utari masih terus berusaha agar aku bercerita. Aku hanya tersenyum menanggapi usahanya. Baiklah akan aku ceritakan sedikit kisah masa laluku, hanya sedikit saja. Agar Utari tidak penasaran dan terus bertanya.


" Bukan Bian pacar pertamaku. Justru cowok dari sekolah lain yang dulu aku terima cintanya".


Ku lihat mata Utari berbinar-binar karena akhirnya aku mau bercerita tentang kisah hidupku.


" Benarkah?, jadi pacar pertama kamu anak dari SMP lain, gimana kalian kenal?, dan sekarang dimana mantan pacar kamu itu?, terus kenapa kalian sampai putus?".


Utari mengajukan begitu banyak pertanyaan sekaligus, aku sampai bingung harus menjawab yang mana dulu.


" Sekarang.... dia sepertinya sudah bahagia dengan kehidupannya, kami putus karena tak bisa lagi meneruskan hubungan kami, dunia kami sangat berbeda, dan yang paling penting kami berdua sama-sama tidak mendapatkan restu baik dari keluarganya maupun keluargaku".


" Untuk apa mempertahankan hubungan yang tidak memperoleh restu, toh laki-laki masih sangat banyak, karena itu kami putus, aku bukan tipe pejuang cinta. Bagiku restu orang tuaku yang paling utama".


Utari nampak memperhatikan ceritaku dengan seksama. " Wah sayang sekali, tidak seru seperti di sinetron-sinetron. Kurang greget ceritanya. Harusnya ada perjuangan dulu. Tapi kisahmu justru langsung berakhir begitu saja".


" Tapi aku sedikit penasaran, berarti dulu kamu sempat dikenalkan ke orang tua cowokmu itu dong, dan begitu juga sebaliknya, bukankah untuk anak usia SMP kedekatan kalian itu sudah cukup jauh?, apalagi kalian tidak dari sekolah yang sama, berarti kamu pernah sampai diajak kerumahnya dong Ra?". tanya Utari makin penasaran.


" Iya pernah. Aku pernah ke rumahnya, pertama aku kesana, aku bertemu dengan ibunya, kedua kalinya, aku juga hanya bertemu dengan ibunya saja, dan yang ketiga kalinya aku kesana, aku bertemu dengan ibu dan ayahnya".


" Itulah terakhir kalinya aku datang kesana. Dan setelah itu kami putus hubungan", terangku.


" Jadi ayahnya yang tidak merestui hubungan kalian berdua?, itu ibunya ketemu sama kamu sampai dua kali masih nggak papa, tapi habis ketemu sama ayahnya kalian putus?", tebak Utari.


Aku menggeleng, " Keduanya sama, baik ayah maupun ibunya, tidak ada yang menyukaiku, dan sama-sama tidak menyetujui dengan hubungan kami", jawabku.


" Wah... tapi sebagai cowok yang masih SMP, termasuk nya cowok itu gentle loh Ra, dia mungkin sudah cinta banget sama kamu, dan bermaksud untuk berhubungan serius sama kamu, soalnya kamu sampai di bawa kerumahnya dan dikenalkan pada orang tuanya. Sayangnya orang tuanya tidak mendukung hubungan kalian".


" Jaman sekarang cowok itu kan jarang yang kenalin ceweknya ke orang tua, kalau belum benar-benar jatuh cinta dan berniat untuk serius".


Utari masih terus berpendapat sendiri mendengar sepenggal kisah masa laluku.


" Itu hanya masa lalu, aku tidak mau ambil pusing Ri, apalagi sudah ada Bian yang jelas-jelas mencintaiku dan kami berdua sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua kami".


" Kita tidur saja yuk Ri... aku ngantuk banget nih, sudah hampir jam 1, kepalaku pusing kalau tidur kemalaman".


Aku sengaja mengajak Utari tidur, karena kalau tidak, Utari pasti semakin penasaran dan terus bertanya dengan kisah masa laluku.


" Ya sudah, padahal aku seneng kamu sudah mulai mau bercerita, meski hanya sedikit, padahal aku sudah bercerita panjang lebar tentang kisah masa laluku sama kamu. Tenang saja Raya, aku orangnya bisa jaga rahasia kok. Nggak bakalan aku ceritain sama Bian", ujar Utari.


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Utari. " Kamu ceritain juga nggak papa, lagian Bian nggak pernah mempermasalahkan masa laluku, yang paling penting bagi Bian adalah bagaimana kita sekarang", ucapku sambil merebahkan diri dan menarik selimut untuk menutupi tubuhku agar terasa lebih hangat.


" Selamat malam Utari, semoga mimpi yang indah", ucapku sambil memejamkan mata. Utari pun ikut merebahkan diri dan memejamkan matanya untuk tidur.