
Kenapa papa di suruh ke rumah Bian?, sedangkan Bian mengatakan jika dia sedang mengantar ibunya ke rumah sakit. Bukankah sudah terasa janggal. Apa benar pernikahan ku akan gagal seperti yang Utari katakan. Apa salahku coba... aku semalam hanya minta bantuan Yoga untuk mencari Shaka.
Jika Yoga tidak pulang, dan membatalkan pernikahan nya, apa salahku?, aku sudah dengan tegas mengatakan padanya bahwa aku tidak mencintai nya lagi, aku sudah memberi tahunya bahwa Bian lah laki-laki yang akan menjadi suamiku. Lalu jika Yoga tetap pada pendiriannya membatalkan pernikahan nya, kenapa seolah mereka menyalahkan aku. Dan mengapa pernikahan ku juga harus dibuat batal?.
Ku lihat jam dinding menunjukkan pukul setengah 9 pagi. Lumayan lama juga aku pingsan. Kali ini salah seorang tetangga memberikan teh manis dan kue bolu untuk aku makan.
" Makanlah sedikit, kamu butuh makan agar tidak pingsan lagi",
Juna menerima teh manis dan juga bolu di atas nampan, dan menyuapi aku bolu dan teh manis itu.
Haruskah aku menelepon Yoga, menanyakan dimana keberadaannya. Tapi sebentar lagi jam 9, jadwal pernikahanku dan Bian akan dilaksanakan di KUA. Sedangkan aku masih di rumah, papa pergi ke rumah Bian, dan Bian mengantar ibunya ke rumah sakit. Rasanya semuanya jadi berantakan tidak jelas.
" Apa kita tetap berangkat ke KUA ma?, sedang papa belum juga kembali. Dan Bian dia sedang di rumah sakit, Bian memang mengatakan akan sampai di KUA sebelum jam 9", aku bertanya pada mama yang sejak tadi terus cemberut.
Jujur aku sendiri merasa sangat bingung saat ini. Untung saja tidak banyak tetangga dan kerabat yang mama mintai tolong untuk datang menghadiri resepsi pernikahan ku dan Bian. Jadi semisal terjadi kekacauan, tidak banyak orang yang kecewa karena kehadirannya sia-sia.
" Tidak perlu pergi kemana-mana, tetap di rumah saja, dan suruh pihak dekorasi dan tenda untuk memberesi semuanya. Dari keluarga Bian tidak jadi datang kemari. Ibu nya Bian di rawat di rumah sakit. Dan pernikahan di undur".
" Suruh tetangga yang sudah datang untuk pulang, acara pernikahan hari ini akan di rubah jadwalnya".
Suara papa menjawab semua kecurigaan ku. Utari benar-benar berhasil membatalkan pernikahan ku hari ini. Padahal semua persiapan sudah finish, tinggal melaksanakan ijab qobul saja. Tapi mengapa justru dibatalkan, tentu saja para tetangga yang disuruh pulang langsung membicarakan kejadian dirumahku hari ini.
" Bisa semuanya keluar, aku mau bicara berdua saja dengan Raya".
Papa menyuruh semua orang keluar dari kamarku, termasuk mama dan juga Juna. Tidak ada yang berani membantah ucapan papa, semua langsung keluar begitu disuruh.
Kini hanya aku dan papa di kamar, papa sengaja menutup pintu kamarku. Dan duduk di tepian ranjang tempat tidur.
" Maaf karena papa tidak berhasil membawa Bian ikut serta kemari. Bian tidak kemana-mana, karena ibunya juga dalam keadaan baik-baik saja. Memang tadi katanya sempat pingsan saat mendapat telepon dari teman Bian yang memberi tahu tentang masa lalumu yang sebenarnya. Tapi sekarang ibunya Bian sudah siuman. Tidak di bawa ke rumah sakit, karena dokter keluarga mereka yang datang ke rumah".
" Papa di interogasi oleh keluarga Bian, mereka meminta papa menjawab pertanyaan mereka dengan jujur. Bian awalnya melarang, dan menyuruh papa pulang ke rumah, karena Bian tidak mau ada orang lain yang tahu tentang keadaanmu yang sesungguhnya".
" Tapi setelah papa pikir-pikir, mungkin tidak ada salahnya jika papa menjawab pertanyaan mereka sekedarnya. Dan papa berhadapan dengan ayah dan juga Budenya Bian. Mereka berdua menanyakan kebenaran dari informasi yang ibunya Bian dengar dari teman Bian yang habis menelepon. Ayah tidak bisa menjawab, takut salah dan tidak sesuai dengan cerita yang Bian sampaikan pada keluarganya. Karena itulah papa limpahkan semuanya pada Bian agar dia yang menjawab".
" Namun Bian belum sempat menjawab, ibunya Bian ikut bergabung dan mengatakan jika teman Bian tidak mungkin berbohong".
Kata papa ibunya Bian berkata di depan ayah dan budenya Bian," Raya memang sudah punya anak dari hubungan terlarang dengan mantan pacarnya. Wanita seperti itu tidak pantas menjadi menantu di keluarga kami. Selama ini kami tidak pernah mempermasalahkan dari mana Raya berasal, siapa orang tuanya, dia lulusan apa, dan apa pekerjaannya. Kami juga tidak masalah jika Dia berasal dari keluarga tak berpunya. Tapi mengetahui jika Raya sudah punya anak dengan mantan pacarnya. Kami jelas tidak bisa menerima perempuan seperti itu menjadi bagian dari keluarga kami. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya jika hari ini terpaksa kami membatalkan pernikahan mereka secara sepihak", ucap ibunya Bian.
" Itulah yang dikatakan oleh ibunya Bian. Ayah bisa apa jika mereka sudah membuat keputusan. Sebenarnya Bian sempat memberontak dan mengajak papa pergi, untuk menuju KUA, karena Bian mengatakan dia sudah janji padamu, akan sampai di KUA sebelum jam 9, agar kalian tetap melangsungkan pernikahan".
" Sayangnya keluarganya melarang, bahkan ibunya sampai membuat pilihan untuknya, Bian akan membatalkan pernikahan kalian, itu berarti dia masih dianggap keluarga, atau tetap menikahi mu dan Bian akan dicoret dari daftar keluarga mereka, bahkan ibunya mengancam tidak akan pernah menemuinya lagi jika Bian bersikeras menikahimu".
Aku hanya tersenyum getir mendengarkan cerita papa yang panjang itu.
" Tentu saja Bian akan memilih keluarganya, dan aku setuju dia mengambil keputusan itu. Tapi mengapa Papa malah berbohong pada orang-orang mengatakan jika pernikahan Raya di undur, bukankah pernikahan Raya dibatalkan, bukan di undur. Seharusnya papa bicara jujur saja, agar tidak menimbulkan masalah lagi di kemudian hari", ujarku.
" Ibunya Bian tidak bersalah Pa, beliau hanya menginginkan putranya mendapatkan istri yang baik. Bukan wanita dengan masa lalu kelam seperti Raya. Mungkin jika Raya berada di posisinya, Raya juga akan melakukan hal yang sama", ucapku bersikap seolah aku baik-baik saja. Meski sebenarnya aku rapuh, dan butuh sandaran.
Aku tahu, papa pasti paham jika saat ini aku sedang rapuh, dan hampir saja tumbang, tapi Papa membiarkan aku menguatkan diriku sendiri, agar aku menjadi wanita yang kuat. Aku menyuruh papa keluar dari kamar, karena aku ingin sendiri, papa pun menuruti ku dan keluar dari kamar ku, memberiku waktu untuk sendiri, tak lupa menutup pintu, agar tidak ada yang masuk.
Karena itulah selama ini aku belum juga menikah, bukan karena aku belum bisa move on dari Yoga, lebih tepatnya mengantisipasi kekacauan seperti yang terjadi saat ini.
Aku wanita dengan masa lalu yang kelam, dan semua yang mengetahui kisah ku pasti menilai diriku sebagai wanita kotor dan nakal. Dan bagi mereka yang mempunyai putra baik seperti Bian, akan sangat tidak setuju jika sampai pemuda baik bertemu dengan wanita kotor dan nakal sepertiku.
Mungkin aku tidak akan pernah menikah seumur hidupku, mana ada keluarga yang bersedia mempunyai menantu dengan masa lalu kelam seperti ku.
Apa sebaiknya aku pergi saja dari rumah ini, memulai lembaran baru di tempat yang baru agar masa laluku tidak terus menghantuiku, dan mengacaukan kehidupanku di masa sekarang. Toh Shaka sudah dibawa Yoga bersamanya, entah kemana mereka berdua pergi.
Aku sudah tidak mempunyai tanggung jawab apapun disini, aku tidak perlu bertahan hidup bersama mama dan papa karena mereka pasti bisa melanjutkan hidupnya tanpa keberadaan ku.
Mungkin justru selama ini keberadaan ku disini lah yang mengacaukan kedamaian dalam hidup mama dan papa. Aku lah yang menjadi gara-gara mereka berdua menjadi gunjingan dan dinilai sebagai orang tua yang gagal mendidik anak.
Belum lagi pernikahan ku yang batal, pasti orang akan semakin senang membicarakan keluargaku. Kenapa harus selalu aku yang menjadi penyebab keluargaku jadi bahan pembicaraan orang lain.
Baiklah, aku sudah membuat keputusan, aku akan berpamitan pada mama dan papa untuk pergi dari rumah ini, aku akan membuka usaha sendiri di tempat baru. Semoga saja mama dan papa setuju, dengan uang pemberian Yoga kemarin, lumayan banyak. Dan bisa aku pakai untuk modal terlebih dahulu.
Lagian tidak mungkin juga aku berangkat kerja ke restoran lagi setelah pernikahanku dan Yoga yang dibatalkan oleh orang tuanya. Seandainya aku masih tetap berangkat, pasti akan jadi canggung jika bertemu langsung dengan Bian di restoran.
Belum lagi jika orang tua Bian melarang Bian datang ke restoran karena ada aku disana, bukankah itu akan mempersulit semuanya.
Keputusan mengundurkan diri dari restoran dan membuka usaha sendiri di lingkungan yang baru adalah pilihan terbaik. Bukan aku kabur dari kenyataan. Aku hanya tidak ingin memperkeruh keadaan. Aku ingin semuanya kembali berjalan seperti biasa meski pernikahanku batal. Yaitu dengan aku yang pergi, cukup aku yang harus pergi, dan semuanya akan kembali berjalan normal seperti sedia kala.
Seharian aku dikamar, sore hari aku baru keluar karena Juna terus menggedor kamarku menyuruhku makan.
Saat aku keluar tenda dan dekorasi di depan rumah sudah tidak ada. Semuanya sudah dibereskan. Makanan yang sudah dibuat mama dan para tetangga dibagikan pada para tetangga, dari pada mubadzir.
Paman dan keluarganya juga sudah pulang ke rumahnya. Keadaan rumahku sudah seperti hari-hari biasa, hanya ada mama, papa, aku, dan Juna.
Aku melihat ekspresi kecewa di wajah mama.
" Maafkan Raya ma, semuanya memang salah Raya", ujarku sengaja bicara terlebih dahulu.
Namun justru tiba-tiba mama menangis hingga terisak.
" Bukan sayang, semuanya bukan kesalahan kamu, semuanya memang salah mama, yang menginginkan kamu segera menikah. Seandainya saja mama tidak terburu-buru menyuruhmu menikah, mungkin kejadian hari ini tidak pernah terjadi. Mungkin Shaka masih ada di rumah, dan kita tidak perlu mengalami semua ini", ucap mama masih terisak.
" Tidak ma, mungkin memang semua ini harus terjadi. Agar kita belajar kedepannya tidak usah berharap Raya akan menikah, karena akan terjadi hal seperti hari ini lagi".
Aku pun menyampaikan rencana yang sudah aku pikirkan saat di kamar tadi. Mama dan Papa jelas tidak setuju, tapi Juna berbeda, dia mendukung rencana ku.
" Biarkan Kak Raya hidup di tempat baru, kalau mama dan papa khawatir, aku bisa mengajak kak Raya tinggal bersamaku di kota. Nanti kakak bisa memulai usaha kakak disana".
" Shaka sudah bersama ayahnya, dan aku rasa dia akan baik-baik saja bersama ayahnya yang kaya raya. Aku pikir Shaka sudah cukup besar membuat keputusan untuk memilih tinggal bersama siapa ".
" Kak Raya tidak mungkin terus disini, dia juga tidak mungkin terus kerja di restoran milik mantan calon suaminya. Karena itu mama dan papa harus mendukung rencana Kak Raya, dukung dia memulai lembaran baru di tempat yang baru", ucap Juna.