
Malam di puncak yang terasa dingin, seketika berubah menjadi malam yang panas dan penuh cinta. Yoga yang tahu jika aku belum merasa ngantuk sengaja memanfaatkan momen ini untuk membuat kenangan indah di puncak bersamaku.
Seperti seorang pasangan pengantin baru yang tengah dimabuk cinta, Yoga mencoba memberikan kepuasan batin padaku, dan melakukannya sampai beberapa kali.
Untung saja Syifa malam ini tidur dengan sangat nyenyak, dan tidak terbangun karena kegaduhan yang aku dan Yoga buat di dalam kamar. Dari mulai kasur yang bergerak lumayan keras, suara benturan disana sini karena gerakan Yoga yang terlalu bersemangat dan buas, hingga suara-suara aneh yang muncul dari dalam diri kami berdua, seperti *******, lenguhan, dan erangan panjang saat kami berdua sama-sama mencapai puncak kenikmatan.
Mungkin karena udara di puncak yang dingin, dan hawa yang sejuk, membuat Syifa tidak terganggu dengan sedikit kebisingan yang ada.
" Ra.... kamu memang yang terbaik, selama ini meski sudah berulang kali kita melakukannya, entah mengapa tiap kali kita berhubungan badan, aku selalu memperoleh sensasi memuaskan yang tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata".
" Makin hari, makin kamu pandai memberikan servis dengan gaya-gaya permainan yang baru, dan membuatku tak bosan-bosan untuk melakukannya lagi dan lagi".
Yoga selalu saja seperti itu tiap kali kami selesai berhubungan, memuji dan memujiku terus sampai aku tertidur pulas. Biasanya aku hanya mendengarkan pujiannya sambil menyandarkan kepalaku di lengan kekarnya. Posisi ini terasa sangatlah nyaman untukku.
Tentu saja tidak seperti dulu yang kadang masih polos tanpa sehelai benangpun, karena sekarang Syifa sudah mulai besar dan kadang bangun tengah malam, kami harus tetap berhati-hati agar jangan sampai Syifa melihat pergumulan panas kedua orang tuanya.
Yoga juga sudah memberikan saran agar Syifa tidur terpisah, di kamarnya sendiri, namun aku masih belum tega, karena Syifa masih terlalu kecil, baru berusia 3 tahun, dan terkadang dia bangun tengah malam minta dibuatkan susu, atau diantar ke kamar mandi.
Apalagi selama ini Syifa tidak menggunakan jasa baby sitter, aku dan mama yang merawatnya sejak bayi, makanya kasihan jika dia dibuatkan kamar sendiri di umur yang masih balita.
Biarlah aku dan Yoga yang sedikit lebih berhati-hati jika berhubungan badan, toh kamar kami sangat luas, bisa berpindah dari kasur ke sofa panjang yang tidak kalah empuk dari kasur kami. Dulu saja saat di kontrakan Juna kami bisa melakukannya di atas lantai, pun tetap bisa menikmati setiap pergumulan yang terjadi.
Dan pagi ini aku bangun kesiangan, saat aku membuka mata, Yoga dsn Syifa sudah tidak ada di dalam kamar, mungkin mereka sudah keluar dan lari pagi di sekitaran Fila, karena udara di sini benar-benar segar saat pagi hari seperti sekarang.
Aku langsung menuju kamar mandi, membersihkan diri dan melakukan kewajiban dua roka'at sendiri di dalam kamar. Saat aku selesai sholat, mama mengetuk pintu kamarku, ku persilahkan mama untuk masuk, karena pintu yang tidak aku kunci.
" Ra... tadi Yoga nyuruh mama nemuin kamu ke sini, tapi pas nyampe kamu lagi mandi, jadi ini mama kesini lagi".
" Yoga bilang ada rencana membuat kejutan untuk Shaka, mau bagaimana rencananya?", tanya Mama setelah menutup kembali pintu kamarku.
Aku pun menceritakan rencana yang semalam aku dan Yoga diskusikan. Dan mama mendengarkan cerita ku dengan seksama.
" Tapi Raya belum punya hadiah apa-apa untuk Shaka Ma, Raya bingung mau kasih apa, sepertinya ayahnya sudah sangat memanjakannya hingga semua yang Shaka inginkan sudah dia miliki", ucapku.
Mama tersenyum lebar, " Kamu tahu nggak apa hal yang sangat Shaka inginkan dari dulu sampai sekarang?", tanya Mama padaku.
Aku menggelengkan kepalaku karena memang aku tidak tahu, seketika aku merasa jika aku bukan ibu yang baik untuk Shaka, karena selama ini aku tidak tahu apa yang Shaka inginkan.
" Kebahagiaan kita, canda tawa kita saat berkumpul bersama. Tidak perlu sesuatu yang mahal atau mewah, karena keinginan Shaka sebenarnya sangatlah simpel dan nggak mahal".
Mendengar jawaban mama, aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi, mungkin karena aku merasa terharu dengan keinginan putraku yang sama sekali tidak menginginkan barang mewah, atau sesuatu yang mahal. Tidak seperti anak-anak seusianya yang mungkin permintaannya adalah barang-barang mahal, seperti ponsel keluaran terbaru, mobil sport, atau motor gede, dan barang mahal lainnya.
" Kalau begitu mari kita berusaha memberikan yang Shaka inginkan. Kita harus bahagia ma... biar Shaka juga bahagia. Dulu kita sudah cukup bahagia dengan hidup kita, meski kita serba kekurangan, dan sekarang mari kita lebih berbahagia karena kita sudah hidup kecukupan, bahkan Tuhan memberikan lebih dari yang kita harapkan".
Aku dan mama keluar dari kamar menjumpai Yoga, Shaka, dan Juna yang sedang bercanda dan membuat Syifa kecil tertawa sampai terbahak-bahak di teras samping.
Entah apa yang sedang mereka lakukan, tapi pagi hari yang dingin ini jadi terasa hangat karena suasana ceria mendengar senda gurau yang mereka lakukan.
" Nyonya, sarapan sudah siap di meja makan, apa mau saya panggilkan Tuan dan yang lain?", tanya ART yang bekerja di Fila.
" Biar saya saja yang panggil mereka, makasih ya mba", ucapku sambil berjalan menuju teras samping, tempat dimana Yoga dan yang lain berkumpul saat ini.
" Ibu, lihatlah, Ayah, Om, dan Kak Shaka lucu matanya bisa begini-begini", ujar Syifa memperagakan yang dilakukan oleh Yoga dan yang lain dengan memutar bola matanya.
" Syifa juga bisa Bu, lihat mata Syifa...".
Aku tersenyum lebar melihat Syifa yang bertingkat menggemaskan.
" Sekarang kita ke ruang makan dulu, sarapan pagi, habis itu semuanya mandi, dan bersiap-siap untuk ke kebun nenek, disana nanti ada kebun bunga, dan juga kebun sayuran, kita bisa melihat beberapa pekerja kebun yang sedang memanen bunga dan sayuran".
" Syifa ikut ibu", rengek Syifa saat tahu aku mengajaknya pergi.
" Tentu saja Syifa akan ikut, kan nanti kita akan sekalian belajar mengenal warna-warna bunga yang indah di kebun", ucapku.
Yoga, Shaka dan Juna mengikuti langkahku yang menggendong Syifa menuju ruang makan. Papa dan Mama sudah lebih dulu duduk di kursi makan dan menunggu kami semua berkumpul.
Sarapan pagi bersama keluarga dengan menu yang jarang sekali kami makan. Ada nasi Mandhi, yang baunya sudah tercium dari kejauhan, aroma gurih dan rempah-rempahan yang menyeruak masuk kedalam hidung, membuat rasa lapar semakin menjadi.
" Ini namanya apa mba?", tanya Mama yang memang tidak tahu dan belum pernah makan nasi Mandhi sebelumnya.
" Ini nasi Mandhi, saya sengaja memasak nasi dengan bumbu rempah yang cukup beraneka ragam, agar suhu tubuh tetap hangat meski nanti akan berjalan-jalan di luar, dengan lauk daging kambing dan juga acar buah, untuk menyegarkan", ujar mba ART.
Ternyata selain cekatan dan pandai memasak, Mba ART juga sangat cerdas. dia tidak masak sembarang masak, tapi juga memikirkan baik buruknya dan memperhitungkan situasi dan keadaan.
Semua makan dengan lahap, karena ternyata rasanya enak, dan cocok dimakan saat udara terasa dingin seperti saat ini.
Aku membantu membereskan piring dan gelas kotor saat semua selesai sarapan.
" Kalau boleh tahu sudah berapa lama kerja di Fila ini?", tanyaku pada ART yang melarangku mencuci piring.
" Biar saya saja yang cuci Nyonya. Saya bekerja disini belum terlalu lama, menggantikan bibi saya yang dulu bekerja disini. Karena bibi saya sudah makin tua dan tidak bisa membersihkan rumah sebesar ini sendiri, Beliau menyerahkan pekerjaannya pada saya", ujar ART itu menerangkan.
" Berapa usia mba?, dan siapa namanya?, sampai lupa kalau kita belum berkenalan", ucapku sambil menyodorkan tangan untuk menjabat tangan ART itu.
" Maaf tangan saya kotor kena minyak dari bekas wadah nasi", ART itu tidak mau bersalaman denganku, khawatir aku kena kotoran dari tangannya.
" Nama saya Puput, asal saya dari kota DEFG, dan baru sekitar 6 bulan menggantikan bibi saya bekerja disini. Mohon maaf kalau dalam saya melayani Nyonya dan yang lain kurang berkenan di hati", ucap Pulut merendah.
" Kamu sudah sangat baik memperlakukan kami semua, saya juga suka dengan cara kerja kamu. Sepertinya kamu masih sangat muda, berapa usiamu?", tanyaku.
" Saya baru 16 tahun Nyonya, tapi saya sudah pernah bekerja menjadi cleaning servis di perusahaan besar di Jakarta. Usai lulus SMP, saya langsung bekerja di Jakarta, tapi hanya 3 bulan".
Wah, ternyata asyik juga ngobrol dengan ART yang masih sangat muda ini. Nasibnya seperti aku dulu yang harus bekerja di usia muda. Dan hanya lulusan SMP. Pasti dia berasal dari keluarga yang kurang mampu.
" Sayang...kita sudah mau berangkat ke kebun, kok kamu malah lagi ngobrol disini".
Yoga memanggilku, karena semua sudah bersiap untuk ke kebun.
" Tunggu sebentar, aku sedang bicara dengan Puput, dan belum selesai, lagi asyik-asyiknya. Kalau tidak keberatan, apa boleh aku ajak Puput ikut bersama kita ke kebun?", tanyaku.
" Ajak saja, mungkin kita membutuhkan bantuannya disana", ujar Yoga sambil membalikkan badan , keluar rumah.