
Selama satu jam kami berada di restoran milik Bian, restoran tempat dimana aku bekerja. Shaka terlihat sangat menikmati setiap masakan dan aku bahagia karena dia bahagia.
" Lain kali Shaka mau kesini lagi, kalau Shaka mewakili sekolah ikut lomba lagi dan menang, kan Shaka biasanya dapat uang pembinaan, nanti Kak Raya sama Mama dan papa akan Shaka ajak makan-makan lagi disini. Soalnya masakannya enak banget dan tempatnya juga sangat nyaman, adem", ujar Shaka sambil berandai-andai.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar putraku sudah bisa menilai sebuah tempat itu nyaman atau tidak.
" Butuh duit banyak buat makan disini, masakan mama juga nggak kalah enak", ucapku agar Shaka tidak terus menghayal.
" Kak Raya, ini gimana sih, tentu saja masakan mama masih yang paling enak, tapi kan jarang masak makanan berbahan mahal seperti ini, Mama masaknya paling sayur dan lauk tempe atau tahu, makan ikan atau daging hanya sebulan beberapa kali saja" gumam Shaka.
Kini Shaka sudah sangat pandai berdebat, dia memang anak yang cerdas dan pemberani, hanya saja kadang pemikirannya masih harus diluruskan agar tidak melenceng.
Anak laki-laki yang masih remaja seperti Shaka memang biasanya lagi bandel-bandelnya. Dan jika ada sesuatu yang melenceng dari anak seusia mereka bukan dengan kekerasan atau bentakan cara menanganinya. Namun lebih tepat dengan kelembutan dan musyawarah.
Aku menyadari waktuku di rumah tidak terlalu banyak karena aku harus bekerja. Kecuali untuk hari libur seperti saat ini .
Namun di hari Jumat saat aku dapat jatah libur, justru biasanya Shaka selalu sibuk dengan kegiatannya sendiri, sepulang sekolah lanjut sholat Jumat, dan usai itu akan berangkat kelapangan bermain bola dengan teman-temannya. Belum lagi waktu masih SD dulu tiap Jum'at ada latihan siaga, mungkin nanti setelah masuk SMP juga sama, karena Shaka suka mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya.
Karena itulah kadang aku hanya bisa berpesan pada mamaku agar sering-sering mengajak Shaka ngobrol dan memberi masukan-masukan yang baik, agar Shaka tetap berjalan pada jalur yang benar.
" Makanya kamu belajar yang rajin, jadi anak yang pinter, jangan kebanyakan main-main, biar bisa tetap mempertahankan peringkat kamu. Kalau kamu terus jadi rangking pertama tiap semester, kan kamu akan lebih mudah mendaftar di sekolah manapun, sukur-sukur kamu bisa sampai kuliah di perguruan tinggi, kak Raya janji akan bantu biayain kamu sampai kuliah kalau kamu tetap pertahankan rangking mu Ka...".
" Kalau kamu bisa sekolah tinggi dan punya gelar, kamu bisa bekerja di tempat yang nyaman, bisa di perusahaan besar, atau jadi seseorang pengusaha yang sukses, kelak hidupmu akan kecukupan, pengen makan enak bisa tiap hari, nggak perlu mikir-mikir uangnya cukup apa enggak buat ini dan itu".
" Dan jangan lupa, kalau kamu kelak jadi orang sukses, bahagiakan dulu orangtuamu, mereka yang sudah berjasa besar dalam kehidupan kamu hingga kamu mencapai kesuksesan".
Aku sengaja memberi Shaka pengertian mumpung Shaka sedang duduk diam sambil menikmati makanannya. Momen makan bersama sekeluarga begini memang paling tepat untuk berbicara dari hati ke hati, karena jarang kami sekeluarga bisa kumpul dan duduk santai sambil makan bareng seperti sekarang.
Dari dulu mama yang harus berangkat pagi ke pabrik, sekarang setelah mama berhenti kerja, gantian papa yang harus berangkat narik ojek pagi-pagi sekali, karena di pagi hari bisa dapat lumayan banyak pelanggan yang order ojek online. Karena pagi hari waktunya para karyawan atau pelajar berangkat menuju sekolah atau tempat kerja mereka.
Kadang papa bahkan belum sarapan sudah berangkat, katanya sayang bisa nganter satu penumpang kalau waktunya dipakai buat sarapan. Papa biasanya hanya makan roti dan minum teh manis buatan ibu di pagi hari.
" Kenapa kak Raya nggak bantu biayain Kak Juna buat kuliah?, kan dia sudah lulus SMA kemarin, kok malah Kak Juna pergi bekerja ke kota besar?", pertanyaan Shaka membuatku tersenyum.
Namun saat aku hendak menjawab pertanyaannya, justru mama yang menjawab terlebih dahulu ucapan Shaka.
" Kak Raya sudah menawarkan hal yang sama, tapi sayangnya kak Juna lebih memilih bekerja agar bisa berpenghasilan, dan tidak terus jadi tanggungan keluarga. Kalau mama sih sebenarnya nggak masalah, mau apapun keputusan yang dibuat, yang penting anak-anak mama bisa mempertanggung jawabkan atas semua keputusannya itu. Di sana Juna juga sedang berusaha untuk bisa membahagiakan mama dan papa".
Jawaban mama membuat Shaka membulatkan bibirnya membentuk huruf 'O'.
Kami sudah selesai makan siang, makan siang terlama yang baru pernah aku lakukan, karena biasanya kami para karyawan justru akan diberi jatah makan siang lebih awal, sekitar jam 10, atau siang sekalian sekitar jam 2, dimana pengunjung restoran sudah tidak terlalu ramai. Karena di jam makan siang biasanya pengunjung restoran sedang ramai-ramainya. Jadi tidak mungkin bagi kami para pegawai bersantai dan ikut makan siang, karena tamu sedang banyak-banyak nya.
Meski kami sudah selesai makan, tapi Shaka terlihat masih betah, karena satu suguhan terakhir belum di cicipinya, yaitu brownis coklat yang terlihat sangat lezat pemberian dari Bian.
" Kak Raya... Shaka sebenar nya ingin sekali makan brownies coklat itu, tapi perut saka sudah tidak muat jika dipaksa untuk diisi lagi, apa boleh brownis itu dibawa pulang saja ?, biar bisa kita makan nanti malam di rumah, sambil minum susu coklat hangat dan nonton bola...".
" Tentu saja boleh, biar nanti Kak Bian suruh kak Rita buat bungkus brownis nya".
Bian melambaikan tangan memanggil Rita yang langsung mendekat.
" Tolong ini meja dirapikan, dan brownis ini tolong dibungkus, sekalian tambah dua milkshake coklat buat di bawa pulang Shaka".
Kulihat Rita langsung mengangguk sambil memanggil temanku yang lain untuk membereskan meja penuh piring kotor bekas keluargaku makan.
" Apa kabar Pak Tono dan Bu Wina?, maaf baru bisa menyapa, tadi habis meeting di hotel, ketemuan sama calon klien yang mau memesan masakan untuk acara pernikahan nya bulan depan di hotel Grand Hill".
Mama dan Papa pun menyambut uluran tangan dari Bian. Tidak lupa mama mengucapkan terimakasih banyak untuk semua makanan yang sudah diberikan sebagai hadiah untuk Shaka.
" Tidak apa Bu Wina, Shaka memang pantas mendapatkan semua itu, dia mengingatkan waktu saya seumuran dengannya. Waktu itu pertama kali ketemu sama Raya di sekolah, persis seumuran Shaka".
Bian yang selalu supel dan mudah berkomunikasi dengan siapa saja, langsung bisa akrab dengan mama papaku, dan juga dengan Shaka.
Setelah ngobrol santai dengan Bian, aku dan keluargaku pamit untuk pulang, karena Papa masih harus narik ojek lagi. Mama dan Papa bergegas keluar terlebih dahulu dari restoran, sedangkan aku dan Shaka berjalan santai ditemani Bian.
Namun saat berjalan menuju parkiran depan restoran, ucapan Shaka membuat aku benar-benar merasa malu dan tidak enak pada Bian.
" Kak Bian, kemarin sore saat dirumah, Kak Raya tanya sama Shaka, apa Shaka punya kenalan seumuran dengan kak Raya, katanya minta dikenalin siapa tahu ada teman Shaka yang baik hati, soalnya mama sudah sering protes kenapa Kak Raya sudah setua itu belum mau menikah juga. Apa Kak Bian mau bantu Shaka, Kak Bian kan orang yang baik, mau nggak jadi suami Kak Raya?".
Aku langsung membungkam mulut Shaka yang tidak ada rem-nya itu, saat ini aku benar-benar malu pada Bian. Namun justru kulihat Bian tersenyum lebar mendengar ucapan Shaka.
" Kak Bian sih nggak masalah buat bantu Shaka, tapi coba tanya sama Kak Raya nya mau nggak jadi istri kak Bian, soalnya kayaknya kakak kamu nggak tertarik deh sama kak Bian".
Kali ini justru pertanyaan Bian yang membuat aku semakin salah tingkah. Dan aku pun menjerit saat Shaka tiba-tiba menggigit telapak tanganku yang tengah membekap mulutnya.
" Kak Raya apaan sih, Shaka jadi nggak bisa bernafas tahu!".
" Kak Bian lihat sendiri kan sikap Kak Raya itu seperti itu, makanya Shaka khawatir nggak ada laki-laki yang mau sama dia, mau jadi perawan tua kali!".
Kali ini aku ganti menepuk lengan Shaka yang bicaranya semakin keterlaluan.
" Sudah Bi... jangan dengerin ucapan Shaka, ini anak memang kalau bicara nggak ada rem-nya, perlu di servis dulu mulutnya, biar bisa di rem".
" Makasih ya Bi, buat semuanya, lain kali nggak usah repot-repot ngikutin keinginan Shaka, kalau diturutin terus lama-lama bisa ngelunjak anak ini", ucapku sambil menyalakan stater motor matik ku.
" Ayo buruan pulang Ka... Kak Bian nya mau lanjut kerja, jangan ganggu waktunya", ucapku menarik tangan Shaka agar naik ke boncengan motorku.
Shaka pun menurut sambil dadah dadah dan mengucapkan terimakasih pada Bian.
Aku pun keluar dari restoran milik Bian. Saat kulihat Rita berlari-lari keluar menghampiri Bian. Entah terjadi masalah apa, tapi aku tidak perduli, hari ini saatnya aku libur kerja, jadi biar mereka menyelesaikan masalah restoran sendiri tanpaku.