
Tiba hari Jum'at saat Shaka harus ke sekolah dengan membawa begitu banyak barang bawaan, dari mulai baju ganti, kayu bakar, perlengkapan mandi, peralatan makan dan berbagai macam barang lainnya.
Papa yang mengantarkan Shaka ke sekolahan karena harus berangkat pagi-pagi sekali. Katanya ada beberapa acara terlebih dahulu di sekolahan, sehingga jam 6 Shaka sudah berangkat. Biasanya dia hanya berpamitan pada mama dan papa, tapi kali ini dia juga berpamitan dan menyalamiku, bahkan mencium punggung tanganku sama seperti pada mama dan papa. Memang sedikit terasa aneh sikap Shaka akhir-akhir ini.
Aku yang sedang menjemur cucian harus mengelap tanganku yang basah agar tidak terasa dingin saat Shaka sungkem.
" Semangat pramuka, semoga hari-harimu di perkemahan membahagiakan dan akan menjadi kenangan indah di masa tuamu kelak", ucapku seraya melepas kepergian Shaka dengan senyuman dan kepalan tangan memberi semangat.
" Makasih Kak Raya, semangat juga buat kakak, semoga liburan hari ini kakak bisa istirahat dengan nyaman", ucap Shaka sambil mengedipkan satu matanya, entah apa maksud Shaka melakukan hal itu.
Apa dia menyindirku karena beberapa Jumat kemarin aku tidak bisa istirahat, karena harus sibuk mengurus berkas dan mendaftar di KUA. Atau apa ada maksud lain dari kerlingan matanya. Entahlah...
Aku selesai menjemur cucian dan sengaja duduk santai di teras rumah setelah membuat teh manis dan pisang kukus yang masih panas yang baru saja ibu angkat dari kompor. Ada satu pohon pisang kapok di samping rumah yang sudah matang. Dan itu menjadi menu nikmat sebelum sarapan. Masih terlalu pagi untuk sarapan, baru jam 6, sedangkan aku biasa sarapan jam 7.
Banyak ibu-ibu yang lewat depan rumahku karena hendak pergi ke sungai untuk mencuci baju, kebanyakan dari mereka menyapaku yang sedang duduk sendiri di teras.
" Lagi liburan ya Ra?, tumben jam segini udah lagi santai sendirian di teras?".
Dua ibu-ibu paruh baya seumuran dengan mama berpasa-basi menyapaku yang sedang duduk santai sambil menikmati teh manis dan pisang rebus yang ada di depanku.
" Eh iya nih, lagi liburan", jawabku singkat.
Kedua ibu-ibu itu terus berjalan, belum terlalu jauh mereka melangkah, mereka langsung membicarakan aku.
" Seneng ya si Raya kerja di restoran, di demenin sama bos pemilik restoran yang masih bujangan, jangan-jangan itu Bos nggak tahu kalau dulu si Raya itu gadis nggak bener. Nanti pas malam pertama baru ketahuan itu kalau si Raya gadis udah bolong", ucap tetangga 1.
" Heh... mana mungkin bos muda itu suka sama Raya sampe segitunya, kalau belum di suruh nyoba, paling juga sama si Raya sudah sering di kasih servis di kamar sebelum mereka menikah. Mungkin karena servisnya yahuuuut... makanya sama si bos di jadiin istri", ucap tetangga 2.
Aku bisa mendengar kedua tetangga yang menyapaku tadi, mengatakan hal seperti itu saat mereka berjalan sudah cukup jauh dari rumahku, mungkin ibu-ibu itu adalah satu dari kesekian ratus atau mungkin sekian ribu tetangga yang diam-diam membicarakan tentang keburukanku di belakangku.
Wajah mereka semua hanya ramah di depanku saja, sedangkan di belakangku mereka semua terus membicarakan keburukan ku, membuat cerita sendiri sesuai versi mereka masing-masing. Dan yang menyedihkan aku tak bisa apa-apa. Hanya bisa mendengarkan mereka bergunjing tentang hidupku.
Sudah sejak awal salah, mau berbuat benar seperti apa pun masih tetap akan terlihat salah. Kadang hal itu yang membuatku merasa lebih baik bersikap dan berbuat sekehendak hatiku saja. Masa bodoh dengan komentar orang lain. Terserah para tetangga mau membicarakan aku seperti apa. Yang jelas sekarang aku sudah kebal dengan semua gunjingan itu.
Karena hampir 15 tahun aku mendengar semua sindiran dan gunjingan itu, aku sudah kebal, dan tidak perduli. Selama ini aku makan nyari sendiri dan tidak minta-minta pada mereka, dan semuanya ku dapatkan dari pekerjaan yang halal, jadi aku tidak perduli dengan omongan orang lain.
" Ngapain kamu duduk di depan rumah pagi-pagi begini, kan lagi banyak-banyak nya orang lewat, kamu jadi di bicarakan lagi sama mereka. Mama nggak terima hal ini Ra, biar mama hadapi ibu-ibu itu satu persatu, biar mereka tidak terus menerus menjelek- jelekkan kamu dibelakang". Mama yang habis dari warung ternyata juga mendengar percakapan kedua ibu-ibu yang hendak mencuci pakaian ke sungai.
" Nggak usah Ma, nggak penting juga ngurusin mereka. Itung-itung buat ngurangin dosa Raya yang sangaaat banyak, bukankah semakin mereka sering membicarakan keburukan Raya , dosa Raya jadi semakin berkurang", ucapku sambil menyeruput teh hangat dari cangkir besar berbahan stainless itu.
" Maaf ya Ma.... karena kesalahan Raya di masa lalu, mama harus sering sekali merasakan sakit hati karena menjadi bahan gunjingan dan sindiran orang lain".
" Tapi bagi Raya, para tetangga itu sudah sangat baik pada kita Ma, setidaknya mereka tidak mengusir kita dari rumah ini, dan tidak ada yang memberi tahu Shaka cerita yang sebenarnya. Bagaimanapun Raya berhutang budi pada para tetangga".
" Jika sampai ada yang memberi tahu Shaka dan membuat Shaka jadi benci sama Raya, Raya pasti akan sangat sedih Ma"
Mama duduk di sebelahku, sambil mengusap punggung tanganku pelan. Tatapannya terlihat seperti ingin menyampaikan sesuatu, tapi tidak berani mengungkapkannya. Selama beberapa menit mama terus mengusap-usap punggung tanganku dalam diam.
" Masuklah, sarapan dulu, kamu bisa kembung kalau diisi dengan teh kebanyakan. Mama sudah membuat sambel terasi sama ngrebus daun singkong metik di belakang rumah. Menu kesukaan kamu".
" Ayo Ma, kita sarapan sekarang. Mama memang yang terbaik. Makasih ya ma, tau saja Raya sudah kangen sama sambel terasi buatan mama". Aku berjalan masuk sambil membawa gelas cangkir dan piring berisi pisang rebus di kedua tanganku.
Selesai sarapan aku hanya duduk-duduk santai di depan televisi, menemani mama melihat infotainment pagi yang membahas kehidupan artis ibukota.
Ada kabar pernikahan artis yang akadnya akan di siarkan secara live di salah satu siaran televisi swasta besok, ada lagi kabar dari jebolan ajang pencarian bakat yang ternyata sekarang berpindah haluan menjadi seorang YouTubers. Dan gosip paling akhir membahas salah satu personil band yang kedapatan menggunakan sabu-sabu.
Sungguh siaran yang sangat tidak penting bagiku, tapi menurut mama itu penting sebagai bahan ngobrol saat belanja di tukang sayur. Dan alasan itu membuatku tertawa karena lucu.
Tapi memang benar, jam 8 pagi saat tukang sayur mangkal di depan rumah tetanggaku, aku dengar dari dalam rumah, para ibu-ibu itu membahas tentang gosip artis yang dikabarkan di infotainment tadi. Aku jadi tekekeh sendiri di rumah saat mendengar ibu-ibu itu seolah mengenal para artis ibukota dan membicarakan mereka dengan menggebu-gebu.
Apa memang seperti itu hobi para ibu-ibu masa kini, bergosip di setiap ada kesempatan. Wah kalau benar begitu, berarti harus bersyukur para artis itu yang dosanya di ringankan, saking seringnya jadi bahan pembicaraan ibu-ibu itu.
Dan satu hal yang membuatku kaget di pagi ini. Ada tamu terhormat yang datang pagi-pagi sekali, beliau adalah Bu Ara, bidan yang dulu membantuku saat aku melahirkan Shaka.
Ku persilahkan Bu Ara masuk ke dalam rumah, beliau datang seorang diri, masih dengan memakai baju batik resmi, katanya mampir setelah mengikuti acara perkumpulan di puskesmas.
" Saya mendengar kabar kalau kamu sebentar lagi mau menikah, benar Ra?", tanya Bu Ara saat kami berdua sama-sama sudah duduk di ruang tamu.
Aku mengangguk mengiyakan. " Tinggal beberapa hari lagi Bu, nanti jam 9 rencananya mau ke puskesmas buat imunisasi sebagai sarat sebelum menikah, lalu ke KUA menyerahkan surat keterangan sudah imunisasi dari puskesmas", ucapku menjelaskan.
Bu Ara mengangguk, " Maaf kalau saya langsung bicara ke intinya ya Ra... Apa calon suami kamu sudah tahu kalau kamu dan Shaka...", Bu Ara nampak menjeda kalimatnya.
" Sudah tahu Bu Bidan, calon suami Raya sudah tahu semua cerita masa lalu Raya, dan dia menerimanya", Mama keluar dari dalam rumah sambil membawa nampan berisi teh manis dan pisang rebus sebagai suguhan ikut bicara.
" Kalau seperti itu syukurlah, ibu sebagai seseorang yang sangat perduli sama kamu dan Shaka, tidak ingin kamu mendapatkan pasangan yang salah. Tapi sepertinya laki-laki yang akan menjadi suami Raya adalah orang yang sangat baik", gumam Bu Ara.
Aku dan ibu mengangguk hampir bersamaan.
" Sebenarnya tadi saya justru mendengar berita ini dari neneknya Shaka, Bidan Herni, karena kami mengikuti perkumpulan yang sama. Apa kamu dan Bu Herni pernah saling bertemu lagi setelah mereka kembali ke sini Ra?", tanya Bu Ara.
" Tidak Bu, kami tidak pernah bertemu, mungkin dia mencari-cari informasi tentang kehidupanku. Mereka orang kaya, dan sangat mudah untuk mereka menyuruh seseorang mencari informasi tentang kehidupan kami, pasti mereka sudah tahu kalau Shaka adalah cucu mereka. Aku yakin itu Bu Ara", tebakku.
" Benar yang kamu katakan Ra, Bu Herni sudah tahu jika Shaka itu anakmu. Tapi putranya juga sebentar lagi akan menikah seperti kamu, dengan seorang dokter gigi", ucap Bu Ara berusaha memberikan informasi.
Mungkin Bu Ara mengira aku belum tahu tentang hal itu, padahal calon istrinya Yoga bahkan sudah pernah datang ke rumah ini.
" Semoga pernikahan mereka bahagia", hanya itu yang bisa aku ucapkan.
Ekspresi Bu Ara dan mama sama-sama bingung saat aku justru mendoakan agar ayah biologis Shaka hidup bahagia dengan istrinya.
" Kamu tidak sakit hati, atau semacamnya Ra.... dia sama sekali tidak perduli denganmu dan Shaka?", Bu Ara justru memikirkan perasaanku.
" Tidak Bu, saya baik-baik saja, justru mungkin hal ini jadi lebih baik untuk hidup kami. Semua yang sudah terjadi sudah saya coba untuk ikhlaskan, sekarang satu-satunya prioritas saya adalah membesarkan Shaka dan menjadikannya orang yang sukses, yang bisa menjadi kebanggaan semua orang, khususnya keluarga", ucapku mantap.
Bu Ara nampak berkaca-kaca mendengar ucapanku barusan. " Semoga hidupmu kedepan akan dipenuhi kebahagiaan Ra... karena yang kebelakang sudah penuh dengan air mata", gumam Bu Ara.