
Riko, Bian, dan Haidar kini mengobrol sendiri diruang tamu, setelah pak RT dan para tetangga pulang. Begitu juga dengan Rita yang pamit terlebih dahulu, karena besok masih harus berangkat kerja.
Aku sengaja membuatkan kopi hitam untuk mereka bertiga.
" Maaf ya cuma adanya ini, nggak papa kan?", tanyaku merasa tidak enak karena hanya bisa menyuguhkan kopi hitam saja.
" Ini saja sudah cukup, kita berempat memang suka meminum kopi hitam seperti ini, apalagi kalau pas lagi naik gunung, pagi-pagi sambil menatap matahari terbit, udara dingin digunung, campur hangatnya sinar matahari pagi, dengan secangkir kopi hitam, sungguh kenikmatan yang luar biasa".
Riko masih menyebut kita berempat, padahal saat ini mereka hanya bertiga, aku jadi merasa seolah Yoga hadir disini meski tidak berwujud.
" Oh iya, kapan-kapan kamu bakalan aku ajak naik gunung sama mereka, nanti coba aku tanya Steve calon istrinya mau ikut atau tidak. Biar kamu ada teman perempuan nya ".
Bian kembali teringat akan mengajakku naik gunung, mungkin akan menyenangkan.
" Sayang sekali Steve nggak bisa hadir malam ini, dia itu sok sibuk tiap kali diajak kumpul, ada ada saja alasannya", gumam Haidar.
" Memang apa alasan yang dia bilang pas tadi kamu kerumahnya?", tanya Riko.
Haidar menyalakan rokok yang baru diambilnya dari saku celananya. Baru menjawab pertanyaan Riko dengan hembusan nafas panjang menghembuskan asap yang mengepul di ruang tamu.
" Steve cuma bilang lagi nggak enak badan, padahal ibu dan calon istrinya tenaga medis, harusnya tidak jadi masalah kalau cuma nggak enak badan", protes Haidar yang merasa jika sahabat nya hanya membuat-buat alasan saja.
Mungkin Yoga sudah tahu jika yang dilamar Bian adalah aku, kemarin saat di dalam mobil kan Yoga melihat aku menghampiri Bian dan Riko, sudah pasti Yoga bisa menebak jika calon suami yang aku sebutkan adalah Bian.
Riko ikut menyalakan rokok seperti Haidar dan mulai menghisapnya dengan begitu nikmat. " Steve mungkin memang nggak enak badan, akhir-akhir ini kan dia lagi sibuk urus persiapan pernikahannya, tentu saja sangat menguras tenaga dan pikiran, apalagi pernikahan yang akan dilakukannya adalah sebuah kompromi saja, sudah pasti makan hati dan pikiran, membuat tubuh jadi lebih cepat lelah, itu pendapatku saja. Soalnya tiap kali aku diharuskan menyelesaikan pekerjaan yang tidak ku sukai, sudah pasti saat mengerjakannya terasa jadi lebih berat ".
Yang dikatakan Riko masuk akal juga. Setiap melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak hati kita memang akan terasa menjadi lebih berat.
Tapi kenapa Yoga mau menikah dengan Utari jika dirinya tidak menginginkan pernikahan itu?, kemarin dia mengatakan jika sekarang dia sudah mandiri dan sukses, bisa menolak keinginan orang tuanya, tapi kenapa masih saja dia menuruti keinginan ayah dan ibunya yang tak dia inginkan?. Apa yang sebenarnya terjadi?.
" Sudah kita habiskan saja kopi buatan calon istriku yang sangat nikmat ini, habis itu kita cabut. Kalian nginep di rumahku saja, jadi bisa lanjut ngobrol nanti, nggak enak ngobrol disini terlalu lama, sudah jam 10 malam".
Kalimat Bian membuat yang lain menggerus rokok mereka yang masih panjang ke dalam asbak. Dan menyeruput kopi yang aku buat hingga tersisa ampasnya saja.
" Makasih ya Ra... ternyata kopi buatan kamu nggak kalah rasanya sama yang ada di kafe-kafe, beruntung banget Bian dapat istri yang pinter nyeduh kopi", Haidar memuji kopi buatan ku.
Padahal hanya kopi hitam biasa yang ku beli di warung, tapi teman-teman dan keluarga Bian terus saja memuji semua yang aku buat. Mereka memang sangat baik hati dan pandai menghargai usaha orang lain.
" Cuma kopi beli diwarung, bagaimana bisa disamakan dengan yang ada di kafe, jelas jauh berbeda. Tapi makasih deh karena kopi buatanku sudah di puji", ucapku seraya berdiri mengantar Bian dan teman-temannya keluar dari ruang tamu.
Papa dan mama sedang berada di teras rumah membereskan gelas dan karpet yang tadi digunakan untuk duduk-duduk para tamu. Memang acara sengaja lesehan, biar rumah kecilku bisa muat lebih banyak orang.
Bian dan kedua sahabatnya berpamitan pada Mama dan papa, mereka berjalan menyusuri gang kecil menuju mobil mereka yang di parkir di pinggir jalan besar.
" Sudah malam Pa, Ma, istirahat saja, biar Raya yang bereskan".
Mama menggeleng, " kamu saja yang istirahat, besok kamu harus berangkat kerja, kalau mama sama papa bisa tidur siang di rumah besok, sedangkan kamu, nggak mungkin bisa tidur siang di restoran, karena kalau siang tamu lagi banyak-banyak nya di restoran".
Memang benar yang dikatakan mama, tapi aku tetap membantu mereka membereskan gelas dan karpet sampai selesai. Aku tidak enak jika tidur terlebih dahulu sementara papa dan mama sedang beres-beres rumah.
" Makasih ya Ra... akhirnya kamu memutuskan untuk berhubungan serius dengan Bian. Mama yakin Bian itu pemuda yang sangat baik, kedua orang tuanya juga sangat baik. Mama akan tenang jika kamu menikah dengannya"
Usai membereskan rumah, aku langsung masuk kamar dan berusaha tidur, jam menunjukkan pukul 11 malam, rasa lelah dan ngantuk sudah tidak bisa ditahan lagi, membuaiku menuju alam mimpi.
" Ra.... Ra....!, sudah jam setengah 8, kamu mau berangkat kerja kan?, sebentar lagi nak Bian akan jemput kamu!".
Suara mamaku terdengar dari balik pintu kamar yang semalam sengaja ku kunci. Aku membuka mata sambil meregangkan otot-otot tubuhku.
Apa?, sudah jam setengah 8?, aku kesiangan, belum mandi apalagi sarapan, sepertinya aku tidur terlalu nyenyak semalam.
" Iya ma, Raya keluar, aduh maaf Raya kesiangan ma, rasanya nyenyak banget tidur semalam, mungkin karena kecapekan".
" Ya sudah, karena kamu sudah bangun, mama keluar dulu ya, tukang sayur keliling sudah sampai di rumah sebelah, mama mau belanja sayuran buat masak besok, kalau mau makan, sisa masakan semalam sudah mama panasi di dapur. Papa dan Shaka sudah berangkat pagi-pagi sekali!", seru mama yang suaranya semakin jauh karena keluar dari rumah untuk belanja ke tukang sayur keliling yang biasa mangkal di depan rumah tetangga.
Aku bergegas membuka pintu kamar dan berlari menuju kamar mandi untuk mandi. Sampai lupa tidak membawa baju ganti ke kamar mandi. Akhirnya aku harus keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk saja. Karena mama yang biasanya kumintai tolong mengambilkan baju ganti juga sedang keluar.
Biarlah, toh nggak ada orang dirumah, mama bilang papa dan Shaka sudah berangkat pagi-pagi sekali, aku keluar dengan memakai handuk saja tidak masalah pikirku, aku pun berjalan cepat menuju kamar, dan begitu kaget saat melihat Bian sedang duduk di ruang tamu sambil melotot menatapku yang berjalan hanya menggunakan selembar handuk saja yang menutupi tubuh. Aku juga sempat melihat Bian menelan saliva nya, karena melihat tubuh ku dari ujung rambut hingga ujung kaki yang hanya terbalut selembar handuk.
Aku tak kalah kagetnya sampai jantungku berdebar begitu cepat seperti mau copot, Bian baru pernah melihatku dalam keadaan seperti ini, aku sengaja berjalan cepat membuka pintu kamar, sayangnya karena grogi dan buru-buru, aku justru tersandung lantai kamar yang sedikit lebih tinggi dari lantai ruang tamu.
Alhasil aku jatuh tersungkur di lantai kamarku. Untung saja handuk yang menutup tubuhku ku lilit dengan kencang, sehingga tidak lepas. Bian langsung berlari berusaha membantuku untuk berdiri, karena jempol kakiku berdarah cukup banyak.
" Kamu nggak papa Ra?", seru Bian sambil bergegas menuju arahku.
" Stop!, nggak papa Bi, aku bisa sendiri, kamu disana saja, tidak usah kesini!", teriakku sambil berusaha berdiri sendiri meski rasanya sakit dan juga malu.
Ku tutup pintu kamarku, dan Bian kembali duduk dikursi ruang tamu, menungguku bersiap-siap untuk berangkat kerja.
Aduh...apa yang aku lakukan, aku begitu ceroboh, sungguh pagi ini aku merasa sangat malu pada Bian.
Sepanjang perjalanan menuju restoran aku dan Bian sama-sama terdiam, entah apa yang sedang Bian pikirkan, aku harap dia tidak berpikir kalau aku sudah biasa memakai handuk saja dari kamar mandi ke kamar tidur. Karena memang baru tadi aku melakukannya, itu juga karena ku kira tidak ada orang di rumah.
Bian entah kapan masuk kedalam rumah, mungkin dia sudah mengucapkan salam, tapi aku tak mendengar karena suara air dari kran kamar mandi yang kunyalakan cukup keras.
" Apa sebaiknya kita percepat tanggal pernikahan kita Ra..., rasanya aku sudah sangat siap baik lahir maupun batin. Maaf saat melihatmu tadi keluar dari kamar mandi, jujur sebagai laki-laki normal, 'milikku' terbangun hingga berwujud sempurna".
" Aku tidak tahu entah sampai kapan aku bisa menahan keinginanku untuk tidak menyentuhmu. Tidak perlu pesta mewah dan ini itu yang ribet. Keluargaku juga tidak mempermasalahkan hal itu Ra".
Aku paham dengan maksud ucapan Bian, pasti juga sangat menyiksa jika 'miliknya' sudah pada wujud sempurna tapi tidak bisa disalurkan.
" Kita bahas lagi nanti ya Bi, aku juga perlu membicarakan dengan orang tuaku. Maaf untuk kejadian tadi, aku tidak tahu kamu sudah ada di rumah, ku kira rumah kosong, karena yang lain sudah pergi".
Kami berdua turun dari motor Bian, mungkin karena dorongan keinginannya untuk mencapai kepuasan. Bian langsung menarik ku ke ruangannya dan mengunci ruangan itu.
Hanya ada kami berdua di dalam sana, " Aku tidak akan melewati batas Ra, hanya sekedar memeluk kamu sebentar agar aku merasa lebih tenang".
Bian langsung mendekap ku dengan sangat erat. Hembusan nafasnya sudah sangat cepat, aku tahu dia menginginkannya, karena tadi melihatku yang hanya berbalut handuk saja.
Tanpa basa-basi Bian menarik daguku dan mencium bibirku dengan sangat rakus, sambil masih memelukku dengan sangat erat. Membuatku sampai hampir kehabisan nafas.