
" Bi sebenarnya sejak tadi aku terus berfikir. Apa mungkin aku bisa naik gunung sama kamu, sepertinya akan sangat melelahkan. Semisal nanti mama dan papa mengizinkan, ini adalah kali pertama aku akan melakukan pendakian. Capek apa nggak sih?".
Bian tersenyum mendengar pertanyaan ku.
" Tentu saja capek, tapi kamu tenang saja, ada aku dan sahabat-sahabat ku, kami sudah terbiasa mendaki gunung, jadi kamu nggak perlu khawatir, lagian nanti spot yang akan kita lewati nyari yang paling aman dan mudah. Jadi kamu dan Utari yang pemula bisa melewatinya dengan mudah".
Dari kalimatnya bisa aku simpulkan kalau Bian benar-benar berharap aku akan ikut mendaki bersamanya. Dia begitu bersemangat dan terus menceritakan hal-hal menyenangkan yang bisa kami lakukan saat melakukan pendakian.
" Loh kok balik lagi bro?, apa ada yang ketinggalan?", Bian tiba-tiba berdiri dan berjalan menuju arah Yoga yang datang lagi ke restoran. Entah apa sebenarnya maunya, sikap yoga benar-benar bisa terlihat tenang dan acuh pada Utari tadi, aku bahkan tidak habis pikir kenapa Utari mau di jodohkan dengan laki-laki yang bersikap acuh kepadanya.
" Iya, tadi waktu aku ke kamar mandi ku lepas jam tangan di samping wastafel, ternyata aku lupa untuk memakainya kembali".
Bian nampak memanggil Romi, dan menyuruhnya mencari jam tangan milik Yoga yang tertinggal di kamar mandi.
Tak lama mencari, ternyata jam tangan milik Yoga memang masih ada di samping wastafel.
" Untung setelah kalian pulang, tamu di restoran tidak terlalu ramai, dan tidak banyak yang ke kamar mandi, jadi jam tangan kamu masih utuh", ujar Bian sambil menerima jam tangan milik Yoga dari Romi.
" Jam mahal itu mas Bos, ada lapisan emasnya. Tapi gampang di cari juga kalau ilang, di kulit bagian dalam jam ada inisial Y love R, pasti inisial pemilik jam sama pasangannya".
" Seandainya saya yang nemuin, dan nggak ada yang nyari, cocok juga itu inisial sama nama saya, Romi, tinggal nyari cewek yang nama depannya huruf Y", ujar Romi dengan cengengesan.
Aku mengernyitkan keningku. Y love R, apa maksud Yoga menulis inisial huruf Y dan R di jam tangannya, jangan bilang dia menulis inisial nama depanku dan nama depannya.
" Kamu pasti bingung dengan inisial Y dan R ya Ra?, itu sudah tertulis sejak Steve masih SMA dulu, itu kan jam tangan hadiah ulangtahun yang ke 17 dari ibunya, Steve sedikit merenovasi datang ke ahli jam, dan membuat inisial Y dan R di jam itu".
" Y itu Yoga, karena saat SMP Steve di panggil dengan nama Yoga, benar kan Steve?".
Yoga langsung mengangguk, " Yoga adalah panggilan kecilku terutama oleh orang-orang terdekatku, dan R adalah inisial dari nama pacar pertamaku, sengaja aku ukir di jam ini, agar aku selalu mengingatnya dan tidak pernah berpaling darinya".
" Sebagai pengingat saat ada gadis lain yang berusaha mendekatinya. Steve selalu menatap jam itu. Karena tidak ada barang pemberian dari mantan pacar pertamanya, Steve bilang dia berasal dari keluarga yang kurang mampu dan tidak ada satupun barang peninggalan darinya. Hanya kenangan yang tak akan pernah terhapus dari memorinya katanya".
Bian dan Yoga saling berusaha bercerita, aku yakin Yoga sering curhat pada sahabat-sahabatnya tentang aku, apa dia menceritakan sejauh apa kami berhubungan?, apa Yoga memberi tahu sahabatnya jika kami sudah sampai melakukan hubungan intim?. Entahlah, tapi tidak ada yang membahas ke arah sana
Benar sekali yang Bian katakan, aku memang tidak pernah memberikan barang apapun pada Yoga dahulu, karena memang aku tidak punya apa-apa untuk diberikan, tapi aku menyerahkan kesucian ku, nama baikku dan juga masa depanku padanya. Sudah aku serahkan seluruh jiwa ragaku, karena hanya itulah yang aku miliki saat itu. Dan asal kalian tahu, itu tak ternilai harganya. Bahkan tidak mungkin akan bisa kembali setelah aku memberikannya.
" Wah Tuan Steve yang masih muda, tampan, dan sukses, sepertinya memiliki hati yang dalam juga saat mencintai seseorang, beruntung sekali gadis itu, tapi kalau boleh tahu kenapa tidak di nikahi saja Tuan?".
Romi yang masih bergabung bersama kami terus bertanya karena penasaran. Pasalnya Romi juga suka mengobrol dengan orang-orang muda sukses, dan berharap bisa tertular menjadi orang sukses jika bergaul dengan orang sukses juga.
Yoga menepuk bahu Romi. " Sampai sekarang aku masih berusaha mendapatkan dan mendekatinya, meski kini dia sudah punya calon suami dan aku juga. Tapi sepertinya dia tidak mencintaiku lagi, dia sangat membenciku karena sebuah kejadian kelam di masa lalu kami", ucap Yoga sambil terus menatap lekat ke arahku.
Sungguh berani apa yang dilakukan Yoga saat ini, terang-terangan menatapku lekat di depan Bian, calon suamiku, seandainya Bian tahu yang sebenarnya dia pasti sudah menonjok wajah dan matamu yang berani menatapku seperti itu.
" Makasih ya.... Mas Romi", ucap Yoga sambil membaca tanda pengenal yang Romi pakai. " Senang ngobrol sama kamu, maaf jadi ganggu pekerjaan kalian".
" Gadis miskin tapi nggak tahu diri, bisa-bisanya menolak balikan sama pengusaha tampan, sukses dan masih muda seperti Tuan Steve. Kalau aku jadi gadis itu, tentu saja aku mau balikan", gumam Romi masih berdiri di sampingku.
" Jangan memandang dari satu sudut pandang saja Rom, kamu belum mengenal Steve maupun gadis miskin yang menolaknya, mungkin saja ada alasan gadis itu menolak pengusaha tampan, sukses dan masih muda seperti Steve. Kalau nggak tahu ceritanya mending jangan berkomentar".
Romi menatapku dengan wajah heran. Mungkin dia merasa aneh mendengar ucapanku barusan. Tapi bukankah apa yang aku katakan benar?.
" Aku setuju sama Mba Raya, jangan ikut berkomentar atau berpendapat jika kamu tidak tahu cerita yang sebenarnya. Kadang nampak sempurna di luar, belum tentu di dalamnya juga demikian. Kamu nggak denger cerita serem yang aku ceritakan beberapa waktu lalu sama Mba Raya sih Rom. Tapi nggak penting juga sih cerita sama kamu". Hani ternyata ikut bergabung dan mendengarkan apa yang kami bicaranya.
Benar, Hani yang mendengar percakapan antara ibunya Yoga dan Bu Ara. Meski hanya sedikit yang di dengarnya, tapi Hani jadi tahu jika Yoga pernah melakukan kesalahan.
" Mba Raya kita ke loker yuk mba, berkemas-kemas, sudah jam 4, itu teman-teman yang gantian shift sama kita sudah pada datang". Hani menggandeng tanganku mengajak ke loker mengambil tas dan barang-barang kami.
" Kamu nggak cerita ke siapa-siapa tentang cerita yang kamu dengar waktu di rumah besar itu kan Han?", aku kembali bertanya pada Hani.
Hani menggelengkan kepalanya. " Enggak mba, dari tadi aku justru berpikir, beruntung sekali Tuan Steve yang pernah melakukan kesalahan fatal mendapatkan calon istri seorang dokter muda yang cantik. Entah kapan Tuhan memberikan hukuman padanya. Harusnya Tuhan menghukumnya atas kesalahan yang dia dan keluarganya lakukan".
Aku hanya tersenyum mendengar kalimat Hani, kami berdua mengambil tas dari loker kami masing-masing dan berjalan keluar bersama-sama. Bian sudah menantiku di parkiran, sambil bertengger diatas motor hijaunya.
" Balik duluan ya Han, kamu hati-hati di jalan", ucapku sambil melambaikan tangan pada Hani.
Bian melajukan motornya dengan pelan sampai keluar dari pelataran restoran.
" Riko kemana Bi, tadi dia ikut keluar saat Haidar keluar?", tanyaku saat kami diperjalanan pulang.
Bian mengangguk, " Katanya ada perlu keluar sebentar, nanti kembali lagi ke restoran jam 5".
Aku mengangguk mendengar jawaban Bian. Riko memang selalu bekerja sesuai jam kerja, jika dia ijin siang, pasti malamnya kembali, membantu yang shift malam, dan bertugas mengunci pintu gerbang restoran setiap harinya. Memang pekerjaan yang cukup melelahkan, tapi Riko nampak sangat menikmatinya, mungkin karena bekerja dengan sahabat sendiri, sehingga Riko dibawa enjoy dan santai.
Kami sampai dirumah dan Bian langsung bertemu dengan mamaku yang ada di rumah, ternyata Bian tidak mengulur-ulur waktu langsung menyampaikan keniatan untuk mengajakku melakukan pendakian ke gunung Rinjani.
Mama nampak khawatir dan kurang setuju, namun Bian terus meyakinkan mama dan menjamin keselamatan ku. Mama tak enak untuk melarang. Mama hanya berkata akan membicarakan hal ini dengan papa terlebih dahulu. Bian pun tersenyum lega saat mama mengatakan hal itu.
Dan tak lama kemudian terlihat papa pulang dari narik ojek, mama menyampaikan keniatan Bian setelah papa membersihkan diri dan sedang duduk santai beristirahat di ruang tengah. Lagi-lagi Bian meyakinkan papa jika mendaki gunung bersamanya dijamin akan baik-baik saja.
Papa pun sama seperti mama yang tak enak untuk melarang. Sebagai gantinya, mama dan papa membahas pernikahan kami yang akan di lakukan bulan depan.
Ternyata setelah mengobrol semalam, hasil diskusi mama dan papa memutuskan aku dan Bian akan menikah sebulan lagi. Bian langsung setuju dan dengan cepat menyetujui kemajuan tanggal pernikahan. Karena dia sendiri sudah sangat siap untuk menikahi ku.
" Baik Ma, Pa, Bian akan sampaikan kabar ini juga pada ayah dan ibu, mereka pasti akan senang juga mendengar berita ini".
Percakapan selesai karena Bian pamit pulang sebelum adzan Maghrib berkumandang.