Healing

Healing
119. Wali Murid



" Maaf nyonya, sudah lima menit kita menunggu disini, apa nyonya akan tetap di dalam mobil?".


Suara sang supir menyadarkan aku dari lamunan. Jujur aku merasa nervous untuk keluar dan bergabung dengan wali murid yang lainnya. Dari percakapan yang berhasil kudengar sekilas dari orang-orang yang lewat, mereka membicarakan pekerjaan, dan juga membicarakan tentang anak-anak mereka.


Selama ini aku tidak pernah ikut berkumpul atau masuk grup wali murid, disini tidak ada satupun orang yang aku kenal. Kalau turun dan masuk, mungkin aku akan terlihat seperti orang ilang yang nyasar. Tidak ada teman ataupun kenalan.


" Nanti saja Pak, masih ada waktu 10 menit sampai jam 10 tepat, nanti kalau kurang 5 menit baru aku keluar", jawabku pada sang supir.


Ya.... setelah kupikir-pikir sebaiknya aku menghadiri undangan itu, kasihan Shaka jika tidak ada walinya yang datang. Apalagi aku sudah menerima undangan dari Shaka secara langsung. Tapi aku akan keluar dari mobil saat acara akan segera di mulai. Agar sampai disana semuanya sudah duduk rapi di tepat masing masing, aku jadi tidak kelihatan seperti orang nyasar.


Dan sesuai rencana, aku turun dari mobil jam 10 kurang lima menit, aku berjalan menuju ke Aula tempat diadakannya pertemuan wali murid. Letak gedung aula memang kelihatan dari depan sekolahan. Karena itulah aku bisa menemukannya dengan cepat.


Aku masuk ke dalam setelah mengisi daftar hadir. Dan memilih duduk di kursi kosong yang berada di deretan paling belakang agar tidak mencolok dan jadi pusat perhatian.


Seandainya saja dulu aku sekolah lagi dan minimal lulus SMA, mungkin aku tidak akan merasa se minder ini berkumpul dengan wali murid lainnya. Bahkan aku lulus SMP saja karena mengikuti kejar paket B. Membuat aku merasa menjadi kaum minoritas disini.


Orang tua dan wali murid dari siswa lain berpenampilan rapi, dan menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi, mereka sepertinya orang-orang berpendidikan tinggi dari kalangan menengah ke atas.


Dulu waktu menjadi wali Shaka menggantikan mama saat Shaka masih SD aku tidak merasa seminder ini, karena wali yang lain berpenampilan biasa saja dan kebanyakan datang dengan membawa kendaraan motor, atau bahkan naik angkot.


Setelah Shaka SMP, semuanya berbeda, dia sekolah di SMP yang bagus dengan bayaran yang mahal. Pantas saja jika yang sekolah disini orang-orang kaya.


Tapi aku jadi berpikir lagi, jika memang dulu Yoga juga sekolah disini, kenapa dia justru tertarik padaku yang sekolah di SMP biasa, bukankah pasti teman-temannya di sekolah ini jauh lebih cantik-cantik dan berpenampilan menarik, karena mereka di dukung kekayaan orang tuanya.


Seketika aku jadi merasa beruntung telah dicintai oleh Yoga dari dulu sampai saat ini. Tapi satu pertanyaan muncul lagi di pikiranku, seandainya dulu kami tidak melakukan hubungan terlarang, dan aku tidak hamil anaknya Yoga, mungkinkah sampai sekarang Yoga masih mencintai ku?. Entahlah....


Rapat wali murid dimulai, ada beberapa guru dan juga kepala sekolah yang bergantian bicara di depan, aku mendengarkan dengan seksama tentang rencana studi tour siswa siswi kelas 8.


Tidak tanggung-tanggung, tiga pilihan yang diberikan semuanya dengan biaya yang fantastis. Pilihan terdekat berlibur ke pulau dewata Bali dengan beberapa tujuan destinasi wisata, dua pilihan lain yaitu ke negeri sakura dengan tujuan Disney land dan universal studio. Satu pilihan lagi ke Korea dengan beberapa tujuan destinasi wisata juga salah satunya ke menara Namsan, pasti bagi pecinta K-Pop atau drakor akan sangat setuju ber-pariwisata kesana.


Aku menuruti anjuran Shaka untuk hadir ke pertemuan, duduk, dan cukup mendengarkan, tidak usah ikut berkomentar atau mengajukan pertanyaan seperti wali murid lainnya.


Karena saat memasuki sesi musyawarah, begitu banyak yang mengajukan pertanyaan dan berkomentar. Jadi seperti ini pertemuan para wali murid dari kalangan orang-orang kaya dan berpendidikan, banyak yang angkat bicara di forum ini.


Hanya segelintir orang yang memilih diam sepertiku. Itu berarti aku termasuk kedalam golongan minoritas.


Dan saat yang lain sedang ramai mengajukan pendapat mereka, seseorang mencolek lenganku, " Maaf Nona, apa anda wali murid siswa sini juga?, sepertinya anda masih sangat muda, dan aku tidak pernah melihat foto anda di profil para wali murid?", tanya ibu-ibu yang duduk di sebelah ku.


" Iya, saya memang tidak masuk ke grup wali murid, karena yang masuk grup nomor asisten suami saya, dan dia jarang sekali berkomentar", ujarku menjelaskan.


Ibu-ibu itu menatapku tajam, seolah sedang menelanjangiku.


" Oh... pantas saja saya baru pernah melihat nona, kelas 8 apa anaknya?, mungkin saja sekelas dengan putriku?", tanya ibu itu lagi.


Aku yang tidak sempat bertanya Shaka berada di kelas 8 apa, jadi bingung harus menjawab apa. Akan terlihat aneh jika aku sebagai walinya Shaka tidak tahu dia dikelas mana.


Segera ku kirim pesan pada Shaka menanyakan dia dikelas 8 apa, agar aku bisa menjawab pertanyaan ibu-ibu tadi. Namun sayangnya centang satu, belum dibaca, mungkin saja Shaka sedang mengikuti pelajaran di dalam kelas, sehingga tidak membaca pesanku.


Karena aku tidak menjawab-jawab pertanyaan ibu tadi tentang kelas 8 apa Shaka, dia justru berbisik pada orang yang duduk didepannya dengan suara yang masih bisa kudengar.


" Mungkin saja nona itu istri baru dari salah satu wali murid disini, jaman sekarang kan lagi marak gadis muda nikah sama om-om kaya, dari pada nikah sama yang muda tapi miskin dan hidup susah, sekarang realistis saja, uang membuat jarak usia yang jauh tidak jadi masalah".


Justru akan lebih baik jika mereka tidak mengenalku dan tidak mengingatku setelah pertemuan hari ini, semoga saja ini pertemuan kami yang pertama dan terakhir kalinya.


Jam 12 rapat selesai dengan mendapatkan hasil akan dilaksanakannya studi tour ke Bali, dikarenakan efek pandemi yang belum berakhir. Demi keselamatan bersama, setelah adu pendapat yang cukup alot dari banyak wali murid dan guru, akhirnya diambilah keputusan itu.


Aku keluar paling awal dari gedung aula, karena tempat dudukku yang berada paling belakang, dan pintu keluar ada di belakangku.


" Kak Raya!", seru Shaka, sambil berlari pelan ke arahku saat aku keluar dari aula.


" Kamu kok nggak dikelas?, apa lagi waktunya istirahat?", tanyaku sambil mengeluarkan ponselku karena ada telepon masuk dari Yoga.


" Lagi istirahat kak, habis sholat, ini mau ke kantin nyari cemilan. Makasih ya Kak, udah mau hadir di pertemuan wali murid hari ini, maaf saat kakak kirim pesan, HP ada di tas, soalnya lagi pelajaran".


Aku mengangguk mendengar permintaan maaf dan ungkapan terimakasih dari Shaka, dan sempat bertatap mata dengan dua ibu-ibu yang duduk di sebelahku dan membicarakan aku tadi. Mereka berdua melewatimu dan kembali berbisik-bisik. Pasti mereka membicarakan aku lagi, karena mereka bicara sambil melirik ke arahku.


" Sana kalau mau ke kantin, ini ada telepon dari ayahmu".


Shaka mengangguk dan kembali bergabung dengan teman-temannya menuju kantin. Syukurlah jika Shaka punya banyak teman di sekolah. Dia murid pindahan, jadi aku khawatir Shaka tidak punya teman, tapi memang sudah cukup lama juga Shaka pindah kesini, lebih dari satu tahun yang lalu, dan Shaka juga anaknya humble dan mudah bergaul, pantas jika temannya banyak.


Ku angkat telepon dari Yoga, " Kenapa Ga?, aku baru selesai rapat wali murid, ini baru keluar dari aula", tanyaku lewat telepon.


" Iya, buruan keluar, aku sudah di depan, baru nyampe nih, tadi minta ke Haidar buat turunin aku disini, aku di depan pintu gerbang ya".


Ku tutup telepon dari Yoga dan mencari keberadaannya di depan pintu gerbang.


Aku sudah menemukannya, dia melambaikan tangan padaku, aku membalas lambaian tangannya. Namun saat aku hendak menghampiri Yoga, dua ibu-ibu tadi menghentikan langkahku.


" Maaf, bisa bicara sebentar?".


Aku menatap kedua ibu-ibu itu secara bergantian, lalu mengangguk, " Kenapa?", tanyaku.


" Jadi yang tadi itu adik Nona ya?, kami sudah salah sangka terhadap nona, mohon maafkan kami", ucap ibu-ibu tadi dengan sungguh-sungguh. Aku hanya mengangguk karena aku buru-buru mau pulang, Yoga baru sampai dari luar kota, dan sedang menungguku di luar, dia pasti lelah.


" Iya nggak papa, saya nggak gampang tersinggung kok, santai saja, tapi maaf suami saya lagi nunggu di luar jadi saya buru-buru", ucapku sambil meninggalkan kedua ibu-ibu tadi dan berjalan menuju tempat Yoga berdiri.


Aku tahu kedua ibu-ibu tadi masih memperhatikan aku, mungkin mereka penasaran seperti apa suamiku, setelah mereka dengan seenaknya menebak suamiku om-om kaya. Mereka pasti akan kaget saat melihat Yoga yang masih muda dan sangat tampan.


Yoga tersenyum lebar saat aku sudah berjarak dekat dengannya, dia merentangkan tangan lebar untuk memelukku. Aku yang juga sangat merindukannya langsung masuk kedalam pelukannya. Kami seperti ABG yang lagi kasmaran, tidak melihat situasi dan kondisi, main pelukan di tempat ramai, apalagi ini di depan pintu gerbang sekolahan. Padahal ada banyak sekali wali murid yang sedang keluar dari sekolahan melihat ke arah kami. Tapi Yoga seperti tidak perduli.


Yoga mengecup keningku dan membukakan pintu mobil untukku, " Ayo masuk, mau langsung ke rumah, atau mampir makan di luar?", tanya Yoga setelah kami berdua duduk bersebelahan di dalam mobil.


" Langsung pulang saja, tapi mampir beli mangga muda ya... aku pengen makan yang seger-seger lagi panas begini, bikin rujak pasti cocok", ucapku.


" Pak Surya tahu nggak dimana yang jualan mangga muda?", Yoga langsung bertanya pada supirnya.


" Di depan SMA 1 biasanya ada, tukang rujakan sudah ada sambelnya juga, biar bapak antar, kita lewat sana Tuan", ucap sang supir.


Benar saja, ada tukang rujak dengan berbagai macam buah, tapi aku cuma pengen mangga mudanya saja, dan Yoga langsung memborong semua mangga muda yang ada di tukang rujak itu. Lagi-lagi Yoga bersikap berlebihan, tapi aku suka.