Healing

Healing
91. Ungkapan Perasaan Shaka



Shaka masih tetap menangis terisak tak menjawab pertanyaan ku, sungguh mendengar isak tangisnya membuat hatiku terasa begitu pedih.... bagai tersayat sembilu, dan luka sayatan itu dengan sengaja ditaburi garam. Rasanya sudah pedih, dan semakin pedih.


Aku pun berjongkok di sampingnya, mencoba untuk menunggu sampai Shaka merasa tenang dan lebih baik. Namun sudah sekitar satu jam aku menunggu, Shaka masih tetap saja terisak sambil membenamkan wajahnya di antara kedua lipatan tangannya.


Saat ini aku bingung harus bicara apa, aku takut salah bicara jika aku yang memulai pembicaraan, aku ingin Shaka lah yang terlebih dahulu bicara, mengungkapkan unek-uneknya, agar aku bisa tahu sebenarnya bagian mana yang membuatnya menjadi sangat sedih, agar aku bisa mengobati luka di hatinya.


Akupun akhirnya ikut duduk beralaskan sendal milikku, agar celanaku yang basah dan kotor tidak membasahi dan mengotori lantai parkiran.


Shaka menengok menghadap ke arah ku. " Bisa tolong tinggalkan aku sendiri saja?, aku hanya butuh sedikit waktu untuk sendiri dan meluapkan kekesalanku, nanti aku pasti akan pulang", ucap Shaka sambil mengeratkan giginya menahan emosi.


Aku tau dia marah, tapi setidaknya Shaka masih mau bicara. Aku bersyukur meski sedang marah, dia masih mau bicara padaku setelah satu jam kami berdua saling berdiam diri.


" Mama tidak mengijinkan aku pulang sebelum menemukan kamu, kalau kakak pulang sendirian, pasti mama bakalan marahin kakak, dan mama nggak bakalan ijinin kakak masuk ke rumah".


Shaka kini menegakkan kepalanya, mengusap kedua pipinya yang basah dengan ujung lengan bajunya. Dia menatapku dengan tatapan yang penuh amarah dan juga penuh tanda tanya. Sepertinya Shaka ingin mendengar penjelasan dari ucapanku tadi pagi, tapi dia masih berusaha menahannya. Antara ingin mengetahui kebenarannya, tapi takut dengan kebenaran itu sendiri.


" Mama... kakak.... sebenarnya aku harus bagaimana memanggil kalian berdua?. Apa saat ini tidak ada yang ingin dijelaskan padaku?, atau aku harus pura-pura tidak mendengar apapun?". Shaka mulai meninggikan suaranya, dan kini matanya begitu tajam menatapku.


" Sejak mulai masuk SD, saat itu usia ku baru 7 tahun, aku baru bisa mulai mengerti sedikit tentang pembicaraan orang lain. Semua ibu dari teman-teman ku mengatakan jika aku ini anak haram. Aku adalah hasil dari hubungan terlarang. Saat itu aku mencoba mencari tahu kebenarannya, mencari tahu alasan mengapa mereka mengatakan hal itu padaku, bagaimana bisa mereka menyebut aku anak haram. Aku punya mama dan papa yang jelas dan tinggal serumah denganku, mereka juga memiliki buku nikah karena aku pernah melihatnya".


" Aku memang sengaja mencari informasi tentang pernikahan mama dan papa, dan aku menemukan buku nikah mereka di lemari, semua tidak ada yang salah. Aku sampai berpikir, mungkinkah aku disebut anak haram karena aku adalah hasil hubungan gelap papa dengan selingkuhannya, atau mama dengan selingkuhannya?, tapi seumur hidupku, aku tidak pernah melihat mama dan papa saling cekcok, mereka selalu hidup rukun dan damai, apa mungkin salah satu dari mereka bisa berselingkuh?", ucap Shaka, kemudian berhenti sebentar untuk mengambil nafas agar emosinya terkontrol.


" Hingga suatu waktu aku dengar dari seseorang, bahwa ibuku dan ayahku sebenarnya tidak pernah melangsungkan pernikahan. Lalu apa yang aku lihat salah?, jelas-jelas aku sudah melihat buku nikah mama dan papa".


" Dan di lain waktu lagi.... kudengar omongan orang yang lebih mengejutkan, ada yang mengatakan, ibuku adalah kakak perempuan ku, itu yang kudengar dari orang-orang. Tapi aku tidak mudah percaya begitu saja, aku mencoba menggunakan logikaku, usia kami hanya berjarak 15 tahun, bagaimana mungkin kakakku itu adalah ibu kandungku, sementara saat itu Kakak baru saja lulus SMP".


" Semakin aku berpikir, semuanya semakin terasa tidak masuk akal. Seandainya aku punya banyak uang, aku pasti akan melakukan tes DNA diam-diam, mencocokkan DNA ku dengan papa, agar aku tahu kebenarannya. Tapi hal seperti itu hanya terjadi di sinetron dan juga di novel".


Ucapan Shaka membuatku menggelengkan kepalaku, " Hal itu bukan hanya terjadi di sinetron atau di novel, karena ayah kandungmu melakukannya Nak... Yoga melakukan tes DNA denganmu, tanpa sepengetahuan ku melalui orang suruhannya. Itulah mengapa dia jadi mengetahui keberadaan mu yang sudah aku sembunyikan selama ini", batinku.


Kini Shaka membuang pandangannya ke rumput di lapangan yang masih basah karena hujan tadi, dan melanjutkan kalimatnya. " Karena itulah aku membencimu, aku tidak mau menuruti apapun perkataan mu, aku juga tidak mau melakukan segala jenis perintah yang kau berikan. Itu sebagai wujud protes dariku, tapi tidak ada yang mengerti, tidak ada yang peka, semuanya tetap bersandiwara seolah aku anak kecil yang sangat mudah untuk di bohongi".


Hatiku terasa semakin pedih, saat mengetahui jika putraku yang masih kecil menyembunyikan kepedihan yang begitu besar dalam waktu yang sangat lama, dan tidak ada seorangpun yang tahu, termasuk aku, entah ibu macam apa aku ini. Pantas saja dia mengatakan jika dia membenciku, itu sangat pantas dia lakukan. Dan aku harus menerima jika memang putraku mempunyai rasa benci yang begitu besar padaku.


Aku kembali tersadar dari pikiranku sendiri saat Shaka kembali bicara.


" Dan aku berusaha menganggap omongan pedas dan sindiran orang lain hanyalah angin lalu yang tidak perlu aku cari alasannya. Toh lambat laun mereka semua lelah sendiri menyebutku anak haram. Dan aku berusaha menjadi anak yang baik, dan selalu menjadi juara kelas agar anak-anak mereka tetap mau berteman dan bermain denganku meski orang tua mereka melarang".


" Aku sudah tahu sejak lama... siapa aku sebenarnya, tapi aku berusaha mengikuti sandiwara kalian semua. Keluargaku setiap hari melakukan sandiwara besar, nenek dan kakek berubah menjadi mama dan papa, ibu dan paman pun berubah menjadi kakak perempuan dan kakak laki-laki. Sungguh aneh, tapi itu benar-benar terjadi dalam kehidupanku".


" Apa kalian semua harus memerankan tokoh itu seumur hidup kalian?, aku tahu kalian pasti juga merasa lelah, sama seperti aku yang lelah ikut serta bersandiwara mengikuti sandiwara dalam keluarga ini".


" Sampai akhirnya tadi pagi secara tidak sengaja aku harus mendengar dari mu jika semua tuduhan orang memang benar. Selama ini aku hidup dalam kebohongan. Jadi apa yang harus aku perankan nanti saat aku sampai di rumah?".


" Apa aku tetap memanggilmu kakak, dan yang lain dengan panggilan seperti biasanya, atau aku harus mulai memanggil kalian dengan panggilan yang sebenarnya?".


Lagi-lagi aku mendengar Isak tangis Shaka, aku sendiri tidak bisa lagi menahan air mata yang sejak tadi sudah ku tahan agar tidak menetes.


" Panggil saja kami dengan sebutan seperti biasanya, aku hanya salah bicara tadi pagi, aku memang kakak perempuan mu, karena memang seperti itulah yang sebenarnya, bisa sekarang kita pulang ke rumah?, mama pasti sangat khawatir karena sekarang sudah lewat tengah malam", ujarku, setelah beberapa menit aku menumpahkan air mataku juga, tentu saja dengan membuang muka dan tanpa bersuara, agar Shaka tidak tahu jika aku menangis. Malam yang dingin ini terasa lebih dingin karena suasana dingin diantara kami berdua.


Shaka kembali menatapku tajam. " Maka karena itulah aku akan tetap tinggal bersama mama Wina yang mau mengakui ku sebagai putranya. Seharian aku sempat berpikir untuk ikut tinggal dengan wanita yang melahirkan ku setelah acara pernikahannya besok, meski wanita itu tidak mau aku menganggapnya sebagai ibuku, semua itu karena aku tidak ingin terus-terusan merepotkan orang yang seharusnya aku panggil nenek".


" Aku sudah terlalu banyak menyusahkan hidup mereka, seharusnya kedepan nya aku tidak menyusahkan mereka lagi, tapi aku berubah pikiran, mungkin sebaiknya aku tetap tinggal bersama mama Wina yang mau mengakui ku sebagai putranya".


" Apa Kak Bian itu ayah kandungku?, atau justru ayah kandungku orang lain?. Pastinya tidak akan ada jawaban yang aku dapat, untuk mengakui saja tidak mau, apalagi menjelaskan yang lainnya". Shaka berdiri dan berjalan meninggalkanku yang masih terpaku mendengar kalimatnya. Meski sebenarnya Shaka sudah mengetahui kebenaran tentang dirinya sejak lama, tapi dia begitu dewasa, bisa menahan diri untuk tidak memberontak.


Bahkan sekarang dia menanyakan siapa ayah kandungnya, haruskah aku menjawab pertanyaannya, jika aku masih bersikukuh bahwa aku adalah kakak perempuannya.


Aku ini ibu macam apa, yang meski putraku sudah mengetahui segalanya, tapi aku masih tetap saja tidak mau mengakui yang sebenarnya, aku masih saja terus berbohong, aku merasa takut untuk mengatakan yang sejujurnya. Aku takut menyakiti hati Shaka, yang ternyata memang sudah tersakiti dan penuh luka sejak lama.


Ku ikuti langkah Shaka yang berjalan dengan cepat melewati lapangan yang becek dan penuh genangan air hujan. Mobil Yoga masih ada di pinggir jalan, kenapa dia tidak pulang saja, tidak mungkin juga aku akan mengajak Shaka menaiki mobilnya, bisa jadi aneh jika itu terjadi.


Namun saat sampai di pintu masuk lapangan tiba-tiba saja tubuh Shaka limbung, dan terjatuh di rerumputan basah. Aku langsung berlari berusaha menangkapnya, namun sayang jarak kami terlalu jauh.


" Shaka.... Shaka..., bangun sayang, kamu kenapa nak?, maafkan ibu sayangku....", langsung ku pangku kepala Shaka yang terkulai lemah di atas rumput. Dan seketika kudengar langkah panjang dan tegas seorang yang bertubuh kekar menghampiri kami, dan tangan kokohnya mengangkat Shaka, memasukannya ke dalam mobil.


" Cepat masuk ke mobil, dan kita bawa Shaka ke rumah sakit, dia pingsan karena terlalu stress, terlalu banyak tekanan dalam otaknya yang seharusnya belum memikirkan hal serumit ini".


Aku langsung mengikuti instruksi dari Yoga dan masuk ke dalam mobilnya, sambil memangku kepala Shaka di pangkuanku. Semoga saja putraku tidak kenapa-kenapa. Jika sampai Shaka kenapa-kenapa, aku akan sangat membenci diriku sendiri.