Healing

Healing
22. Tukar Tempat



Jam 8 kurang lima menit, aku sampai di parkiran restoran, seperti biasa senyuman mas Dayat langsung mengembang setiap kali melihatku turun dari motor.


" Selamat pagi Mba Raya....", sapaan yang hampir tiap hari aku dengar, kecuali saat aku libur kerja.


Mas Dayat si tukang parkir memang hampir tiap hari berangkat, Sebenarnya ada dua tukang parkir, satu untuk shift pagi, dan satu lagi untuk shift sore. Mas Dayat lebih sering kebagian shift pagi karena tukang parkir satunya Mas Rohman, dia punya dua pekerjaan, jika pagi menjadi pesuruh di SD, dan jika sore menjadi tukang parkir di restoran.


Begitulah kehidupan kami, orang-orang yang hanya lulusan SMP dan SMA, harus mau bekerja keras agar bisa mencukupi kebutuhan hidup. Kadang sampai merangkap beberapa pekerjaan jika masih punya sisa waktu.


" Pagi Mas Dayat..." , jawabku sambil melepaskan helm berwarna putih milikku, helm yang aku beli belum lama, karena helm milik mama yang dulu sudah rusak, dan sangat usang.


Setelah melepas helm dan meletakkan di spion motor, kulihat motor ninja hijau sama persis dengan yang di naiki Bian semalam.


Tapi bukankah Bian mengatakan bahwa dirinya tidak ke restoran hari ini?, lagian biasa nya Bian selalu membawa mobil jika datang ke restoran, dan di parkiran belum aku lihat mobil Bian. Mungkin benar dirinya tidak berangkat hari ini.


Aku berjalan memasuki restoran dan kulihat teman-teman yang lain sudah mulai memegang alat kebersihan masing-masing, ada yang memegang sapu, ada yang memegang kemoceng, dan lain sebagainya. Aku pun turut serta mengambil serbet dan semprotan air untuk mengelap meja dan kursi.


Usai bersih-bersih semua berkumpul di ruang meeting, aku pun turut bergabung dengan mereka.


" Pagi cantik...", aku benar-benar kaget sampai melonjak ketika tiba-tiba seseorang berjalan dari belakang, dan berbisik begitu dekat, sampai nafas hangatnya jelas terasa di telingaku.


Sudah aku duga itu Bian, karena karyawan lain tidak akan berani berbisik sedekat itu kepadaku, ternyata Bian berangkat, dia tidak jadi libur hari ini. Jadi.... apa motor ninja berwarna hijau tadi itu miliknya?, jangan- jangan Bian berangkat dari rumah orang tuanya, sehingga masih memakai motor yang semalam.


Aku hanya tersenyum sambil menatap Bian, mulutku bergerak mengucapkan kata 'pagi juga' saat Bian menatapku dengan senyuman mengembang.


Briefing pagi ini masih seputar pekerjaan, hari ini benar, hanya ada dua delivery order, yang satu untuk acara arisan di komplek perumahan elit. Dan satunya lagi memesan beberapa nasi box dan kue untuk acara ulang tahun.


Karena Rita sedang libur, dan pemesanan di jam yang sama, maka aku dan Hani yang bertugas mengirim delivery order, dan aku kebagian ke tempat arisan , sedangkan Hani ke alamat yang ulang tahun. Untung saja pengiriman jam 10, jadi saat restoran rame di jam makan siang aku sudah kembali ke restoran.


Setelah briefing selesai, semua menempati posisi masing-masing seperti biasanya. Restoran sudah dibuka, itu berarti sudah jam 9 pagi, dan satu jam lagi aku akan mengirim pesanan makanan ke alamat yang sudah ku catat di kertas.


Ku baca alamat itu, seperti tidak asing bagiku. Benar... itu adalah alamat rumah Yoga dulu, apa yang memesan makanan dari restoran ini untuk acara arisan adalah Bu Herni ibunya Yoga?, aku jadi merasa khawatir dan juga was-was.


" Maaf Mas Riko, kalau boleh tahu, pemesanan untuk alamat yang akan aku kirim ini atas nama siapa ya?", tanyaku pada Riko si manager.


Riko terlihat membaca tulisan di kertas yang ku tunjukkan, " Atas nama Bu Herni, kalau bisa tolong hati-hati sekali bawanya ya Ra... soalnya aku dan Bian sangat mengenal beliau, sudah seperti ibu kami. Karena putranya adalah sahabat kami berdua", keterangan yang Riko katakan justru membuat keringat dinginku langsung mengucur.


Aku tidak bisa mengantarkan makanan kesana, aku mau minta tukar tempat pada Hani, untung saja aku klarifikasi terlebih dahulu, siapa nama pemesan makanan dari restoran ini. Jika tidak, aku pasti akan bertemu lagi dengan Bu Herni, dan menginjakkan kakiku lagi di rumah itu. Rumah yang tidak boleh aku datangi, karena sumpahku dulu.


Ku dekati Hani dan ku bujuk agar dia mau bertukar tempat pengiriman makanan denganku.


" Han, kita tukeran tempat ya, aku lihat kamu kayak capek banget, jadi kamu anter ini saja yang alamatnya nggak jauh-jauh amat. Biar box nasi dan kue ulang tahun aku yang antar, ini alamatnya lumayan jauh loh dari sini",


Hani menatapku curiga, tapi dia langsung setuju dengan permintaanku, karena jelas akan lebih menguntungkan dirinya. Yang harusnya mengirim ke alamat yang jauh, jadi mengirim ke yang lebih dekat.


Apalagi jika mengirim di rumah orang kaya, kadang sering dapat tip yang lumayan banyak.


" Oke mba Raya... kita tukeran alamat kirim, mba Raya jangan nyesel ya... kan mba yang minta tukeran".


Ucapan Hani membuatku tertawa, mana mungkin aku akan menyesal, justru kebetulan Hani mau tukeran alamat kirim denganku, setidaknya aku tidak seperti pecundang yang menjilat ludahku sendiri. Sekali aku bersumpah untuk tidak menginjakkan kakiku di rumah itu, maka sampai kapanpun akan tetap sama, kecuali jika ada keajaiban terjadi, entah apa itu, mungkin saat keluarga Yoga memohon pada ku dan meminta maaf dengan tulus.


Aku lebih dulu keluar dari restoran karena alamat aku mengirim makanan lebih jauh dari Hani, ku bawa motor yang sudah dipasang box untuk menyimpan kotak nasi dan kue ulangtahun. Dan ku lajukan pelan-pelan. Membawa motor dengan membawa banyak makanan memang harus lebih hati-hati agar pesanan tetap dalam keadaan rapi dan cantik saat sampai di tempat tujuan.


Namun ternyata rumah tempatku mengirim pesanan nasi box dan kue ulang tahun juga cukup besar, meski bukan di perumahan elit, tapi rumah itu lebih besar dari rumah-rumah yang berada di sekitarnya.


" Masuk mba... tolong di taruh disini nasi box nya, dan kue ulang tahunnya di meja yang panjang itu", pinta si empunya rumah.


Aku menuruti keinginan beliau, apalagi yang menyuruhku orang yang sudah tua.


Rumahnya sangat luas, tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya, sepi, dan sunyi, aku mencoba mencari tahu tentang penghuni rumah, atau keluarga tuan rumah, dengan mencari keberadaan foto keluarga, tapi sayangnya hanya ada satu foto mesra dua pasang lansia yang tersenyum dan saling menatap satu sama lain, tatapan penuh cinta.


" Saya permisi dulu Mbah, semuanya sudah saya letakkan sesuai keinginan Mbah", ucapku setelah orang itu membayar semua tagihan, bahkan diberi lebih.


" Kalau boleh tahu, siapa yang ulang tahun?, apa cucu Mbah?", memang di pesanan kue ada lilin angka 2 dan 6, ku kira cucunya yang sepantaran denganku yang akan ulang tahun.


" Bukan, yang ulang tahun ya saya, tapi teman-teman senam lansia yang saya undang belum pada datang, soalnya acara dimulai nanti jam 11, makasih ya Mba".


Aku mengangguk masih dengan ekspresi kaget sekaligus lucu, untung aku bisa menahan tawaku. Ternyata yang ulang tahun nenek itu, bukan ke 26 tahun, melainkan 62 tahun.


Tapi dimana keluarganya?, kenapa mau ulang tahun tapi rumahnya sangat sepi?, bahkan nenek itu seperti tinggal seorang diri.


Pasti orang tadi adalah mbah-mbah gaul yang kaya, sayangnya dia hanya sendiri, karena rumah besar itu sangat sepi, tidak ada orang lain yang ku temui saat masuk kedalamnya.


Aku hendak kembali ke restoran, namun ternyata kontak motorku ketinggalan di meja panjang tempatku meletakkan kue ulang tahun tadi. Akhirnya aku kembali masuk kedalam rumah untuk mengambil kontak motorku.


Namun saat aku masuk kedalam, justru kulihat pemilik rumah sedang menangis sambil mengusap-usap foto dirinya bersama sang suami. Ku dengar ucapannya yang tidak terlalu jelas, karena beliau bicara sambil menangis.


" Aku hanya berharap bisa merayakan ulang tahun ku bersama dengan mu, kenapa kau tidak ajak aku juga menghadap Yang Maha Kuasa, kenapa kau meninggalkan aku seorang diri disini, kamu bilang mau sehidup semati denganku, tapi kamu berbohong, huhuhu...".


Pemilik rumah masih terus menangis tersedu-sedu, aku jadi tidak enak hati mengganggunya. Aku berjalan perlahan mengambil kontak motorku. Karena kontak motor ini, aku jadi tahu sebuah kebenaran, jika nenek itu tinggal seorang diri di rumah yang besar ini.


" Loh, kamu kenapa masih disini?", aku yang sedang berjalan pelan berusaha tidak menimbulkan suara agar tidak mengganggu pemilik rumah justru ketahuan.


" Kontak motor saya ketinggalan di meja itu Mbah, jadi saya kesini buat ngambil", ucapku jujur.


" Apa kamu melihat apa yang aku lakukan tadi?".


Aku mengangguk karena memang benar, aku melihat pemilik rumah yang sedang menangisi mendiang suaminya, sambil menatap foto mereka.


" Tolong jangan diceritakan kepada siapapun ya, aku tidak pernah menangis di depan orang lain".


Aku merasa aneh dengan ucapan nenek itu, tapi aku mengangguk setuju saja dengan permintaannya, toh aku juga tidak berniat menceritakan pada siapapun kalau aku habis melihat mbah-mbah menangis. Apa untungnya untukku.


" Apa kamu mau menemani ku sampai teman-teman ku datang ke sini?, agar aku tidak kesepian", pinta pemilik rumah.


Sebenarnya aku masih harus kembali ke restoran, tapi aku juga tidak enak menolak permintaan si embah, apalagi beliau memang butuh teman.


" Baiklah mbah, sampai teman-teman mbah datang, aku akan tetap disini".


Aku menemani pemilik rumah sambil mendengarkan cerita beliau yang ternyata tidak memiliki keturunan, pernah mengangkat anak dan membesarkannya, namun justru sekarang anak angkatnya sibuk mengurus pekerjaan, dan jarang pulang kerumah, lebih sering menginap di kantor.


Ku lihat sebuah piano tergeletak di ujung ruangan. " Apa itu milik Mbah?", tanyaku yang langsung berbinar melihat ada piano disana.


" Itu hadiah ulang tahun dari suamiku saat ulang tahun yang ke 31 dulu".


Ternyata ingatan Mbah itu cukup tajam. Bahkan beliau ingat di tahun keberapa beliau di beri hadiah itu.


" Assalamualaikum...!", kudengar suara banyak orang mengucapkan salam, aku pun berjalan keluar mencoba mengecek siapa yang datang.


" Mereka tamu-tamu undangan ku", ujar pemilik rumah sambil menjawab salam untuk para tamu.


" Maaf Mbah, kalau begitu Raya permisi mau kembali ke restoran, masih harus lanjut bekerja", ucapku berpamitan.


Pemilik rumah mengangguk dan memberikan satu box nasi dari restoran yang tadi aku bawa.


" Buat makan siang kamu, semoga bisa ketemu lagi lain kali", ucap si Mbah. Aku pun menerima pemberian nasi box darinya dan pergi dari rumah besar itu, kembali ke restoran.