
" Apa tidak sebaiknya kita pergi mencari swalayan atau toko baju dan sejenisnya, aku nggak mungkin pakai kaos oblong begini dengan pakaian dalam yang masih basah. Bisa masuk angin saat sampai di rumah nanti".
Utari menolak membeli di penjual itu, sebenarnya aku setuju dengan pemikirannya kali ini. Memang benar, bisa-bisa kami semua sakit atau demam akibat hujan-hujanan dan memakai pakaian basah selama 2 jam perjalanan.
" Malah hujannya semakin deras, apa di daerah pesisir seperti ini ada toko baju yang lengkap?", Utari bertanya pada penjual baju.
" Nggak ada Non, kalau mau ke swalayan, sekitar setengah jam naik kendaraan, kalau mau lebih dekat, saya saranin nginep di hotel, nggak jauh dari sini, tuh yang bangunan paling tinggi itu, dari sini kelihatan gedongnya. Di sana tiap kamar ada fasilitas dua bathrobe , pesen bajunya lewat online saja, minta di antar ke hotel, kan bisa tuh", saran si penjual baju.
Lumayan pintar juga pemikirannya. Tapi tidak mungkin kami pergi ke hotel, bisa-bisa kami pulang sampai larut malam, sekarang saja sudah jam 3 lebih. Ternyata bermain-main di pantai membuat kami sampai lupa waktu.
" Wah ibu cerdas juga, gimana kalau kita lakukan saran ibu penjual baju, kita ke hotel dulu?", Bian langsung menelan mentah saran dari ibu-ibu tadi. Bibir Bian sudah terlihat biru, sepertinya dia sudah sangat kedinginan.
" Aku nggak mau, bisa-bisa kita sampai di rumah itu sudah malam, meskipun orang tua kita tahu kita sedang pergi dengan pasangan kita. Tapi aku nggak bilang kalau aku pergi ke pantai. Mama dan Papa ku pasti akan marah kalau tahu aku ada di sini sekarang", aku menolak pergi ke hotel.
Sebenarnya aku sedikit khawatir jika harus ke hotel terlebih dulu. Semakin lama bersama-sama dengan Utari dan Yoga, rasanya hati ini semakin merasa gelisah dan tidak nyaman.
" Aku ke parkiran dulu, kalian tetap disini sementara aku ambil mobil", ucap Yoga sambil pamit keluar dan menembus derasnya hujan, hingga tubuhnya kembali basah kuyup.
" Ya sudah beli baju disini saja neng, kalian itu pasangan kan?, nggak pakai dalaman juga nggak masalah, baju disini bahannya ada juga yang tebal, jadi nggak akan nerawang, lagian kalian bilang tadi bawa mobil kan, bukan pakai motor?, itu berarti nggak masalah sama sekali nggak pakai baju dalaman", lagi-lagi ibu penjual baju memberi saran.
Dan akhirnya kami setuju, mungkin memang itu solusi agar kami bisa secepatnya pulang dan sampai di rumah. Yoga memarkirkan mobil di depan toko. Kami bergantian numpang ke kamar mandi untuk membilas tubuh dan berganti pakaian.
Empat setelan baju pantai kami beli tanpa menawar, padahal menurutku harganya terlalu mahal, mungkin karena berjualan di tempat wisata, jadi pajaknya cukup tinggi, setelan baju pantai seperti ini jika di online shop paling sekitar 50 ribu, dan disini kami beli dengan harga dua kali lipatnya.
Karena kami juga numpang ganti dan mandi, kami pun tidak enak untuk menawar harga setelan kaos ini. Belum lagi kami diberi kantong plastik cuma-cuma untuk wadah baju kami yang basah.
Utari yang pertama ganti baju, dan dia langsung masuk ke mobil setelah selesai, katanya di luar sangat dingin, dia masuk ke mobil dan menyalakan mesinnya agar terasa hangat. Sampai sekarang Utari masih belum mau mengajakku bicara, tidak apa jika dia masih ngambek, aku memaklumi sikapnya.
Selesai aku ganti pakaian, Bian pun masuk ke kamar mandi. Yoga menyuruh Bian berganti terlebih dahulu, dengan alasan jika Bian sudah terlihat sangat kedinginan, memang benar sih yang dikatakan Yoga, bukan hanya bibir Bian yang sudah pucat, tapi jari-jari tangan nya sudah keriput, seperti jika habis renang cukup lama.
Aku keluar dari kamar mandi dengan kaos oblong tanpa dalaman sama seperti Utari tadi, hanya bedanya, saat Utari keluar, Yoga nampak cuek, namun saat aku keluar dari kamar mandi dan Bian masuk ke dalam untuk ganti, Yoga langsung menatapku tanpa berkedip. Ditambah seringai jahat di wajahnya.
Wah... Yoga pandai sekali, dia menyuruh Bian masuk kamar mandi terlebih dahulu, di saat Utari sudah masuk ke dalam mobil, agar ada waktu untuknya menggangguku.
Aku yang risih di tatap dengan cara seperti itu memilih untuk ke luar dari toko, dan bergabung masuk ke mobil bersama Utari, namun Yoga menahan tangan ku.
" Jangan buru-buru pergi Ra, aku sudah menunggu waktu dimana hanya ada kita berdua seperti ini. Apa kamu tidak ingat tempat ini?, jalan ke belakang pertokoan ini ada jalan raya yang menuju rumah kita. Mau mampir ke rumah kita dulu?, kan diluar masih hujan deras, gimana kalau mengajak Bian dan Utari mampir ke rumah kita sekedar ngopi dan menunggu hujan reda, nggak ada salahnya juga".
Yoga ternyata benar-benar sudah gila, sepertinya memang dia harus di bawa ke dokter jiwa atau psikiater, entah mengapa aku melihat dia seperti mempunyai dua kepribadian. Saat dia hanya bersamaku, dia menjadi Yoga yang banyak bicara dan bersikap agresif. Namun saat di depan banyak orang, dia menjadi Yoga yang pendiam dan dingin. Apa mungkin itu akibat dari tekanan batin yang dia pendam selama ini?, karena merasa bersalah padaku, namun juga tak bisa melakukan apa-apa, dia jadi memendam semuanya sendiri?. Tapi jika iya, harusnya orang tua nya tahu hal itu.
" Kamu lagi ngelindur, atau mimpi?, jelas aku paham dengan jalanan menuju kesini, dan aku juga takkan lupa dimana letak rumah tempat kamu membawaku".
" Kamu yakin mau menantang ku melakukan hal itu?, aku masih berpura-pura tidak mengenalmu bukan karena aku pengecut dan tidak gentleman, aku hanya tidak mau kamu berada di dalam masalah, karena aku tahu, hidupmu sudah penuh dengan masalah karena aku. Tapi jika kamu yang menyuruhku melakukan hal itu, kenapa tidak?, nanti saat di mobil, aku akan ajak Utari dan Bian mampir ke rumah kita", ucap Yoga sambil menyeringai, dengan posisi wajahnya yang begitu dekat dengan wajahku, entah mengapa aku justru jadi deg-degan.
Ku tarik tanganku agar terlepas dari cengkeraman nya, " Lepaskan aku!, kamu bilang mencintaiku, tapi kamu selalu saja menyakitiku Ga, dari dulu, sampai sekarang, kamu masih selalu saja menyakitiku!", seruku sambil mengibaskan tangannya, dan berjalan keluar dari toko. Aku langsung masuk ke dalam mobil, bergabung dengan Utari di bangku belakang, sama seperti saat berangkat tadi.
Aku duduk di samping Utari, saat aku masuk Utari sedang bermain game di ponselnya. Masih bersikap acuh padaku, namun aku mendengar perutnya berbunyi.
" Apa kamu lapar Ri?, bukankah makanan dari restoran tadi di bungkus?, kalau lapar dimakan disini saja, nanti kan ada kemungkinan sampai di rumahnya larut malam, di bawa pulang juga keluarga di rumah pasti sudah pada tidur", ujarku dengan suara pelan.
" Aku nggak lapar, kan tadi sudah makan ", sangkal Utari, matanya masih tertuju pada layar ponselnya, dan jarinya masih sibuk menari-nari di layar ponselnya. Padahal tadi jelas-jelas aku mendengar perutnya berbunyi, tapi dia masih saja menyangkal. Ternyata Utari itu makannya banyak, pantas saja dia harus diet biar tetap langsing.
" Nggak usah takut gemuk, kan sekarang banyak itu produk jamu pelangsing. Terus olahraga rutin juga bisa buat tubuh tetap langsing. Jadi mending kalau lapar kita makan saja disini, kalau orang lapar di tahan, nanti malah biasanya makannya akan habis lebih banyak lagi, ibaratnya balas dendam", aku masih mencoba mempengaruhi Utari agar mau makan, aku juga lapar, tapi mau keluar nyari makan hujan-hujan begini malas, sedangkan di dalam mobil sudah ada makanan. Dan baunya semribit membuat perut semakin lapar.
" Ya sudah kita makan, tapi nanti tunggu Bian dan Steve masuk, biar kita makan bersama, meski nanti Steve nggak mau, setidaknya kita tawari dia terlebih dahulu".
Aku mengangguk dengan usul Utari, baguslah... setidaknya sekarang dia mau bicara padaku, meski masih dengan nada sedikit ketus. Itu sudah cukup untukku terus mengajaknya bicara, lama-lama juga dia akan melembut sendiri.
Tak lama kemudian Bian masuk kedalam mobil, Dia sudah berganti pakaian pantai. Di susul Yoga yang juga masuk dan duduk di bangku kemudi.
" Ternyata disini lebih hangat, tau begini dari tadi masuk ke mobil dulu, ngapain nunggu Steve di luar", gumam Bian.
" Lagian siapa yang nyuruh kamu nungguin aku?, kamu pikir aku takut di sana sendirian?, kalau kalian bertiga bawa pergi ini mobil juga aku nggak masalah, ada rumah kerabat ku tak jauh dari sini, jadi aku bisa pulang kesana", ujar Yoga.
Wah Yoga pandai sekali, dia benar-benar memberi tahu yang lain, meski berbohong jika rumah itu adalah milik kerabatnya.
Tapi lukisan wajahku ada begitu banyak di kamar atas. Untung saja hanya ada di kamar atas, di kamar bawah temoat aku tidur dan di ruang tamu aku ingat-ingat sepertinya tidak ada foto atau lukisan wajahku, hanya lukisan pemandangan pantai yang ada di ruang tamu.
" Benarkah Steve?, kenapa nggak bilang dari tadi?, kan kita bisa kerumahnya dan bisa pinjam baju kesana", ujar Utari antusias.
" Jadi mau makan nggak nih RI?, katanya tadi nunggu Bian dan Steve masuk ke mobil?", tanyaku yang sudah merasa lapar.
" Gimana kalau makan di rumah kerabat kamu saja Steve?, aku baru tahu kalau kamu punya kerabat disini, ibu kamu nggak pernah cerita", Utari nampak kecewa karena ternyata ada kerabat Steve yang belum di kenalnya.
Tentu saja, karena sebenarnya rumah itu miliknya, bukan milik kerabatnya. Tukang bohong....
" Sebenarnya ini kerabat jauh, bukan saudara, karena cuma kenalan tapi sudah cukup akrab, dan saat ini dia sedang di luar negeri, jadi mungkin yang ada di rumahnya cuma pembantunya saja".
Yoga sungguh hebat membuat cerita, kerabat jauh yang sedang berada di luar negeri, dan yang dirumah hanya pembantunya saja, pasti pembantunya juga sudah di setel untuk bersandiwara. Mari kita lihat, sandiwara macam apa yang akan mereka mainkan.