Healing

Healing
111. Asalkan Bersamamu



Rasid langsung pergi dan masuk ke dalam kontrakannya, tak lama kemudian keluar, mengunci pintu dan membawa motornya pergi, seperti orang yang malu karena sudah sok dekat denganku, sedangkan justru dua pria asing yang baru saja datang ternyata adalah suamiku dan temannya.


Bukan maksudku selama ini merahasiakan identitas ku pada Rasid, aku sadar aku salah merahasiakan pernikahanku pada laki-laki yang menaruh perhatian lebih padaku.


Karena ku pikir pernikahanku hanya pernikahan karena kesepakatan, dan kukira Yoga tidak mungkin akan datang kesini dan menemuiku. Tapi ternyata semua yang kupikirkan salah. Yoga datang dan minta untuk tinggal bersama malam ini.


Haidar pamit pada kami berdua untuk meninjau sejauh mana proses renovasi kontrakan yang sedang digarap, lokasinya tidak jauh, di kontrakan paling ujung, ada 3 kontrakan kosong yang tengah di renovasi.


Saat aku dan Yoga hanya berdua saja, baru Yoga mendekat dan duduk tak jauh dari tempat aku duduk.


" Apa dia sering nungguin kamu tiap kamu lagi jualan?, pantesan saja baru sehari nikah kamu langsung balik ke sini, gara-gara pengen ketemu sama itu cowok?, kangen sama tetangga kontrakan yang so care banget sama kamu itu?".


" Udah sejauh apa hubungan kamu dengan cowok tadi?, sepertinya kalian dekat banget. Padahal dia cuma tetangga kontrakan, bukan saudara kamu kan?, sok ngelindungi banget".


" Aku nggak suka dan nggak mau kamu berhubungan dengan laki-laki lain, meski kamu menikah denganku karena keterpaksaan, tapi kita sudah sah menikah, baik secara agama maupun secara catatan sipil, jadi kamu harus menghormati pernikahan kita Ra....".


Yoga yang sejak tadi irit bicara saat ada Rasid disini sekarang langsung nyerocos bicara tiada henti.


" Bang Rasid cuma tetangga kontrakan, dia sudah tinggal disini sebelum aku pindah kesini, bahkan sebelum Juna tinggal di kontrakan ini, Bang Rasid sudah lebih dulu menempati kontrakan itu".


" Nggak ada hubungan spesial antara aku dan bang Rasid, kami hanya sebatas tetangga kontrakan. Jadi nggak usah berpikir macam-macam, datang-datang ngajak adu mulut, untung saja makanan tinggal sedikit. Aku mau tutup warung".


Memang masih sisa nasi dan lauk sedikit buat makan Juna dan aku sendiri nanti malam. Sebaiknya aku tutup warung saja, sebentar lagi maghrib.


Yoga hanya duduk sambil melihatku membereskan warung. Berbeda dengan Rasid yang dengan cekatan akan membantuku beres-beres warung tiap kali dia melihatku hendak menutup warung.


" Ngapain masih disini, mau nonton aku beberes?".


Yoga menggelengkan kepalanya. " Aku mau ikut masuk ke kontrakan kamu, aku tidur disini ya malam ini?", tanya Yoga sambil nyelonong masuk ke dalam kontrakan ku.


" Mau tidur disini dimana?, kasur cuma satu dan itu cuma ukuran singgle saja, nggak muat buat dua orang, sempit, Juna saja ngalah tidur di kontrakan bang Rasid", ujarku memberi tahu.


" Ya di kasur kamu lah, kita kan suami istri, nggak ada larangan suami istri tidur se-kasur berdua, kasur singgle juga nggak masalah, bukankah malah itu lebih baik, jadi bisa deketan sama kamu tidurnya", ucap Yoga sambil cengengesan.


Yoga mulai menggodaku.


" Mana bisa kamu tidur di tempat sempit seperti ini, kamu kan sudah terbiasa tidur di ranjang empuk yang luas, bisa sakit badan kamu kalau tidur disini, di kontrakan yang sempit ini", ujarku, sambil mencuci perabot dapur yang masih kotor.


" Bisa, siapa bilang nggak bisa, aku bisa tidur di tanah, hanya beralaskan tikar saja, kamu juga tahu hal itu, kita kan pernah mendaki dan bermalam di tenda bersama, waktu itu aku tidur diatas tanah, hanya beralaskan tikar".


Yoga memang menyebalkan, ada saja alasan dan jawaban yang dia berikan.


" Terserah kamu, tapi kalau nanti merasa tidak nyaman, nginep saja di hotel, ada hotel di samping rumah sakit yang ada di sebelah perempatan yang menuju kesini", ucapku mencoba memberi tahu.


Aku selesai membereskan semua perabotan yang kotor, selesai menyapu kontrakan dan warung, saat adzan maghrib berkumandang. Ku lihat Juna baru pulang kerja, masuk ke dalam warung sambil mengucapkan salam.


Ku jawab salam Juna dan menghampiri nya keluar. " Wa'alaikum salam. Kamu lembur lagi Jun?", tanyaku sambil menerima kantong plastik berisi martabak manis dari Juna. Pasti Juna membeli martabak ini pada bapaknya Mala.


" Aku nggak lembur Kak, tapi bantuin bapaknya Mala dulu, tadi yang beli rame banget, dan Mala katanya lagi nggak enak badan jadi nggak bisa bantu".


Aku mengangguk, " memang benar Mala sedang tidak enak badan, tadi saja ku suruh dia pulang lebih awal, jam 12 sudah ku suruh pulang karena wajahnya pucat dan kelihatan lesu".


" Tadi aku mampir ke rumah Mala, katanya minta ijin untuk besok nggak bisa bantu-bantu kakak di warung".


Aku mengangguk mendengar ucapan Juna. Saat aku hendak memberi tahu Juna jika Yoga ada di dalam, Juna sudah lebih dulu melihat Yoga yang sedang berdiri dan hendak keluar dari kontrakan.


" Ada tamu jauh rupanya, sampai disini jam berapa Kak?", tanya Juna berbisik padaku, sampai sekarang Juna memang masih menunjukkan sikap tidak suka pada Yoga, sama seperti papa yang merasa sangat marah tiap kali melihat Yoga.


" Baru tadi nyampe, paling juga sebentar lagi pergi, sekedar informasi ternyata dia pemilik kontrakan yang baru Jun, termasuk kontrakan yang kita tempati ini. Mungkin dia datang ke sini cuma untuk ngecek keadaan kontrakan bagaimana".


Juna menatapku penuh tanya, " Kata siapa pemilik kontrakan sudah ganti orang?, kok bisa gitu kak?", Juna mengira aku hanya bercanda.


" Dan kakak baru tahu kalau yang beli kontrakan itu adalah Yoga", ucapku dengan nada sedikit lebih keras.


Yoga keluar dari rumah, " Kenapa?, apa kamu kecewa karena aku yang jadi pemilik kontrakan yang baru?", tanya Yoga dengan raut wajah sedih saat tak sengaja mendengar ucapan ku.


" Apa kabar kamu Jun?, sudah lama nggak ketemu", ucap Yoga berbasa-basi.


" Baik", Juna menjawab seperlunya.


" Aku ke kontrakan sebelah Kak", Juna menunjukkan sikap malas bertemu dengan Yoga, dia pergi ke kontrakan Rasid, dan membuka kunci kontrakan itu, karena Juna sudah tahu dimana tempat Rasid menyimpan kunci kontrakan.


" Pantas saja penghuni kontrakan sebelah sok deket banget sama kamu, ternyata bukan cuma kamu yang akrab dengan dia, adikmu juga tinggal di kontrakannya", sindir Yoga.


Aku malas untuk menanggapinya, baru beberapa menit Yoga datang, suasana hati ku jadi memburuk. Mungkin memang sudah benar keputusanku untuk tinggal disini dan tidak serumah dengan Yoga meski kami sudah menikah. Tinggal dengan seseorang yang kita benci itu hanya akan dibuat kesal berkali-kali setiap harinya.


Yoga pergi menghampiri Haidar dan mengatakan hendak pergi ke masjid terdekat.


Ku tunaikan tiga roka'at sendiri di kamarku, karena Yoga pergi ke masjid bersama Haidar.


" Ngapain sih dia kesini?, apa mau jemput kak Raya dan mengajak kakak pulang kampung?".


Aku kaget saat selesai sholat, membaca salam, dan menengok ternyata Juna sudah berdiri bersandar di tembok belakangku.


" Yoga nggak bilang begitu, kan kami sudah sepakat, jika dia mengijinkan aku tetap tinggal disini, tidak boleh protes dengan keputusan yang sudah disetujui bersama", ucapku.


" Kalau begitu ngapain dia kesini?, aku sebel banget ngeliat mukanya. Suruh buruan balik ke kampung saja Kak, kalau nggak coba kakak suruh dia tinggal di hotel, jangan disini, sempit". ujar Juna.


" Aku sudah ngomong begitu sama Yoga tadi, tapi dia bilang mau tidur disini, apa aku harus melarangnya?, tapi kan kami suami istri yang sah Jun, selama ini Yoga selalu mengirimkan uang belanja tiap bulan padaku, maaf baru cerita. Tapi sebagai suami dia sudah melakukan kewajibannya. Haruskah aku tetap menjaga jarak darinya?", aku meminta pendapat Juna. Karena jujur aku sendiri bingung, aku kasihan padanya yang sudah berusaha bersikap baik padaku, tapi aku masih begini, acuh dan cuek padanya.


" Apa Kakak mulai menyukainya?. Apakah kakak sudah memaafkan kesalahannya?, kalau aku sendiri, secara pribadi aku belum bisa memaafkannya melihat bagaimana dulu Kakak harus menderita. Tentu saja aku masih sangat membencinya sampai detik ini, meski kini dia sudah menjadi suami kakak".


Aku paham dengan yang Juna rasakan. Karena aku juga pernah merasakan kebencian yang sama terhadap orang yang sama pula.


" Kakak sudah memaafkan kesalahannya, meski belum bisa mencintainya lagi. Kamu tahu sendiri kan, kakak setuju menikah dengannya demi bisa membebaskan papa. Jika saja tidak ada kejadian kecelakaan waktu itu, kakak pasti belum menikah sampai sekarang. Karena memang kakak sudah berniat untuk tetap hidup sendiri seumur hidup kakak", ujarku.


" Kakak ingin hidup sendiri karena akibat dari perbuatan kak Yoga juga kan?, seandainya kakak dulu tidak dihamilinya dan hidup normal seperti anak-anak lainnya, aku yakin kakak sudah memiliki suami yang sangat mencintai kakak, dan tidak ada larangan dari keluarganya".


" Semua kesedihan yang kak Raya rasakan itu semua berpangkal pada masa lalu kakak bersama kak Yoga", ucap Juna dengan emosi.


" Benar kata kamu Jun, semuanya karena aku, semua akibat perbuatan ku, karena aku sangat mencintai kakak kamu, dan tidak bisa menahan gejolak perasaan ku waktu itu, sampai aku harus memaksanya menuruti keinginanku yang seharusnya tidak boleh kami lakukan, maafkan aku".


Aku dan Juna begitu terkejut ketika tiba-tiba Yoga sudah berdiri tak jauh dari posisi Juna.


" Aku akan mengembalikan kebahagiaan kakak kamu Jun, berilah aku kesempatan untuk mewujudkan hal itu. Aku benar-benar tulus mencintai Raya, dari dulu hingga sekarang, hanya Raya yang aku cintai".


Juna menelan salivanya karena tidak tahu harus menjawab apa.


" Sebagai sesama laki-laki, aku yakin kamu bisa melihat ke dalam mataku betapa besar rasa cintaku pada kakakmu", ucap Yoga meyakinkan.


" Disini sempit, aku saja tidur di kontrakan sebelah, kalau mau menginap pergilah ke hotel, sekalian bawa Kak Raya juga ke hotel, selama ini dia tidur di atas lantai dengan kasur busa saja. Mulai saat ini, bahagiakan lah kak Raya, dan tunjukkan bahwa kak Yoga benar-benar mencintai kak Raya".


" Aku tidak ingin melihat kesedihan lagi di mata kakak ku", ucap Juna sambil keluar dari kamar dan masuk ke kontrakan sebelah.


" Ra apa kamu mau...", ucapan Yoga langsung ku potong.


" Tidak perlu, aku akan tetap tidur di sini, tidak perlu mengajakku ke hotel, besok aku harus pergi ke pasar pagi-pagi sekali dan masak, kalau kamu mau ke hotel akan aku suruh Juna mengatar mu", aku langsung menolak pergi ke hotel padahal Yoga belum ngomong apa-apa.


Yoga malah tersenyum mendengar ucapan ku yang terdengar gemetar.


" Aku mau tidur dimana saja, asalkan bersamamu", ucap Yoga.