Healing

Healing
104. Pro & Kontra



" Bagaimana ?, apa kau setuju dengan syarat yang ku ajukan?, bukankah memang seharusnya kita berdua menjadi satu Ra...., Shaka pasti akan sangat bahagia jika tahu ayah dan ibu kandungnya menjadi suami istri yang sesungguhnya", ucap Yoga dengan tatapan matanya yang masih sama seperti dulu.


Tatapan mata dengan penuh cinta dan kasih sayang yang begitu besar, hanya saja kami berdua termakan bujuk rayu setan untuk melakukan kenikmatan sesaat yang merupakan sebuah kesalahan yang fatal.


" Kini semua orang setuju dengan pernikahan kita, seolah alam mendukung kita untuk bersatu. Tidak ada lagi yang menentang dan menghalangi hubungan kita Ra, tanpa kita harus kawin lari atau menikah dibawah tangan. Karena orang tuamu dan orang tuaku semuanya setuju, begitu juga dengan teman-teman kita".


" Apalagi Shaka, dia akan sangat bahagia, karena itulah yang dia katakan padaku".


" Dulu saat aku pergi, aku tidak tahu jika pernikahanmu dengan Bian juga gagal ".


" Aku mendengar kabar jika Utari lah yang memberi tahu keadaanmu yang sebenarnya pada keluarga Bian, saat aku mendengar kabar itu, Shaka juga mendengar nya, Shaka merasa sangat bersalah atas kegagalan pernikahanmu dengan Bian. Dia menganggap dirinya sebagai alasan hidupmu tidak pernah bahagia".


" Karena itulah Ra, aku mohon dengan sangat untuk kali ini saja, aku harus lagi-lagi memaksamu untuk menuruti keinginanku, tapi kali ini untuk kebahagian kita semua, bukan hanya aku yang menginginkan pernikahan kita terjadi, tapi Shaka dan teman-teman ku juga mengharapkan hal yang sama".


Memang benar semua yang dikatakan Yoga sekarang semesta mendukung penyatuan kami, berbanding terbalik dengan keadaan kami 14 tahun yang lalu, dimana begitu banyak yang menentang hubungan kami.


Belum aku memberi jawaban, Shaka masuk kedalam kamar bergabung bersama aku dan Yoga.


" Ayah masih sangat mencintai kakak, dari dulu sampai sekarang, aku bisa mengetahui hal itu, karena selama setahun aku tinggal bersamanya, ayah tidak pernah berhubungan dengan wanita lain, bahkan asisten pribadi di kantornya saja om Haidar, ayah tidak mencari wanita yang cantik dan seksi seperti di perusahaan-perusahaan lain".


" Cobalah untuk menerima ayah dan memaafkan kesalahan yang diperbuatnya dulu pada kakak", pinta Shaka.


Ternyata Shaka tidak membenci Yoga sedikitpun, padahal dia ditinggal sejak masih dalam kandungan, tapi memang Shaka tetap punya papa Tono yang menjadi ayah pengganti sejak dia lahir, mungkin karena itulah Shaka merasa tidak pernah kekurangan kasih sayang dari sosok ayah karena ada ayah pengganti.


Bahkan sekarang dia memintaku untuk menyetujui permintaan Yoga agar kami menikah secepatnya.


Tapi bukankah aneh panggilan yang Shaka berikan?, dia memanggil Yoga dengan sebutan ayah dengan begitu mudahnya, tapi dia masih tetap saja memanggilku kakak meski dia sudah tahu jika aku ibu kandungnya.


" Aku akan membicarakan ini dengan mama dan papa terlebih dahulu", ucapku sembari pergi keluar dari ruang Yoga dirawat.


Haidar masih berdiri di depan kamar, sedangkan mama sudah tidak berada di sana. Aku berjalan cepat melewati Haidar begitu saja menuju kamar papaku di rawat. Dan saat aku sampai, ternyata mama sudah duduk di kursi plastik di samping ranjang papa.


" Ma, Pa....", panggilku, membuat mereka berdua menatapku secara bersamaan.


" Gimana Ra ?, apa kamu berhasil membujuk mereka agar membatalkan tuntutannya sama papa?", tanya papa penasaran.


Apa mama belum cerita pada papa siapa yang sebenarnya papa tabrak?, lalu apa mama juga tidak mengatakan pada papa kalau syarat yang mereka ajukan itu meminta pada ku untuk menikah dengan Yoga?.


" Mereka mau membatalkan tuntutan terhadap papa, tapi dengan mengajukan syarat Pa", jawabku.


" Apa syaratnya?, kenapa mama nggak kasih tahu papa kalau mereka mengajukan syarat?".


Mama langsung berdiri dari duduknya. " Apa papa tahu apa syarat yang mereka ajukan?, mereka meminta Raya untuk mau menikah dengan orang yang papa tabrak" , ucap mama lirih, khawatir pasien yang dirawat di samping papa mendengar pembicaraan kami.


Papa langsung terkejut mendengar syarat yang diminta. " Bagaimana bisa mereka mengajukan syarat seperti itu?", papa masih heran dan merasa aneh.


" Karena yang papa tabrak tadi itu adalah Yoga, ayah kandungnya Shaka. Sekarang Shaka ada di kamar itu menjaga ayahnya yang sedang terbaring di ranjang pasien".


" Tadi mama kira Shaka datang kesini karena mendengar kabar jika papa di rawat disini, dan ingin menjenguk papa, tapi ternyata Shaka kemari karena ingin menemui ayahnya di sana", ucap mama dengan nada kecewa.


Papa terharu melihat Shaka yang datang dan menanyakan kabarnya, papa melambaikan tangan meminta Shaka untuk mendekat ke ranjang, papa bangun dari tidurnya dan memeluk Shaka dengan erat saat Shaka berada tepat disampingnya.


" Papa nggak papa nak, cuma lecet-lecet sedikit, dikasih obat merah juga akan sembuh, bagaimana kabarmu?, kamu nampak lebih tinggi dan gemuk dari terakhir papa lihat kamu. Pasti ayahmu sudah merawat mu dengan baik", ucap Papa sambil melepaskan pelukannya.


" Shaka baik Pa, benar sekali ucapan papa, ayah merawat ku dengan sangat baik. Kalau Shaka sedang rindu dengan papa dan mama, pasti ayah mengajak Shaka membonceng motornya dan melihat kalian dari jauh. Shaka ingin sekali menyapa, tapi Shaka pikir kalau sudah bertemu dengan kalian, Shaka akan sulit untuk pergi lagi dengan ayah. Karena itulah Shaka hanya melihat mama dan papa dari jauh".


" Shaka baru tahu kalau yang nabrak ayah itu adalah papa. Maaf kalau ayah sengaja membuat posisi kalian yang sedang kesulitan jadi semakin sulit. Ayah hanya bingung dan kehabisan cara untuk bisa mengajak kak Raya mau menikah dengannya".


" Kalau boleh Shaka kasih saran, mending kak Raya setuju saja dengan syarat yang ayah ajukan. Dan Shaka harap mama dan papa juga merestui hubungan mereka".


Mama dan papa saling menatap satu sama lain, merasa ucapan Shaka sudah seperti orang dewasa yang sangat bijaksana.


" Apa kamu tidak membenci ayahmu nak?, dia sudah meninggalkan kamu semenjak kamu masih dalam kandungan ibumu, dia sudah meninggalkan kalian . Apa kamu tahu betapa sulitnya ibumu berjuang membesarkan kamu tanpa dukungan seorang suami di sampingnya?".


" Cacian, makian, ucapan kasar dan cemoohan orang-orang sekitar terhadap ibumu membuat hati papa begitu pedih, lebih pedih lagi karena kami harus menerima semua itu, kami tidak bisa mengelak dari sebutan dan julukan buruk terhadap ibumu".


" Sedangkan ayahmu, dimana dia saat itu?, dia bahkan tidak menampakkan diri saat ibumu berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan kamu".


" Keluarga ayahmu menyuruh ibumu untuk melenyapkan kamu saat masih berada di dalam kandungan. Bahkan nenekmu yang seorang bidan lah yang memberikan obat penggugur kandungan pada ibumu".


" Selama ini kami pendam semua cerita kelam semasa kamu masih kecil, kami tidak ingin kamu tumbuh dengan beban moral di pundak mu. Karena itulah kami memutuskan kamu menjadi adik Raya, yang berarti kamu menjadi putra kami".


" Saat itu Raya belum menikah, karena ayahmu tidak mau menikahinya, dia cuma pengen enaknya saja, setelah menghamili anak orang, dia kabur dan bersembunyi dibalik punggung kedua orang tuanya".


" Papa tidak masalah kalau Raya tidak setuju dengan syarat yang diajukan, jika memang papa harus dipenjara karena sudah menabrak bajingan itu papa tidak papa. Seandainya papa tahu jika orang itu adalah dia, pasti sudah papa gas lebih kenceng motornya biar bajingan itu terluka lebih parah".


Memang setiap kali mengingat masa laluku seolah tak ada pintu maaf untuk Yoga yang menjadi penyebab utama awal kehancuran dalam hidupku.


Ternyata berbeda dengan mama yang sudah mulai bisa memaafkan Yoga, dalam hati Papa masih sangat marah dan membencinya. Meski Yoga sudah menunjukkan itikad baik dengan mengurus Shaka selama satu tahun.


" Tapi Pa, apa papa tidak kasihan sama mama, kalau papa dipenjara, mama tinggal sama siapa?, Raya dan Juna semuanya pergi. Papa tega kalau mama tinggal seorang diri?, mama tidak mau papa dipenjara, mama nggak mau", suara mama cukup keras, membuat beberapa keluarga pasien yang ada di samping papa menatap ke arah kami.


" Apa papa lebih mementingkan ego papa, dari pada memikirkan bagaimana hidup mama kedepannya jika papa harus dipenjara?", mama mulai lepas kontrol dan menangis di dekatku.


" Bukan papa mementingkan ego papa, papa hanya ingin Raya bahagia ma, papa tidak mau memaksakan kehendak agar Raya setuju dengan syarat yang mereka ajukan. Raya baru sebentar merasakan kebahagiaan dalam hidupnya semenjak dia tinggal di kota bersama Juna".


" Disana semua orang menghormati dan menyayangi nya. Tidak ada cacian, makian dan cemoohan orang-orang sekitar seperti saat Raya tinggal disini. Karena itulah papa tidak mau mengorbankan kebahagiaan Raya hanya demi menyelamatkan diri sendiri".


" Ayah macam apa yang rela mengorbankan kebahagiaan putrinya demi keselamatan dirinya sendiri?", ujar Papa yang kembali merebahkan dirinya di ranjang pasien.


Aku semakin bingung melihat sikap mama dan papa yang berbeda pendapat. Selama ini baru kali ini aku menjumpai mereka berdua tidak satu suara.


Papa tiduran membelakangi kami, aku memilih keluar dari kamar papa dirawat dan Shaka mengikutiku, begitu juga dengan Mama yang ikut keluar. Di depan kamar mama menggenggam tanganku sembari memohon agar aku setuju dengan syarat yang Yoga ajukan. Begitu juga dengan Shaka, dia memohon agar aku mau menikah dengan Yoga.


" Aku ke kamar mandi dulu", pamit ku pada mama dan Shaka, jujur aku masih bingung mau mengambil keputusan apa. Satu sisi aku tidak mau papa di penjara, tapi disisi lain aku tidak mau menikah dengan landasan pemaksaan seperti ini, bahkan aku tidak ada keinginan untuk menikah sama sekali. Setelah gagalnya pernikahan ku dengan Bian, aku merasa menikah itu sudah tidak penting lagi.


Aku bahagia hidup sendiri, tidak ada beban dalam hidup, mau melakukan apa saja sekehendak hatiku. Tapi bagaimana nasib papa jika aku tidak menyetujui syarat mereka. Yoga benar-benar menyebalkan. Kenapa dia selalu saja menempatkan aku di posisi yang sulit.