Healing

Healing
53. Menyibukkan Diri



Aku dan Bian sampai di restoran terlebih dahulu, tentu saja aku langsung berganti pakaian dengan seragam restoran, saat ini jam 12 siang, waktu dimana restoran biasanya akan ramai pengunjung karena jam makan siang.


Benar saja, tamu begitu ramai berdatangan, mereka membuat aku yang baru sampai restoran dibuat sibuk dan terus mondar-mandir melayani mereka.


Bahkan Bian ikut turun tangan di dapur membantu pekerjaan para koki memasak beberapa pesanan, agar tidak keteter dan tamu merasa puas dengan pelayanan yang cepat dan makanan yang enak. Bian memang sangat pandai memasak, apapun masakannya sangatlah enak. Semua setuju dengan hal itu.


Tak selang beberapa waktu saat semua kursi di restoran terisi penuh dengan pengunjung yang datang, Utari dan Yoga sampai di restoran, mereka bahkan tidak kebagian kursi, dan Riko mengajak mereka berdua untuk bersantai sejenak di ruangan Bian. Tentu saja setelah mereka memesan menu makan siang yang mereka inginkan.


Riko meninggalkan mereka berdua karena sedang membantu para karyawan yang sedang sibuk-sibuknya.


" Steve, aku mau ke kamar mandi dulu, kamu aku tinggal sebentar ya", ucap Utari.


Aku bisa melihat Utari pergi ke kamar mandi. Dan kulihat dari pintu ruangan Bian yang sedikit terbuka, Yoga mencari-cari sesuatu di meja kerja Bian. Karena kebetulan, aku yang kebagian tugas mengantarkan minuman pesanan Utari dan Yoga ke ruangan Bian, lebih tepatnya karyawan yang lain tidak berani masuk ke ruangan itu.


Ada empat minuman di atas nampan, dua jus dingin dan dua soft drink, aku antar ke dalam ruangan Bian. Bisa kulihat Yoga kaget dan terlihat meletakkan sesuatu dengan terburu-buru di laci meja Bian.


" Lagi ngapain kamu disitu ?, mencurigakan !".


Ucapku sinis sambil meletakkan gelas, dan kaleng softdrink di meja yang ada di depan sofa panjang.


Apa yang sedang Yoga lakukan, dan kertas apa yang habis dilihatnya, jelas-jelas aku melihat dia memfoto salah satu kertas yang tadi ada di laci. Tapi kertas apa?. Akan aku cek nanti, sekarang kami hanya berdua disini, dan aku harus segera keluar dari ruangan ini.


Yoga langsung berjalan mendekat ke arahku dan meninggalkan meja kerja Bian. Entah apa yang tadi dilihatnya, jelas-jelas aku melihatnya meletakkan kertas ke dalam laci meja Bian.


" Bukan apa-apa, aku hanya sedang melihat-lihat saja apa yang Bian kerjakan di ruangannya. Ternyata isinya hanya laporan penjualan, laporan belanja dan semacamnya".


Yoga menjawab dengan menatap wajahku dengan tatapan yang sangat menyebalkan. Tatapan yang membuatku bisa langsung salah tingkah dibuatnya. Dasar pria menyebalkan.


Aku buru-buru berjalan untuk keluar ruangan Bian, karena risih harus berdua dalam satu ruangan bersama Yoga, namun saat aku dekat dengan pintu, Yoga tiba-tiba menutup pintu itu dan mendorong tubuhku hingga membentur pintu.


Seperti orang gila, dia tiba-tiba menempelkan bibirnya di bibirku, menahan tubuhku dengan menghimpit tubuhku ke pintu, aku yang masih memegang nampan menjatuhkan nampan itu dan berusaha melepaskan diri, namun Yoga benar-benar kuat.


Ini gila.... sudah benar-benar gila, dia berani menciumku di ruang kerja Bian. Padahal ada Bian dan Utari di luar, jika sampai ada yang melihat semuanya jelas akan kacau balau.


Namun nyatanya Yoga terus ******* bibirku tanpa jeda. Dan tidak memberiku kesempatan untuk bernafas. Hingga terpaksa ku gigit bibir bawah Yoga agar dia melepaskan lumatannya.


Yoga baru mau melepaskan ciuman di bibirku, setelah aku menggigitnya, ada sedikit noda darah di bibir bawahnya, karena aku cukup keras menggigitnya tadi.


Lagi-lagi ku tampar pipinya dengan keras, hingga meninggalkan jejak merah pada pipi kiri Yoga, namun Yoga justru tersenyum jahil. Sambil mengelus pipinya, dan mengusap bibirnya yang berdarah.


" Bukannya kamu sengaja datang kesini saat Utari nggak ada biar kita bisa melakukan seperti kedua pasangan yang tadi duduk di depan kita saat nonton film?. Bagaimanapun aku yakin ciumanku lebih berkesan bagimu, dibanding dengan ciuman Bian, aku yakin itu, karena meski kamu menolak, kamu pasti menikmatinya".


Dengan percaya dirinya Yoga membandingkan ciumannya dengan ciuman Bian, dia pasti sudah benar-benar gila.


" Dasar pria brengsek!, kamu masih saja memperlakukan aku seperti ini, apa kamu gila!, aku calon istri sahabatmu !, bisa-bisanya kamu berpikiran seperti itu!".


Langsung ku dorong Yoga dan tak lupa ku ambil nampan yang tadi kejatuhkan, aku keluar dari ruangan Bian dengan terburu-buru. Keadaan restoran yang sedang ramai memang membuat semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Bian yang kulihat masih di dapur, dan Utari yang sejak tadi berada di kamar mandi. Kenapa lama sekali Utari di kamar mandi, apa saking ngantrinya, dia jadi lama di sana?.


Aku kembali ke dapur, dengan perasaan marah, dan kesal bercampur menjadi satu. Langsung ku ambil segelas air putih dan ku minum hingga habis agar aku merasa lebih tenang.


" Haus kamu mondar-mandir nggak ada hentinya?", tiba-tiba Bian berdiri di belakangku sambil merangkulkan tangannya di pinggangku, membuat aku kaget.


" Iya haus, tadi balik dari butik belum sempat minum, kamu sudah selesai bantuin masaknya?", tanyaku sambil mengusap bibirku, berusaha menghilangkan jejak rasa kebas karena ******* Yoga tadi. Aku sangat khawatir Bian menyadari bibirku yang sedikit berbeda.


Dan ternyata Bian memang menyadari hal itu, hanya saja tidak berpikir aku habis di cium orang lain, justru dia mengira karena hal lain.


" Maklum lipstik murahan beli di warung, jadi kena air putih langsung hilang. Nanti saja benerinnya, kalau kerjaan sudah santai", ucapku beralasan.


" Maafkan aku Bian, lagi-lagi aku melakukan kesalahan karena sudah berciuman dengan Yoga, aku begitu lemah melawan kekuatannya", batinku.


" Aku lanjut bantu yang lain dulu, kamu temenin Utari sama Steve yang lagi di ruangan kamu, mereka nggak kebagian tempat duduk, jadi makan di sana", ucapku.


Bian mengangguk. " Ya sudah, nanti kalau sudah nggak sibuk banget, agak santai kamu gabung ke ruang ku ya Ra", pinta Bian.


Aku hanya mengangguk tanpa mengiyakan. Karena sebenarnya aku tak ada keniatan untuk menemui mereka lagi. Akan ku cari kesibukan agar tidak perlu ke ruangan Bian dan bertemu dengan laki-laki gila itu lagi.


Ku ambil kembali nampan untuk menyajikan hidangan yang sudah jadi ke meja pemesan.


Saat yang lain duduk kecapekan dan semua pengunjung sudah mendapat makan siang mereka, aku tetap menyibukkan diri dengan memberesi meja yang pengunjungnya sudah selesai makan dan meja itu sudah kosong, ditinggalkan.


Yang jelas aku tidak boleh terlihat menganggur sampai jam 4 nanti. Aku harus terus terlihat sibuk agar Bian tidak curiga padaku kenapa aku tidak ikut kembali gabung bersama Utari dan Yoga ke ruangannya.


Bahkan aku sampai membantu tukang kebersihan membuang sampah keluar lewat pintu belakang restoran. Dan aku sempat melihat Yoga dan Utari keluar dari restoran diantar oleh Bian ke parkiran.


" Mba Raya nggak usah sampai seperti ini kalau merasa nggak enak sama kita, mba Raya kan ijin karena diajakin sama Mas Bos, buat fitting baju pengantin katanya ya?, jadi nggak papa mba Raya, kami yang disini nggak masalah kok kalau mba Raya sering ijin. Jadi jangan terlalu merasa bersalah begitu, sampai bantuin buang sampah ", ucap Mba Lina, salah satu tenaga kebersihan.


" Nggak papa Mba, aku cuma bantuin sebisaku saja", ucapku.


Ternyata mba Lina salah sangka dengan sikapku ini, alasan sebenarnya bukan karena aku merasa bersalah dengan karyawan yang lain karena tadi ijin keluar restoran. Tapi karena aku sengaja menyibukkan diri agar tidak perlu menemui teman-teman Bian yang ada di ruangannya.


Sekarang mereka sudah pulang, dan aku sudah tidak perlu lagi menyibukkan diri seperti tadi. Bahkan karyawan yang lain sudah duduk santai di kursi kosong, dan tamu-tamu restoran sudah banyak yang pulang. Saatnya aku juga istirahat bersama yang lain.


" Kamu dari mana saja sih Ra?, aku nyuruh orang biar kamu ke ruangan ku, tapi kamu nggak gabung-gabung, sekarang Steve dan Utari sudah balik". Bian mungkin merasa tidak enak pada kedua temannya karena aku tak menemui mereka.


" Maaf Bi, aku baru saja selesai bantu buang sampah ke belakang. Kan sejak tadi kamu bisa lihat tamu banyak banget, dan nggak enak kalau yang lain lagi sibuk, aku malah duduk-duduk santai di ruangan kamu".


" Tadi kan kita sudah bersama-sama bersantai di gedung bioskop duduk bareng, jadi aku pikir saat disini nggak nemuin mereka nggak papa, kan aku lagi kerja, bukan lagi main-main Bi, maaf....", ucapku sambil menggelayut di lengan Bian sedikit bersikap manja. Biarlah karyawan lain melihat, bukan masalah kan aku memegang lengan Bian, toh kami sebentar lagi sah menjadi suami istri.


Bian hanya menghembuskan nafas, sepertinya berusaha memahami penjelasan ku. Dan mengontrol emosinya.


" Sebentar lagi jam pergantian shift, kamu ke ruangan ku saja sekarang, ada yang ingin aku sampaikan", ucap Bian dengan nada serius.


Aku mengangguk dan mengikuti langkah Bian masuk ke ruangannya. Memangnya apa yang mau disampaikan oleh Bian, apa kekesalannya padaku?.


Namun saat aku sampai di ruangan Bian, Bian langsung menutup pintu dan menguncinya.


Seperti mengulang kejadian beberapa waktu yang lalu, Bian mendorongku ke tembok dan mencium bibirku dengan lembut dan penuh perasaan, berbeda dengan ciuman Yoga tadi, yang kasar dan menuntut.


Ya Tuhan, aku benar-benar membandingkan ciuman mereka berdua, maafkan aku Bian.


Bian terus mencium bibirku sambil menuntunku berpindah ke sofa untuk duduk.


" Apa yang terjadi sama kamu, kenapa tiba-tiba kamu melakukan hal ini?", tanyaku pada Bian saat kami menjeda ciuman kami sekedar untuk mengambil nafas.


" Aku tahu kamu juga pasti melihatnya saat di gedung bioskop tadi, dua orang yang duduk di depan kamu, mereka melakukan hal ini, aku juga menginginkannya, tapi di sana ada Steve dan Utari, aku jadi tak enak mau melakukan disana, ku tahan keinginanku sampai kita tinggal berduaan saja", ucap Bian sambil kembali ******* bibirku dengan lembut, dan penuh kasih.


Aku pun berusaha menyambut dan membalas ciumannya, karena dialah orang yang tepat mendapatkan ciuman dariku.


Jadi ternyata itu alasan Bian saat ini mencium ku, ternyata kedua laki-laki yang duduk mengapitku, mereka berdua terpengaruh oleh dua orang yang saling berciuman di depan kursi kami saat menonton tadi.