
Papa mengulang sekali lagi , " Steve Prayoga Setyawan, saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan putri saya Diva Soraya Saputri dengan mas kawin emas seberat 500 gram, rumah beserta isinya, dan uang tunai sebesar 500 juta rupiah dibayar tunai".
" Saya terima nikah dan kawinnya Diva Soraya Saputri binti Tono untuk diri saya, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai".
" Bagaimana saksi?", Tanya penghulu pada dua saksi yang duduk di samping papa.
" Sah ".
" Alhamdulillah hirobbil'alamiin....... ", dan seterusnya sang penghulu membacakan doa.
Bisa kulihat mama menitikan air mata dari kedua kelopak matanya. Entah dia menangis bahagia, atau menangis karena bersedih. Karena mama yang begitu menggebu menyuruhku menerima pernikahan ini.
Mas kawin yang begitu banyak yang Yoga berikan untukku menjadikan aku perempuan beruntung karena memperoleh mahar pernikahan begitu banyak. Bahkan aku bisa melihat Rita dan Hani saling berbisik dengan ekspresi takjub setelah mendengar apa saja mas kawin yang kudapat.
Berbeda dengan mama, papa saat ini berekspresi datar, papa tidak menangis ataupun tersenyum, aku bisa tahu jika Papa belum terlalu suka terhadap Yoga, belum lagi karena papa masih tetap merasa bersalah padaku atas pengorbanan yang ku lakukan karena kesalahannya, sehingga membuat aku mau tidak mau harus menikah dengan Yoga demi kebebasan nya.
Apalagi mas kawin yang begitu banyak dari Yoga, membuat papa merasa seperti sudah menjual ku.
" Apa bisa tunjukkan ke depan buku nikahnya?, akan kami ambil gambar terlebih dahulu", ucap fotografer padaku dan Yoga.
Kami berdua menurut dan menunjukkan buku nikah kami ke depan kamera. Beberapa kali fotografer mengambil gambar kami.
Ijab qobul selesai, pak penghulu berpamitan pada kami, karena masih banyak pasangan lain yang harus dinikahkan hari ini juga. Bisa ku lihat Haidar memberikan amplop tebal kepada penghulu itu sebagai ucapan terimakasih karena sudah mempermudah proses pernikahan kami.
Buku nikah sudah langsung kami dapat. Ternyata jika ada uang sebenarnya apapun bisa di proses dengan mudah dan cepat. Lihatlah pernikahanku hari ini buktinya, hanya dalam waktu semalam, semuanya langsung beres, tidak perlu daftar, nunggu antrian, melengkapi berkas dan imunisasi.
Tapi setidaknya aku pernah mengalami proses itu saat hendak menikah dengan Bian, meski sekarang berbeda dan semuanya serba lebih mudah.
Tamu undangan ada yang langsung memberi selamat pada ku dan Yoga, ada juga yang memilih untuk menikmati makanan yang sudah di sediakan. Yoga benar-benar bisa membuat sebuah pesta pernikahan dalam waktu semalam, seperti di negeri dongeng.
Haidar, Riko, Bian dan Utari berdiri dan mendekat ke arah kami berdua untuk berfoto bersama. Sebelum itu Haidar dan Riko memberi ucapan selamat terlebih dahulu pada kami berdua. Baru Utari ikut mengucapkan selamat. Rasanya sangat canggung karena kami bertukar pasangan.
Ini kali pertama aku kembali bertatap muka dengan Utari dan Bian, Utari masih tetap terlihat ceria, aku juga mengucapkan selamat untuk pernikahan mereka.
" Kamu sih pergi nggak ada kabar, jadi nggak bisa hadir di pernikahan kami", ucap Utari ber basa-basi. Aku tahu sekali jika Utari tidak serius mengundangku ke acara pernikahannya dengan Bian jika dulu aku tetap ada disini.
Bian menatapku lekat, masih dengan tatapan yang sama, kami semua menjadi merasa canggung karena tidak tahu harus ngomong apa.
Yoga tahu jika tatapan Bian masih memendam rasa cinta yang dalam terhadap ku. Apalagi Riko, dia yang semenjak aku pergi selalu berada di samping Bian untuk menguatkan hati nya.
Aku masih ingat betul saat Bian datang ke stasiun sesaat sebelum kereta api yang ku tumpangi melaju. Aku bisa melihat Riko yang datang kesana juga. Riko yang membantu Bian untuk kembali berdiri setelah Bian jatuh dan terpuruk di lantai stasiun waktu itu.
Bian tak menepati janjinya, sampai aku kembali pulang ke sini, Bian tak pernah datang ke kontrakan kami. Aku sempat beberapa kali berharap dia datang ke kontrakan seperti janjinya yang dia ucapkan padaku.
Tapi hingga satu tahun semenjak aku pergi, Bian tidak pernah datang satu kali pun. Bahkan mungkin dia tidak pernah berusaha mencari dimana keberadaan ku. Dan aku sudah mengetahui alasannya, ternyata dia sudah menikah dengan Utari. Enam bulan yang lalu, wah.... waktu yang begitu singkat setelah gagalnya pernikahan kami.
" Selamat untuk pernikahanmu dengan Utari", karena Bian tetap bungkam, aku yang lebih dulu memberinya selamat sambil tersenyum. Aku sengaja menggandeng tangan Yoga sekedar untuk menunjukkan bahwa aku sekarang sudah menjadi milik Yoga. Dan berusaha menunjukkan ekspresi bahagia.
Bian mengangguk kemudian merangkul Utari di depan kami semua, mungkin dia juga berusaha menunjukkan jika dirinya kini sudah bahagia. Pasti ....
Utari pasti menjadi istri yang sangat baik untuk Bian, Bian bisa menyalurkan keinginannya pada Utari istri sahnya. Aku merasa bersyukur karena meski sudah pernah hampir melakukan hubungan badan dengan Bian, semua itu tidak pernah terjadi, meski aku sudah melihat seluruh bagian tubuh Bian tanpa kecuali. Tapi kami tidak melakukan penyatuan, sebagai calon istrinya aku hanya berusaha memberinya kepuasan saat dia menginginkannya dulu, tanpa harus bersatu.
" Sudah ayo sayang, kan tadi aku bilang mau cek ke dokter kandungan sekalian, mumpung lagi di rumah sakit", ujar Utari dengan suara manjanya.
Ke dokter kandungan?, mungkin saja Utari sedang hamil muda, karena itu mereka akan pergi ke dokter kandungan. Kenapa Utari periksa di rumah sakit ini?, ini bukan rumah sakit tempat Utari bekerja, mungkin karena ini rumah sakit terbaik di daerah sini, karena itu Utari minta di periksa di sini.
" Kalian nikmati hidangan yang sudah kami siapkan dulu, baru boleh pergi dari acara ini. Tentang saja, dokter kandungan masih buka praktek, baru jam setengah sebelas", ujar Yoga menahan Bian dan Utari yang akan pergi.
Utari nampak tersenyum karena Yoga melarang dirinya pergi, tapi dia memohon maaf karena tidak bisa tinggal lama dan tetap pergi.
Aku memaklumi sikap Utari, bahkan kedatangan mereka saja itu sudah menjadi sesuatu yang sangat mengejutkan.
Haidar dan Riko memilih menikmati hidangan saat Bian dan Utari memilih pergi ke klinik kandungan. Aku dan Yoga menemui Bu Ara yang juga sudah berdiri untuk pamit pulang.
" Maaf karena sejak tadi terus mengobrol dengan teman-teman, jadi nggak bisa ngobrol lama sama ibu", ucapku saat Bu Ara pamit.
" Iya tidak apa, ibu ucapkan selamat atas pernikahan kalian, semoga jadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah, bahagia dan segera diberi momongan. Ibu sangat bahagia karena akhirnya kalian berdua bersatu".
Bu Ara memelukku sambil menepuk-nepuk punggung ku. " Terimakasih banyak Bu Bidan".
Aku tetap saja memanggilnya Bu bidan, meski beliau sudah pensiun sebagai bidan karena sudah tua.
Jam 1 siang semua tamu undangan sudah pulang, begitu juga dengan semua anggota keluargaku, karena papa sudah diperbolehkan pulang ke rumah, Juna dan Shaka ikut mengantar. Kini ruangan sepi, dekorasi masih belum di bereskan. Aku dan Yoga berganti pakaian dengan baju biasa. Kami kembali ke kamar tempat Yoga di rawat.
Malam ini Haidar tidak tidur di rumah sakit, karena semalam dia tidak tidur untuk mengurus persiapan pernikahan aku dan Yoga. Dan malam ini Haidar ingin istirahat di rumahnya.
" Karena sudah menikah, jadi malam ini ku beri kalian waktu untuk berduaan saja. Tenang saja Ra, meski satu tangan Yoga masih diperban, aku yakin Yoga masih tetap bisa memuaskan kamu lahir batin", ucap Haidar sambil terkekeh sengaja menggodaku.
Aku hanya menggeleng mendengar ucapan nya. Lagian siapa yang mau di puaskan?, aku mau tidur nyenyak malam ini, sama seperti malam sebelumnya, tidur nyenyak sampai pagi.
Yoga bisa melakukan apa-apa sendiri, karena yang terluka tangan kirinya, jadi ke kamar mandi, makan dan kegiatan lain bisa dilakukannya sendiri. Tidak terlalu merepotkan.
" Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, besok aku akan kembali ke kota. Kamu masih ingat kan pembicara kita sebelumnya?", tanyaku pada Yoga saat kami sama-sama sedang menatap langit-langit atap sambil rebahan di ranjang masing-masing.
" Iya aku ingat, sangat ingat, maka lakukan yang ingin kamu lakukan, sebelum ini juga aku di urus oleh orang lain, bukan oleh istriku, jadi aku tidak sedih atau kecewa", ucap Yoga.
Dia sengaja menyindir, aku tahu itu, tapi aku tidak mau terjebak ucapannya, sudah sejak awal kami mempunyai perjanjian.
" Aku mau tidur, karena besok pagi aku mampir ke rumah mama dan papa dulu, Juna juga disana", ucapku.
Yoga mengangguk, " tentu saja, kamu harus ke rumah orang tuamu untuk berpamitan sebelum berangkat lagi ke kota".
Aku merasa yoga bersikap aneh, dia terus saja setuju dan setuju dengan yang aku katakan tanpa protes.
Ku pejamkan mataku berusaha untuk tidur. Lima menit, sepuluh menit, tiga puluh menit sudah berlalu, tapi aku tidak merasa ngantuk. Tetap ku pejamkan mataku berusaha agar bisa tidur.
Aku bisa mendengarkan Yoga yang beranjak dari ranjangnya, aku langsung waspada, dan siaga, jika tiba-tiba Yoga menyentuhku. Aku masih memejamkan mata seolah tidur.
Tapi ternyata Yoga pergi ke kamar mandi, pikiranku sudah berlebihan, ku kira Yoga akan mendekatiku dan menyentuhku karena kami sudah menikah. Aku sudah berencana untuk menolaknya dan mengatakan jika perutku sakit sebagai alasan agar dia tidak melakukan apa-apa. Tapi ternyata Yoga tidak mendekati ku sama sekali. Aku jadi malu sendiri dengan pikiranku.