
" Raya....".
Suara yang sangat familiar terdengar di telingaku. Ku beranikan diri membuka mata, ada kaki seorang pria berdiri di depanku, aku menengadah dan melihat benar suara yang kudengar atau aku hanya berhalusinasi.
" Bian....!", seruku sambil berdiri dan memeluk Bian dengan sangat erat. Ku tumpahkan lagi air mata yang sejak tadi aku tahan karena rasa takutku yang berlebihan.
Hu.....hu...hu....
Bian memelukku sambil menepuk-nepuk bahuku agar aku merasa lebih tenang.
" Sudah-sudah, jangan takut lagi, sekarang sudah ada aku disini, akhirnya aku bisa menemukanmu, kita balik ke tenda ya..., yang lain juga sedang mencari kamu. Tadi saat Utari bangun dia mencarimu karena kamu nggak ada di tenda".
" Utari membangunkan aku dan memberi tahu kalau kamu nggak ada. Steve yang sedang duduk di dekat perapian bilang melihat kamu keluar dari tenda. Menuju ke arah sini, karena itulah aku langsung mencari mu kesini".
" Bagaimana bisa kamu sampai disini?, ayo cerita di pos saja, mungkin yang lain sedang bingung dan hendak mencari mu juga".
Ku anggukkan kepalaku sambil melepas pelukanku, aku berjalan mengikuti langkah Bian, tangan Bian terus menggandeng tanganku agar kami tidak terpisah.
Semua terlihat sudah berkemas, dan tenda-tenda yang semalam sudah tidak ada, karena kami akan melanjutkan perjalanan menuju puncak Rinjani, tentu saja setelah kami sarapan pagi.
" Raya...", Utari langsung menghampiri ku dan memelukku dengan erat. " Aku sangat khawatir karena kamu nggak balik-balik ke tenda sejak aku bangun tidur jam 4 tadi, saat aku keluar tenda, aku cuma melihat Steve yang sedang duduk di dekat perapian sambil merebus air. Untung saja Bian langsung menyusul mu, dan kamu bisa ditemukan".
" Sebenarnya kamu kemana?", tanya Riko yang ikut mendekat padaku dan menyerahkan kopi hangat untukku agar ku minum.
Ku terima cup kertas berisi kopi hangat dari Riko dan berterimakasih.
" Aku nyari tempat buat buang air kecil, tapi pas mau balik justru aku tersesat. Bukannya menuju tenda, tapi aku berjalan menjauhi tenda. Maaf ya teman-teman", ucapku dengan penuh penyesalan.
" Untung saja kamu nggak tersesat dan masuk lebih jauh ke dalam hutan, kalau kamu ilang, pasti Bian bakalan marah sama kita semua".
Sekilas ku lirik Yoga yang sedang membuat kopi untuk yang lain. Bagaimana bisa dia bersikap begitu tenang dan seolah tak terjadi apa-apa semalam?. Apa benar Yoga punya kepribadian ganda?.
" Harusnya kamu bangunin aku atau Bian, biar bisa nemenin kamu Ra, jangan berkeliaran sendirian di gunung saat malam hari. Bahaya, daerah sini masih banyak hewan beracun juga, seperti kelabang, kalajengking, atau ular berbisa", ujar Utari.
" Iya, maafkan aku, sudah bikin kalian khawatir", Aku sadar aku sudah salah, dan tidak mau masalah ini diperpanjang lagi.
" Sekarang kita duduk, makan sarapan kita, setelah habis, kita mulai naik ke atas, sampai puncak. Rombongan lain bahkan sudah berangkat sejak tadi", ujar Haidar.
Kami berenam minum kopi susu dan roti, bekal yang kami bawa kemarin. Matahari mulai menghangatkan tubuh, meski hawa dingin karena embun pagi masih terasa.
Kabut tebal juga menutup danau segara anak, seolah kami sedang berada di negeri atas awan. Sungguh pemandangan yang sangat indah dan mempesona.
Setelah menghabiskan sarapan, kami pun melanjutkan perjalanan naik ke puncak Rinjani. Bian kembali berjalan di belakangku, ada Haidar dan Riko yang berjalan di depan.
Sekitar 7 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di puncak Rinjani. Dengan melewati medan yang sungguh-sungguh menanjak. Rasanya kakiku seperti hampir patah. Bayangkan saja medan yang terjal, dan berjalan tak henti selama 7 jam, itu sungguh pengalaman pertama yang tak akan pernah aku lupakan.
Namun saat sampai dipuncak, semua lelah itu terbayarkan, dengan melihat betapa indahnya pemandangan dari puncak Rinjani.
Danau segara anak yang berwarna biru dan pemandangan puncak yang sangat eksotis. Kami berenam foto bersama, menggunakan ponsel Bian dan juga Yoga. Meminta tolong pada pendaki dari rombongan lain yang sudah sampai terlebih dahulu di puncak.
Beberapa pendaki yang sampai terlebih dahulu sudah mulai turun gunung, sedangkan kami berenam memilih beristirahat terlebih dahulu dan kembali memakan bekal kami, roti dan air mineral sisa kami sarapan.
Kami duduk-duduk dan mengabadikan banyak sekali foto sebagai kenang-kenangan untuk kami semua. Apalagi bagi aku dan Utari yang baru pernah mengikuti pendakian, ini sungguh mengesankan, juga melelahkan.
Hanya satu jam kami berada di puncak, kami kembali turun. Ternyata jalur turun gunung lebih mudah ketimbang jalur mendaki. Karena sekitar 3 jam kami sudah kembali sampai di pelawangan Sembalun, tempat semalam kami mendirikan tenda.
" Kalian berdua masih kuat untuk turun atau kita bermalam lagi disini?", tanya Bian padaku dan Utari. Karena sat ini waktu menunjukkan pukul 3 sore, mungkin untuk turun sampai ke bawah, di desa Sembalun sudah malam.
Benar saja kami sampai di desa Sembalun sudah malam. Untung sekali banyak penginapan disekitar sini. Jadi kami berenam langsung menyewa tiga kamar untuk bermalam di sana.
" Mandi dan bergabunglah dengan kami jam 9, untuk makan malam bersama, kami sudah memesan makan malam untuk kita berenam", ujar Bian sambil masuk ke dalam kamarnya yang berada di samping kamarku dan Utari.
Aku memilih merebahkan tubuh ku di kasur yang sangat nyaman. Utari terlebih dahulu mandi dan berganti pakaian. Baru setelahnya aku melakukan hal yang sama.
Masih jam 9 kurang saat aku selesai mandi dan berganti pakaian. Ternyata disini airnya sangat dingin, untung ada fasilitas air hangat, namun tetap saja, setelah selesai mandi dan berganti pakaian aku kembali kedinginan.
" Ra... lihatlah hasil foto yang dikirimkan oleh Steve, semuanya sangat keren. Aku akan meng-upload di akun sosial mediaku. Biar aku tag akun sosmed kamu. Kita kan belum saling berteman. Beri tahu aku apa akun sosmed kamu".
Ku sebutkan akun sosial mediaku. Utari langsung menge-tag namaku, dan ke empat pemuda itu. Dan ternyata diluar dugaan, yang memberi like dan berkomentar begitu banyak.
Mungkin benar, Bian dan ke tiga sahabatnya adalah F4 versi lokal. Ternyata mereka banyak pengagumnya. Juga banyak followers nya.
Banyak yang mengatakan iri pada aku dan Utari. Apalagi teman-teman kuliah Utari yang yang juga satu kampus dengan mereka berempat, meski beda fakultas. Semua mengatakan Utari sangat beruntung karena bisa bergabung dengan Steve CS.
Pantas saja Utari begitu bangga bisa bertunangan dengan Yoga, meski dia diperlakukan dengan acuh dan dingin oleh Yoga. Ternyata dia sudah jadi fans sejak masih jadi mahasiswi.
" Waduh banyak sekali komentar yang masuk. Aku balas nanti saja Ra... sekarang kita gabung dengan yang lain dulu buat makan malam, aku sudah lapar banget sehari belum makan nasi", ujar Utari sambil menyimpan ponselnya di atas nakas, karena kami sama-sama sedang me-ngecarge ponsel kami yang kehabisan baterai. Bahkan ponselku mati total.
Tok...tok...tok....
" Sudah siap Ra...?, kita makan malam sekarang", suara Bian terdengar dari depan pintu.
Aku dan Utari keluar dari kamar kami.
" Iya sudah siap, ayo kita makan malam", ajakku pada Bian.
Bian langsung merangkul pundak ku dan mengajakku berjalan menuju tempat kami akan makan.
Haidar, Riko, dan Yoga sudah terlebih dahulu duduk melingkari meja makan. Aku, Bian dan Utari ikut duduk dan bergabung dengan mereka. Sudah ada nasi dan berbagai lauk pauk yang tersedia di meja makan. Kami pun makan malam bersama.
" Karena begitu berkesan, aku sudah meng-upload foto-foto saat kita mendaki tadi. Dan aku sudah menge-tag akun sosmed kalian semua, termasuk punya Raya. Apa kalian tahu respon netizen?, sungguh aku tidak menyangka akan seramai itu.
" Belum aku balas komentar-komentar mereka, soalnya HP ku lagi di carge dan ada di kamar", terang Utari saat dirinya telah selesai makan. Dan hendak menikmati wedang jahe sebagai minuman penghangat badan.
Aku masih menikmati makananku, ternyata setelah seharian lelah berjalan dan tidak makan nasi, malam ini makan nasi menjadi terasa sangat nikmat.
" Tentu saja pasti banyak yang komen, apalagi penggemar Steve dan Bian, mereka pasti sangat kecewa karena sudah ada dua gadis yang menemaninya. Beda dengan penggemar kita berdua yang masih punya kesempatan untuk PDKT, ya kan Ko?". Haidar cengengesan sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
" Mana ada yang tahu kalau Raya itu calon istri Bian, kan pertunangannya belum di beritahukan ke publik di sosmed. Sekarang Bian jarang aktif di sosmed, dibuat sibuk terus sama Raya", gumam Riko.
" Aku..., buat Bian sibuk?, enggak kok, Bian tuh yang mau sendiri tiap hari antar jemput aku. Bukan aku yang minta", ucapku membela diri.
" Nggak usah dengerin perkataan Riko, memang aku yang mau. Lagian buat apa aktif di sosmed, mereka yang mengumbar kemesraan di sosial media mungkin karena punya banyak waktu senggang. Kalau aku sih mending waktu senggangnya dihabiskan buat berduaan sama kamu Ra....", ucap Bian sambil mengusap kepalaku.
" Tukeran kamar saja kalian berdua, latihan pemanasan sebelum hari H, Bian sekamar sama Raya, dan Steve dengan Utari. Kan malam yang dingin akan berubah jadi malam yang panas", gumam Haidar.
" Ngaco kamu kalau ngomong. Mana bisa tidur kalau tukeran teman sekamar. Yang ada mata akan terjaga sampai pagi lagi, gagal deh buat istirahat, yang ada makin capek", imbuh Riko sambil terkekeh.
Mereka berempat tertawa bersamaan. Kecuali aku dan Yoga. Lagi-lagi sejak tadi Yoga terus menatap ke arahku. Tapi aku tak sekalipun membalas menatapnya, hanya sekilas saat yang lain sedang bercanda. Aku yang mengira Yoga sudah benar-benar menjadi baik. Ternyata penilaian ku salah, Yoga masih tetap Yoga yang menyebalkan. Ciuman semalam masih melekat di otakku. Entah sampai kapan aku bisa melupakan kejadian semalam.
Aku berharap setelah kembali ke rumah, aku tidak lagi bertemu dengan Yoga. Aku tidak ingin berbicara ataupun mendengarkan penjelasannya lagi. Semuanya hanya bulshit.