
Tak lama setelah aku merasa tenang setelah minum air putih pemberian Shaka, mama dan papa pulang dari rumah paman. Mereka berdua masuk ke dalam rumah saat Bian, Juna dan Shaka masih berada di kamarku.
" Loh ada apa ini?, kok semuanya masuk ke kamar Raya?". Mama yang baru masuk nampak cemas karena yang lain masuk ke dalam kamarku.
" Apa kamu sakit Ra?, sejak tadi pagi papa lihat kamu pucat dan lesu, apa mau periksa ke dokter sekarang?", tanya Papa.
Papa dan mama langsung ikut masuk ke kamarku, kamar yang sempit dipenuhi orang-orang yang masuk, membuat udara menjadi terasa panas.
" Nggak papa kok ma, Pa, Raya tadi ketiduran habis sholat maghrib, terus mimpi buruk. Tapi Raya baik-baik saja, beneran, nggak perlu pergi ke dokter", ucapku sambil membereskan mukena dan sajadah yang masih tergeletak di lantai kamarku.
Aku memberi kode degan mengibaskan tanganku, menyuruh Juna dan Shaka untuk keluar dari kamarku, agar tidak terlalu panas. Mereka berdua menurut keluar kamar, namun masih berdiri di depan pintu menatap ke dalam.
" Papa dan Mama pulang lebih awal, aku kira kalian mau pulang sampai larut karena sudah lama tidak ke rumah paman". Aku berdiri dan mengajak semuanya untuk keluar dari kamarku.
" Kamu beneran nggak papa Ra?", tanya Mama masih tidak percaya dengan jawabanku.
" Beneran ma, tadi raya cuma mimpi buruk, buruk banget, makanya sampai teriak-teriak dan kedengeran sama yang lain pas mereka baru pulang dari masjid".
Mama mengangguk, " Iya, mama sengaja pulang lebih awal, karena pengen makan malam bareng-bareng sama kalian semua, mumpung lagi kumpul semuanya, jadi mama tadi beli ayam bakar, lengkap sama sambel dan juga lalapannya. Tapi mama masak nasi sebentar ya soalnya nasi yang tadi siang tinggal sedikit. Setengah jam lagi, kita makan malam bersama".
Aku mengikuti mama masuk ke dalam rumah, menuju dapur, sedangkan ke empat laki-laki berkumpul di ruang tengah sambil menonton pertandingan bola bersama.
Namun saat aku dan mama di dapur, aku melihat Juna mengajak Bian keluar dan duduk di teras rumah. Aku penasaran mengapa mereka berdua memisahkan diri dari papa dan Shaka, apa yang ingin mereka bicarakan?. Atau mereka sengaja keluar karena mau merokok bersama?. Karena penasaran aku mengikuti mereka dan bersembunyi di samping rumah, dekat teras. Agar aku bisa mendengar percakapan mereka berdua.
" Aku senang karena Kak Raya bertemu dengan laki-laki baik seperti kak Bian, aku yakin Kak Bian akan bisa menjaga, menyayangi, dan membahagiakan kak Raya melebihi kami keluarganya. Dan aku harap apa yang kak Bian ucapkan tadi bukan hanya karena kak Bian ingin menenangkan Kak Raya yang ketakutan karena habis mimpi buruk. Tapi karena memang itu yang keluar dari dalam hati Kak Bian".
" Aku kenal Kak Bian sejak masih kecil, karena kakak sering main kesini, satu kalipun aku tidak pernah melihat Kak Bian membuat Kak Raya menjadi sedih selama kalian berteman. Aku harap setelah kalian menjadi suami istri pun nantinya kalian akan selalu bahagia".
" Tadi siang saat aku baru sampai di rumah, hal pertama yang aku tanyakan pada mama adalah, apakah Kak Bian sudah tahu tentang masa lalu kak Raya, dan Mama bilang jika kak Raya sudah menceritakan tentang masa lalu nya pada kakak. Dan kakak masih tetap ingin menikahi kak Raya, meski sudah tahu kebenarannya. Aku salut sama kakak, yang mau menerima kak Raya yang penuh dengan kekurangan. Terimakasih banyak untuk kebaikan hati kak Bian selama ini".
" Kak Raya sudah terlalu banyak merasakan kesedihan, mendapatkan gunjingan tak sedap dari tetangga, bahkan mendapat cacian dan juga makian karena kesalahan yang dilakukannya dulu bersama pacarnya".
" Entah laki-laki brengsek macam apa yang berencana untuk membunuh darah dagingnya sendiri. Ya... laki-laki itu yang sudah menghancurkan masa depan kak Raya. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan wajah bajingan itu, jangan sampai dia menunjukkan wajahnya dihadapan ku. Atau aku bisa lepas kontrol dan menghabisinya saat itu juga".
" Aku menyesal karena kebodohanku saat masih kecil, yang mau saja di beri uang 2 ribu rupiah untuk membeli jajan dan pergi dari rumah, hingga dia leluasa melakukan tindakan bejadnya terhadap kak Raya. Aku sebagai adik laki-laki sangat sedih, karena sudah gagal menjaga Kak Raya, tiap kali ada yang mencemooh nya, hatiku ikut merasakan sakit. Aku kembali merasa bersalah dan menyesal sudah meninggalkan kak Raya dan bajingan itu hanya berdua saja di rumah".
Aku bisa melihat Juna mengusap air matanya yang menetes, selama ini aku baru tahu jika Juna merasa bersalah hingga sebesar itu akan semua kejadian pilu yang menimpaku selama ini. Sejak dulu aku kira hanya aku yang merasakan kepedihan itu, tidak pernah sekalipun berpikir kalau ada orang lain yang merasakan hal yang sama, yang turut bersedih tiap kali melihatku bersedih.
Juna memang adik laki-laki yang sangat pengertian, aku kira selama ini dia banyak diam padaku karena Juna kecewa akan apa yang aku lakukan bersama Yoga dulu, namun ternyata Juna diam karena dia merasa ikut bersalah atas apa yang menimpaku. Padahal bagiku, Juna tidak bersalah sama sekali. Dahulu dia masih terlalu kecil untuk mengerti dan memahami persoalan dan kerumitan yang terjadi dalam hidupku.
Bian menanggapi ucapan Juna dengan bijaksana, " Kamu padahal umur baru belasan tahun, tapi pemikiran kamu sudah sangat dewasa, Raya beruntung mempunyai adik laki-laki seperti kamu, yang dewasa dan pengertian", ucap Bian.
" Dulu, waktu aku seumuran kamu, mungkin aku belum berfikir sedewasa kamu saat ini, aku masih ke kanak-kanakan saat seusiamu, karena baru mulai jadi mahasiswa baru, uang masih minta sama orang tua, hidup masih di biayai, dan masalah masih sekitaran pergaulan dengan teman-teman. Karena itulah aku salut sama kamu Jun. Kamu itu dewasa dan pekerja keras, kalah aku sama kamu".
" Loh, kalian malah ngobrol disini, terus raya dimana?, mama kira tadi dia keluar gabung sama kalian, kok malah nggak disini, ayo masuk masuk, nasinya sudah matang, kita makan malam bersama di dalam. Biar mama cari Raya, mungkin di kamarnya", kehadiran mama membuat obrolan antara Bian dan Juna harus berhenti. Mereka berdua pun menuruti perintah mama, dan masuk kedalam rumah.
Aku pun buru-buru masuk ke dalam melalui pintu belakang yang langsung menuju dapur.
" Loh, kamu dari mana Ra?, mama cariin dari tadi ternyata malah dari belakang".
Mama ternyata sudah berada di dapur terlebih dahulu.
" Raya sengaja keluar cari angin, habis di dalam rasanya panas banget tadi ma. Nasinya sudah matang ya Ma?, biar Raya bawa ke luar".
Aku mencabut kabel magicom dan membawa nasi yang masih panas ke ruang tengah. Di rumahku tak ada ruang makan, karena rumahku sempit dan biasanya kami makan sendiri-sendiri, jarang sekali makan bersama-sama, kecuali ada moment penting. Seringnya makan sambil nonton TV di ruang tengah, atau makan di dapur biar kalau nambah dekat dengan tempat nasi dan sayur.
" Makan yang banyak Ka.... kamu kan lagi masa pertumbuhan, biar kamu tumbuh tinggi kaya kakak, jadi mau daftar sekolah ataupun cari kerja dimana saja itu gampang, jika ada yang memberi persyaratan minimal tingginya di tentukan", Juna menambahkan nasi ke dalam piring Shaka.
" Jangan terlalu banyak dong kak Juna, takutnya bukannya tumbuh ke atas, malah tumbuh ke samping, jadi gendut, kan nggak keren", ucap Shaka menolak saat Juna hendak menambahkan nasi lagi ke dalam piringnya.
" Makan ya sewajarnya, kalau mau tinggi pasti bakalan jadi tinggi, wong keturunan orang bertubuh tinggi, ya menurun ke anaknya pasti begitu", Mama ikut berkomentar.
Papa memang tinggi sebagai kakeknya Shaka, dan Yoga, tentu saja tinggi dan kekar, aku masih bisa mengingat bagian perut Yoga yang seperti roti sobek, dengan otot yang sangat kencang dan keras, karena aku bisa merasakannya saat tubuhnya bersentuhan dengan tubuhku kemarin.
Apa yang sedang aku pikirkan, bagaimana bisa aku sedang berkumpul dengan keluargaku dan bersama Bian, tapim otakku masih saja memikirkan laki-laki menyebalkan itu.
Makan malam pun usai, papa menyampaikan pesan yang sudah di simpannya sejak beberapa hari yang lalu kepada Bian.
" Mulai besok, Raya akan berangkat dan pulang kerja bersama Juna, atau dengan Papa, kalian kan sebentar lagi menikah, meski nantinya di restoran kalian bertemu, tapi alangkah baiknya untuk tidak mengantar jemput Raya dahulu sampai kalian menikah nanti".
" Bukannya tidak boleh, tapi untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan. Apa nak Bian keberatan melakukan permintaan papa ini?".
Bian nampak kaget saat papa mengatakan hal itu, namun karena gaya bahasa papa yang santun, membuat Bian tidak bisa mengatakan tidak. Bian setuju saja untuk tidak lagi datang kerumah mulai hari senin besok, sampai kami sah menjadi pasangan suami istri.
" Tentu tidak apa Pa, setelah menikah kan kami bisa melanjutkan pulang pergi bersama, meski lumayan lama juga harus berangkat sendiri-sendiri selama seminggu. Yang penting masih bisa ketemu di restoran", ucap Bian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mama dan Papa tersenyum dengan kejujuran dan sikap Bian.
Bian pulang ke rumahnya jam 9 malam, berarti ini hari terakhir kami berangkat dan pulang kerja bersama sebelum kami menikah. Bian nampak enggan untuk pulang, seperti biasanya. Namun Juna dan Shaka terus menyuruhnya untuk pulang, karena sudah malam.
" Sabar kak Bian, tinggal lima hari lagi, kak bian sudah nggak perlu pulang lagi, boleh nginep disini sesuka hati", gumam Juna dengan nada sedikit meledek.
" Iya iya, kak Bian titip Kak Raya ya Jun, sebagai adik laki-laki yang baik, kamu harus menjaga Kak Raya untuk lima hari kedepan", pesan Bian saat keluar dari rumah menuju ke motornya.
" Siap, kak Bian, aku akan menjadi bodyguard Kak Raya lima hari kedepan, dan akan ku jaga agar dia tidak terluka meski hanya sedikit", Janji Juna.