Healing

Healing
141. Sikap Yoga



Untung saja tadi Utari masih berada di dalam bilik, sehingga Yoga tidak tahu jika kedatanganku ke kafe ini sebenarnya untuk bertemu dengan Utari. Aku berharap Yoga tidak akan pernah tahu alasan sesungguhnya. Namun ternyata semua tak sesuai harapan.


Karena ternyata Yoga sempat bertemu dengan Utari di kafe, saat aku sudah masuk mobil, Utari keluar dari Bilik, dan tak sengaja berpapasan dengan Yoga. Yoga memang tidak menyapanya, seperti bertemu dengan orang asing yang tidak saling kenal.


Namun Utari menyapanya, dan mengatakan jika dia habis makan siang bersamaku dan Syifa. Yoga yang tidak ku beritahu sebelumnya merasa sangat kecewa padaku karena tidak jujur padanya.


Sepulang kerja Yoga langsung menemuiku yang sedang bermain-main bersama Syifa dan Shaka di ruang tengah, Yoga menarik tanganku dan mengajakku ke kamar kami tanpa berkata-kata, juga tanpa melihat situasi dan kondisi di sekitar. Padahal saat itu aku sedang bersama Syifa, hingga Syifa aku titipkan pada Shaka terlebih dahulu karena aku bisa melihat kemarahan di sorot mata Yoga.


Shaka juga menatap jengkel ke arahku, seolah memfonis jika aku sudah melakukan kesalahan, karena Yoga sampai bersikap kasar seperti itu padaku. Selama ini Yoga tidak pernah sekalipun bersikap kasar padaku. Yoga sangat menjagaku dan tidak pernah sekalipun menyakitiku.


Tapi kali ini berbeda, wajah yang terlihat penuh amarah, dan cengkeraman tangannya yang sangat kuat di lenganku, membuat aku takut akan kemarahannya kali ini.


" Apa sangat sulit mengabulkan permintaanku untuk tidak berhubungan lagi dengan masa lalu kita?, baik Utari maupun Bian, mereka berdua itu sudah terlalu dekat dengan kita di masa lalu. Aku tahu seperti apa dulu kamu menolakku karena kamu sedang berhubungan dengan Bian".


" Apa kamu tidak bisa melakukan hal yang sama sekarang?, untuk menolak bertemu dengan mereka?. Kita sudah bukan pacaran lagi Ra... kita sudah menikah, punya dua orang anak. Tapi kamu tidak bisa menjaga perasaan ku. Apa karena kamu tahu aku sangat menyayangi dan mencintaimu, sehingga dengan seenaknya kamu bersikap seperti tadi?".


" Bertemu dengan Bian, bertemu dengan Utari tanpa sepengetahuanku. Jadi kamu anggap aku ini apa?, seandainya tadi Utari tidak mengatakan padaku jika kalian habis bertemu dan makan siang bersama, apa kamu ada keniatan untuk menceritakan hal itu padaku?, atau justru kamu akan merahasiakannya dariku untuk selamanya?".


Yoga benar-benar marah, tak ku sangka dia akan sampai se marah ini padaku. Aku sampai bingung harus mengatakan apa, karena memang jelas aku yang bersalah. Melakukan pembelaan diri juga tidak dibenarkan.


" Maaf...maafkan aku Ga, aku tidak bermaksud membuat kamu semarah ini, aku tidak tahu kalau kamu akan sakit hati jika aku bertemu dengan mereka. Aku tidak ngobrol apa-apa dengan Bian, dia hanya memberikan es krim untuk Syifa, dan dengan Utari, aku hanya mendengarkan curhatannya saja. Sungguh aku tidak bermaksud yang lain".


" Aku memang tidak berani memberitahu kamu kalau aku bertemu dengan Utari maupun Bian, aku takut kamu akan marah lagi, karena kamu tidak suka jika aku berhubungan lagi dengan mereka", aku mencoba menjelaskan, meski dengan penjelasan apapun tetap aku menyadari jika aku yang salah.


Baru tadi pagi Yoga bersikap hangat lagi padaku, kini sudah kembali kaku dan dingin. Aku sangat menyesal bertemu dengan Utari maupun dengan Bian. Seharusnya aku memutus hubungan dengan mereka untuk selamanya. Mau mereka punya anak atau enggak, aku sudah tidak mau ikut campur dan tidak mau masuk ke dalam masalah rumah tangga mereka.


" Aku nggak akan lagi bertemu dengan mereka berdua, kalau perlu aku akan memblokir nomor mereka. Please...maafin aku. Jangan marah terlalu lama, baru pagi ini kamu mau nyapa aku lagi. Tapi sorenya sudah marah lagi. Aku menyesal bertemu dengan mereka", ujar ku.


" Kamu sungguh-sungguh berjanji nggak akan bertemu dengan mereka lagi?, kalau sampai kamu melanggar janji kamu harus menerima konsekuensinya", seru Yoga sambil melepaskan dasi dan kemejanya dengan kasar. Seolah dia sangat gerah saat ini.


Mendengar kata 'konsekuensi' dari mulut Yoga, membuatku khawatir, memangnya apa yang akan dia lakukan jika aku melanggar janji ku?. Tapi yang jelas, sebisa mungkin aku akan berusaha untuk menepati janjiku. Tidak akan lagi aku menemui Bian maupun Utari.


Ke esokan harinya aku benar-benar memblokir nomor telepon mereka berdua. Bukannya aku sangat takut dengan kemarahan Yoga, tapi aku hanya berusaha menjadi istri yang baik, dengan patuh dengan ucapan suamiku.


Mungkin memang benar, tidak seharusnya aku ikut campur ke dalam permasalahan rumah tangga orang lain. Apalagi rumah tangga dari mantan tunangan kami. Hidupku sudah tenang, hidupku sudah bahagia, tidak seharusnya aku mencari masalah baru.


Malam harinya Yoga bersikap biasa padaku, kami makan malam bersama dengan Shaka juga Syifa. Aku sangat bersyukur dengan hal ini. Semoga saja aku tidak membuatnya marah lagi.


" Yah... Syifa sudah cukup besar untuk tidur di kamarnya sendiri, apa tidak sebaiknya Syifa mulai diajari tidur di kamar terpisah dari ayah dan ibu?".


" Shaka hanya tidak mau Syifa melihat hal-hal yang seharusnya tidak boleh dia lihat jika terus tidur bersama ayah dan ibu", ucap Shaka.


Aku tahu maksud Shaka apa, dia tidak mau Syifa melihat pertengkaran antara aku dan Yoga, Syifa memang sudah mulai besar dan paham dengan situasi dan apa yang kami obrolkan.


Ku lihat Syifa mengangguk namun juga menggelengkan kepalanya. Anak ini benar-benar sangat lucu.


" Syifa belani, tapi temani Syifa dulu sampai Syifa bobo, balu ibu boleh tinggalin Syifa sendili ", ucap Syifa dengan lugunya.


Mungkin memang sudah saatnya Syifa untuk tidur terpisah dariku dan Yoga. Sudah hampir setahun memang Syifa tidak lagi ngompol saat tidur, karena tiap kali mau tidur, pasti aku ajak pipis dulu ke kamar mandi. Sampai sekarang itu seperti menjadi rutinitas Syifa setiap malam.


Sebenarnya aku belum tega membiarkan Syifa tidur di kamarnya sendiri, meski kamar itu sudah disiapkan sekitar 2 bulan yang lalu, tapi sampai hari ini realitanya Syifa masih tidur bersamaku dan Yoga. Aku belum bisa membiarkannya tidur sendirian di kamarnya.


Hanya saja apa yang dikatakan Shaka memanglah benar adanya. Syifa sudah paham dengan banyak hal, dan dia tidak boleh sampai tahu dan menyaksikan jika sewaktu-waktu aku dan Yoga sedang bertengkar.


" Ayah tidak mengharuskan Syifa tidur sendiri di kamarnya, kalau memang Syifa belum berani, ya tunggu sampai Syifa besar, ayah dan ibu juga seneng tidur bareng sama Syifa", ujar Yoga.


" Baiklah putri ibu yang cantik, nanti kita coba tidur di kamar Syifa, kalau Syifa sudah bobo, barulah ibu akan pindah ke kamar ibu. Kan kamarnya sebelahan, jadi kalau Syifa tiba-tiba terbangun malam-malam dan merasa takut, Syifa bisa panggil Ibu, Syifa mengerti?".


Syifa mengangguk paham. Meski usianya baru 3 tahun lebih 4 bulan, Syifa memang tergolong anak yang cerdas, mungkin menurun dari ayahnya yang cerdas, untung tidak menuruni aku yang tidak pandai dan tidak mempunyai keahlian apapun kecuali memasak.


Hari-hari ku mulai berjalan normal tanpa masalah semenjak aku ganti nomor ponselku. Sebenarnya Shaka yang memberikan saran padaku agar aku ganti nomor ponsel. Bagaimanapun sebagai anak sulung yang sudah dewasa, dia pasti menginginkan kedua orang tuanya hidup rukun dan bahagia tanpa adanya masalah. Karena itulah waktu itu Shaka memberikan padaku nomor baru yang dibelinya saat pulang sekolah.


Hanya aku dan keluargaku yang tahu nomor ponselku. Aku memang tak punya banyak teman, karena itulah tidak ada yang tahu, atau menanyakan kenapa aku ganti nomor.


Sekarang Shaka sudah punya grup kelasnya sendiri, dan tidak ada grup wali murid seperti saat Shaka masih SMP dulu. Karena itulah aku tidak perlu mengkonfirmasi nomor baruku pada orang lain.


" Ayah... ibu... besok Sabtu minggu, Shaka mau minta ijin, ikut kegiatan sekolah, ada acara pecinta alam begitu, hanya menginap dua hari dua malam, boleh ya?".


Shaka yang baru pulang bersepeda bersama teman-temannya langsung menemuiku dan Yoga yang sedang beristirahat di teras samping, usai joging di sekitaran komplek.


Syifa masih tidur, karena tiap hari minggu tidak seperti hari biasa, aku akan sengaja membangunkannya lebih siang. Semalam dia juga tidur cukup larut karena kakinya pegel, kecapekan lari-lari seharian bersama Mogi, kucing barunya.


Mogi adalah kucing Persia berjenis kelamin betina. Mogi sengaja kami pelihara, karena Syifa yang memintanya, katanya untuk teman tidur. Syifa sangat menyukainya, karena Mogi jinak, suka bermanja-manja pada Syifa, bulunya yang lembut dan berwarna putih bersih, membuat Mogi terlihat persis seperti boneka kucing, hanya saja Mogi adalah mahluk hidup.


" Memangnya acara dimana?, di sekolah atau di luar sekolah nginep nya?", tanya Yoga sambil memijit-mijit betisnya.


" Acaranya camping di bumi perkemahan Yah, tapi ada Pak Guru pembimbingnya yang ikut, ayah dan ibu nggak perlu khawatir", ujar Shaka mencoba memberi informasi bertujuan untuk meyakinkan kami agar kami berdua memberinya ijin.


Aku sendiri tidak keberatan Shaka hendak berkegiatan di alam, tapi beda dengan Yoga, dia nampak tidak senang dengan hal itu.


" Boleh ya Yah..Bu...?", lagi-lagi Shaka meminta kejelasan.


" Ayah tidak suka kamu ikut kegiatan seperti itu, nanti kamu kecapekan, terus jadi malas belajar, kalau nilai kamu merosot bagaimana coba?".


Yoga seperti bukan Yoga yang aku kenal, dia sendiri saat sekolah dulu juga mengikuti kegiatan camping semacam itu, kenapa justru sekarang dia melarang putranya menyukai bidang yang sama dengannya?. Aneh....