Healing

Healing
90. Menemukanmu



Malam semakin larut, aku belum berani pulang ke rumah karena Mama melarang ku pulang sebelum menemukan Shaka. Ini semua memang salahku, aku begitu bodoh karena tidak bisa menahan diri untuk tetap menjaga rahasia ini.


Jika nanti Shaka ketemu, aku akan langsung minta maaf padanya, dan tentu saja aku akan mengatakan jika aku salah bicara. Shaka tidak boleh tahu kebenarannya, sampai kapanpun dia harus tetap menjadi adikku, bukan putraku. Itulah keputusan yang paling tepat untuk semuanya.


Hujan masih saja turun dengan derasnya, aku mulai merasa kedinginan dan juga lapar, seharian ini aku sampai lupa tidak memakan apapun sejak pagi, bahkan aku belum sempat minum juga. Tapi sekarang posisiku berada jauh dari rumah, tidak membawa dompet, hanya ponsel saja yang aku bawa. Semuanya karena tadi aku sangat panik dan langsung pergi begitu saja saat melihat kemarahan mama.


Kakiku sudah mulai terasa pegal, ternyata aku sudah berjalan cukup jauh dari rumah, bahkan sekarang aku berada dekat dengan restoran Bian, haruskah aku mampir ke sana sekedar minta minum dan makan. Tapi keadaanku sekarang sungguh tidak layak untuk dilihat oleh teman-teman yang lain.


Tapi perutku sudah sangat lapar, kakiku pun terasa pegal, biarlah teman-teman yang lain melihat aku yang basah, dengan rambut kucel, dan bau badan seperti ini. Aku masuk menuju ke pelataran restoran, namun ternyata hanya lampu depan yang masih menyala. Apa karyawan lain di liburkan hari ini?, bukankah pernikahanku besok. Tapi kenapa restoran sudah tutup baru jam 10, karena biasanya restoran tutup jam 11 malam.


Lampu di dalam restoran juga sudah mati. Pintunya pun sudah di gembok. Aku coba menelepon Riko, menanyakan bagaimana restoran hari ini. Dan Riko menjawab semuanya baik-baik saja, dan ternyata shift sore pulang lebih awal karena besok pagi-pagi sekali semuanya harus berkumpul di restoran untuk mempersiapkan hidangan untuk pernikahan Yoga dan Utari di hotel.


" Kenapa kamu menanyakan restoran?, apa bosen libur 2 hari di rumah?, bukannya lagi banyak kegiatan di rumah kamu, untuk acara besok?".


Pertanyaan Riko membuatku tersadar, benar juga, malam ini akan dipasang tenda beserta dekorasi pengantin di depan rumahku, mungkin para pemasang nya sudah datang. Tapi aku justru tidak berani untuk pulang sekarang karena belum berhasil menemukan Shaka.


Manusia macam apa aku ini, mungkin hanya aku calon pengantin wanita yang keluyuran sendirian di malam pengantinnya. Ucapan mama dan papa sejak beberapa hari yang lalu melarang ku pergi ke luar sendiri, hari ini larangan itu tidak berlaku lagi. Karena hari ini aku keluyuran sendirian dan tak ada yang menemani.


Pasti Juna juga sedang mencari Shaka dan belum menemukannya, karena satu jam yang lalu Juna mengirimkan pesan padaku, jika dia sudah mencari Shaka sampai ke kampung sebelah.


Aku duduk di kursi panjang yang ada di taman kecil depan restoran, sambil meluruskan kakiku yang terasa sangat lelah dan pegal. Padahal besok hari penting dalam hidupku, karena besok aku resmi menjadi istri Bian, tapi mengapa saat ini aku justru memikirkan hal lain. Bukan memikirkan tentang acara pernikahan ku besok.


Mungkin karena bagiku Shaka adalah hidupku, tak ada hal lain yang lebih penting dari keselamatannya. Yang menjadi prioritas ku sekarang adalah menemukan Shaka.


Membesarkan Shaka adalah bukti perjuangan panjang yang sudah aku lakukan selama ini, dia adalah bukti betapa besarnya kasih sayang seorang ibu kepada putranya yang tak terhingga. Benar sekali lirik dalam lagu yang mengibaratkan kasih sayang seorang ibu bagaikan surya yang menyinari dunia. Seperti itulah kasih sayang yang aku berikan padanya.


Meski tak ku tunjukkan dengan terus berada di sampingnya seperti seorang ibu pada umumnya, karena tugasku merangkap tiga, menjadi ibunya Shaka, menjadi kakak , sekaligus ayah bagi Shaka, karena aku harus berkerja agar mempunyai penghasilan untuk menghidupi nya selama ini.


Tapi aku berperan menjadi ibu dan ayah yang di rahasiakan. Karena status kakak lah yang tertera di kartu keluarga.


Ponselku bergetar, ada panggilan dari Yoga, aku langsung mengangkat nya, selama ini baru kali ini aku begitu cepat mengangkat telepon dari Yoga, baru dering pertama langsung ku angkat, karena biasanya aku biarkan saja, atau bahkan aku reject jika tahu itu panggilan dari Yoga.


" Halo Ga, gimana, apa kamu menemukan Shaka?", tanyaku tanpa basa-basi.


" Kamu dimana?, biar aku jemput kamu sekarang untuk menemui Shaka, karena jika aku yang menemuinya mungkin Shaka akan semakin penasaran dan ingin tahu kebenarannya. Bisa jadi dia akan menebak dan mengetahui jika aku ayahnya".


Suara Yoga terdengar begitu nyaring di telingaku, karena suasana di restoran yang sepi, begitu juga dengan lalu lalang kendaraan di depan restoran yang mulai lengang.


" Aku di restoran Bian", jawabku singkat.


" Baiklah, kamu tunggu, sebentar lagi aku jemput".


Yoga langsung menutup teleponnya, padahal aku mengatakan aku di restoran Bian, tapi Yoga tidak menyuruh orang lain untuk menjemput ku, dan tidak sampai lima menit, Yoga sudah sampai di depan restoran dan keluar untuk menghampiri ku. Aku langsung berjalan cepat mendekat ke arah Yoga dan masuk ke dalam mobilnya tanpa disuruh.


Yoga nampak bingung awalnya karena aku duduk di kursi depan, karena Yoga sudah membukakan pintu belakang, mungkin dia khawatir aku akan menolak jika di minta duduk di depan, bersebelahan dengannya.


Tapi saat ini, semua rasa canggung dan tidak nyaman yang biasa aku rasakan saat bersama Yoga sedang tersisihkan, bagiku saat ini yang terpenting menemukan Shaka, menjelaskan kepadanya kesalahpahaman yang terjadi, dan mengajaknya pulang kerumah.


" Kamu kelihatan pucat banget, apa kamu jalan kaki sampai sejauh ini?", tanya Yoga sambil menaruh payung yang sudah aku lipat ke belakang.


Aku mengangguk mengiyakan.


" Sepertinya kamu juga belum makan?, makanlah ini", Yoga menyerahkan air mineral dan roti sobek yang masih terbungkus rapat. Aku hanya menatapnya sekilas, tak berniat menerimanya. " Tenang saja ini belum aku buka sama sekali, masih tertutup rapat, jadi tidak mungkin aku kasih obat tidur" .


Aku hanya menarik ujung bibirku sambil mendengus, ternyata dia juga memiliki ingatan yang sama dengan yang ada di pikiran ku, aku teringat kejadian sepulang dari perkemahan yang akhirnya aku tertidur pulas dimobil Yoga setelah meminum minuman pemberian darinya.


" Makanlah, aku khawatir kamu pingsan sebelum sampai ke tempat di mana Shaka berada. Wajah kamu sudah pucat pasi seperti mayat hidup", ujar Yoga.


Akhirnya ku terima roti dan air mineral darinya karena memang roti dan air mineralnya masih baru dan tertutup rapat, langsung ku makan sepotong roti dan ku minum sebotol air mineral hingga tandas.


Yoga juga memberikan tisu basah selesai aku makan dan minum. Padahal aku merasa makanku tidak belepotan.


" Itu buat bersihin wajah kamu, kucel banget, pasti kamu nggak pulang dan nggak mandi kan sore tadi?, aku tahu karena kamu masih pakai baju yang sama dengan yang kamu pakai tadi pagi".


Ucapan Yoga memang benar, aku pun mengambil tisu basah dan mengelap wajahku agar terlihat sedikit lebih fresh. Bisa dibayangkan bagaimana keadaanku saat ini, seharian belum mandi, karena bukan cuma sore harinya saja aku tidak mandi, seja pagi aku juga belum mandi, karena baju yang kupakai adalah baju semalam yang ku gunakan untuk tidur, celana kulot panjang warna hitam, dan kaos belang pink abu. Entah seperti apa bau badanku sekarang.


Belum lagi aku sedang datang bulan, dan jangan ditanya, seharian tidak ganti pembalut, tentu saja sudah bocor, untung celanaku berwarna hitam, sehingga tidak kelihatan, tapi bau amisnya sangat menyengat.


Dan untungnya jok mobil Yoga berwarna hitam, seandainya bocor, tidak terlalu terlihat jelas, Dan mobil Yoga menggunakan pengharum mobil yang lumayan menyengat dan segar baunya, sehingga bisa menyamarkan bau badanku dan bau amis dari darah haid ku.


" Kita sudah sampai", ujar Yoga sambil menunjuk ke sebuah lapangan bola yang ada di dekat SMP tempat Shaka sekolah.


" Shaka ada di sana?", tanyaku sambil menatap lapangan yang gelap itu, karena tak ada lampu penerangan di lapangan, hanya ada beberapa lampu di pinggir lapang, dan itu tidak cukup terang untuk menerangi lapangan yang luas itu.


" Ya, Shaka disana, kamu temui dia, dan ajak dia bicara", ujar Yoga.


Aku langsung turun dari mobil Yoga dan menyalakan lampu di ponselku, sebagai penerangan. Bisa ku lihat seorang anak yang sedang duduk di lantai dengan kaki dilipat, sehingga lututnya sebagai sandaran kepala, dengan punggung yang bersandar di tiang yang ada di tempat parkir dengan wajah menunduk ke bawah.


Mungkinkah Shaka tidur?, namun saat aku semakin mendekati nya, aku bisa melihat punggung Shaka yang naik turun, sepertinya Shaka sedang menangis terisak.


Aku semakin sedih melihat keadaannya sekarang. Sejak kelas 4 SD, aku sudah tidak pernah melihat Shaka menangis lagi. Dan hari ini, karena kesalahanku, Shaka menangis sampai sesenggukan seperti itu.


" Shaka.... ini Kak Raya, apa boleh kakak temani Shaka di sini?".


Shaka menoleh saat mendengar suaraku, ku lihat wajahnya sembab, dan matanya bengkak. Apa mungkin Shaka menangis sejak tadi pagi?.