
" Satu jam lagi sudah mau berangkat, kamu malah ikut-ikutan ke sini, apa sudah dikemas semua pakaian kamu Ka?", tanya mama.
Shaka terlihat mengangguk sambil mengecup dahi Syifa. Sejak tadi Shaka belum bermain-main dengan adik perempuannya yang satu ini.
Rencananya pagi tadi mengajak Syifa main namun tak jadi lantaran pandangan yang dilihatnya justru mengganggu pikirannya sampai saat ini.
" Shaka nggak bawa banyak baju, makanya nggak perlu beres-beres".
" Ma, apa mama tahu kalau tadi pagi Ibu bertemu dengan Kak Bian di depan?".
Mama menggeleng sambil nampak berfikir panjang.
" Tadi ibumu juga teleponan sama seseorang di perkebunan, lumayan lama, tapi mama nggak tahu siapa yang ibumu telepon".
" Yang jelas Raya semakin sibuk sejak sampai disini, kamu nggak lagi berprasangka buruk sama ibu kandungmu sendiri kan Ka?, ibumu itu tipe wanita setia. Dia nggak bakalan menduakan ayah kamu, apalagi sudah ada Syifa. Kamu harus percaya sama ibumu".
Shaka nampak gusar, dan tidak sepenuhnya mendengarkan ucapan Mama.
" Apa dulu Shaka salah karena terus menjodoh-jodohkan ibu dengan Kak Bian?, membuat ibu yang tadinya menutup hatinya untuk mencintai laki-laki, jadi terbuka hatinya lagi?,saat itu Shaka belum tahu tentang ayah, dan belum tahu siapa Shaka sebenarnya".
Mama menggeleng. " Nggak ada yang salah, itu sudah seperti tulisan takdir, kita hanya mengikuti skenario yang ditulis oleh Yang Maha Kuasa".
" Shaka hanya tidak mau kalau sampai ayah dan ibu ada masalah gara-gara ada pihak ke tiga". Shaka menunduk dan langsung diam karena Puput keluar membawa jus mangga pesanannya dan juga es teh manis pesanan mama.
" Mba Puput, apa mba Puput tahu apa itu 'mantan' ?", dengan polosnya Syifa bertanya pada Puput yang sedang menyajikan minuman yang dipesan Shaka dan Mama.
Puput mengernyitkan keningnya, kemudian menatap Shaka dan mama mencoba mencari kejelasan kenapa anak sekecil Syifa bertanya tentang kata 'mantan'. Namun Shaka dan Mama hanya menggelengkan kepala, sebenarnya tujuannya memberi kode pada Puput untuk tidak menjawab dan menjelaskan apa yang di tanyakan Syifa tadi.
Tapi Puput salah tangkap, Puput mengira jika Shaka dan Mama geleng-geleng kepala karena tidak tahu, sehingga Puput berusaha menjelaskan pada Syifa apa itu arti dari kata 'mantan'.
" Kalau mba Puput boleh tahu, Syifa denger dari siapa kata itu?, 'mantan' itu artinya sama dengan bekas", Puput berusaha menjelaskan, sedangkan Shaka dan Mama membulatkan matanya karena Puput tidak maksud dengan kode gelengan kepala mereka yang melarangnya untuk menjelaskan tentang kata 'mantan' pada Syifa.
" Kak Shaka yang tadi bilang 'mantan' sama ibu", jawab Syifa dengan polosnya.
Puput mengangguk-angguk mengerti, dalam benaknya Puput mengira mungkin saja Shaka habis menceritakan tentang mantan pacarnya saat Syifa bersama mereka.
" Mba Puput sekarang boleh melanjutkan pekerjaannya, Syifa biar sama aku dan mama saja". Shaka berusaha membuat Puput pergi dan terlalu banyak ikut campur dengan urusan mereka.
Puput menurut saja dan kembali masuk kedalam rumah tanpa menaruh curiga sedikitpun.
Aku berpapasan dengan Puput saat hendak menghampiri mama dan Shaka di teras. Aku sudah selesai membereskan pakaianku, pakaian Syifa, dan juga pakaian Yoga ke dalam koper.
" Sudah selesai beres-beres bajunya Ra?".
Aku menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Mama, sambil duduk di samping Syifa yang sedang sibuk menghitung jarinya.
Masih ada setengah jam sampai jam 2, jadi aku bisa ikut bersantai bersama mama dan Shaka.
" Ra... Bukankah bulan ini kamu harus lepas implan di lenganmu?, jangan sampai lupa, habis lepas langsung pasang lagi, jangan dulu dikasih adik Syifanya, kasihan masih terlalu kecil, dia masih butuh perhatian penuh dari orang tuanya".
Mama selalu saja mengatakan hal yang sama semenjak beberapa bulan yang lalu. Seolah dia khawatir kalau aku hamil lagi. Padahal aku juga belum ingin punya anak lagi, bahkan mungkin dua anak saja sudah cukup untukku, tidak usah nambah momongan lagi.
" Iya ma, nanti sepulang dari sini aku langsung buat janji temu dengan dokter Adrian. Deket ini, tinggal ke samping rumah, sudah sampai. Kan Dokter Adrian sekarang sudah buka praktek ma", ujarku.
Mama beranjak dari duduknya dan mendekat padaku, ku kira mama mau ngomong apa karena wajahnya berubah jadi serius, ternyata Mama membahas pertemuan tak sengaja antara aku dan Bian tadi.
" Apa benar tadi kamu ketemu sama Bian?", ku tatap Shaka yang sedang berpura-pura sibuk menyeruput jus mangga dari gelas yang ada di tangannya. Shaka benar-benar menyebalkan, tukang adu dan tidak bisa menjaga rahasia. Jadi teringat sosok Shaka kecil yang dulu terus menentang perkataanku.
" Maksud Shaka baik ma, Shaka nggak mau ibu sampai luluh lagi dan CLBK sama mantannya itu", ucap Shaka.
" Siapa yang CLBK, lagian ibu itu tipe setia, tidak mudah goyah meski diterpa godaan mantan", ucapku tegas.
Tiba-tiba Syifa langsung mendekat, " Ibu, Kakak, dan Nenek kok dali tadi teyus ngomongin 'mantan' , apa di lumah ini ada banyak balang bekas?, dikasih ke pemulung saja, bial lumahnya nggak belantakan".
Shaka dan Mama langsung saling menatap dan tertawa lepas mendengar ucapan Syifa, bahkan mereka berdua sampai memegang perut yang mulai kaku karena terlalu lama tertawa.
" Bhahahaha.... barang bekas dikasih ke pemulung saja kata Syifa, hahahaha.... adik Kakak Shaka memang sangat cerdas".
Shaka mengulang kalimat Syifa yang menurutnya lucu masih dengan tawa yang sangat keras.
" Ada apa ini?, kalian senang sekali, apa ada cerita yang lucu dan aku lewatkan?", tanya Juna yang tertarik bergabung dengan kami karena mendengar tawa mama dan Shaka.
" Nggak papa kok Jun, mama dan Shaka lagi nggak waras, mending kamu bantu kak Raya keluarin koper dari kamar, tolong dimasukkan bagasi mobil sekalian".
" Dan kalian berdua, jangan ketawa terus, Syifa jadi takut lihat kalian berdua yang kaya orang gila seperti itu. Buruan siap-siap, sebentar lagi kita berangkat", ucapku kesal pada Shaka dan mama.
Apa kata Syifa?, barang bekas di kasih ke pemulung?, dari mana dia tahu kalau mantan itu artinya barang bekas. Yang kasih tahu jelas nggak bener ini, pasti ulah mama, atau ulah Shaka.
Aku masuk ke kamar meminta tolong pada Juna untuk mengeluarkan koperku dari kamar. Sejak tadi Yoga dan Papa sibuk di depan, mengecek kondisi mobil, agar perjalanan pulang kami lancar sampai rumah.
Dan sepertinya sekarang semuanya sudah beres, tinggal bersiap untuk memulai perjalanan pulang.
Namun ternyata drama hari ini belum berakhir, sesuai dugaan ku, Syifa tidak mau berpisah dengan Puput, padahal sudah berbagai cara sudah kami lakukan. Syifa tetep kekeh minta agar Puput diajak pulang.
" Mba Puput nggak bisa ikut sekarang sayang, kan mobilnya sudah penuh, nanti kalau mba Puput ikut, mba Puput duduknya dimana coba?".
" Syifa pulang saja dulu, besok-besok Mba Puput nyusul Syifa ke rumah, Mba Puput janji".
Setelah mendengarkan ucapan Puput yang berjanji akan menyusul ke rumah, baru Syifa mau melepaskan pelukannya pada Puput. Dan kami pun bisa memulai perjalanan pulang.
_
_
Setelah melalui cukup banyak drama dari pagi, hingga siang ini, akhirnya perjalanan pulang pun di mulai, meski waktunya harus mundur dari rencana awal.
Kami baru memulai perjalanan jam 3 sore. Setidaknya kami masih bisa sampai rumah sebelum larut malam. Itulah harapan kami.
Namun ternyata kenyataan tak selalu sesuai dengan harapan. Karena tak jauh berbeda dengan kondisi saat keberangkatan kami ke Fila. Jalanan sore ini juga macet total. Saking banyaknya kendaraan yang hendak meninggalkan puncak, dan menuju daerah masing-masing.
Lagi-lagi kami terjebak dalam kemacetan yang sangat panjang. Seharusnya kami membuat rencana pulangnya pagi saja, mungkin tidak mngalami kemacetan sepanjang ini.
Bahkan untuk sholat maghrib dan makan malam, kami harus mencari masjid terdekat terlebih dahulu, karena jika menunggu sampai rumah, mungkin waktu Maghrib keburu habis.
Dan anehnya Bian dan Utari juga berhenti di masjid yang sama. Apa mereka mengikuti mobil kami?, tapi yang jelas saat ini kami berada di masjid yang sama. Dan satu hal yang aku khawatirkan adalah Syifa.
Dan kekhawatiran itu menjadi sebuah kenyataan. Syifa berlari ke arah Bian saat melihat Bian sedang keluar dari masjid seorang diri.
" Hai Om, makasih buat es klim stobeli nya, apa om juga mau pulang ke lumah sama sepelti Syifa?".
Yoga dan Papa yang mendengar ucapan Syifa pada Bian langsung bersamaan menatap ke arahku dengan mata menyelidik.
Aku harus membuat alasan yang tepat agar tidak terjadi prahara.