
Sebenarnya aku ingin bercerita jujur pada Bu Ara, kalau aku dan Yoga sudah sering bertemu setelah keluarganya kembali ke rumah itu. Namun ada mama yang duduk bersama kami, jadi tidak mungkin aku bercerita saat ini.
Tentang Yoga yang sudah mengirimkan sejumlah uang untuk biaya hidup Shaka, putranya, sebenarnya Yoga tidak seburuk yang dipikirkan orang lain, tapi aku tidak bisa menceritakan hal ini pada siapapun. Mungkin jika sampai ada yang tahu, hanya akan menimbulkan masalah baru.
Apalagi Bu Ara tahu dan kenal dengan Bu Herni, ibunya Yoga. Khawatir tiba-tiba beliau keceplosan mengatakan apa yang aku ceritakan padanya. Bisa-bisa Bu Herni datang dan meminta uang yang sudah di transfer padaku.
" Kalau boleh tahu, sekarang Shaka sudah kelas berapa?", tanya Bu Ara sambil menyesap teh manis di depannya.
" Baru masuk SMP Bu...., tanggal 15 bulan depan usianya 13 tahun, cepat sekalinya Bu, bukankah waktu berjalan dengan sangat cepat. Saya masih ingat betul saat Bu Bidan membantu persalinan saya dulu dirumah ibu. Dan ternyata itu sudah hampir 13 tahun yang lalu".
Pantas saja ku lihat sudah banyak kerutan di wajah Bu Ara, ternyata memang sudah sangat lama sejak aku dibantu persalinan oleh beliau. Karena sejak bayi, Shaka jarang aku periksakan ke bidan jika dia panas atau batuk pilek, paling aku balur dengan bawang merah atau aku sering-sering memberinya ASI jika Shaka panas atau batuk pilek. Cukup dengan itu Shaka akan sembuh dengan sendirinya".
Sebenarnya alasan yang sebenarnya karena aku merasa tidak enak pada Bu Ara, pernah ke sana dua kali saat pertama kali Shaka demam, dan Bu Ara tidak pernah mau menerima pembayaran. Justru Bu Ara memberiku uang dan susu formula untuk Shaka. Karena itulah aku tidak lagi membawa Shaka ke sana jika kenapa-kenapa, aku merasa tidak enak dan merasa semakin banyak berhutang budi pada Bu Ara.
Namun meski aku jarang memeriksakan Shaka ke tempat Bu Bidan, kadang Bu bidan akan menyuruh asistennya mengantarkan susu formula ke rumah untuk Shaka. Beliau benar-benar sosok Bidan yang sangat baik.
" Benar sekali, sudah lumayan lama ternyata. Berarti sekarang aku sudah tua dan sebentar lagi pensiun dari pekerjaanku menjadi bidan desa. Semoga saja selama aku menjadi bidan desa memberi banyak manfaat pada masyarakat".
Bu Ara memang sangat baik, bahkan sudah melakukan banyak sekali kebaikan dengan menolong ratusan ibu-ibu yang melahirkan, juga mengobati anak-anak yang sakit. Tapi beliau bahkan tidak menganggap itu sebagai kebaikan, justru baginya itu adalah kewajibannya sebagai seorang bidan desa.
" Tentu saja ibu sangat membantu dan memberi banyak manfaat pada masyarakat. Ibu orang yang sangat baik dan banyak menolong sesama. Sudah seperti seorang malaikat yang tak bersayap", ucap mama dengan mantap, karena Bu Ara memang sangat baik dan seringkali membantu orang yang kesusahan.
Tak terasa obrolan kami ternyata sudah cukup lama, karena Bian sudah datang ke rumah, itu berarti sudah jam setengah 9, karena jam 9 kami berdua sudah harus sampai di puskesmas untuk mendapatkan vaksin yang diperuntukkan bagi semua calon pengantin.
" Oh.... jadi ini yang mau jadi suami Raya, wah... tampan sekali, beruntung Raya dapat calon suami yang baik hati dan tampan, seperti nak....". Bu Ara sengaja menjeda kalimatnya.
" Bian Bu, nama saya Bian", ucap Bian memperkenalkan diri sambil menyalami Bu Ara. Mereka berdua baru pertama kali bertemu, karena itulah belum saling mengenal.
" Wajah nak Bian seperti tidak asing ya... tapi pernah melihat dimana ibu lupa, soalnya ibu sudah makin tua jadi gampang lupa", ucap Bu Ara sambil tersenyum keibuan.
" Mungkin pernah makan siang atau makan malam di restoran tempat Raya bekerja?, kalau pernah berarti benar pernah bertemu dengan saya, karena kami kerja di tempat yang sama", ujar Bian menjelaskan, memperkenalkan dirinya yang bekerja bareng dengan Raya, tanpa menyombongkan bahwa dialah pemilik restoran itu.
Bu Ara nampak mengingat-ingat, " Owh jadi teman kerja Raya, mungkin juga ya.... pernah melihat di sana, tapi ibu masih belum yakin apa iya pernah lihat di sana atau di tempat lain, soalnya wajah nak Bian memang terlihat tidak asing".
" Kalau begitu ibu pamit sekalian, bukankah kalian mau pergi ke puskesmas?, ibu juga harus ke PKD, tadi sama asisten di PKD ijin cuma mau kumpulan di puskesmas tapi malah pengin mampir kesini, sepertinya ibu sudah keluar terlalu lama", ujar Bu Ara sambil berpamitan pada kami semua.
Aku, mama, dan Bian mengantar kepergian Bu Ara sampai di depan rumah.
Mama menyuruh kami masuk setelah Bu Ara pergi, dan menawarkan pada Bian untuk sarapan. Tapi Bian mengatakan sudah sarapan di rumah, karena itu mama kebelakang menaruh gelas bekas tehnya Bu Ara, sekalian membuatkan teh manis untuk Bian.
" Bu Ara itu tenaga medis ya Ra?", tebak Bian sambil mendudukkan diri di kursi ruang tamu, karena tadi Bu Ara sempat membahas PKD dan puskesmas.
Aku mengangguk, " Beliau yang dulu membantu persalinan ku Bi..., apa kamu tahu... dulu sama sekali tidak di pungut biaya, bahkan beliau ngasih uang dan sering kasih susu juga buat Shaka. Bu Ara itu bidan yang sangat baik", ucapku sambil masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian yang lebih resmi karena kami akan pergi ke puskesmas.
Bian mengangguk, " Kenapa dia kesini?, maksudku ada keperluan apa dia kesini?", tanya Bian dengan suara sedikit lebih keras, karena kami berada di ruangan yang berbeda.
Aku bergegas keluar kamar setelah berganti pakaian dengan kilat.
" Bu Ara mendengar kabar tentang aku yang sebentar lagi akan menikah, beliau bertanya padaku apa kamu tahu tentang masa laluku atau tidak, karena hal itu cepat atau lambat pasti akan ketahuan apalagi kita akan menikah dan kamu akan tahu kalau aku gadis bukan perawan", bisikku sambil duduk di samping Bian.
Bian langsung menutup mulutku, " Cukup Ra, jangan kamu bahas lagi soal itu. Aku nggak suka kamu menilai dirimu sendiri seperti itu. Sebaiknya kita berangkat sekarang", ujar Bian laku melepas tangannya dari mulutku.
" Loh, sudah mau berangkat?, ini tehnya baru jadi".
" Buat nanti saja Ma, sebentar lagi sudah mau jam 9, takutnya ke puskesmas nya kesiangan. Raya dan Bian pergi duluan ya Ma".
Aku dan Bian berpamitan, untuk pergi ke puskesmas. Dan sampai di puskesmas antrian di pendaftaran masih lumayan banyak, dan ternyata sudah ada dua pasang calon pengantin lain yang sudah lebih dahulu mendaftar.
Itu berarti aku dan Bian harus menunggu cukup lama, selain di pendaftaran, juga saat vaksin harus mengantri.
Dua calon pengantin yang lebih awal masih sangat muda, baru berusia awal 20 tahunan. Mereka terlihat seperti anak baru lulus SMA dan sudah mau menikah, mungkin saja mereka sudah pacaran sejak SMP. Atau justru baru kenal dan langsung cocok dan memutuskan untuk menikah. Yang jelas aku tidak tahu alasan mereka, dan juga tidak mau tahu. Karena bukan urusanku.
Setelah mengantri sekitar satu jam akhirnya kami mendapatkan vaksin **, dan berhasil mendapatkan surat keterangan sudah vaksin.
Dari puskesmas kami langsung mampir ke KUA, karena rutenya satu arah, di KUA juga sedang ada beberapa pasang calon pengantin yang sedang mengantri untuk melaksanakan ijab qobul.
" Kita lihat sebentar yuk Bi..., biar pas kita nikah besok jadi nggak bingung, sudah lihat proses orang lain terlebih dahulu", ucapku, sambil menarik tangan Bian melihat dari jendela kaca ruang ijab qobul, banyak orang lain yang juga melakukan hal yang sama, mungkin keluarga calon pengantin yang tidak bisa ikut masuk kedalam ruangan ijab qobul, sehingga mereka menyaksikan melalui jendela kaca.
Hanya beberapa menit saja proses ijab qobul selesai, sebenarnya menikah sangatlah sebentar, hanya saja mengurus surat dan persyaratan yang cukup ribet. Belum lagi yang mengadakan pesta-pesta besar dan meriah, itulah yang membuat pernikahan menjadi hal yang melelahkan, saking banyaknya acara.
" Sudah, ayo kita keluar, nggak enak dilihatin sama yang lain", bisik Bian.
Padahal banyak orang lain juga yang menonton, tapi memang kami tidak mengenal mereka.
Di depan KUA sengaja aku menghentikan langkahku, dan Bian ikut berhenti.
" Kenapa berhenti?", tanya Bian.
Ku ambil ponselku dan melakukan foto bersama dengan Bian. Satu...dua...tiga...
Sudah tiga gambar berhasil kuambil. " Sengaja buat bikin status", ucapku sambil membuka WhatsApp dan meng-upload foto kami barusan.
" Tinggal menghitung hari, sebentar lagi sah, semoga di lancarkan, aamiin..", itulah caption yang ku tulis di bawah foto kami. Bian langsung menscreen shoot statusku dan dibuat menjadi statusnya juga. Tapi beda caption, Bian merubah tulisan di bawah foto kami di statusnya, yaitu menjadi...
" Habis vaksin **, baru tahu mau nyuntik harus di suntik dulu", di tambah emotikon tertawa ngakak di samping tulisannya.
Aku langsung menepuk lengan Bian yang membuat caption seperti itu. Namun Bian hanya terkekeh sambil mengusap lengannya yang mungkin agak sakit karena tepukanku yang cukup keras tepat di bekas suntikan tadi.
" Loh, bener kan, mau nyuntik kamu, pakai disuruh suntik dulu, mana bekas suntikan nya di tabok sama kamu, tambah pegel kan jadinya, gimana ini kalau memar, kamu harus tanggung jawab Ra....", ucap Bian sambil membuka pintu mobil untukku.
Aku masuk kedalam mobil, begitu juga dengan Bian.
" Tanggung jawab gimana?, mau mampir puskesmas lagi buat diperiksa?", tanyaku bingung, maksud Bian tanggung jawab itu bagaimana.
" Nggak perlu, cukup kamu tiupin bekas suntikannya, pegel banget soalnya".
Ku kira Bian serius mengatakan hal itu dan aku pun menggulung lengan baju Bian keatas, namun justru saat aku mencoba meniup bekas suntikannya, Bian menempelkan bibirnya di bibirku yang dalam posisi meniup.
Reflek aku dorong wajahnya, " Ye... kalau mau seperti itu nggak disini juga Bi..., nanti malah disuruh langsung ijab qobul kalau penghulunya liat yang kita lakukan. Kita pulang saja, sudah siang nih, aku lapar, mau makan", ucapku jujur.
" Oke, makan di rumahku saja, aku tadi masak banyak makanan, kamu pasti suka, karena salah satunya kesukaan kamu, yaitu sambel terasi, ada sayur asem sama ikan asinnya juga".
Mendengar semua yang disebutkan Bian membuatku semakin lapar. " Ya sudah buruan sekarang kita kerumah kamu, aku sudah laper banget", ucapku menyuruh Bian segera melajukan mobil pulang ke rumahnya.