Healing

Healing
64. Masak di Perkemahan



" Hapus dong Bi, jelek banget tuh aku di foto tadi, lagi cemberut begitu malah di upload, rese kamu ah....", aku berusaha mengambil ponsel Bian yang sudah di simpan di saku celananya. Namun Bian menghindar dan mencoba mempersulit ku yang masih berusaha mengambil ponselnya.


" Kak Raya, Kak Bian...", seru Shaka, yang sedang berjalan menuju ke arah kami berdua. Terpaksa aku berhenti berusaha mengambil ponsel Bian dari saku celananya.


" Hai calon idola baru, keren banget suara kamu tadi, kak Bian yakin kamu bakalan jadi juaranya Ka....", Bian mengajak Shaka ber high five berdua.


" Kak Bian terlalu cepat memberi penilaian, yang lain juga bagus-bagus banget suaranya, kakak nggak nonton peserta yang lain sih, jadi nggak tahu yang lain juga keren-keren banget", ujar Shaka.


" Memang tinggal berapa peserta lagi Ka?, nanti langsung di umumkan siapa juaranya kan?", tanyaku antusias.


" Tinggal dua peserta lagi, habis itu juri ngumumin siapa juaranya. Kak Raya cuma berdua sama kak Bian kesininya?", tanya Shaka sambil mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan mama yang lain, tapi tidak ada siapa-siapa.


Aku mengangguk, " tadi ngajak mama, tapi kata mama mau kesininya besok, sekalian lihat acara api unggun. Maaf ya kakak malah nggak bawa apa-apa kesini, kamu sudah makan belum?, mau makan di depan perkemahan sama kakak?, tadi disana banyak juga yang jualan, ada tukang baso, tukang mie ayam, tukang siomay, banyak deh tadi.... Kamu mau makan apa Ka?", tanyaku pada Shaka.


" Nggak usah Kak, makasih, tadi sudah makan siang bareng teman-teman, masih kenyang sampai sekarang. Belum lagi Handi dan Danis lagi ikut lomba masak, kami sudah janji mau makan bareng hasil masakan mereka nanti".


Aku mengangguk mendengar penjelasan Shaka, " kalau begitu berarti biar nanti kakak dan kak Bian makan di rumah saja, soalnya sayur asem buatan kak Bian masih banyak tadi, sayang kalau nggak habis", gumamku.


Peserta lomba menyanyi sudah tampil semua, dan juri sedang berdiskusi dan mengakumulasi nilai yang mereka berikan. Semua yang ikut berpartisipasi dalam lomba menyanyi sedang menunggu pengumuman hasil penjurian.


Dan suasana semakin tegang ketika salah satu guru yang juga menjadi juri lomba menyanyi naik ke atas panggung untuk membacakan siapa peserta yang juara.


Dari mulai juara 3, juara 2, dan juara 1 dibacakan ber urutan. Saat juri hendak mengumumkan nama pemenang, suara penonton meneriakkan nama Shaka bersama-sama.


" Shaka....!".


" Shaka....!".


" Shaka...!".


Bak seorang idola, semua menyerukan nama Shaka sebagai juara pertama. Dan benar saja yang mereka semua harapkan. Nama Shaka di panggil oleh juri sebagai juara pertama lomba menyanyi antar regu. Aku sungguh terharu karena putraku menjadi juara pertama.


" Juara lomba menyanyi antar regu Pramuka tahun ini adalah.... Arshaka Saputra!", seru sang Juri dengan lantang menggunakan mikrofon dari atas panggung.


Bian melakukan tos dengan Shaka, saat Shaka hendak naik ke atas panggung. Aku hanya bisa tersenyum bangga padanya. Shaka sempat menatap ke arahku beberapa detik, baru mulai melangkah ke atas panggung.


Ku lihat Shaka menerima hadiah berupa bungkusan kado, dan juga amplop putih berisi uang. Saat Shaka turun dari panggung, dia sengaja membuka hadiah yang di dapatnya di depanku dan Bian, saat kami sudah kembali ke tenda regu Shaka.


Kado itu berisi jajan biskuit wafer bertabur coklat dan kelapa, yang langsung di bagikan Shaka untuk teman-teman satu regunya. Sedangkan amplop putih berisi uang sebesar 50 ribu rupiah untuk juara pertama, ku dengar juara ke dua mendapatkan 30 ribu rupiah, dan juara ke tiga 20 ribu rupiah.


Hadiahnya memang tidak banyak, karena ini salah satu acara perlombaan kecil yang diselenggarakan oleh pihak sekolah untuk membuat murid-muridnya berani tampil dan latihan berkompetisi.


" Selamat ya Ka... aku sih sudah feeling kalau kamu bakalan menang, soalnya suara kamu kalau lagi adzan di masjid juga bagus, iya kan Her?", Danis yang ikut lomba masak tapi tidak mendapatkan juara meminta persetujuan Heru.


" Iya, makanya aku setuju kamu yang mewakili regu kita, lumayan kan kita jadi dapat jajan gratis seperti ini", ujar Heru sambil terkekeh.


" Kalau lomba masak sih dari awal kita sudah nggak yakin, soalnya dari kita semua nggak ada yang bisa masak, yang penting mengirim perwakilan regu, dari pada nggak ada yang mewakili. Habisnya dari regu cewek pinter-pinter banget masaknya. Maklum, kita kan anak cowok, jadi nggak harus pinter masak kan?", ucap Danis yang sedang berusaha menghibur dirinya sendiri karena kalah di pertandingan memasak tadi.


" Siapa bilang kalau cowok itu nggak harus pinter masak, nih... calon suami kak Raya, masakannya super enak, sebelas- dua belas sama masakannya chef Juna yang ada di MasterChef Indonesia", Shaka memuji Bian dengan bangganya di depan teman-temannya.


Teman-teman Shaka yang sedang berkumpul di samping tenda pun menatap ke arah Bian seolah memberi penilaian dari tampilannya. Bian memang nggak terlihat seperti chef-chef hebat yang ada di televisi, karena tampilan Bian justru lebih mirip dengan boy band Korea yang berkulit putih dan postur sedang, tidak kurus, tidak juga berotot.


" Masa sih calon kakak ipar kamu pinter masak, apa boleh di tunjukan keahliannya disini?", tantang Danis yang merasa tidak percaya dengan ucapan Shaka.


Danis mengambil sisa bahan-bahan masakan yang masih mentah, tadi Danis dan Handi memang belanja lumayan banyak, karena mereka bingung mau masak apa untuk berpartisipasi dalam lomba. Alhasil bahan-bahan yang ada banyak yang tidak terpakai.


" Kalian berdua masak nasi saja sekarang, biar tungku sebelahnya kakak pakai buat masak lauknya".


Bian langsung memberi komando pada Shaka dan Heru untuk membantunya, mencuci sayuran, memotong dan lain-lain, sedangkan Danis dan Handi memasak nasi dengan jumlah cukup banyak untuk makan malam satu regu.


Aku hanya tersenyum melihat mereka semua yang sedang sibuk saat ini, sengaja ku ambil foto mereka saat sedang gotong royong masak untuk makan malam.


Memang semua peserta kemah di beri kebebasan untuk menyiapkan makanan mereka sendiri, untuk melatih kemandirian mereka saat berada jauh dari rumah.


Bian masak dengan begitu cekatan, dan sekitar jam setengah enam, semua masakan sudah matang. Semua teman Shaka menatap dengan takjub dan mata berbinar saat melihat hasil masakan Bian yang tampilannya cantik, dengan aroma menggugah selera, dan tentunya rasanya tidak perlu di pertanyakan.


Ku ambil beberapa foto masakan Bian tadi, sebagai kenang-kenangan.


" Sekarang tunggu nasinya benar-benar matang, semua boleh berkumpul, dan mengambil lauknya sedikit-sedikit, soalnya bahannya cuma segitu, jadi dibagi rata, kalian kan satu regu 10 anak, jadi tiga piring lauk ini harus dibagi rata", ujar Bian menyampaikan sedikit pesan sebelum mereka makan.


Nasi sudah matang, dan semua sudah memegang piringnya masing-masing, mereka langsung mengambil nasi juga lauk secara bergantian. Semuanya langsung makan dengan begitu lahap, menikmati setiap suapan yang mereka masukkan kedalam mulut mereka. Termasuk Handi dan Danis yang tadi meragukan kemampuan Bian, mereka berdua kini mengakui, bahkan memuji kehebatan Bian, yang meski seorang laki-laki, tapi sangat pandai memasak.


" Wah, kak Raya beruntung banget, calon suaminya jago masak, jadi pengen dapat calon kakak ipar yang jago masak juga seperti Shaka, pasti seneng tiap hari minta dimasakin makanan yang bahan-bahannya biasa, tapi hasil masakannya luar biasa", puji Danis yang tadi menantang Bian.


Sejak tadi regu dari tenda sebelah terus memperhatikan keseruan yang terjadi di tenda milik Shaka dan regunya, namun mereka hanya memperhatikan saja, karena tenda sebelah ternyata juga sedang masak, mereka memasak nasi, mie goreng instan, dan telor dadar, menu yang mudah di buat dan semua suka rasanya.


Seandainya bahan masakan tadi banyak, mungkin kami bisa berbagi, tapi sayangnya hanya sedikit, bahkan aku dan Bian saja tidak ikut makan di sini, karena khawatir mengurangi bagian anak-anak yang sedang berselera makan. Mereka semua sedang masa pertumbuhan dan harus makan yang banyak.


Aku dan Bian pamit pulang saat adzan Maghrib berkumandang. Shaka dan juga teman-temannya mengucapkan terimakasih berkali-kali karena sudah dimasakkan menu makan malam yang sangat nikmat oleh Bian.


Shaka juga mengantar kami sampai di depan mobil.


" Makasih banyak ya Kak, malam ini aku dan teman-teman bisa makan enak berkat kak Bian yang mau repot-repot memasak untuk kami".


Bian mengangguk sambil menepuk lengan Shaka. " Anggap itu sebagai hadiah dari kakak karena kamu sudah jadi pemenang lomba menyanyi tadi. Selamat ya Ka..., kak Raya tadi sampai menangis karena terharu dan bangga melihat kemenangan mu".


Shaka mengangguk.


" Kak Raya pulang dulu ya, sepertinya peserta kemah pada mau sholat Maghrib berjamaah di lapangan. Jaga diri kamu baik-baik disini", ucapku pada Shaka sambil masuk kedalam mobil Bian.


Ku lihat Shaka berjalan kembali memasuki area perkemahan bergabung bersama teman-temannya yang tadi ikut mengantar kami, tapi tidak sampai keluar lapangan, mereka semua melambaikan tangan ke arah kami saat mobil Bian mulai melaju meninggalkan lokasi perkemahan.


" Makasih ya Bi... kamu sudah membantu Shaka dan teman-temannya hari ini. Aku jadi makin sayaaang banget sama kamu", ucapku sambil menggelayut di lengan Bian.


" Nggak gratis aku melakukan semua itu, harus ada bayarannya dari apa yang aku lakukan tadi. Kamu harus mengabulkan satu permintaanku" ucap Bian sambil melirik dan tersenyum jahil.


Aku memanyunkan bibir ku dan menebak, " Paling juga mau lanjutin yang tadi siang, pada nggak bisa nunggu sebentar lagi?, lanjutinnya minggu depan, habis ijab qobul", candaku, sengaja ingin membuat Bian kesal.


" Bukan lanjutin yang tadi siang kok Ra... tapi mengulang dari awal, yang kita lakukan tadi siang", ucap Bian sambil terkekeh, tapi pandangannya masih fokus kedepan karena sedang menyetir mobil.


" Huh... sama saja Bi..., ini sudah gelap, kita mampir maghrib di masjid yang kelewatan saja Bi, jadi sampai rumah sudah Maghrib, khawatir nggak keburu, waktu Maghrib kan cuma sebentar", pintaku.


Dan Bian langsung menepikan mobilnya memasuki pelataran masjid, yang saat itu baru saja selesai melaksanakan sholat Maghrib berjamaah.


" Kita maghrib disini?", tanyaku pada Bian.


Bian mengangguk dan turun dari mobilnya, dengan cekatan membukakan pintu mobil untukku. Dan kami pun memasuki masjid bersama untuk melaksanakan sholat Maghrib.