
Adzan Maghrib berkumandang saat kami berempat masih mengobrol santai di ruang tamu. Aku senang karena semua anggota keluargaku menerima kehadiran Bian menjadi keluarga kami. Baik mama, papa, Juna dan Shaka, semuanya menilai Bian adalah laki-laki yang baik, dan tepat menjadi suamiku.
" Mungkin mama dan papa akan pulang sampai larut malam, sebaiknya kalian berangkat ke masjid sendiri, nggak usah nunggu papa", ucapku pada ketiga laki-laki yang sangat aku sayangi.
" Kamu nggak papa di rumah sendirian Ra?, kalau nggak berani aku bisa sholat dirumah saja", ucap Bian.
Tapi aku tidak nyaman berdua saja dengan Bian, teringat ucapan Yoga saat di restoran tadi, aku harus menjaga agar Bian tidak melakukan hal yang bisa membuatnya sampai melihat tanda merah yang ada di tubuhku untuk beberapa hari kedepan, sampai tanda yang di buat Yoga benar-benar hilang dari tubuhku.
" Aku berani kok di rumah sendirian, sudah biasa, kemarin pas Shaka kemah, dan mama papa pergi ke sana, aku di rumah hanya sendirian, dan aku berani, sebaiknya kamu pergi sama Juna dan Shaka ke masjid", ucapku sedikit memaksa. Bian mungkin melihatku nampak aneh, tapi biarlah, yang penting aku selamat.
Karena aku paham betul, Bian sejak tadi mencoba mencari waktu berdua saja denganku, agar kami bisa bermesraan, dan bisa melakukan apa yang biasa kami lakukan saat hanya berdua.
" Ayo Ka, kira bersiap pergi ke masjid", Juna menarik Shaka masuk ke dalam rumah untuk berganti dengan baju sholat.
Aku berdiri dan menyuruh Bian untuk bergegas ke masjid. Bian pun beranjak dari duduknya dengan ogah-ogahan, dan mengecup bibirku dengan cepat mumpung Juna dan Shaka sedang di dalam rumah.
" Sudah kangen banget pengen berduaan sama kamu, malah kamu nggak paham aku kasih kode".
" Gara-gara pas di motor tadi kamu meluk erat banget, sampai aku bisa merasakan dua bukit kembar milikmu melekat di punggungku. Makanya aku pengen meriksa itu bukit kembar baik-baik saja, atau mungkin ada yang terkikis karena gesekan tadi, sayang banget kamu nggak peka", protes Bian dengan suara yang sangat lirih.
" Tenang saja, nggak ada yang terkikis, aku jamin keduanya dalam kondisi baik-baik saja. Maaf, aku nggak bermaksud untuk menggoda kamu tadi, aku merasa kangen banget karena kemarin kita nggak ketemu, makanya aku meluk kamu erat banget. Maaf banget ya Bi...", ucapku menjelaskan.
" Ayo Kak Bian, kita berangkat ke masjid sekarang", ajak Shaka dengan semangat.
Aku hanya tersenyum ke arah Bian yang saat ini masih menatapku. Dan mendorong tubuhnya agar Bian segera pergi ke masjid.
Mereka bertiga berangkat ke masjid bersama, aku senang melihat keakuran mereka bertiga yang sudah selayaknya saudara beneran. Kadang merasa semuanya seperti mimpi. Aku yang di masa lalu sudah terlalu banyak menerima luka dari Yoga dan keluarganya. Kini menemukan seorang laki-laki sebaik Bian, yang menerima keadaanku dan menerima semua kekuranganku. Bian yang menjadi penyembuh dari semua lukaku di masa lalu.
Andai saja aku tidak perlu lagi bertemu dengan Yoga. Mungkin semua luka dan rasa sakit yang pernah aku rasakan di masa laluku, akan segera sembuh dan hanya kebahagiaan yang tersisa. Namun sayangnya aku masih harus bertemu dengan Yoga, masih harus selalu teringat akan luka yang dulu ditorehkan oleh keluarga nya. Rasanya bekas luka yang hampir kering, seolah terbuka kembali. Hingga luka itu tak kunjung sembuh, bahkan lebih lebar karena di tambah dengan luka-luka baru seperti kejadian semalam, membuat semakin banyak kenangan buruk saat bersamanya.
_
_
Aku masuk ke dalam rumah untuk menjalankan sholat maghrib juga. Karena merasa sangat lelah dengan pekerjaan di restoran yang hari ini sangat ramai, setelah selesai sholat maghrib, aku merasa sangat ngantuk dan meringkuk di atas sajadah.
Namun baru saja aku berbaring, ku dengar ada motor berhenti di depan rumahku. Ku lepaskan mukena dan keluar melihat siapa yang datang di saat maghrib seperti ini. Awalnya ku kira mama dan papa yang pulang dari rumah paman lebih cepat. Namun saat aku mengintip lewat jendela, yang kulihat justru orang yang tak pernah aku harapkan kehadirannya.
Ya.... Yoga datang di waktu yang sangat tidak tepat. Berani-beraninya dia datang ke rumahku, beruntung mama dan papa sedang tidak ada, jika ada, bisa runyam urusannya.
Aku sengaja mengunci pintu agar Yoga tidak bisa masuk ke dalam rumah. Bisa ku lihat Yoga turun dari motor sambil tersenyum jahil. Yoga mendengar suara pintu yang aku kunci dengan buru-buru.
" Jangan begitu dong Ra.... masa ada tamu malah pintu rumahnya di kunci, aku ke sini karena ada sedikit urusan dengan Bian, tadi aku mengirim pesan padanya, dan dia bilang lagi dirumah kamu, nemenin kamu karena mama dan papa lagi pergi minta doa restu ke rumah paman kamu".
Aku bisa mendengar ucapan Yoga dari balik pintu. Pantas saja dia berani datang ke rumah, ternyata Bian memberi tahunya jika mama dan papa sedang tidak di rumah. Tapi aku tidak bisa membuka pintu begitu saja, saat ini aku sendirian di rumah. Hal itu membuatku secara otomatis mengingat kejadian semalam, di rumah Yoga.
" Kok sepi... apa Bian sudah pulang ke rumahnya?, tapi itu motornya masih disini. Kamu umpetin Bian di dalam rumah ya?, ingat pesanku Ra, jangan ijinkan Bian membuka bajumu untuk sementara waktu, atau pernikahan kalian bakalan batal karena tanda cinta yang aku buat di tubuhmu semalam masih jelas terlihat dan lumayan banyak juga, hehehe".
Lagi-lagi Yoga mengatakan hal yang sama, sambil tertawa lepas. Dia seperti orang jahat yang menertawakan aku yang menjadi korbannya.
" Bian nggak ada, dia pergi ke masjid, kalau mau ketemu Bian susul saja ke masjid !", seruku, sambil masuk kedalam rumah meninggalkan Yoga yang masih berdiri di depan pintu.
" Nih bra kamu, semalam kamu tinggalin di kamar, makanya tadi pagi aku ke restoran buat balikin ke kamu. Tapi kamu terus menghindar dan tak mau menemui ku. Ya sudah aku terpaksa bawa lagi, dan datang ke sini buat balikin ini sekarang !".
Yoga berteriak di depan pintu seperti orang gila, bagaimana bisa dia mengatakan hal se fulgar itu sambil berteriak di depan rumah orang. Apa dia tidak berpikir bisa saja orang lain mendengar. Dan itu sangat mempermalukan aku.
Aku langsung menuju ke arah pintu dan membuka pintu rumahku. Mengambil bra milikku yang sengaja di perlihatkan Yoga padaku melalui kaca jendela.
" Kamu sengaja mau buat malu aku, dan membuat para tetangga lagi-lagi mencemooh ku karena pakaian dalam ku tertinggal di rumahmu?, apa kamu belum puas menyakiti dan membuat luka dalam hatiku?, kamu sengaja ingin membuat orang lain menilai ku gadis murahan yang tidur dengan semua laki-laki, dan sengaja meninggalkan pakaian dalam ku agar laki-laki itu datang ke rumahku?. Kamu sengaja kan bicara seperti itu dengan suara keras agar semua orang tahu kalau aku semalam nginep di rumah kamu?".
Saat aku sedang meluapkan emosiku dan marah-marah pada Yoga, ternyata ada Bian yang berdiri dalam kegelapan, menyaksikan dari jarak yang tidak terlalu jauh dari posisiku dan Yoga.
Tatapan Bian begitu menakutkan, baru kali ini aku melihat Bian semarah itu." Jadi ini kebenarannya?, semalam kamu nginep di rumah Steve?, bukannya kamu bilang kamu pulang ke rumah?. Kamu bohongi aku Ra..?".
" Kita sudah mau menikah loh Ra... tinggal beberapa hari lagi, tapi kamu...kamu tidak jujur padaku Ra, kamu menyimpan rahasia sebesar ini. Bagaimana bisa kamu menginap di rumah Steve?".
" Steve itu sahabatku, dan dia juga sudah punya calon istri, dia akan menikah dengan Utari, kamu dan dia, apa yang kalian lakukan semalam sampai kamu meninggalkan bra kamu disana !", Bian merampas bra yang sedang aku genggam.
" Ini bagaimana bisa bra kamu sampai tertinggal di rumah Steve?, apa karena kamu merasa bersalah padaku karena yang kamu lakukan bersama Bian semalam, sehingga tadi kamu sengaja membonceng motorku dan duduk menempel di tubuhku?".
" Aku sudah berusaha menerima kamu yang sudah tidak perawan lagi, aku sudah menerima dan menutupi semua kekurangan kamu dari keluargaku, dan dari semua orang. Tapi nyatanya perempuan murahan tetap saja murahan !"
Kemudian Bian menarik aku kedalam kamarku, membuka paksa bajuku karena ingin melihat keadaan tubuhku seperti apa. Aku berusaha menahan agar Bian tidak bisa membuka bajuku, dia akan semakin marah jika melihat tanda merah yang di buat Yoga semalam di dadaku.
" Jangan Bi... aku mohon jangan lakukan ini Bi...", aku menangis, meronta-ronta melarang Bian membuka bajuku.
Sampai goyangan yang kurasakan di tubuhku, dan suara Bian yang memanggil-manggil namaku membuatku tersadar.
" Ra... sadar Ra.... bangun Ra... bangun..., kamu mimpi apa Ra?"
Aku membuka mata dan langsung duduk di atas sajadah. Aku masih berada di kamar, dan masih memakai mukena. Juna dan Shaka berdiri di belakang Bian yang berjongkok di depanku. Mereka berdua menatapku dengan tatapan bingung.
" Kakak mimpi apa?, kok sampai berteriak seperti itu, makanya jangan tidur pas waktu maghrib begini, jadi nggak mimpi buruk". Shaka menceramahiku sambil menyodorkan segelas air putih untuk ku minum.
Jadi semua kejadian tadi hanyalah mimpi. Ya Allah...., aku sudah sangat takut Bian marah padaku, karena Yoga membongkar semuanya.
Aku meminum air putih yang diberikan Shaka hingga tandas, menghirup nafas panjang dan mengeluarkan pelan-pelan. " Iya, kakak habis maghrib merasa ngantuk banget. Sampai nggak terasa tidur di atas sajadah dan masih memakai mukena seperti ini".
Ku lepas mukena yang ku pakai. Dan ku lipat secara asal. " Maaf ya, tadi kakak mimpi buruk".
Bian menatapku lekat, " Mimpi apa?, pasti mimpi bersamaku ya?, kamu sampai teriak-teriak ' jangan Bi...', memangnya apa yang aku lakukan dalam mimpimu tadi?".
Aku hanya menggeleng, " Nggak papa, aku mimpi kamu mau ninggalin aku", jawabku berbohong. Aku terpaksa berbohong lagi, karena nggak mungkin aku menceritakan kepada Bian yang sesungguhnya.
Bian justru memelukku.
" Kamu sebegitu takutnya aku tinggalkan... tenang saja, aku nggak akan ninggalin kamu, sampai maut yang memisahkan".
Bian memenangkan aku dengan menepuk-nepuk punggung ku. Rasanya begitu damai berada dalam posisi ini. Aku merasa bersyukur karena Bian selalu membuatku merasa tenang saat hatiku sedang gelisah.