
Di masjid yang sudah sepi itu, aku dan Bian melaksanakan sholat Maghrib berjamaah, hanya berdua, karena jamaah yang lain sudah selesai sholat sejak tadi dan sudah keluar dari masjid. Tinggal beberapa orang yang masih berada di masjid sedang berdzikir.
Setelah salam dan keluar dari masjid, salah seorang bapak-bapak yang tinggal di sekitaran komplek masjid menghampiri aku dan Bian yang sedang berjalan menuruni serambi masjid yang anak tangganya cukup banyak.
" Maaf apa kalian pemilik mobil yang terparkir di depan sana?", tanya orang itu dengan wajah pias dan kening penuh dengan peluh.
" Iya benar itu mobilku, kenapa pak?", tanya Bian penasaran dengan ekspresi bapak-bapak yang terlihat sangat khawatir itu.
" Saya mau minta tolong Mas, tolong antarkan putri saya ke rumah sakit, putri saya mau melahirkan, tapi dia sudah tidak bisa duduk di motor, saya sudah order mobil online tapi tidak datang-datang, putri saya sudah sangat kesakitan Mas", ucap bapak-bapak paruh baya itu dengan nada memohon.
Bian dan aku saling berpandangan. Aku hanya menganggukkan kepala, karena merasakan kasihan pada bapak-bapak itu, teringat saat dulu aku hendak melahirkan dan papaku juga sangat panik, persis seperti orang itu.
" Ya sudah dimana rumah bapak?, biar saya antarkan putri bapak ke rumah sakit", ujar Bian sambil berjalan menuju mobil.
Bapak-bapak tadi menunjukkan rumahnya yang tidak terlalu jauh dari masjid. Lokasi Masjid memang di pinggir jalan raya, tapi rumah di sana juga masih jarang, karena berada di lereng-lereng, dan berbukit-bukit.
Aku dan Bian turun dari mobil dan membantu ibu muda yang hendak melahirkan tadi untuk masuk ke mobil. Ditemani bapak-bapak dan juga istri nya, kami pergi ke rumah sakit terdekat.
Sepanjang jalan putri bapak itu terus menangis kesakitan, kata bapak dan ibu itu rumah bidan harus naik ke atas bukit, tapi tiga hari ini bidan sedang ada tugas di kota, dan akhirnya mereka memutuskan untuk ke rumah sakit saja untuk lahiran.
Kami mengantar mereka sampai masuk ke dalam ruang bersalin.
" Terimakasih banyak, untung saja ada Mas dan Mbaknya di masjid, kalau tidak kami pasti belum sampai disini sekarang", bapak-bapak itu merogoh saku dan menggenggamkan selembar uang berwarna biru di tangan Bian.
" Tidak usah pak, kami ikhlas membantu, ini untuk membantu biaya putri bapak saja, pasti akan butuh banyak biaya", tolak Bian sambil mendorong tangan bapak-bapak itu dan mengembalikan uang nya.
" Karena sudah malam, kami berdua pamit untuk pulang, maaf tidak ikut menunggu putri bapak melahirkan, sepertinya itu cucu pertama ya?", tebakku.
" Iya benar, putriku baru 1 tahun menikah, suaminya bekerja di kota besar, merantau, sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Mungkin sebentar lagi sampai disini. Sekali lagi kami ucapkan terimakasih banyak Mba, Mas", ucap bapak-bapak itu dengan penuh rasa syukur.
Aku dan Bian hanya mengangguk dan keluar dari rumah sakit, entah mengapa aku jadi teringat momen saat dulu melahirkan Shaka, untung ada bidan Ara yang rumahnya tidak terlalu jauh, beliau bersedia membantuku, dan tidak perlu repot-repot pergi ke rumah sakit.
" Kenapa diam Ra?, apa masih kepikiran dengan orang yang mau melahirkan tadi?. Tenang saja, aku pasti akan jadi suami siaga, dan tidak akan pernah meninggalkan kamu untuk pergi kerja di kota besar".
Dugaan Bian tidak sesuai dengan yang sedang aku pikirkan. Karena saat ini aku tidak sedang merasa khawatir jika nantinya akan hamil dan melahirkan, justru yang sedang ada dalam pikiranku sekarang adalah masa dimana dulu aku melahirkan tanpa suami. Dan karena mengingat hal itu, aku yang sudah mulai memaafkan Yoga jadi kembali membencinya. Rasa sakit saat melahirkan Shaka tidak seberapa, dibanding rasa sakit hati yang sudah ditorehkan oleh keluarga Yoga pada ku dan keluargaku dulu.
Tapi aku tidak mungkin mengatakan pada Bian apa yang sedang aku pikirkan sekarang, Bian tidak perlu tahu jika ayah dari putraku adalah Yoga, sahabatnya sendiri.
" Aku nggak kepikiran orang tadi kok, dan aku juga percaya kalau kamu akan menjadi suami siaga saat aku hamil nantinya. Aku hanya sedang memikirkan Shaka, tadi saat melihat calon ibu itu kesakitan, aku teringat masa saat aku mau melahirkan Shaka dulu. Sepertinya tidak se sakit itu, tapi memang kata Bu Bidan tiap kelahiran bayi itu berbeda-beda rasanya. Mungkin orang tadi termasuk yang sangat menyakitkan, makanya orang itu terus mengatakan sakit".
" Atau mungkin karena tidak ada tempat untukku bersandar dan bermanja-manja seperti ibu muda yang mau melahirkan tadi, makanya tidak ada rasa sakit yang aku rasakan. Karena tertutup oleh sakit hati yang amat sangat pada orang yang sudah menyebabkan aku harus merasakan semua itu".
Bian melajukan mobilnya, namun tidak menuju rumahnya, justru Bian menuju ke arah rumah ku. " Kita pulang ke rumah kamu saja, sudah jam 8 lebih, nanti mama dan papa kamu bisa khawatir kalau kamu belum sampai rumah semalam ini", ujar Bian.
Padahal baru jam 8, tapi mengapa Bian tidak jadi mengajakku ke rumahnya?, apa dia tidak suka aku bercerita masa laluku saat melahirkan?, entahlah...
Bian langsung setuju begitu saja. Kenapa sikapnya langsung berubah seperti itu, apa ada ucapanku yang salah atau tak berkenan di hatinya?, aku suruh dia pulang dia langsung setuju, padahal biasanya Bian akan menyebutkan ribuan alasan terlebih dahulu agar tidak langsung di suruh pulang kerumah. Tapi kali ini dia langsung setuju begitu saja, sedikit aneh.
Saat aku sampai rumah, Bian benar-benar langsung pamitan, padahal kami belum makan malam, saat ku tawari makan di rumahku Bian tidak mau, dengan alasan masih kenyang dan mau pulang dan istirahat di rumahnya.
Aku pun tak bisa menahan nya lebih lama. Bian langsung berjalan kembali sendirian menuju mobilnya di jalan besar.
" Kalian kenapa?, apa terjadi sesuatu tadi saat di perkemahan?", tanya Mama saat Bian sudah pergi dari rumah.
Ternyata mama juga menyadari perubahan sikap Bian, berarti bukan hanya aku saja yang merasa Bian sedikit aneh dan berbeda.
" Nggak ada yang terjadi Ma, nggak tahu Bian jadi seperti itu habis kami menolong orang mau melahirkan tadi".
Dan ku ceritakan yang terjadi tadi pada mama, dari awal kami sampai di perkemahan, tentang Shaka yang jadi juara menyanyi, tentang Bian yang memasak untuk makan malam Shaka dan teman-temannya. Juga tentang kami yang mengantarkan calon ibu-ibu muda yang mau melahirkan ke rumah sakit.
" Atau mungkin tadi ada ucapan Raya yang Bian tak suka, soalnya tadi Raya jadi teringat waktu Raya melahirkan Shaka dulu, saat melihat ibu muda itu mau melahirkan".
" Sudah lah Ma, Raya capek dan mau istirahat dulu, besok Raya harus bersiap lebih awal biar nggak terlambat ke tempat kerjanya".
Mama mengangguk dan keluar dari kamarku dan menutup pintu kamar rapat-rapat.
Baru aku merebahkan diri ponselku berdering, ada panggilan masuk dari Yoga. Sebenarnya aku malas mengangkat, tapi Yoga terus dan terus saja meneleponku, terpaksa aku angkat, siapa tahu ada hal penting yang ingin di sampaikan.
" Halo assalamualaikum", ucapku setelah menggeser gambar gagang telepon berwarna hijau".
Suara Yoga langsung terdengar jelas menjawab salamku di sana, ternyata Yoga menelepon karena Yoga ingin menanyakan dimana lokasi Shaka berkemah. Aku tidak mau memberi tahunya, tapi Yoga mengancam akan tanya pada Bian kalau aku tidak memberi tahu. Akhirnya terpaksa ku beri tahu dimana lokasi Shaka kemah.
Entah dari mana Yoga tahu jika Shaka sedang berkemah, aku tidak menyimpan kontaknya, berarti bukan karena dia melihat statusku. Apa mungkin dia melihat status Bian yang meng-upload fotoku yang sedang manyun di depan panggung saat Shaka tampil?. Mungkin juga.
" Kalau kamu mau melihatnya, lihatlah dari jauh, tolong jangan ganggu kehidupannya. Aku tidak mau masa remajanya menjadi penuh dengan masalah jika dia mengetahui yang sebenarnya, aku mohon sama kamu Ga. Kalau kamu benar ingin menjadi ayah yang baik. Setidaknya kamu tidak akan melukai hatinya dan tetap menjadi orang asing sampai akhir".
Itu kalimat yang aku ucapkan sebelum menutup telepon dari Yoga, entah mengapa sejak tadi aku terus kepikiran tentang dia, entah karena wajah Shaka yang semakin besar jadi semakin mirip dengan Yoga saat SMP. Atau karena tadi aku melihat orang mau lahiran, sehingga aku teringat masa aku dulu mau melahirkan Shaka, sehingga aku teringat Yoga yang tak datang menemani persalinan waktu itu.
Saat baru ku letakkan di samping bantal, ponselku kembali berdering. Ku lihat Yoga kembali meneleponku.
" Apa lagi?, sudah aku beri tahu dimana Shaka kemah, apa masih kurang jelas apa yang aku katakan tadi?", tanyaku dengan suara lirih, khawatir mama dan papa mendengar percakapanku dengan Yoga.
" Besok temani aku ke perkemahan, aku jemput jam 5 sore, harus bisa", ucap Yoga dengan nada memaksa.
" Maaf ya Tuan yang hobinya melakukan apapun sekehendak hati, besok aku kerja, dan pulang kerja aku mau istirahat, capek!". Langsung kututup telepon dari Yoga lagi. Males banget ngobrol sama dia. Ujung-ujungnya lagi-lagi memaksakan kehendaknya sendiri.
Untuk cari aman, akhirnya ku matikan ponselku. Agar Yoga tidak bisa meneleponku lagi. Namun setelah ponsel ku matikan justru aku jadi teringat Bian, sejak dia pamitan pulang sampai saat ini, Bian tidak mengirim pesan, ataupun meneleponku. Apa benar dia marah padaku, sikapnya jadi sangat berbeda. Biasanya dia langsung mengabari jika sudah sampai rumah, tapi sampai sekarang Bian belum mengabari ku.
Sebaiknya besok aku tanyakan langsung padanya, apa yang salah.