
Mama pergi ke dapur untuk meletakkan gelas bekas tempat minum ku tadi, " Kalau kamu terus berpikir seperti itu, apa kamu mau melajang seumur hidup?. Apa kamu tidak ingin mencoba berkeluarga seperti perempuan lain. Bagaimanapun tiap harinya kamu semakin tua. Teman-teman kamu sudah berkeluarga semua. Dan lihatlah mereka bisa bahagia dengan pasangan mereka".
" Mama juga ingin melihat kamu bahagia dengan pasanganmu. Mama sudah tua, entah tinggal berapa tahun lagi mama masih diberi umur oleh Yang Maha Kuasa. Mama ingin merasa tenang jika nantinya harus pergi, ninggalin kamu bersama orang yang menyayangi kamu dan akan menjadi teman hidupmu sampai tua nanti Ra...".
Aku pun yang tadinya ingin tiduran dulu di kamar sepulang kerja mengurungkan niatku dan mengikuti mama ke dapur. Mama hari ini sedang sensi banget, bicaranya aneh dan aku nggak bisa membuat mama sedih seperti itu.
" Ma, Raya pasti akan menikah, tapi nanti nunggu waktu yang tepat, dan nunggu orang yang tepat juga, Raya butuh waktu untuk menemukan laki-laki yang mau menerima Raya apa adanya".
Ku peluk mama yang sedang mencuci piring dari arah belakang, aku tau mama sedang menitikkan air mata. Karena sejak tadi mama terus diam dan tak bersuara lagi, hanya sesekali sesenggukan sambil mengusap air matanya.
" Mama jangan sedih begitu dong, kan Raya jadi serba salah Ma..., Raya itu ingin menikah hanya sekali sumur hidup, karena itu harus dengan laki-laki yang bisa diajak hidup bersama, yang saling mencintai dan tentu saja harus bisa menjaga komitmen untuk tetap setia dan bersama dalam suka ataupun duka, seperti mama dan papa".
Mama hanya bisa mengangguk tanpa berbalik.
" Raya capek ma, mau istirahat sebentar di kamar ya...".
Ku lepas pelukanku, dan kembali ke kamar, ku lihat Shaka berdiri di samping pintu kamarku, menatap ke arahku dengan tatapan tajam, dia marah karena aku sudah membuat mama menangis. Aku hanya melewatinya saja dan merebahkan tubuhku di atas kasurku. Kulihat Shaka mengikuti aku masuk ke kamar, dan berdiri di samping ranjang sambil berkacak pinggang menghadap ke arahku.
" Sebenarnya apa masalah kak Raya sih?, Shaka tahu ada beberapa laki-laki yang naksir sama kakak, mereka biasanya datang kesini sambil membawa oleh-oleh untuk aku dan mama, tapi kakak selalu saja menyuruh mereka untuk tidak datang lagi".
" Shaka tahu kita dari keluarga tak punya, tapi sepertinya kakak berlebihan kalau belum mau menikah hanya karena kita orang tak punya. Rasa minder kakak terlalu besar. Kak Raya itu cantik, kakak juga sudah bekerja dan berpenghasilan, jadi apalagi yang membuat kakak merasa tidak percaya diri untuk menikah?".
" Apa dulu kak Raya sudah pernah disakiti oleh laki-laki?, coba sebutkan siapa namanya, biar Shaka beri pelajaran pada laki-laki itu".
" Selama ini... dari Shaka masih kecil sampai Shaka sudah mau masuk SMP, Shaka tidak pernah melihat kakak berpacaran seperti orang-orang lain. Apa ada masa lalu yang membuat kak Raya trauma untuk berhubungan dengan laki-laki?"
Sepertinya rencana ku untuk istirahat sebentar saja memang tidak akan berhasil, justru sekarang Shaka ikut-ikutan masuk kamar dan menceramahi aku, meski aku tahu, niatnya tidak lain ingin menjadi pahlawan pelindung untukku.
Seandainya saja kamu tahu Nak... yang menyakiti ibumu ini adalah ayah kandungmu, dia yang sudah merenggut kebahagiaan kita. Dan kamu mengatakan ingin memberi pelajaran pada laki-laki itu, ibu bahkan tidak ingin kalian saling bertemu.
Aku bahagia mendengar kalimat yang diucapkan Shaka, tapi sekaligus merasa sedih juga, karena berarti saat ini putraku sudah semakin besar dan sudah mulai berpikir dewasa.
Apa iya aku harus menikah agar mamaku merasa tenang ?.
Memang benar sudah ada beberapa laki-laki datang ke rumah dan mengajakku untuk menjalin hubungan yang lebih dekat. Tapi aku selalu merasa takut, takut dengan keadaanku, takut dengan masa laluku yang kelam.
Apa ada yang mau menerima perempuan seperti aku?, itu yang selalu membuat aku merasa tidak yakin untuk menjalin hubungan.
" Malah bengong...", suara Shaka membuyarkan lamunanku.
" Kamu itu ngomong apa sih... anak kecil kok bicaranya kayak orang dewasa begitu... belum pantes kamu ngomong begitu, baru setahun disunat sudah langsung berubah dewasa".
" Kakak pasti akan menikah, kakak kan wanita normal, sama seperti yang lain..., tentu saja akan menikah dengan laki-laki suatu saat nanti, tapi memang belum ada yang cocok di hati. Menikah itu adalah ibadah yang paling lama, harus mencari seseorang yang benar-benar tulus, baik, dan bisa menerima semua kekurangan kakak".
" Apa kamu punya kenalan cowok yang seperti itu Ka?, yang seumuran dengan kak Raya dan orangnya baik?, kalau ada coba deh Shaka kenalin sama kak Raya, siapa tahu kita bisa cocok".
Kulihat Shaka nampak berpikir, tapi tak lama kemudian dia pergi dari kamarku tanpa mengatakan sepatah katapun. Entah apa yang dia pikirkan, tapi setidaknya sekarang aku bisa istirahat dengan nyaman.
Aku pun sudah memesan menu makanan yang akan kami makan. Jadi saat kami sampai di restoran, kami langsung menuju tempat yang sudah ku pesan, dan makanan pun langsung tersaji, tak butuh waktu lama untuk menunggu.
Namun kulihat ternyata makanan yang Rita keluarkan lumayan banyak dan bermacam-macam, ada beberapa menu yang tidak aku pesan, tapi tersaji juga dimeja.
" Makasih ya Rit, tapi ini kok banyak banget?, aku kan cuma pesan 2 menu", ucapku pada temanku yang sedang kebagian jatah shift siang hari itu.
" Iya santai saja Ra... itu menu lainnya rekomendasi dari Mas Bos, oh iya apa ini keluarga kamu?", tanya Rita menatap mama papa dan juga Shaka.
" Iya, kenalin ini keluargaku", jawabku singkat.
Menu rekomendasi Mas Bos, jadi Bian benar-benar memberi makanan gratis untuk kami. Dia sudah sangat baik pada kami.
Rita pun menyalami semua keluarga ku secara bergantian sambil mempersilahkan kami untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia.
" Hai Kak Rita, namaku Shaka, aku adik kak Raya yang paling keren, apa kak Rita sudah lama jadi teman Kak Raya?".
Shaka mulai bertingkat sok kenal, dan seperti itulah Shaka dimana pun berada, sok kenal dengan orang yang baru ketemu, tapi juga gampang banget akrab dengan orang baru. Tak heran temannya sangat banyak.
Ku lihat Rita terkekeh mendengar perkataan Shaka. " Iya kakak sudah mengenal kakakmu sejak dibukanya restoran ini, setahun lebih kakak kerja bareng kakak kamu, kenapa?, mau titip kakak kamu yang cantik itu biar nggak digodain sama karyawan cowok ya?".
" Tenang saja Shaka... nggak ada karyawan cowok yang berani godain kakakmu itu, soalnya pada takut sama Mas Bos, bisa dipecat mereka kalau deketin gebetan Mas Bos".
Ucapan Rita langsung mendapat tatapan berbinar dari Shaka dan mama, aku tahu mereka berdua tahu siapa yang Rita sebut dengan panggilan 'Mas Bos', dia adalah Bian.
" Ya sudah selamat menikmati menu paling enak dan paling banyak di pesan direstoran ini, itu rekomendasi langsung dari Mas Bos, dan special ini ada brownis cake untuk adik Shaka yang paling keren dari Mas Bos, tapi maaf tadi Mas Bos nya keluar dulu, ada meeting dengan salah satu pemilik WO, sepertinya akan ada pesanan besar untuk acara pernikahan di hotel Grand Hill ".
Rita melambaikan tangan dan menyuruh teman lainnya meletakkan brownis coklat berbentuk persegi panjang dengan toping empat ceri merah yang sangat cantik di meja tempat kami makan.
" Aku tinggal ke belakang dulu Ra... kalau perlu apa-apa lambaikan tangan saja ya".
Aku mengangguk paham, " Makasih ya Rit..."
" Wah... sepertinya kak Rita orang yang asyik diajak ngobrol, dan tahu cukup banyak tentang keadaan di restoran ini. Ngomong-ngomong tentang Mas Bos yang dikatakan sama Kak Rita itu siapa ya?, kok baik banget sama kita?, apa maksudnya itu Kak Bian yang suka anterin kakak pulang?, Shaka mau ketemu sama dia, mau ngucapin terimakasih banyak untuk hadiah darinya".
Shaka berpura-pura tidak tahu siapa Mas Bos itu, padahal aku sangat yakin kalau sebenarnya dia jelas sudah tahu. Siapa lagi bos di restoran ini, hanya ada satu pemilik, yaitu Bian.
" Orangnya lagi meeting di luar, kan tadi Kak Rita sudah kasih tahu, kamu ini gimana..., sudah sekarang makan dulu, ini banyak banget makanannya, bagaimana cara ngabisin ini semua?".
Mama tersenyum kearah ku dan Shaka. " Sudah ayo makan dulu, sukur-sukur belum selesai makan orang baiknya sudah balik kesini, jadi Shaka bisa ngucapin terimakasih secara langsung".
Ucapan mama mengakhiri percakapan kami, dan kamipun makan siang terlebih dahulu dengan berbagai menu masakan yang aku tahu, harganya lumayan mahal.
Rejeki... nggak boleh ditolak, kapan lagi makan makanan enak dan mahal seperti ini.