Healing

Healing
27. Gerak Cepat



Berangkat dan pulang ke rumah diantar oleh Bian sudah menjadi rutinitas ku akhir-akhir ini.


Apalagi setelah Bian mengatakan pada mama dan papa jika orang tuanya akan datang ke rumah hari Jum'at besok. Mama dan Papa sudah tidak bisa melarangnya mengantar jemput ku. Bian memang selalu gerak cepat, tidak suka menunda-nunda apapun.


Kenapa hari Jum'at?, karena hari itulah hari aku mendapat jatah libur.


Bian hampir setiap hari mampir ke rumah. Meski ada papa dan mama di rumah, tetap saja para tetangga membicarakan tentang tamu laki-laki yang datang ke rumahku setiap hari, dan pulang sampai malam.


Padahal Bian selalu pulang sebelum jam 9, hanya saja masa laluku yang tidak baik membuat mereka yang tak menyukaiku akan berbicara yang tidak-tidak tentang aku.


Mereka membuat cerita sendiri yang padahal tidak pernah sekalipun aku dan Bian lakukan. Bian laki-laki yang sopan dan menghormati ku, sejauh ini kami hanya sampai ke ciuman atau berpelukan sebentar, belum pernah melakukan hal yang lebih jauh dari itu. Dan juga tak sekalipun melakukannya di rumahku. Tapi berita diluar sana sungguh membuatku tak nyaman.


Ada yang mengatakan Bian sering keluar masuk kamarku, dan bahkan tidur di kamarku, ada juga yang mengatakan pernah melihatku dan Bian berpangkuan di ruang tamu. Sungguh imajinasi para tetanggaku itu perlu di acungi jempol. Daya khayal mereka terlalu tinggi seperti seorang pengarang novel.


" Sudah jangan di dengar apa yang orang lain katakan, kalau diladeni mereka akan semakin menjadi menceritakan tentang keburukan yang tidak pernah kita lakukan. Setelah menikah, aku mau kita tinggal di rumahku yang lingkungannya lebih baik dari lingkungan disini. Sepertinya tetangga rumahmu sangat tidak bersahabat", ujar Bian saat aku terus menyuruhnya pulang karena sudah jam 8 malam. Aku justru kasihan padanya yang ikut kena imbas dari masa laluku.


" Sebaiknya mulai besok aku berangkat dan pulang kerja sendiri saja Bi.... biar nggak terus menerus di bicarakan sama tetangga", pintaku, karena lama-lama aku merasa kasihan juga pada Bian, yang ikut jadi sasaran pembicaraan para pembenci itu.


Namun Bian tetap tidak setuju, karena berboncengan motor di pagi dan sore hari seperti keinginannya di masa lalu adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidupnya.


Jadi terpaksa aku menurutinya, meski harus menutup telinga setiap hari karena omongan tetangga yang tidak mengenakkan.


Hari ini malam Jum'at, berarti besok kedua orang tua Bian akan datang, aku sengaja meminta Bian datang hari Jum'at saat aku libur, agar aku bisa membantu mama beres-beres rumah dan menyiapkan suguhan.


Meski tidak bisa memberikan suguhan yang mewah, setidaknya saat aku dirumah aku bisa membuat kue dan cemilan, juga suguhan makan malam untuk tamu-tamu yang akan ikut hadir di acara Jum'at malam, hanya keluargaku dan beberapa tetangga, dan keluarga Bian bersama beberapa kerabatnya juga.


Aku yang meminta Bian untuk tidak membawa terlalu banyak orang, karena ukuran rumahku yang kecil dan tidak bisa muat banyak orang.


Hari Jum'at, Rita datang ke rumahku sepulang dari restoran, tepatnya jam 5 sore. Dia ikut membantu menyiapkan makanan dan suguhan untuk acara nanti, acara yang akan dimulai jam 7 malam, hanya sebuah lamaran kecil, sebagai bukti jika aku dan Bian sudah menjalin hubungan serius menuju jenjang pernikahan.


Agar para tetangga tidak terus membicarakan aku yang setiap hari diantar jemput Bian berangkat dan pulang kerja. Bahkan Bian seperti sudah tidak sabar ingin segera meresmikan hubungan kami ke pernikahan, agar kami bisa tinggal bersama di rumahnya.


Jujur aku belum bisa mengikuti keinginan Bian, tabunganku masih terlalu sedikit, belum cukup untuk menggelar pesta pernikahan yang agak mewah. Tentu saja aku merasa tidak enak jika tidak ada acara pesta dan semacamnya, keluarga Bian berasal dari keluarga yang lumayan terpandang. Akan sangat memalukan jika tidak ada perayaan di pernikahan kami.


Lihatlah pernikahan Yoga dan Utari, bahkan mereka menyewa ballroom yang harga sewa seharinya sangat fantastis, bisa untuk menggelar acara pesta di rumahku sehari semalam bahkan sudah dengan hiburan organ tunggal.


Sedangkan aku, tabunganku belum ada separuh dari harga sewa ballroom itu. Jika sedang seperti ini aku jadi kembali tersadar siapa aku ini. Hanya seorang perempuan dari keluarga tak berpunya yang hidupnya pas-pasan.


" Sudah jam setengah 7 malam, sini Ra, biar aku kasih kamu make up tipis biar tambah cantik, tapi pakai punya aku saja, jangan pakai bedak dan lipstik milikmu, itu nanti kena keringat bisa luntur", ujar Rita sambil menatap bedak dan lipstik milikku yang tergeletak di meja rias kecil yang berhasil ku beli dengan uang tabungan yang ku kumpulkan sedikit demi sedikit lima tahun lalu.


Rita memang selalu membawa bedak dan lipstik di tas miliknya, bedak dan lipstik bermerek, meski bukan yang mahal. Beda denganku yang sampai sekarang masih memakai bedak bayi tabur yang sebotol harganya 6 ribu rupiah, juga lipstik yang aku beli di warung seharga 15 ribu.


Aku menuruti perintah Rita, setelah mengganti pakaian ku dengan baju kebaya yang dibelikan Bian, agar kami samaan. Rita mulai memoles wajahku dengan sedikit riasan.


" Tuh kan Ra....kamu itu sudah dasarnya cantik, putih, kaya orang Korea, kalau di make up sedikit saja jadi tambah cantik banget. Bian pasti tambah cinta dan akan terpesona melihat kamu nanti".


" Aduh... aku cuci muka saja ya Rit... kamu kasih bedak sama lipstiknya tebal banget, aku malah jadi nggak pede".


Aku beranjak dari tempatku di rias, dan hendak ke kamar mandi untuk cuci muka, namun sayangnya sebelum aku sampai kamar mandi mama memanggilku, karena tamu dari keluarga Bian sudah sampai.


" Ma, aku mau cuci muka dulu, ini Rita kasih bedak sama lipstiknya tebal banget, Raya malu", ujarku tetap mau mencuci mukaku.


Namun mama menarik tanganku dan menatap wajahku. " Nggak ketebelan kok Ra... sudah cantik, kamu sangat cantik, nggak perlu cuci muka, lagian mereka sudah sampai, nggak ada waktu buat merias wajah kamu lagi, sudah biarkan saja seperti ini".


Ku lihat Rita meringis dari memperhatikan aku dan mamaku dari pintu kamar ku yang terbuka.


" Aku bilang apa, kamu sudah cantik, jadi nggak usah cuci muka", Rita menggandeng tanganku menyambut rombongan tamu yang datang.


Ternyata Riko ikut datang bersama seorang pemuda yang pernah aku lihat di foto di akun sosmed Bian. Seketika jantungku berdegup dengan kencangnya.


Jika Riko dan Haidar ikut, apa mungkin Yoga juga ikut?, jika iya pasti akan jadi kacau, mama dan papa bisa langsung rusak mood nya. Semoga saja Yoga tidak ikut di rombongan keluarga Bian. Harap ku cemas.


Dan harapanku terkabul, tidak kulihat ada Yoga di rombongan keluarga Bian. Aku sedikit bisa bernafas lega. Aku harap acara malam ini akan berjalan dengan lancar.


Aku bersyukur acara lamaran berlangsung lancar tanpa halangan suatu apa. Ayah dan ibunya Bian sangat ramah dan baik hati, mereka membawa begitu banyak buah tangan untuk kami, aku sampai merasa tidak enak hati karena suguhan untuk mereka tidak seberapa.


Namun itu tidak jadi masalah, karena justru keluarga Bian menikmati hasil olahan masakan ku dan mama, semuanya menu yang sederhana mereka bilang sangat lezat.


Ayah, ibu dan rombongan berpamitan terlebih dahulu jam 9 malam, sedangkan Bian, Riko, dan Haidar sengaja masih tinggal dan duduk-duduk santai di ruang tamu.


" Sekarang sudah sah jadi tunangan Raya, jadi sudah boleh kan tiap pulang kerja mampir kesini pak RT?".


Bian sengaja menanyakan hal itu pada pak RT yang juga sengaja di undang oleh papa untuk menyaksikan pertunangan ku dan Bian.


" Tentu saja boleh, tapi batas jam 10 malam ya nak Bian, lebih aman lagi kalau jangan nunggu kelamaan sampai ke jenjang pernikahannya, biar boleh nggak pulang sekalian, bisa nginep disini tiap hari", seloroh Pak RT, yang sengaja menantang Bian.


" Oh tentu saja, dengan senang hati, saya juga mau segera menikah dengan Raya, hanya saja Raya minta waktu buat mempersiapkan semuanya, jadi saya masih harus sedikit sabar pak RT".


Jawaban Bian membuat beberapa bapak-bapak tetangga rumah yang masih ngobrol di rumahku tertawa bersamaan.


" Pesan saya sebagai ketua RT di sini, pacaran boleh, apalagi kalian sudah tunangan, tapi yang penting jangan sampai melakukan yang satu itu, itu barang keramat, yang baru boleh di tengok setelah menikah nanti".


Semua kembali tergelak karena semakin malam obrolan antara Bian dan pak RT semakin menjurus ke pembahasan 18+.


" Shaka masuk kamar, besok masih harus berangkat sekolah, jangan ikut-ikutan begadang", mama langsung mengantar Shaka ke kamarnya di belakang, karena pembahasan yang bapak-bapak bicarakan belum waktunya untuk Shaka dengar.


Terlihat Shaka berjalan ogah-ogahan menuju kamar, mungkin jika aku yang menyuruhnya, Shaka akan ngeyel dan tetap bergabung dengan para tamu dan mendengarkan percakapan mereka.


Namun karena mama yang menyuruh, Shaka langsung menurut masuk ke kamar, meski dengan berat hati.