Healing

Healing
63. Bakat Turunan



Aku menutup pintu rumah Bian dan masuk kembali ke dalam, kembali duduk di sofa depan televisi yang masih menyala. Tapi kemudian ku matikan televisi itu. Dan lebih fokus menatap layar ponselku yang sejak tadi belum ku cek.


Ada beberapa pesan dari mama yang menanyakan dimana keberadaan ku, karena sejak tadi belum pulang-pulang. Ku beri tahu jika aku sedang di rumah Bian, dan di rumah Bian sedang ada tamu.


Mama hanya khawatir kalau-kalau terjadi apa-apa pada kami karena kami tidak pulang-pulang.


Saat Bian dan Haidar pulang dari masjid, ku letakkan ponsel dan ku bukakan pintu rumah Bian.


Selama satu jam lebih kami ngobrol santai, Haidar pamit untuk kembali ke tempat kerjanya, sedangkan aku dan Bian ikut keluar dari rumah untuk pulang ke rumahku karena tadi ku sampaikan pada Bian kalau mama menelepon karena khawatir.


" Teh nya sampai dingin banget, mau mama panasin dulu Bi?", tanya Mama saat kami berdua sampai di rumahku.


" Tidak usah Ma, sudah seperti ini saja, jadi nggak perlu niupin teh nya, sudah dingin bisa langsung di minum. Maaf karena tadi pulang ke rumah Bian dulu, soalnya sudah siang dan hari Jum'at, Bian sholat Jum'at terlebih dahulu, jadi pulangnya ke rumah Bian".


Pintar sekali Bian mencari alasan, padahal jika tidak ada Haidar tadi, mungkin Bian tidak pergi ke masjid untuk sholat Jumat, soalnya kami sedang sama-sama terlena dengan kenikmatan dunia yang lagi-lagi harus kami akhiri sebelum menggapainya. Mungkin karena memang belum saatnya...


" Nanti Raya sama Bian mau nengokin Shaka ke perkemahan Ma, apa mama mau nitip sesuatu buat Shaka?", tanyaku sambil mengambil pisang rebus yang ada di meja, dan mengupasnya untuk ku makan.


" Nitip salam saja, mama juga rencananya mau nengokin ke sana, tapi besok, pas ada acara api unggun, malam harinya. Kamu besok harus kerja pasti capek, betul kalau mau nengokin hari ini saja".


Dan setelah sholat 'asar, aku bersama Bian menuju lokasi tempat Shaka berkemah. Suasana sangat ramai di perkemahan, karena sore hari, ku lihat sedang ada kegiatan di sana, ada beberapa perlombaan yang sedang di paksa. Ada yang sedang melakukan lomba yel-yel regu, ada yang sedang berlomba menyanyi, ada juga yang sedang berlomba memasak.


Suasana perkemahan sangat ramai, apalagi banyak juga keluarga peserta kemah yang datang berkunjung sepertiku. Suasana sore yang cerah membuat para wali murid memutuskan untuk menjenguk putra-putri mereka.


Ku tanyakan pada salah satu guru yang membimbing, dimana tenda anak kelas 7A regu laki-laki, dan guru pembimbing itu mengantar aku dan Bian ke tenda berwarna hijau tua yang berdiri di deretan paling pinggir.


Aku dan Bian berjalan mendekat ke tenda dan menanyakan keberadaan Shaka, beberapa teman Shaka yang pernah bermain ke rumah dan mengenaliku langsung menyalamiku.


" Shaka nya lagi ikut lomba Kak Raya, ada di tengah lapangan, yang ada panggung kecil dengan mikrofon berdiri, soalnya dia yang suaranya paling bagus di antara kami semua. Coba kakak ke tengah lapang, mungkin Shaka sedang menunggu giliran untuk tampil", ucap Heru, teman dekat Shaka yang paling sering main ke rumah.


" Oh begitu ya, makasih ya Her... kakak coba cari ke tengah lapang".


" Ayo Bi, kita cari Shaka", ajakku sambil berjalan cepat sambil menggandeng tangan Bian agar kami tidak terpisah.


Bian menarik tanganku, hingga langkahku tertahan, " Kenapa?", tanyaku sambil menengok.


" Jalannya pelan-pelan saja, kau ini seperti anak kecil yang meminta pada ayahnya untuk beli es krim, narik-narik minta buru-buru di belikan, takut Abang tukang es krimnya pergi".


Aku tersenyum, apa iya aku terlihat sangat bersemangat?, sejak tadi perasaan aku biasa-biasa saja, namun saat mendengar Shaka sedang mewakili regunya untuk mengikuti lomba menyanyi, aku jadi bersemangat dan ingin buru-buru menemukannya. Berharap Shaka belum tampil, dan aku bisa melihat Shaka bernyanyi di depan semua orang. Putraku akan tampil...


Dan ini kali pertama aku menyaksikannya, karena biasanya mamaku lah yang menghadiri tiap ada undangan wali murid di sekolah saat SD dulu, karena memang mama lah yang menjadi ibunya Shaka, selain itu aku juga harus bekerja, jadi mama lah yang berangkat ke sekolahan tiap ada undangan.


Jadi seperti ini kah perasaan bahagia menjadi seorang ibu yang putranya akan tampil mengikuti lomba menyanyi, meski hanya tingkat regu, tapi aku tetap berdebar melihat putraku tampil, bahkan dulu saat aku sendiri tampil di panggung mewakili reguku aku merasa biasa-biasa saja. Kenapa saat putraku yang akan tampil justru aku jadi deg-degan?.


" Dia sepertimu, lihatlah, Shaka baru mau naik panggung, dan dia terlihat sangat tenang. Sama seperti kamu saat kamu mau tampil dulu, bawaannya tenang dan santai, seperti tidak ada beban", Bian menunjuk ke arah panggung yang ada di tengah lapangan. Ada tiga juri di depan panggung, mereka dari guru-guru pengajar.


Aku sengaja berdiri di belakang para juri, agar Shaka bisa melihat keberadaan ku. Dan benar Shaka menatap ke arahku, netra kami saling bertemu.


Sebelum bernyanyi, Shaka memberikan sedikit kalimat pembukaan, " Lagu ini ku persembahkan untuk orang yang sangat ku sayangi, orang yang paling berarti di dalam hidupku, dan aku berterimakasih banyak kepadanya, karena berkat dialah aku berada di dunia ini".


Berlatar suara gitar yang entah di dapat Shaka dari mana, dia mulai memetik senar gitar itu sebelum akhirnya bernyanyi dengan sangat merdu.


...🎶Kubuka album biru...


...Penuh debu dan usang...


...Ku pandangi semua gambar diri...


...Kecil bersih belum ternoda...


...Pikirkupun melayang...


...Teringat semua cerita orang...


...Tentang riwayatku...


...Kata mereka diriku slalu dimanja...


...Kata mereka diriku slalu ditimang...


...Nada nada yang indah...


...Slalu terurai darinya...


...Tangisan nakal dari bibirku...


...Takkan jadi deritanya...


...Tangan halus dan suci...


...Tlah mengangkat diri ini...


...Jiwa raga dan seluruh hidup...


...Rela dia berikan...


...Oh bunda ada dan tiada dirimu...


...Kan slalu ada di dalam hatiku🎶...


" Suara Shaka terdengar begitu lantang dan juga merdu, dia memang sangat mirip sama kamu Ra...., ,seperti Bakat turunan", bisik Bian.


Ucapan Bian samar terdengar, karena saat ini aku sedang merasa begitu terharu, sedih, sekaligus bahagia bercampur menjadi satu. Satu hal aku sangat bahagia karena putraku mempunyai bakat, dia berani tampil di depan umum, dan bernyanyi dengan sangat merdu. Bahkan dia bisa bermain gitar, entah kapan dia mempelajari hal itu, karena di rumah kami tidak ada gitar, aku juga baru pertama kali ini melihat Shaka memainkan gitar.


Tapi mendengarkan lagu itu, lagu yang seharusnya untukku, dia persembahkan untuk mamaku, suaranya begitu dalam sampai ke relung hati. Seandainya mama ikut bersamaku sekarang, aku yakin mama juga akan menangis terharu sama sepertiku. Karena merasa bangga pada cucunya yang diam-diam mempunyai bakat terpendam.


Lamunanku buyar saat suara tepuk tangan terdengar begitu ramai di lapangan. Ternyata banyak yang menonton penampilan Shaka saat Shaka bernyanyi tadi.


" Sepertinya Shaka mempunyai banyak penggemar di sekolahnya, lihatlah, sebagian besar penonton dari kalangan pelajar putri", Bian kembali berbisik di telingaku.


Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling lapangan, benar saja panggung yang tadi hanya ada beberapa penonton saja, sekarang sudah berdiri banyak siswa dan siswi berpakaian pramuka, juga beberapa wali murid yang sedang berkunjung ke perkemahan. Ternyata mereka tertarik dengan penampilan Shaka.


Namun justru mendengar ucapan Bian aku jadi semakin merasa khawatir, aku tidak mau Shaka menjadi idola di sekolahan, karena pasti akan banyak teman-teman wanita yang mengejar-ngejar cintanya, dan rela melakukan apapun demi menjadi kekasihnya, apalagi anak-anak remaja jaman sekarang, pergaulan mereka itu membuatku merasa resah.


Jangan sampai Shaka berpacaran terlalu awal, sepertiku dan Yoga dulu, pacaran masih SMP, dan membuat kesalahan yang sangat fatal. Aku harus tegas melarang Shaka agar tidak berpacaran. Bagaimanapun caranya, aku ingin Shaka menjadi orang sukses. Tidak sepertiku yang harus mengubur dalam-dalam cita-cita dan impian masa mudaku.


Atau aku terlalu berlebihan menyikapi semua ini, karena sepertinya selama ini aku tidak pernah menjumpai Shaka pergi dengan teman perempuan, Shaka selalu pergi dengan teman laki-laki, dan itupun jelas, untuk bermain sepak bola, atau ke masjid. Mungkin rasa khawatirku yang terlalu berlebihan. Karena menyamakan Shaka dengan aku dan ayahnya.


" Kalau memang banyak yang mengidolakan, berarti seperti kamu dan ketiga sahabat mu waktu sekolah dulu, kata Utari kalian dulu jadi idola di SMA juga di kampus, apa kamu benar-benar tidak tertarik pada gadis lain saat itu Bi?, bukankah di sekolah mu sangat banyak gadis cantik dan pintar, aku jadi penasaran, kok bisa kamu setia pada satu gadis, yang saat itu belum juga jadi pacar kamu".


Bian meraih tanganku, sehingga tangan yang tadi terlepas untuk bertepuk tangan usai penampilan Shaka berakhir kini kembali saling bergandengan.


" Karena aku itu sulit untuk jatuh cinta Ra..., wajah cantik memang bisa membuat seseorang tertarik di awal pertemuan, tapi aku bukan tipe cowok yang hanya melihat dari wajahnya saja, yang paling penting itu kecocokan dan rasa nyaman saat bersama seseorang, dan aku merasakan cocok dan nyaman hanya saat bersama kamu Ra...".


" Tidak memungkiri, aku pernah mencoba membuka hati untuk gadis lain, tapi saat pergi makan bareng, dan juga ngobrol, aku merasa tidak nyaman bersamanya. Apa karena aku masih memikirkan kamu, sehingga tetap saja yang aku harapkan pergi bersamaku saat itu adalah kamu, bukan yang lain".


Mendengar kejujuran Bian aku hanya tersenyum, sedikit ada rasa cemburu saat Bian mengatakan pernah pergi dengan gadis lain. Tapi itu wajar, karena aku calon istrinya, dan hal itu membuatku jadi berfikir, se sakit dan se marah apa Bian saat dulu aku jujur tentang Shaka kepadanya. Mungkin rasa kecewanya sangatlah besar, namun kenapa Bian masih saja mencintaiku?, itu yang membuat aku sangat penasaran, tidak ada kelebihan di diriku, justru aku penuh dengan kekurangan. Tapi Bian tidak mundur dan balik kanan setelah aku mengatakan semuanya.


" Wah, kenapa aku merasa tidak senang mendengar kamu pernah pergi makan dan jalan bersama gadis lain, untung aku tidak melihatnya, kalau dulu lihat pasti aku berpikir ulang untuk menerima atau tidak lamaran kamu", ucapku jujur.


Bian terkekeh sambil memencet hidungku karena gemas. " Seneng aku di cemburuin sama kamu, sini aku ambil foto dulu, soalnya ini momen yang jarang terjadi, lihat kamu lagi cemburu begitu", Bian sengaja mengambil ponsel dan mengambil foto kami berdua, wajahku yang sedang cemberut sengaja di foto oleh Bian. Dan di jadikan status di WhatsApp nya, menyebalkan....