Healing

Healing
80. MKKB



(Masa Kecil Kurang Bahagia)


" Nggak papa juga kalau memang mau jalan-jalan di pantai sebentar, lagian sayang juga kalau sudah jauh-jauh kita melakukan perjalanan ke sini, tapi cuma buat makan siang dan langsung pulang".


" Kalian berdua nggak ada acara penting di rumah kan?, gimana kalau kita main sebentar ke pantai seperti yang di rencanakan sama Utari."


Ajakan Yoga membuat Utari yang mood nya memburuk berubah jadi membaik. Sungguh ucapan dan sikap Yoga sangat berpengaruh terhadap Utari. Baru beberapa menit yang lalu dia membuat Utari kesal, hanya dalam sekejap dia merubah mood yang buruk menjadi lebih baik.


Aku menatap Bian, tentu saja meminta persetujuan darinya. Dan Bian memberi isyarat setuju dengan mengangguk pelan.


" Ya sudah mumpung sudah berada di sini, mungkin jalan-jalan ke pantai sebentar nggak ada salahnya. Cuacanya juga nggak panas banget, malah agak mendung, jadi jalan-jalan di siang hari seperti ini nggak akan terasa panas karena langitnya mendung".


" Ya sudah ayo tunggu apa lagi, kita ke pantai sekarang, nanti aku minta sama pelayan disini buat bungkusi semua makanan ini biar bisa di bawa pulang". Utari yang pertama berdiri dan melambaikan tangan meminta bil pembayaran makan siang kami. Hanya dengan menggesekkan kartu kredit nya semua sudah beres. Aku sempat melirik dan membaca berapa jumlah yang harus dibayar oleh Utari, dan ternyata hampir satu juta. Itu jumlah yang sangat banyak bagiku, sama dengan gajiku setengah bulan.


" Tolong semua sisa makanan ini di bungkus ya Mba, mau kami bawa pulang".


Pelayan restoran mengangguk dan membawa semua makanan di meja ke dapur. Setelah beberapa menit kami menunggu, pelayan tadi keluar dengan paperbag besar dengan nama restoran di bagian depannya. Semua masakan sudah dikemas dengan rapi menggunakan tempat makan plastik dan disusun rapi di dalam paperbag besar.


Kami berempat langsung menuju mobil untuk menyimpan makanan itu lebih dahulu di bagasi, baru kami berjalan menuju ke tepi pantai.


Utari berjalan paling depan, dengan langkah cepat, dan begitu bersemangat. Sepertinya dia masih marah padaku, karena sejak tadi tidak mengajak aku berbicara. Aku berjalan bersama Bian dan Yoga berjalan paling belakang.


" Apanya yang indah kalau lagi mendung begini ke pantai?, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Apa nggak papa kita berada di pinggir pantai begini, aku khawatir air laut akan meluap jika hujan, mana anginnya lagi kenceng, makin terasa dinginkan, kalau airnya meluap dan kita terbawa arus gimana? ", Aku memang agak khawatir karena aku tidak pandai berenang.


Bukannya tidak bisa, tapi tidak pandai, jika berenang hanya beberapa meter seperti di kolam renang, tentu saja aku bisa. Tapi jika terbawa arus, dan hanyut di laut yang luasnya tak terhingga, pasti aku akan tenggelam karena kelelahan berenang menuju tepi.


" Santai saja, ada aku disini, kamu tahu kan dulu aku atlet renang waktu SMP, dan ada Steve juga, dia sainganku saat SMA, kami sering kali menjadi perwakilan sekolah jika ada lomba renang. Hanya saja tidak kami tekuni, karena cita-cita kami bukan menjadi atlet".


" Atlet itu memang lumayan besar gajinya, tapi hanya sebentar sudah pensiun, dan yang lebih merepotkan, harus berolahraga setiap hari, itu sangatlah melelahkan. Apalagi cita-cita Steve dari dulu pengen jadi orang sukses dan kaya raya, tanpa bantuan orang tuanya. Karena itulah kami memilih menjadi pengusaha. Aku di bidang kuliner, karena hobiku memasak. Sedangkan Steve menjadi pengusaha di bidang mesin".


Aku menghentikan langkahku. Kami sudah sampai di tepi pantai, Utari langsung melepas sendalnya dan memasukkan kakinya ke dalam air. Lambat laun Utari berjalan semakin jauh ketengan pantai, sampai air menutup hingga sebatas dadanya.


Bian mengatakan perusahaan Yoga di bidang mesin?, aku pun langsung melirik ke arah Yoga yang kini berjalan melewati ku, karena ingin nyebut juga ke dalam air, sebenarnya selama ini aku hanya tahu Yoga punya perusahaan, tapi tidak pernah tahu perusahaan milik Yoga itu berkecimpung di bidang apa. Jadi di bidang mesin. Aku tiba-tiba jadi teringat malam minggu kemarin, saat motorku mogok di jalan, apa mungkin benar, Yoga yang menyabotase motorku?. Ah... aku jadi mengingat hal yang seharusnya tidak ku ingat-ingat lagi.


" Kenapa berhenti?, kita main air seperti mereka berdua, pasti akan menyenangkan", ajak Bian, sambil menunjuk Utari yang sengaja menyipratkan air laut ke arah Yoga dengan kedua tangannya. Saat ini mereka berdua sama-sama basah. Yoga menenggelamkan diri nya hingga tak nampak dari permukaan. Padahal air laut kan asin, bagaimana bisa dia menenggelamkan diri sampai rambutnya juga basah. Tentu akan banyak pasir dan menjadi lengket.


" Aku disini saja, aku nggak bawa baju ganti Bi, nanti kalau bajunya basah dan pulang ke rumah perjalanannya hampir dua jam, aku bisa masuk angin", tolak ku, karena menurutku apa yang sedang Utari lakukan sungguh seperti anak kecil. Sudah bukan masanya aku bermain-main air seperti itu. Mungkin aku akan langsung menceburkan diri dan bermain-main dengan mereka jika hal ini terjadi 10 tahun yang lalu.


" Sudah nggak papa Ra..., bukan masalah, lihat di pinggiran sebelah sana, ada banyak sekali penjual baju, jadi kita tinggal beli pas mau pulang nanti".


Bian masih membujuk ku agar mau ikut bersamanya bermain air seperti Yoga dan Utari. Namun aku masih merasa enggan untuk bermain-main air seperti anak kecil.


Utari dan Yoga juga menyipratkan air ke arah Bian, sehingga Bian berlari masuk kedalam air dan ikut bergabung bermain air dengan Yoga dan Utari. Benar-benar definisi masa kecil kurang bahagia. Bukankah itu seharusnya untuk ku?, akulah yang masa kecilnya kurang bahagia, Sedangkan mereka bertiga, aku yakin mereka bahagia hidup dengan keluarga mereka yang tidak pernah kesulitan dalam segi ekonomi, tidak sepertiku yang harus hemat sejak masih kecil sampai saat ini.


Aku memilih melepas sendalku dan menggunakannya untuk alas duduk. Ku tekuk kedua lutut keatas. Dan kupeluk kakiku dengan kedua tangan.


" Huahm......".


Seluruh bagian tubuhku tenggelam ke dalam air, basah kuyup semuanya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dinginnya air laut, membuat rasa kantukku menghilang begitu saja.


" Kalian apa-apaan sih, aku kan sudah bilang nggak bawa baju ganti, sudah basah begini, aku akan jadi dingin", protesku saat aku berdiri dan muncul ke permukaan.


Aku pun berjalan kepinggir, namun Bian menarik tanganku dan memelukku dari belakang.


" Sudah nggak dingin kan sekarang?".


Perlakuan Bian membuatku jadi salah tingkah, yang ingin ku lihat saat ini justru seperti apa ekspresi Yoga, melihat aku yang memakai baju basah, dan di peluk oleh Bian dari belakang. Yang jelas, saat ini lekuk tubuhku bisa terlihat jelas, apalagi baju milikku tergolong tipis, maklum baju murahan.


Ternyata benar dugaan ku. Yoga sudah memasang mode sangar. Wajahnya merah padam menahan emosi melihatku di sentuh oleh laki-laki lain. Bukan hanya di sentuh, melainkan sampai di peluk.


" Lepas Bi.... nggak enak di lihat Utari dan Steve", bisikku, sambil melepaskan tangan Bian yang menempel di perutku.


" Karena sudah basah gimana kalau kita sewa perahu, dan muter-muter di perairan sekitar sini?", ajak Yoga.


Aku tahu dia hanya mengalihkan perhatian agar Bian tidak terus memelukku. Dan usahanya berhasil. Utari dan Bian berjalan menepi menuju tempat dimana banyak kapal nelayan yang berjejer.


" Kamu benar-benar terlihat seksi menggunakan baju basah seperti itu. Bolehkah aku melakukan hal yang sama seperti yang Bian lakukan padamu tadi?. Kalau denganku kamu terlalu jual mahal", gumam Yoga. Dan aku merasa sangat kesal dengan ucapannya barusan.


Untungnya tak lama kemudian perahu datang bersama seorang nelayan, dan ada Utari bersama Bian yang sudah duduk manis di atas perahu.


" Ayo kalian berdua naik ke atas sini. Kita naik perahu dan menjelajahi pantai sekitar sini, pasti menyenangkan", ajak Bian.


Aku dan Yoga pun naik ke atas perahu dengan bergantian. Perahu kayu yang biasa digunakan nelayan untuk menangkap ikan di malam hari, dan siangnya di sewakan untuk para wisatawan yang sedang berlibur seperti kami.


" Lagi mendung begini jadi pantainya sepi, syukur alhamdulilah ada yang nyewa perahu, itu artinya anak istri bakalan bisa makan, malam ini".


Ucapan nelayan itu membuat aku dan yang lain menjadi kasihan pada nya. Sepertinya dia dalam posisi kesulitan ekonomi. Karena hasil tangkapan ikan yang tidak terlalu banyak.


Biaya sewa perahu selama setengah jam sekaligus berputar-putar di perairan sekitar sebesar 50 ribu rupiah. Lumayan mahal bagiku, tapi mendengar ucapan nelayan itu, membuatku jadi ikhlas dengan bayaran sebesar itu.


Bahkan Bian memberikan uang 100 ribu sebagai biaya sewa selama setengah jam, dan tidak meminta kembalian, saat sang nelayan mengatakan tidak ada kembaliannya.


" Itu buat bapak saja, buat belanja bahan makan malam untuk anak dan istri".


Itu yang Bian katakan, dan kami pun di antarkan berputar-putar sekitaran pantai. Ku lihat wajah nelayan yang tadinya muram, sudah lebih cerah dari sebelumnya.


Namun tidak dengan cuaca siang ini, mendung semakin gelap, dan rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Sang nelayan buru-buru menepikan perahunya karena hujan.


" Maaf ya karena terpaksa harus menepi, saya khawatir perahunya tenggelam karena hujan semakin deras", ucap sang nelayan.


Kami berempat memaklumi hal itu, dan berjalan menuju penjual baju yang ada di sekitar pantai yang tadi kami lihat. Ternyata beberapa dari mereka sudah tutup, dan hanya tinggal beberapa penjual yang masih berjualan.


Untung saja masih ada yang buka, hanya saja mereka cuma menjual kaos, dan setelan santai. Mereka tidak menjual baju dalaman. Itu artinya kami semua hanya akan berganti pakaian, tanpa memakai baju dalaman untuk pulang, karena baju, hingga dalaman kami semua sudah basah kuyup. Harus bagaimana ini?.