
Aku dan seluruh anggota keluarga, ditambah Puput si ART muda, berjalan kaki bersama-sama menuju kebun bunga dan juga sayuran milik Bu Herni. Selama ini kebun itu memang dikelola oleh orang kepercayaan Almarhumah Bu Herni dan Pak Priyo, namun setelah Bu Herni meninggal beberapa tahun lalu, urusan kebun di limpahkan pada Yoga, karena sekarang sang Ayah sibuk dengan istri barunya.
Tentang semua harta peninggalan Bu Herni langsung dilimpahkan pada Yoga sebagai ahli warisnya. Dan sekarang kebun itu semakin maju dan berkembang pesat semenjak di kelola oleh Yoga.
Ada beberapa area yang Yoga buka sebagai lokawisata bagi para wisatawan yang ingin berfoto-foto di kebun bunga, dan hasil panen bunga sudah ada florist khusus milik keluarga Yoga juga yang memasarkan bunga tersebut, sedangkan sayur langsung di kemas dengan kemasan cantik dan higienis untuk dikirimkan ke swalayan atau supermarket dengan harga yang lebih tinggi dari penjualan sebelumnya. Ada juga yang dikirim ke rumah makan dan restoran yang sejak masih dikelola Bu Herni dulu sudah bekerja sama dengan kami.
" Segar sekali udara pagi di daerah ini, rasanya begitu banyak oksigen yang berhasil ku hirup sepanjang perjalanan", Juna menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan sembari sesekali menutup mata merasakan sensasi sejuk karena embun pagi masih cukup tebal.
Jarak pandang juga masih sangat terbatas, karena embun tebal yang membatasi jarak pandang kami.
" Syifa dingin Bu", rengek Syifa yang ternyata tetap kedinginan meski sudah ku pakaikan baju tebal.
" Sini ibu gendong, biar Syifa nggak kedinginan", ucapku.
" Maaf Nyonya, kalau Non Syifa merasa kedinginan justru sebaiknya biarkan non Syifa untuk menggerakkan tubuhnya. Sedikit bersenam, atau berlari, biar kalori tubuh menangkal hawa dingin yang merasuk", ucap Puput dengan suara lirih, karena dia berada tepat di sampingku.
" Non Syifa apa mau balap lari sama mba Puput ?, siapa yang sampai taman bunga lebih dulu, berarti dia pemenangnya, dan yang kalah harus menuruti keinginan yang menang", ajak Puput pada Syifa.
Syifa langsung setuju dan berlari-lari kecil menuju pintu masuk taman bunga. Puput mengikutinya pelan, dan memang benar, sepertinya Syifa tidak lagi merasa kedinginan, bahkan dia sampai berkeringat karena panas usai lari tadi.
Puput sepertinya punya banyak keahlian, dia tahu tentang banyak hal, dan entah mengapa aku merasakan dari tatapan matanya, suatu ketulusan dan kejujuran yang sudah sangat jarang aku lihat dari gadis lain, atau pekerja yang lain.
Jalanan sudah mulai ramai, banyak yang lewat, termasuk beberapa orang yang bekerja di kebun bunga, dan juga yang bekerja di lahan sayuran.
Orang-orang itu menunduk dan memberi hormat ketika melihat Yoga. Mungkin karena mereka tahu jika Yoga adalah pemilik kebun itu. Sebagai seorang tuan tanah yang baik, Yoga pun ikut mengangguk dan tersenyum ramah membalas sapaan mereka.
Sebelum masuk ke area perkebunan yang cukup luas, Yoga berhenti karena ada seorang bapak-bapak yang memanggilnya. Dan ternyata orang itulah yang menjadi orang kepercayaan Yoga, untuk mengelola perkebunan.
" Selamat pagi tuan Yoga, sudah cukup lama tidak bertemu secara langsung seperti ini, karena semenjak menikah dan punya momongan, pasti inginnya di rumah terus, menghabiskan waktu bersama istri dan anak. Karena seperti itu juga yang saya rasakan dulu", ucap orang yang bernama Pak Abas itu.
Aku memang sudah beberapa kali melihat Pak Abas jika Yoga tengah mendengarkan laporan darinya melalui video call. Tapi hanya sekilas saja.
Pak Abas memang sudah membantu mengelola perkebunan selama puluhan tahun, beliau memang sudah ahlinya mengelola perkebunan, dan selama beliau dipasrahi kebun, hanya sekali mengalami kegagalan dari sekian ratus atau bahkan sekian ribu kali panen.
Tepatnya saat musim kemarau panjang, dan tanah mengalami kekeringan beberapa tahun yang lalu. Dan itu membuat perkebunan rugi besar. Pembelian bibit dan biaya untuk perawatan, bahkan tidak bisa di tutup dengan hasil penjualan hasil panen. Aku tahu kisah itu karena Yoga pernah bercerita waktu itu.
" Benarkah Pak Abas juga merasakan hal seperti itu juga?, malas keluar, pengennya dirumah terus sama anak dan istri", ujar Yoga sambil tertawa ringan.
" Oh iya, perkenalkan ini istri saya... Raya, dan ini putra ku, Shaka", Yoga memperkenalkan kami satu persatu pada Pak Abas.
Yoga juga memperkenalkan Juna, mama dan Papa pada pak Abas.
Pak Abas mengajak kami masuk kedalam perkebunan, Syifa dan Puput sudah menunggu cukup lama di depan pintu masuk perkebunan. Entah apa yang Puput lakukan, tapi baru saja kenal, Syifa langsung lengket padanya.
Kami masuk perkebunan, bisa kami lihat disana para pekerja sudah mulai melakukan aktifitasnya, ada yang sedang memilih bibit, ada juga yang sedang memberi pupuk, berbagai macam pekerjaan yang sedang mereka lakukan.
" Syifa mau sama mba Puput, boleh ya Syifa ajak mba Puput sama kita?", pinta Syifa.
Benar kan... Syifa langsung lengket pada ART muda itu, anak-anak memang biasanya bisa merasakan mana yang tulus menyayanginya dan mana yang hanya berpura-pura. Mungkin saja karena Puput termasuk orang yang tulus, jadi Syifa nyaman bermain-main dengannya.
" Boleh dong, kenapa tidak?. Ayo mba Puput kita jalan-jalan ke ujung sana", ucap Juna sambil menuntun Syifa berjalan terlebih dahulu, sedangkan Shaka dan Puput berjalan mengikuti Juna dan Syifa.
Syifa terlihat begitu sangat bahagia, apalagi saat Puput menjelaskan padanya nama-nama bunga, dan memberi tahukan warna apa saja bunga-bunga itu.
" Mba Puput, kalo ini yang paling besal namanya bunga apa?, walnanya sepelti matahali", ujar Syifa dengan lugunya. Sejak tadi mba Puput terus yang di panggilnya. Juna dan Shaka yang ingin bermain-main dengannya hanya bisa pasrah membiarkan Syifa sibuk bersama Puput.
Sedangkan Puput begitu menyukai Syifa dan dengan sabar menjawab semua pertanyaan yang Syifa ajukan.
" Waaah... Syifa pintar sekali.... Bunga yang paling besar dan berwarna seperti matahari Itu namanya adalah bunga matahari, warnanya kuning cerah secerah wajah Syifa pagi ini"
Aku bisa melihat Syifa begitu senang tiap kali Puput menjawab dan menjelaskan apa yang ditanyakannya.
" Pak Abas, ada yang ingin saya bicarakan dengan bapak, dan ini cukup serius", ucapan Yoga mengalihkan perhatian ku yang sejak tadi terus mengikuti kemana Syifa pergi, jadi menatap ke arahnya.
Mama dan Papa sudah entah berada dimana, tadi mereka tertarik dengan para pekerja kebun yang sedang memanen wortel. Mungkin saja mama dan papa ke lahan yang ditanami wortel.
" Baik Tuan, sebelumnya saya mau memberi tahu jika yang tuan minta kemarin, tentang pesta kejutan ulang tahun semuanya sudah beres. Lokawisata taman bunga yang ada di samping kebun bunga ini sudah kami tutup untuk sementara waktu, sampai acara kejutan ulang tahun untuk tuan muda selesai".
Yoga mengangguk, " terimakasih, tapi yang mau saya bahas dengan bapak ini lain lagi, bukan masalah pesta kejutan, tapi tentang kepemilikan tanah perkebunan dan Fila dari ibu, saya ingin melimpahkan semuanya pada Shaka. Setelah dia ulang tahun hari ini, dan KTP nya jadi, segera urus pergantian nama semua sertifikat tanah, bangunan dan perkebunan atas nama Shaka".
Aku bisa mendengar semua yang dikatakan Yoga, jika dia hendak memberikan Fila dari ibu dan juga perkebunan dan taman bunga yang sangat luas ini pada Shaka, di usianya yang baru 17 tahun. Aku justru khawatir jika Shaka justru akan merasa terbebani dengan hal itu.
" Ga.... bukannya aku menentang keinginanmu, hanya saja apa tidak terkesan terburu-buru kamu melakukan hal ini. Shaka baru berusia 17 tahun hari ini, apa menurutmu dia tidak akan merasa terbebani dengan semua ini jika dia tahu Fila, perkebunan, dan taman bunga yang sangat luas ini kamu limpahkan kepadanya?".
" Sebenarnya aku ingin Shaka tetap fokus belajar dan bertumbuh seperti anak seusianya, melewati proses demi proses untuk mencapai apa yang dicita-citakan olehnya".
" Jika Shaka tahu kalau dia memiliki semua ini, aku khawatir fokusnya akan terpecah, aku khawatir Shaka jadi malas belajar karena dia sudah memiliki segalanya", ucapku sebagai seorang ibu yang khawatir dengan masa depan putranya.
" Kamu tenang saja, aku meminta pada Pak Abas untuk mengurus semua dokumen penting dan semua ini rahasia, aku sendiri yang akan menyimpan semuanya. Bukan apa-apa, aku hanya ingin mengamankan Fila dan tanah itu dari orang-orang yang ingin merebutnya dariku".
" Ceritanya panjang, tapi akan aku beri tahu ceritanya secara singkat. Salah satu Om ku dulu ada yang pernah pulang ke Indonesia saat mendengar kabar jika aku menghamili kamu. Tentu saja ibu terus menyangkal, dan mengatakan jika aku tidak pernah menghamili siapapun. Karena jika sampai Om tahu, kemungkinan besar dia akan mencari-cari kesalahanku yang lain, dan menuntut ibu untuk menyerahkan perkebunan dan Fila ini padanya".
" Menganggap ibuku tidak becus mengurus seorang putra, apalagi untuk mengurus perkebunan yang sangat luas ini".
" Saat kembali ke Indonesia, Om ku tinggal di Fila dan aku mendengar cerita dari ibu, Om Kenan menyukai gadis desa yang bekerja di kebun kita, dan sering pergi berdua dan mengajak gadis itu ke Fila, hingga ada kabar jika gadis itu hamil. Tapi sama seperti nasibmu dulu, gadis itu diberi pil penggugur kandungan, dan setelah gadis itu menerima pil dari Omku, dan juga mendapatkan uang sebagai permohonan maaf dari Omku padanya. Gadis itu tidak pernah berangkat bekerja lagi di kebun. Dan Om ku pun kembali ke Jerman, karena memang sebenarnya dia sudah mempunyai keluarga disana. Kisah itu tetap menjadi rahasia keluarga sampai saat ini".
" Karena itulah, aku ingin melimpahkan semua warisan dari ibu, langsung ke Shaka, karena bagiku, Shaka lah yang lebih berhak memilikinya. Aku tidak ingin wasiat dari ibu berpindah ke tangan orang lain".
Aku menatap Yoga merasa tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Ternyata ada gadis lain yang bernasib sama sepertiku.