Healing

Healing
130. Kelewat Baik



" Oh iya, beberapa tahun yang lalu, saat Raya tengah hamil, aku dan Raya bertemu dengan Dokter Dwi dari rumah sakit Medika, beliau dokter spesial obgyn. Saat itu kami sedang makan di restoran. Karena kebetulan beliau bersama Dokter Adrian tetangga kami, yang juga katanya kakak kelas Raya waktu SMP".


" Berarti dokter Adrian juga kakak kelas mu Bi?, bukankah kalian sekelas waktu SMP?. Dia mengatakan mengenal kalian, aku kira karena kamu dan Adrian satu sekolah, atau karena Utari juga seorang dokter sehingga wajar kalian saling mengenal, namun Dokter Adrian mengatakan mengenal kalian karena kalian adalah salah satu pasiennya dokter Dwi, apa waktu itu Utari tengah hamil juga?, atau salah satu diantara kalian sedang sakit?", tanya Yoga, mencoba menghilangkan kecanggungan saat suasana sepi.


Namun bagiku, pertanyaan Yoga justru membuat Bian dan Utari nampak tidak senang, mereka berdua saling menatap dalam diam dengan ekspresi wajah yang tak bisa kubaca.


" Itu kan sudah lama sekali, mungkin saja Bian dan Utari sudah lupa akan hal itu. Tidak perlu di ingat-ingat kalau memang sudah lupa, nikmati saja makanan kalian", ujarku mencoba mengalihkan pembicaraan. Dan memberi kode pada Yoga untuk tidak melanjutkan pembahasan yang tadi.


" Terimakasih, memang kami dulu pernah jadi pasien dokter Dwi, tapi sekarang sudah tidak lagi", terang Utari, mencoba menjawab seperlunya dan tak berniat untuk menjelaskan apapun perihal keadaan dirinya ataupun keadaan Bian.


Namun setelah Utari mengatakan hal itu, justru kini gantian Juna yang bertanya. " Apa kalian sudah punya momongan?, bukankah pernikahan kalian berjarak sekitar setengah tahun lebih awal dari pernikahan kak Raya dan kak Yoga?", tanya Juna yang ikut masuk dalam obrolan.


Ada apa dengan Juna yang tiba-tiba ikut membahas hal itu?.


" Belum", jawab Bian dan Utari bersamaan.


" Bukankah usia kalian sudah tidak muda lagi?, alangkah baiknya tidak sibuk mengejar karier dan menunda untuk punya anak", Juna seperti sengaja mengatakan hal itu sambil menatap Bian dan Utari bergantian.


Bisa aku lihat tatapan tidak suka dari mata Juna, sejak awal kedatangan Bian dan Utari tadi. Tapi apa masalah Juna dengan mereka berdua?. Yang ada masalah dengan Bian dan Utari adalah aku, dan aku juga sudah tidak mau mengungkit masa lalu lagi. Sudah ku anggap semuanya baik-baik saja. Tapi kenapa Juna masih terlihat tidak suka?.


" Memang belum dikasih saja, tidak di tunda", jawab Utari singkat. Bisa kulihat dia kehilangan selera makan.


Ku berikan kode pada Juna untuk diam dan tidak melanjutkan bertanya lagi, Juna mengerti dan menuruti permintaanku. Namun justru suasana menjadi sunyi dan semakin canggung.


" Maaf... kami sudah selesai makan, dan ini sepertinya sudah terlalu malam untuk bertamu, jadi kami pamit mohon diri, terimakasih untuk makan malamnya, makanannya enak sekali". Pamit Bian, seolah mereka berdua merahasiakan sesuatu dari kami.


Akupun mempersilahkan mereka dan mengantar Bian dan Utari sampai depan pintu gerbang. Saat aku kembali ke taman depan Fila, kudengar mama sedang menceramahi Juna.


" Kamu itu seharusnya nggak ngomong begitu Jun, bagaimanapun mereka punya privasi sendiri, mau mereka punya anak atau menundanya itu terserah mereka. Kita tidak berhak ikut campur".


" Aku setuju dengan yang mama ucapkan, kita tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi sampai mereka belum punya anak meski sudah hampir 5 tahun menikah. Jadi kita tidak boleh menuduh bahwa mereka sengaja menunda memiliki momongan. Siapa tahu justru mereka sudah sangat menginginkannya, tapi belum dikasih, seperti yang diucapkan oleh Utari tadi", ucapku sambil duduk kembali disebelah Yoga.


" Kakak jadi orang itu kelewat baik, kalau bukan gara-gara dia, yang membeberkan keadaan kakak pada keluarganya kak Bian...!", Juna langsung menghentikan kalimatnya yang belum selesai dan menatap ke arah Yoga merasa tidak enak hati.


" Sudahlah, maaf kalau tadi ucapan Juna salah, bukankah seharusnya malam ini kita berbahagia, karena bisa berkumpul sekeluarga, jadi jangan lagi bahas orang lain dan jangan bahas masa lalu".


Juna menyodorkan daging ke mulut Shaka yang saat ini sedang terdiam menatap kemarahannya yang hanya sesaat. Juna memang berhasil meredam emosinya.


" Tidak perlu merasa tidak enak padaku Jun, aku juga salah, karena aku yang tadi memulai membahas tentang kehidupan mereka berdua, aku nggak masalah kok kalau kamu masih menyesali batalnya pernikahan Raya dengan Bian dulu, Bian memang orang baik, karena itulah dulu aku merelakan Raya untuk menikah dengannya. Tapi ternyata suratan berkehendak lain", ujar Yoga mencoba bersikap bijaksana.


Mama dan Papa tak berani ikut bicara, karena mereka khawatir akan salah bicara dan memperkeruh suasana.


Shaka pun membuka mulutnya menerima suapan dari Juna. Mungkin memang benar tidak usah membahas tentang orang lain, atau membahas masa lalu di saat kami sedang berkumpul dan dalam momen bahagia seperti saat ini. Yang ada hanya akan merusak suasana, karena masa lalu keluarga kami yang susah dan begitu banyak kisah yang menyedihkan.


Malam ini acara barbeque pun akhirnya selesai, Kami semua bersama-sama membereskan bekas peralatan yang kami pakai untuk membakar daging tadi. Namun yang membersihkan semuanya akhirnya ART yang bekerja disini. Kami semua masuk ke kamar masing-masing.


" Tadi apa yang dikatakan Utari sama kamu?, aku bisa lihat dia ngobrol sama kamu. Dasar perempuan licik. Pamitnya mau ke kamar mandi, tapi ternyata dia masuk untuk mencari kamu kan?", tebak Yoga. Aku memang belum bisa tidur meski sudah larut malam. Mungkin karena itulah Yoga mengajakku bicara.


" Dia bilang pengen ngobrol berdua saja denganku, aku sendiri tidak tahu apa yang ingin di obrolkannya, dia minta nomor ponselku, lalu aku kasih deh. Udah cuma itu, belum sempat ngobrol apa-apa tadi", jawabku jujur.


" Kamu kasih tahu aku kalau mau ketemu sama dia, aku khawatir dia masih dendam sama kamu", ucap Yoga.


Aku pun tersenyum, karena merasa Yoga menjadi negatif thinking begitu, " Nggak boleh berfikir negatif, bisa jadi doa itu loh, mungkin saja Utari kangen pengen ngobrol dengan sesama wanita, atau sebagai seorang teman yang sudah lama tidak bertemu. Berpikir yang baik-baik saja, jangan su'udzon begitu Ga".


Yoga menghembuskan nafas panjang. " Memang benar yang dikatakan Juna tadi, kamu jadi orang kelewat baik Ra, makanya Bian susah move on dari kamu".


" Coba kamu sedikit saja punya sisi jahat, mungkin Bian akan bisa melupakan kamu Ra. Jelas sekali terlihat dari tatapan matanya sejak dia baru sampai hingga dia pamit pulang, matanya itu terus saja curi-curi pandang mengikuti kemana kamu melangkah".


Benarkah yang dikatakan Yoga barusan?, aku tidak memperhatikan Bian tadi, karena sibuk mengurus Syifa.


" Mungkin itu cuma perasaanmu saja Ga, karena mungkin yang di lihat bukan aku, tapi Syifa", ucapku berusaha menyangkal jika Bian terus memperhatikan aku sejak tadi.


" Ini kebetulan atau gimana sih ya Ra...., aku nggak habis pikir, baru pertama kali kita datang ke Fila sekeluarga, eh malah mereka juga datang di waktu yang sama. Sekenario yang Maha Kuasa begitu susah untuk ditebak".


" Ingin sekali aku tidak berhubungan lagi dengan Utari maupun dengan Bian, tapi mereka tiba-tiba nongol begitu", gerutu Yoga.


Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. " Ya sudah jangan dibahas terus kalau nggak pengen berhubungan dengan mereka lagi, kalau kamu bahas tentang mereka terus malah jadi mikirin mereka terus. Mending kita bahas rencana hari esok, kita mau kemana ?", tanyaku.


" Betul juga yang kamu katakan, lebih baik kita bahas rencana untuk besok. Awalnya si aku pengen ajak kalian jalan-jalan di kebun bunga milik ibu, lokasinya tidak terlalu jauh dari sini, jalan kaki 10 menit, sudah sampai. Apa kita juga akan merayakan ulang tahun Shaka disana, gimana menurutmu Ra ?", tanya Yoga meminta pendapat dariku.


Tidak buruk juga merayakan ulang tahun ke 17 di kebun bunga milik nenek yang dulu ingin melenyapkannya. Semoga saja di alam sana Bu Herni tidak marah, dan bisa menerima kehadiran kami di Fila dan juga kebun bunga miliknya.


" Boleh juga, besok kita buat kejutan, minta pekerja di kebun menyiapkan tempat, dekorasi simpel dengan bunga-bunga disana, dan juga kue ulang tahun".


Yoga mengangguk dengan bersemangat. " Aku bersyukur karena bisa bersama-sama merayakan ulang tahun ke 17 putra kita bersama-sama seperti ini, semoga saja acara besok berjalan lancar".


" Aamiin", ucapku dalam hati.


" Sekarang kita tidur, biar besok bangunnya nggak kesiangan", ujarku.


Namun Yoga justru masuk kedalam selimut yang menutupi tubuhku, dan tangannya mulai bermain-main di dalam sana, membuat tubuhku reflek meliak-liuk karena sentuhan tangan Yoga.