Healing

Healing
39. Memulai Perjalanan



" Ra.... selama ini aku nggak perhatiin, atau kamu yang sengaja menutupinya dengan menggunakan baju size besar terus, ternyata ukuran cup bra kamu itu gede juga, beruntung sekali calon anak kita kelak, pasti akan sangat kenyang dan melimpah ASI yang dihasilkan dari isi cup sebesar itu".


Aku menatap Bian yang sedang cengengesan dengan sorot mata yang marah. Bisa-bisanya Bian mengatakan hal se fulgar itu tanpa rasa malu.


" Sori...sori... jangan marah begitu dong, tapi sejak aku lihat secara langsung kemarin, sebagai laki-laki, aku semakin merasa beruntung karena diberi istri yang perfect seperti kamu, hehehehe", Bian terkekeh sendiri, sambil terus membahas bagian dari bentuk fisikku yang tersembunyi, yang kemarin berhasil dilihatnya. Bukit kembar yang padat dan kencang, seperti itu yang dikatakan Bian.


Bian semakin berani membahas tentang sesuatu yang menjurus ke 'hal itu', mungkin karena kemarin tanpa malu-malu aku memuaskan keinginannya. Bian merasa seolah kami sudah tidak ada batasan, dan sudah seperti sepasang suami istri yang sesungguhnya.


Aku sudah melihat miliknya keseluruhan, sampai sudah melakukan hal memalukan yang seharusnya belum aku lakukan, karena memberi kepuasan batin Bian meski tanpa berhubungan badan.


Bian juga sudah melihat bagian tubuhku yang selama ini tersembunyi, meski hanya baru sebagian, karena belum ku perlihatkan bagian intinya. Sengaja belum ku perlihatkan, karena khawatir tidak bisa berhenti jika yang satu itu sudah di kasih tunjuk.


" Apa mau lihat lagi?", tanyaku sambil melotot. " Sabar ya calon suamiku, kemarin kamu bilang cuma sekali dan akan melakukannya lagi saat kita sudah menikah sebulan lagi, jadi tolong dipegang kata-kata kamu".


Aku sengaja meledek Bian, namun justru Bian tertawa lepas sambil mengecup keningku tiba-tiba.


" Kalau cuma pegang-pegang boleh dong?, kata kamu cium dan peluk boleh", gumam Bian.


" Tergantung mood aku dong, kalau kamu nyebelin ya tentu saja nggak boleh, kalau mood aku lagi baik, baru... ".


" Oke.... mulai sekarang aku akan membuat mood kamu terus baik, biar aku di bolehin peluk dan cium kamu", Bian langsung memotong kalimatku yang belum selesai. Membuatku semakin manyun.


" Jangan manyun begitu dong sayang, aku kan jadi makin pengin cium kamu lihat bibir kamu yang manyun begitu, tapi kamu tetap yang paling cantik meski bibirnya lagi manyun begitu". Bian semakin menggodaku.


" Ehem....ehem...., pagi-pagi sudah ada yang lagi nge-gombal, boleh ikutan bantu packing nggak nih?, dari tadi ditungguin nggak keluar-keluar, la banget packing nya, itu si Haidar sudah sampai, dan kopi kita ber empat sudah habis, kalian berdua malah lagi asyik sendiri disini".


Utari masuk ke ruang tengah karena sejak tadi menunggu aku dan Bian yang tidak keluar keluar. Sebenarnya packing sudah selesai, tapi aku dan Bian sedang asyik ngobrol dan saling menggoda.


" Sudah jam 7 nih, buruan packing nya, nanti ketinggalan pesawat, gagal sudah semua rencana kita". Riko ikut-ikutan masuk dan protes karena kami berdua kelamaan.


" Iya bro, nanti kamu yang bawa mobil dulu ya Ko, aku masih pengen istirahat, semalam nggak nyenyak tidur, jadi ngantuk banget, mau merem sebentar di mobil".


Bian mengatakan dirinya tidak bisa tidur semalam...kenapa Bian tidak bisa tidur?, apa dia sudah melakukan sesuatu yang salah sehingga terus kepikiran dan tidak bisa tidur?.


Tentu saja dia tidak bisa tidur, saat maghrib habis mendapatkan servis dariku, Bian langsung pules saking menikmati sensasi membuncah yang baru pernah di rasakan nya.


Malamnya pasti Bian terus terngiang dengan semua kenikmatan yang dia dapatkan dari perlakuanku kemarin, jadi tidak aneh jika dia tidak bisa tidur, mungkin bahkan dia menginginkannya lagi, sayang dia belum berani memintanya karena kami belum resmi menikah.


Itulah mengapa kemarin aku meninggalkan nya sendiri yang masih terkapar lemas di atas tempat tidurnya. Aku lebih memilih pulang naik ojek, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kalau aku masih berada di rumah Bian semalam, dan tidur disana, aku jamin semalam kami berdua sudah melakukannya.


" Ya sudah buruan keluar, nanti biar aku yang bawa mobil dulu", Riko keluar bersama Utari yang memberi kode padaku agar buruan keluar.


Kami berenam masuk ke dalam satu mobil, yaitu mobil milik Bian, Mobil milik yang lain di tinggal di garasi rumah Bian, dan ada juga yang di depan rumah.


Ya, baru mulai perjalanan Bian masih duduk dan hanya menyandarkan kepalanya di bahuku, namun saat perjalanan sudah beberapa menit, Bian mulai bertingkah manja dengan tiduran di pangkuanku. Yang lain tidak ada yang berani berkomentar, karena kami memang sebentar lagi menikah. Hanya tiduran dipangkuan bagi mereka adalah hal yang wajar apalagi ada bantal kecil yang ku taruh diatas pahaku, untuk bantalan kepala Bian.


Hanya saja aku merasa tidak enak dengan yang lain, karena Yoga dan Utari tidak bersikap seperti kami, mereka justru diam di sepanjang perjalanan, tidak kasak kusuk seperti Bian yang sebelum tidur banyak bicara padaku.


Yoga hanya sekali melihat ke belakang, saat tahu sikap Bian yang sangat manja padaku, Yoga nampak kesal, tapi kekesalannya hanya di pendam sendiri dengan terus diam di dalam mobil.


Justru aku jadi merasa kasihan pada Utari yang lagi-lagi mendapat perlakuan dingin dan acuh dari Yoga, kenapa Yoga harus bersikap seperti itu pada calon istrinya yang sangat baik?. Apa benar dia masih mengharapkan aku?, tapi bagiku itu adalah hal yang paling tidak mungkin. Tidak ada kamus dalam hidupku untuk kembali bersama Yoga.


" Kamu kenapa sih Bi?, biasanya kamu yang paling bisa atur jadwal kamu tidur, kok bisa semalam nggak tidur?". Haidar sengaja bertanya saat mobil baru melaju, dan Bian masih duduk menyandar dipundak ku.


" Nggak papa, cuma keinget sesuatu yang menyenangkan saja, makanya susah tidur, terus teringat saat-saat itu, jadi pengen ngulang, sayangnya belum bisa".


Ucapan Bian membuat Riko dan Haidar cengar-cengir nggak jelas. Begitu juga dengan Utari yang ikutan tersenyum, hanya di tutupi mulutnya menggunakan tangan. Entah apa yang sedang dipikirkan mereka semua.


" Ra... memang sudah pernah kamu kasih ijin si Bian buat pemanasan?, sampai buat dia ketagihan begitu?, diantara kita dia yang paling nol masalah cewek, tapi malah dia yang duluan nikah. Gas pool!, dapetnya mana bening dan cantik, pantesan dari SMA sampe kuliah, nggak ada satupun cewek yang diterimanya saat ada yang melakukan PDKT. Ternyata oh ternyata, yang di ingat memang yang paling cantik dan seksi".


Bian langsung protes, " Heh.. jangan sembarangan kalian kalau ngomong. Pemanasan apanya, Raya bukan gadis seperti itu, makanya aku minta cepet-cepet nikah, biar bisa pemanasan seperti yang kalian katakan, dan untuk masalah menolak gadis lain yang PDKT, itu karena cuma Raya yang ada di hati dan pikiranku selama ini ".


Ternyata Bian menutupi kelakuan aku kemarin, dia tidak mengatakan kalau kemarin aku memberikan servis pertama padanya. Bian memang laki-laki yang baik. Bahkan dia selalu menjadikan aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung dan dicintai.


Ku lihat Utari menatap Yoga, mungkin dia ingin Yoga untuk sekali saja mengatakan hal gombalan seperti yang di lakukan Bian terhadapku.


" Kalau bukan sama Raya terus sama siapa Bi?, muka kamu itu dilihat sekilas saja sudah ketahuan kalau kamu sudah merasakan kepuasan. Pake nutupin kelakuan kalian segala, memangnya sudah berapa kali kalian melakukannya?, hati-hati jangan sampai keenakan, nanti telat nyabut bisa bikin bunting anak orang".


Kali ini Haidar semakin menjadi, beda dengan Riko yang tak lagi banyak bicara karena dia tidak mau pulang dari pendakian dipecat oleh Bian.


" Kalian ini bicara apa sih?, ada dua perempuan di mobil ini, jangan bahas tentang hal seperti itu, nggak baik".


Yoga yang sejak tadi diam akhirnya melakukan protes, dari nada suara yang sangat ditekan itu bisa ketahuan jika Yoga sedang geram dan menahan emosinya.


" Iya, Haidar emang kadang sok tahu, seolah dirinya pernah melakukannya, padahal sama saja masih segel", ujar Bian.


" Sudah lah... aku mau tidur sebentar, kalian jangan berisik, aku ngantuk".


Bian akhirnya meringkuk di kursi dan menyandarkan kepalanya di atas pahaku, untung ada bantal kecil di belakang kami, jadi ku ambil bantal untuk mengalasi kepala Bian.


Riko, Yoga dan Haikal akhirnya mengganti topik pembicaraan dengan membahas rute untuk pendakian nanti. Aku hanya menjadi pendengar setia, karena memang tidak tahu apa yang mereka bicarakan, dan baru pernah dengar juga nama-nama daerah yang mereka sebut.


" Perjalanan menuju bandara sekitar dua jam, aku tidur dulu Ra, masih ada satu setengah jam sebelum sampai di sana. Bangunkan aku kalau sudah hampir sampai ya", itu pesan Bian saat dirinya hendak memejamkan mata, karena sudah sangat mengantuk.