Healing

Healing
118. Dilema



Ternyata Yoga bisa menahan keinginannya untuk menyentuhku, dia begitu ingin aku dan janin dalam perutku baik-baik saja, karena itulah dia rela berpuasa selama dua bulan tak berhubungan badan denganku, padahal kami tinggal serumah, dan tidur sekamar, tapi dia tidak pernah sekalipun menuntutku untuk melayaninya di atas ranjang, justru sekarang aku yang jadi mengharap dia kembali agresif dan memaksaku untuk melayaninya.


Sentuhan Yoga benar-benar sudah menjadi candu bagiku, aku merindukannya. Aku yang awalnya jual mahal dan terus menolaknya kini mengharapkan dia memaksaku untuk melayaninya bercinta lagi.


Mungkinkah ini bawaan bayi yang ada di dalam perutku?, seolah aku sangat rindu sentuhan Yoga, dan aku berniat malam ini akan merayunya terlebih dahulu. Apa mungkin aku sudah kembali jatuh cinta pada Yoga?, semudah itukah aku memaafkan segala kesalahan Yoga di masa lalu?.


Tapi jujur, tubuhku merindukan sentuhannya, aku sendiri merasa aneh dengan otakku yang tidak bisa berfikir jernih, tidak tahu malu dan tidak bisa diajak kerjasama.


Malam ini usai makan malam, aku dan Yoga duduk santai di ruang tengah, sedangkan Shaka sudah kembali masuk ke kamarnya untuk belajar.


" Apa yang kamu dan mama bicarakan kemarin?".


Kemarin memang mama dan papa datang kerumah ini, tapi baru hari ini Yoga menanyakan apa yang kami bahas, karena kemarin malam Yoga masih sibuk dengan pekerjaannya.


Sudah beberapa kali mama dan papa datang kerumah sejak aku tinggal disini. Dan kemarin mereka datang untuk membahas acara selamatan empat bulanan janin dalam perutku.


Aku yang tidak tahu menahu tentang hal itu memasrahkan semuanya pada mama bagaimana baiknya. Karena kehamilanku yang pertama tidak ada acara apapun, baik selamatan empat bulanan, atau tujuh bulanan, yang ada dulu aku ketahuan hamil, kemudian dilarang keluar rumah, dan setelah sembilan bulan aku melahirkan secara diam-diam.


Yoga pun mengangguk setuju untuk mengadakan acara selamatan saat aku memberi tahukan padanya apa yang aku dan mama bahas kemarin.


" Untuk acara selamatan seperti itu apa saja yang harus disiapkan?, berapa biaya yang dibutuhkan?, nanti aku kirim ke rekeningmu ya....".


Yoga mengambil ponsel dan tahu-tahu ada notifikasi masuk di ponselku, sudah ada transferan masuk kedalam rekeningku, dengan jumlah 15 juta rupiah. Banyak sekali yang Yoga berikan, padahal hanya acara selamatan empat bulanan saja, mungkin lima juta juga sudah cukup untuk membuat suguhan dan bingkisan untuk para tamu undangan yang turut mendoakan.


Tapi ya sudah, lebih banyak anggaran, kan lebih banyak juga yang mau ku undang untuk mendoakan. Untung saja kami tinggal di tengah kota dengan penduduk yang padat, jadi banyak tetangga yang akan di undang.


Termasuk Utari dan Bian, mereka juga harus aku undang ke acara empat bulanan nanti, dan bagaimana kabar mereka semua?, sudah lama sekali aku tidak mendengar kabar mereka. Mungkinkah Utari sudah hamil sama sepertiku?, bukankah saat pernikahanku di rumah sakit Utari mengatakan bahwa dirinya hendak pergi konsultasi ke dokter kandungan. Mungkin saja sekarang dia juga sedang hamil sama sepertiku.


" Ga.... teman-teman mu akan diundang juga apa nggak usah?", tanyaku pada Yoga.


" Undang saja nggak papa, sudah lama juga kami nggak ngumpul berempat", jawab Yoga.


" Kalau Utari, haruskah dia diundang juga ?".


Yoga menatapku sambil menghembuskan nafasnya, " Terserah kamu saja", ucap Yoga.


" Apa Utari sudah hamil juga sepertiku ?", tanyaku pada Yoga karena tiba-tiba aku mengingatnya.


Yoga hanya mengangkat bahunya, " Entahlah, aku sudah lama tidak mendengar kabar dari mereka. Sejak sering mengunjungimu ke kontrakan, aku jadi tidak pernah ikut ngumpul bersama teman-teman tiap akhir pekan".


" Bukankah menemui dan menghabiskan waktu bersama istri itu lebih baik daripada ngumpul bareng temen-temen. Apa lagi istriku itu selalu membuatku merindukannya, entah sama atau tidak yang dirasakan oleh istriku saat itu, yang penting aku selalu ingin menemuinya setiap kali merindukannya".


Yoga mulai mengeluarkan rayuannya, dan entah mengapa aku bahagia mendengarnya, sudah hampir dua bulan kami tidak bicara lama dan saling menatap seperti ini. Mungkin kemarin-kemarin Yoga sengaja memberi jarak, agar bisa menahan hawa nafsunya untuk menyentuhku. Dan waktu dua bulan itu sudah berhasil dilaluinya tanpa sekalipun menyentuhku. Dia berhasil, dan aku yang kelabakan merindukan sentuhannya.


Aku mengecup bibir Yoga dengan cepat, " Aku juga merindukanmu, sama sepertimu, aku ingin kau selalu ada di sampingku, karena itulah aku setuju untuk tinggal bersamamu di rumah ini".


Yoga tersenyum dengan sangat lebar, dan langsung memelukku. " Kita ke kamar sekarang?, sudah dua bulan juniorku di biarkan nganggur. Malam ini aku mau balas dendam dengan melakukannya tiga ronde sekaligus", ucap Yoga sambil menunjukkan tiga jarinya dengan begitu bersemangat.


Bukan hanya Yoga yang merindukan pergumulan panas antara kami berdua, aku juga merasakan hal yang sama. Kami masuk ke kamar dan langsung mengunci pintu kamar kami. Bahkan masih di depan pintu Yoga sudah menerjang ku, memepetkan tubuhku ke tembok kamar, dan mulai melahap bibirku dengan sangat rakus. Meski aku kewalahan, tapi aku menyukainya. Aku sangat menikmatinya, inilah yang sedang aku inginkan.


Bukan hanya omong kosong, Yoga membuktikan dengan mengajakku bercinta hingga tiga kali kami mencapai *******. Aku dibuat sangat puas dan bahagia olehnya. Yoga begitu kuat dan perkasa, seolah tenaganya tidak ada habisnya.


Untung saja sekarang aku tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan rumah dalam bentuk apapun, jadi setelah malam panjang penuh dengan cinta yang ku habiskan bersama Yoga, esok harinya aku hanya rebahan di kamar untuk mengembalikan tenagaku.


Bahkan Yoga kembali memintaku untuk melayaninya siang hari. Dan aku setuju saja untuk berhubungan badan lagi. Entah mengapa semenjak aku ketahuan hamil dan pindah ke rumah baru, justru perasaanku jadi menggebu-gebu pada Yoga. Aku jadi tambah betah di sampingnya, dan berlama-lama bersamanya, meski hanya untuk ngobrol dan membicarakan hal-hal yang tidak penting, asalkan bersama dengan Yoga, aku merasa bahagia.


Dan anehnya saat hari Senin Yoga mengatakan padaku jika dirinya harus keluar kota dan harus menginap dua malam di luar kota untuk mengurus pekerjaannya, aku merasa tidak rela. Semenjak aku tinggal di rumah baru, tidak ada malam yang ku lalui tanpa Yoga, dan aku seperti tidak rela saat dia berpamitan untuk tidur di hotel karena harus mengurus bisnisnya.


" Apa harus menginap di luar kota?, apa tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya di kota ini saja?, aku akan sulit tidur jika tidak ada kamu di sampingku", rengek ku saat Yoga memberitahukan bahwa dirinya hendak menginap di hotel.


Justru Yoga tersenyum dengan lebarnya. " Aku suka cara kamu bermanja-manja padaku seperti sekarang ini, tapi ini urusan pekerjaan, dan proyeknya ada di luar kota, setelah dua hari aku akan langsung pulang ke rumah dan menemui mu, aku janji, jadi beri aku ijin untuk menginap di luar kota selama dua hari, jangan membuatku jadi bingung harus tetap disini atau pergi menyelesaikan urusan bisnis ", ucap Yoga sedang berusaha membuatku merelakan kepergiannya.


Dan akhirnya mau tidak mau aku pun memberi Yoga ijin ke luar kota, meski dalam hati masih terasa berat dan tidak ikhlas membiarkan Yoga tidak pulang selama dua hari.


Sepertinya aku sudah kembali mencintai Yoga seperti dulu, aku merasa berat untuk melepaskan kepergiannya, dan selalu ingin berada di sampingnya.


Dua hari berjalan sangat lambat karena Yoga tidak pulang ke rumah. Shaka sesekali menyapaku dan kembali lagi ke kamarnya. Rasa canggung antara aku dan Shaka masih sangat sulit untuk dihilangkan.


Hingga waktu makan malam tiba, kami makan malam berdua, usai makan malam Shaka mengatakan padaku jika besok di sekolahnya ada pertemuan wali murid untuk membahas tentang penyelenggaraan study tour.


" Biasanya ayah akan datang ke sekolahan tiap kali ada pertemuan wali murid. Tapi karena ayah sedang sibuk dan berada di luar kota, apa kakak mau menggantikan ayah, menjadi wali ku ke sekolah?".


Aku menatap Shaka yang sedang bicara padaku tanpa menatap ke arahku, tatapan matanya justru fokus pada perutku yang sudah mulai terlihat membuncit.


" Jam berapa undangan rapat di sekolahan?", tanyaku tanpa basa-basi. Aku memang walinya, bahkan aku wali yang paling berhak atasnya, akulah ibu kandungnya, aku yang melahirkan dan membesarkannya.


" Jam 10 sudah sampai disana, ini undangannya", Shaka mengeluarkan sepucuk surat dari saku celananya dan memberikannya padaku.


" Kalau sampai di sekolahan kakak merasa bingung, telepon aku saja, disana kakak tidak perlu melakukan apapun, tinggal duduk manis dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh kepala sekolah".


Shaka berdiri dan berjalan menuju kamarnya, namun dia berhenti dan menengok ke arahku sejenak sambil berkata, " Terimakasih ".


Hanya itu yang Shaka katakan, dia kembali berjalan menuju ke kamar lagi.


Esok harinya aku menepati janjiku untuk datang ke sekolahan Shaka, ini memang sekolah barunya, semenjak gagalnya pernikahanku dan Bian dulu, Shaka mulai tinggal bersama Yoga sekaligus pindah sekolah ke SMP yang sama dengan tempat Yoga dulu sekolah.


SMP ini terletak tidak terlalu jauh dari rumah kami, aku pergi ke sekolahan Shaka diantar supir suruhan Yoga, semalam aku memang bercerita tentang undangan dari sekolahan Shaka, dan meminta ijin pada Yoga untuk pergi ke sekolahan.


Yoga mengijinkan, dan mengirimkan seorang supir untuk mengantar aku ke sekolahan Shaka, padahal jaraknya tidak terlalu jauh, jalan kaki saja 20 menit sampai. Tapi Yoga tidak mengijinkan aku berjalan sendirian, takut aku kecapekan katanya.


Dan saat aku sampai di sekolahan Shaka, sudah banyak mobil-mobil mewah lainnya yang terparkir di depan sekolahan.


Aku jadi merasa minder dan tidak percaya diri untuk masuk kedalam. Khawatir jika kedatanganku hanya akan mempermalukan Shaka. Haruskah aku masuk kedalam, atau lebih baik meminta supir untuk putar balik dan pulang?. Aku merasa dilema.