
Shaka pov
Akhirnya waktu yang ku tunggu-tunggu telah tiba, hari dimana aku berhasil menjadi juara umum di kelulusan tahun ini. Memang sudah tidak aneh jika aku menjadi juara umum, karena tiap tahunnya akulah yang menjadi juaranya. Namun ini adalah tahun kelulusanku, aku berusaha keras untuk bisa kembali menjadi juara umum, karena sebenarnya mempertahankan itu lebih sulit ketimbang meraih, itu menurutku pribadi.
Tujuanku tidak lain agar aku mudah masuk ke perguruan tinggi manapun, dengan nilai ujian yang bagus. Selama ini lumayan lama aku merasa bimbang untuk memutuskan dimana aku akan melanjutkan kuliah, dengan mempertimbangkan hal ini dan itu. Akhirnya aku putuskan kuliah di Jogja.
Bukan hal mudah untuk bisa di terima di universitas incaranku, mungkin aku termasuk orang yang beruntung karena bisa masuk ke universitas itu dengan jalur prestasi, sehingga besok aku bisa mengurus hal lain setelah menyerahkan berkas-berkas persyaratan yang sudah ku kirimkan fia email beberapa waktu lalu.
Aku langsung berangkat ke Jogja esok hari setelah pengumuman kelulusan sekolah, sesuai dengan apa yang sudah aku rencanakan jauh-jauh hari.
Mungkin saat masih SD dulu, tidak pernah aku membayangkan akan menjalani hidup seperti saat ini. Pergi ke kota lain untuk kuliah, karena mentok-mentoknya, jika kehidupanku masih seperti dulu, mungkin sama seperti kak Juna yang hanya bisa lulus SMA, dan akan bekerja di pabrik atau PT. Karena dulu seperti itulah kehidupan yang aku bayangkan.
Sekarang aku harus mulai membuat rencana baru untuk kehidupanku kedepan. Aku akan meninggalkan rumah, dan tinggal jauh dari keluargaku. Aku selalu berharap ibu akan selalu mendapatkan kebahagian dimana pun dia berada.
Semoga saja cinta ayah untuk ibu tidak akan pernah luntur. Aku berharap ayah akan selalu bersikap hangat dan memprioritaskan ibu seperti yang selama ini dia lakukan.
Sepulang dari sekolahan, ibu mengajakku pergi ke salah satu mall besar yang ada di kota kami.
" Karena besok kamu langsung berangkat ke Jogja, maka kita harus gerak cepat, belanja keperluan kamu disana, ibu yakin kamu nggak kepikiran untuk melakukan hal ini. Yang pertama kita beli perlengkapan mandi, kemudian perlengkapan makan".
Ibu langsung mengambil keranjang belanjaan dan mengajakku memilih berbagai macam kebutuhan ku, sesuai seleraku.
Sabun mandi, deterjen, shampo, sikat gigi, pasta gigi, sabun cuci muka, deodorant, dan berbagai macam kebutuhan pribadiku lainnya. tak lupa Ibu juga membelikan satu set perlengkapan alat makan.
" Kita beli alat makannya satu set saja, yang penting buat kamu, biar nggak kebanyakan barang bawaan, saat disana nanti kalau habis makan langsung di cuci peralatan makannya, biar pas mau dipakai lagi sudah bersih".
Ibu terus bicara memberi tahu ini dan itu segala macam. Padahal aku juga sudah tahu semua hal itu, memang aku belum pernah ngekos, tapi aku paham apa yang harus aku lakukan nantinya.
Tapi ku biarkan ibu terus bicara, mungkin suasana seperti ini akan aku rindukan saat di Jogja suatu hari nanti.
Selesai belanja, ibu mengajakku untuk makan di salah satu kedai yang masih berada di mall ini, kami masuk kedai cepat saji, karena saat ini sudah jam 2 siang, perutku sudah mulai keroncongan, tak terasa hampir 1 jam kami berbelanja kebutuhan ku.
Ibu mengajakku duduk di salah satu meja kosong yang ada di dekat jendela kaca lebar yang ada di kedai itu, nampak masih banyak kendaraan yang berlalu lalang di luar sana. Ini memang jam pulang sekolah, jadi wajar saja lalu lintas lebih ramai.
" Raya... benar kan ini Raya?".
Tiba-tiba saja salah satu pengunjung di kedai itu menyapa ibuku.
Aku dan ibu bersama-sama menatap ke arah perempuan gembul yang baru saja menyapa ibu. Dia sepertinya sepantaran dengan ibu, mungkin saja teman masa kecilnya.
Tapi ibu nampak bingung, dan menatap lumayan lama wajah perempuan itu, dan sepertinya ibu belum menemukan jawaban.
" Aku Kiki, masa kamu lupa, teman SMP, kita kan hampir tiap hari berangkat dan balik bareng Ra...".
Ibu nampak menatap perempuan itu dari atas sampai bawah.
" Kiki Amelia?, sori sori... aku pangling banget lihat kamu yang sekarang", ucap ibu menyalami perempuan yang bernama Kiki dan mereka berdua saling berpelukan.
" Tapi wajar juga sih, kita kan sudah nggak ketemu berapa tahun coba?, terakhir aku lihat kamu saat aku main kerumah, pas kamu bilang mau berhenti sekolah dulu, sepertinya hampir 20 tahun", gumam tante Kiki.
" 18 tahun, yang benar sudah 18 tahun kita tidak bertemu", ujar ibu dengan sangat yakin.
Mungkin saja dulu ibu berhenti sekolah karena dia hamil aku. Pantas saja selama ini ibu tidak punya banyak teman, dua sengaja menutup diri dari lingkungan.
" Mau makan juga?, sini duduk disini bareng kami, kenalin ini putraku", ibu memperkenalkan aku dengan sangat percaya diri. Padahal itu berarti ini sedang mengungkap apa yang dia rahasiakan dari teman-temannya selama ini.
" Oh ya?, jadi kamu nikah muda Ra?, maaf ya aku nggak tahu kabar apapun semenjak lulus SMP aku langsung ikut orang tuaku ke Kalimantan, mereka berdua di terima kerja diperkebunan sawit, makanya aku hilang kontak dengan semua teman-teman kita".
" Apa kamu menikah dengan Yoga?, atau kamu menikah dengan laki-laki lain?, bukankah terakhir kita ketemu kamu bilang kalian berdua sudah putus?", tanya Tante Kiki sambil duduk di kursi yang berada di sebelah ibu.
Ibu hanya mengangguk. " Dia memang anaknya Yoga, dan sekarang aku jadi istrinya Yoga", jawab ibu tanpa ragu..
" Waaah.... ini sih keren banget Ra, aku sudah feeling sih kalau kalian berdua berjodoh.. si Yoganya ngebet banget sama kamu, buktinya dulu kalian sudah putus saja dia masih sering datang ke sekolahan kita, pasti nyariin kamu tuh, aku yakin, habisnya mau nyari siapa lagi, cuma kamu kenalan dia di sekolah kita".
Aku sengaja berdehem agar Tante Kiki tidak terus bernostalgia dengan ibu.
" Oh iya, hai cowok ganteng, bisa yah Raya bikin anak mirip banget sama Yoga begini, cakep banget. Sayang putri Tante baru 8 tahun, kalau seumuran atau setidaknya jarak 5 tahun, pasti kamu Tante minta buat jadi menantu Tante".
Aku hanya tersenyum mendengar gurauan Tante Kiki yang sejak tadi terus bicara.
Untung saja makanan dan minuman datang, sehingga kami makan siang dulu, setidaknya suasana jadi agak hening meski hanya beberapa menit.
" Kamu nggak ngajak anak kamu?, maksudku kamu ke sini sendirian?", tanya ibu pada Tante Kiki.
" Iya, aku sengaja ke sini buat nyari perabotan buat rumah baruku. Kami baru kembali dua hari yang lalu dari Kalimantan. Aku dapat suami orang Kalimantan, tapi sekarang dia dipindah di perusahaan pusat yang ada di Jawa, makanya kami sekalian pindah, dan aku minta beli rumah di daerah sini yang dekat dengan perusahaan dan dekat dengan rumah orang tuaku dulu. Berharap bisa kembali bertemu dengan teman-teman masa kecilku. Dan benar kan, aku ketemu sama kamu", ucap Tante Kiki begitu ceria.
" Kapan-kapan mampirlah ke rumah kami, nanti aku kasih alamat rumahku, soalnya Shaka, putraku ini sudah mau berangkat ke Jogja buat kuliah, mungkin aku akan kesepian dan butuh teman untuk sekedar ngobrol".
Ibu menepuk lengan tanganku seolah sangat bangga memberitahukan jika aku diterima kuliah di Jogja.
" Jadi sudah mau kuliah?, memangnya umuran berapa putramu ini?, aku kira baru mau masuk SMA, ternyata sudah lulus?".
Aku hampir saja tertawa saat Tante Kiki mengatakan jika dia mengira aku baru lulus SMP, apa wajah ku masih terlihat semuda itu?, seperti ABG labil yang belum punya KTP?. Padahal aku sudah 18 tahun, jika dibandingkan dengan ayah, saat itu ayah sudah punya putra yang berumur 4 tahun saat seusiaku.
" Aku memang punya anak masih sangat muda Ki, ceritanya panjang, kapan-kapan saja ceritanya, sekarang aku sama Shaka mau pulang dulu, sudah cukup lama kami disini, belum lagi aku pergi dari rumah sejak pagi tadi, menghadiri pertemuan wali murid di sekolah Shaka".
" Khawatir putriku mencari-cari ku, aku sudah punya dua anak, yang satu masih kecil baru 4 tahun, tidak aku ajak, di rumah sama mamaku".
Kiki mengangguk paham, " Aku juga sedang program hamil lagi, sudah saatnya putriku dikasih adik, sudah 8 tahun dan sudah bisa mandiri, makan mandi sendiri, sudah saatnya aku nambah momongan", ujar Tante Kiki sambil cekikikan.
" Sampai ketemu di lain waktu ya Ki, salam buat keluarga kamu di rumah", pamit ibu.
Tante Kiki juga mengatakan hal yang sama, titip salam untuk ayah Yoga dan juga untuk mama papa.