
Shaka Pov
" Kamu rencana mau melanjutkan kuliah di mana Ka?. apa sudah memilih Universitas yang akan kamu masuki?, pastinya kamu tidak bingung dan takut tidak diterima, sama sepertiku, pasti sudah ada beberapa universitas yang mengirimkan surat dan menawarkan beasiswa untuk siswa berprestasi sepertimu", tanya Adel.
Ayahku memang mengundang Ayah Adel beserta keluarganya kerumah, entah apa yang direncanakan ayah. Tapi aku sangat yakin ayah merencanakan sesuatu. Karena ini kali pertama ayah mengundang orang asing ke rumah kami.
Adel memang selama ini menjadi saingan terberat ku di sekolah, tapi aku selalu berhasil mengalahkannya, sampai kami sama-sama kelas 12. Satu tahap lagi hingga aku bisa dinyatakan menang mutlak darinya. Ujian akhir yang akan menentukan siapa juara yang sebenarnya.
Sejak tadi aku memang memilih untuk bermain-main bersama Syifa, karena hari ini mama tidak datang ke rumah. Mama dan Papa sedang pergi umroh, dan hanya ada Kak Juna yang tinggal di rumah sendirian.
Aku memang memanggil Kak Raya dengan sebutan 'ibu', karena memang dia adalah ibu kandungku. Tapi aku tidak merubah panggilanku pada Mama, Papa, dan Kak Juna, aku masih memanggil mereka dengan sebutan yang sama seperti dulu. Bagiku rasanya lebih dekat dengan sebutan yang dulu, dari pada merubah menjadi nenek, kakek, dan Paman.
Saat aku bermain-main dengan Syifa, Adel diam-diam mendekat ke arah kami. Syifa yang belum pernah melihat Adel tentu saja langsung menjauh saat di ajak bersalaman.
Syifa berlari mendekat ke arahku dan minta di gendong. Syifa terlihat tidak terlalu menyukai Adel, aku tidak tahu kenapa, tapi itu lebih baik, dari pada Syifa nemplok ke gadis yang menjadi rival ku itu, lebih baik seperti ini.
Namun Adel tidak menyerah, dia tetap mendekat dan mengajakku ngobrol, seolah kami adalah teman dekat. Padahal meski.tiga tahun kami satu kelas, kami tidak sedekat itu saat di sekolahan. Aku tidak suka bergaul dengan teman perempuan. Sengaja aku menjaga jarak dengan kaum perempuan, agar tidak menimbulkan banyak masalah di kehidupanku.
Adel bertanya ini dan itu, hampir semua pertanyaan dia sampaikan, dan aku hanya menjawab seperlunya.
Kecuali pertanyaan terakhirnya yang menanyakan aku ingin melanjutkan pendidikan di mana.
" Aku ingin kuliah di tempat yang jauh, dimana aku bisa belajar hidup mandiri, tanpa ada yang tahu siapa aku, siapa orang tuaku, dan bagaimana latar belakang keluargaku. Aku ingin berteman dan mengenal orang-orang yang tulus dan ingin dekat denganku karena apa adanya aku".
Sempat aku melihat Adel tertegun, namun hanya sesaat, karena kemudian kami di panggil ibuku untuk makan siang bersama.
Di meja makan suasana tenang, tak ada yang bersuara, kecuali Syifa yang masih sesekali meminta tolong untuk di ambilkan lauk dan sayur.
Setelah makan selesai barulah ayah menanyakan hal yang menurutku cukup aneh pada Adel.
" Apa Adel di sekolah dekat dengan Shaka?. Om lihat kalian berdua ngobrol lama tadi".
Adel hanya tersenyum, tapi dia menggelengkan kepalanya. Syukurlah dia tidak berpura-pura dekat denganku di depan keluarga kami. Karena memang begitulah yang sebenarnya, kami hanya teman satu kelas, tidak pernah main bersama.
" Shaka itu tipe yang cuek sama temen cewek Om, dia punya banyak teman, tapi temannya cowok semua. Adel tahu banyak teman cewek di sekolah yang sering datang ke kelas dan membawa bingkisan ataupun hadiah untuk Shaka. Tapi sama Shaka nggak pernah di lihat isinya Om, sama Shaka langsung di kasihkan ke Anas, kalau nggak ke Galih, temen yang kemarin bareng Adel nengokin Tante di rumah sakit".
Si Adel ini selain menyebalkan, ternyata dia tukang ngadu juga. Membuatku semakin tidak menyukai sikapnya.
Untung saja usai makan, keluarga Adel berpamitan untuk pulang. Jika tidak aku tadinya sudah berniat hendak pergi dari rumah.
Siang hari tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Memang sudah memasuki musim penghujan, makanya beberapa hari ini hujan bisa turun dengan tiba-tiba, begitu saja tanpa aba-aba mendung terlebih dahulu.
Tak lama kemudian pintu kamarku di ketuk, dan masuklah Kak Juna dengan lengan tangan yang sedikit basah. Mungkin dia datang membawa motor, dan hanya memakai mantel pendek, sehingga bagian lengannya agak basah.
" Habis ada tamu Ka?, tumben banget rumah ini kedatangan tamu.... seumur-umur baru kali ini aku melihat ada tamu datang ke rumah ini".
Kak Juna mengelap lengannya dengan handuk ku yang ada di kamar mandi, kemudian ikut rebahan di sampingku.
" Tamu Ayah, Kak Juna tumben hari Minggu libur?, biasanya hari minggu bengkel tetep buka?, apa karena mama dan papa nggak ada, kak Juna jadi malas-malasan?".
Sekarang Kak Juna memang sudah tidak bekerja di rantau lagi, sudah beberapa bulan yang lalu dia mulai merintis usaha bengkel. Tentu saja bekerja sama dengan ibuku sebagai penanam modal. Meski Kak Juna sudah punya cukup banyak tabungan. Tapi untuk membuka bengkel mobil yang sekaligus menyediakan sparepart nya, Kak Juna masih belum mampu untuk berdiri sendiri. Karena itulah ibuku menawarkan kerja sama dengan nya.
" Bengkel buka, lagi ramai malahan... tapi kan sudah ada pegawai kakak di bengkel, Kakak lagi kurang enak badan, makanya kakak ke sini yang ada temannya, di rumah sendirian. Kakak habis minum obat, mau numpang tidur disini".
Setelah menjelaskan, Kak Juna benar-benar langsung tidur, mungkin saja dia merasa sangat ngantuk, atau mungkin efek obat yang diminum membuatnya ngantuk dan langsung tidur dengan mudahnya.
Aku mengecek ponsel Kak Juna yang di letakkan di sampingku, sebenarnya tidak sengaja, hanya penasaran karena tadi menyala, dan ada pesan masuk yang isinya tidak sengaja aku baca.
Sepertinya Kak Juna sedang pendekatan dengan seorang gadis, di layar ponsel kontak orang yang mengirim pesan diberi nama 'Bungaku', dan pesan yang tak sengaja ku baca bertuliskan.
" Semoga Kakak segera sembuh setelah minum obat, jangan lupa makan yang teratur, dan istirahat yang cukup biar nggak kecapekan".
Bukankah kalimat itu terkesan begitu perhatian dan romantis. Atau mungkin karena aku tidak pernah berkirim pesan dengan teman perempuan seperti itu. Belum saatnya, bagiku dekat dengan perempuan hanya akan menghambat prosesku menuju sukses.
Aku hanya belajar dari kisah masa lalu ayah dan ibu. Aku tidak mau salah langkah seperti mereka berdua, dan akan ada Shaka lain yang terlahir ke dunia ini. Cukup aku saja yang merasakan seperti apa bingungnya berada di posisi yang serba salah.
Bagaimana tidak serba salah, aku tidak bisa menyalahkan orang tuaku yang jelas-jelas sudah bersalah karena melakukan hubungan terlarang dan terbentuklah aku. Hasil dari kesalahan yang dilakukan ayah dan ibuku.
Benar aku menyukai Kak Bian, dan menginginkannya untuk menjadi suami Kak Raya, tapi itu dulu, saat aku masih memanggilnya dengan sebutan kakak Raya. Karena sekarang Dia sudah menjadi ibuku, dan hanya ayahku lah yang boleh bersatu dengan ibuku.
Satu lagi yang membuatku merasa serba salah. Di awal mengetahui kisah masa lalu ku, sebenarnya aku ingin sekali marah pada ayah, tapi tidak ku lakukan hal itu. Akal sehatku melarangku untuk memarahi ayah kandungku.
Aku beri penghargaan yang tinggi karena ayahku yang seorang pebisnis muda, sukses, tampan, dan dikagumi banyak perempuan, justru tetap menaruh hatinya pada ibuku. Ibuku yang bukan siapa-siapa, wanita dengan sejuta kekurangan.
Andai saja mau, ayah sudah pasti akan mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari ibuku. Tapi tidak ayah lakukan. Saat memikirkan hal itu aku jadi berfikir, dari dulu sampai sekarang, ayah memang benar-benar mencintai ibu, dan aku adalah hasil buah cinta mereka. Aku terbentuk berlandaskan rasa cinta antara ayah dan ibuku. Bukan karena kesalahan semata. Karena itulah aku bisa memaafkan ayah. Aku bisa menerimanya dengan tangan terbuka, meski belasan tahun lamanya dia menelantarkan aku.
Atau lebih tepatnya, ayah belum berani bertindak tegas waktu itu. Ayah belum punya power seperti sekarang. Sekarang siapa yang tidak mengenal ayahku, pembisnis muda, sukses, dengan istri yang cantik, keluarga yang bahagia. Karena itulah banyak yang ingin mendekatiku lantaran aku anaknya ayah.
Tinggal beberapa bulan lagi aku sudah selesai di SMA, dan setelah itu seperti rencanaku, aku ingin belajar mandiri, aku ingin mencari teman yang benar-benar tulus ingin berteman denganku karena apa adanya aku, bukan karena aku ini anak ayah Yoga.
Dan satu-satunya cara aku harus pergi dari rumah ini, dan belajar mandiri di tempat lain, dimana orang-orang tidak mengenal ayahku.