Healing

Healing
79. Perubahan Sikap



" Pastinya... memang harusnya seperti itu, masa iya sudah jadi istri bos, masih disuruh kerja di restoran sendiri. Ganti status, harus ganti jabatan dong... tadinya karyawan jadi istri pemilik restoran. Tadinya di suruh untuk mengerjakan ini dan itu, setelah menikah besok sudah bisa menyuruh yang lain untuk mengerjakan ini dan itu", ujar Utari dengan ekspresi menggebu.


" Justru aku berniat untuk menjadikan Raya sebagai bos di restoran baru yang akan aku dirikan. Soalnya di restoran sekarang, semua karyawan nya teman-teman Raya dan sudah akrab. Pasti Raya akan merasa sungkan menyuruh ini dan itu pada teman yang sudah akrab. Sedangkan jika di restoran baru, dengan karyawan-karyawan baru, Raya tidak akan sungkan jika posisinya langsung menjadi bos di sana".


Bian menghentikan obrolannya saat pramusaji di restoran itu menyajikan makanan pesanan kami. Ada satu nampan penuh dengan piring yang berisi olahan seafood diatasnya, ternyata Utari memesan begitu banyak makanan, dari kerang hijau saus padang, gulai cumi, kepiting saus tiram, gurame bakar, nasi goreng seafood, sotong bakar, udang krispi, dan capcai seafood. Semuanya makanan dari olahan hasil laut. Dari aromanya memang sangat enak, semoga saja rasanya enak seperti yang dikatakan oleh Utari.


Aku hanya berpikir diet macam apa yang Utari terapkan, jika makanan yang dipesan olehnya sebanyak ini. Ini sih bukan diet kalau menurutku, justru penggemukan, karena makananku sehari-hari di rumah hanya nasi, sayur, dengan lauk tempe atau tahu, sesekali pakai telor. Sedangkan di depan ku sekarang tersaji bermacam-macam makanan, ini sih mirip seperti meja makan di rumah saat lebaran, mama biasanya akan masak sekitar 3 sampai 4 menu masakan, bahkan masih lebih sedikit dari makanan yang tersaji di depanku sekarang.


" Sudah tersaji semuanya, sekarang tinggal kita makan.... sudah pada lapar sejak tadi kan?, ngobrolnya di lanjut lagi nanti", ucap Utari sambil mengambil piring untuk Yoga dan untuk dirinya.


Aku juga mengambil piring dan ku isi nasi putih untuk Bian, biarlah dia memilih sendiri lauk yang di inginkan, karena terlalu banyak lauk, membuatku justru bingung mau mengambil yang mana. Takutnya yang aku ambil justru yang tidak Bian suka. Karena jujur, selama ini aku tidak tahu apa makanan yang Bian suka dan yang tidak disukainya.


Beda dengan Bian yang sudah tahu makanan apa saja yang ku suka. Sepintas aku jadi merasa menjadi pasangan yang kurang perhatian, karena tidak tau makanan apa yang disukai calon suamiku. Sungguh memalukan.


" Kenapa cuma di tatap saja Ra?, cobain dong semuanya, asli enak, nih aku juga sudah ngambil gurame dan sotong bakar, ternyata emang rasanya mantap. Aku harus berterima kasih pada temanku yang sudah merekomendasikan tempat ini", ujar Utari.


" Kamu ingat kan dengan Sherly anak fakultas kedokteran yang seangkatan dengan ku, cewek yang dulu pernah naksir sama kamu, yang minta aku temenin pas kalian ketemuan di kafe Deluxe".


Bian nampak mengingat-ingat, namun juga sambil menatapku merasa tak enak hati. Mungkin Bian mengira aku akan marah atau cemburu karena Utari membahas tentang gadis yang naksir padanya di saat dirinya menjadi mahasiswa.


Jujur aku juga agak kaget waktu Utari menceritakan hal itu dengan entengnya, tidak memandang aku, calon istri Bian yang duduk di hadapannya. Namun aku bukan anak kecil yang akan cemburu hanya karena mendengar hal seperti itu. Aku sudah dewasa, dan setiap orang pasti punya masa lalu bersama dengan orang lain.


Aku memaklumi jika dulu, ataupun sampai sekarang, masih ada gadis lain yang menyukai Bian, itu hal yang wajar, dia tampan, berbakat, pekerja keras dan berpendidikan tinggi. Tentu akan banyak perempuan di luar sana yang dengan mudah akan menyukainya. Hal itu tidak masalah bagiku, selama Bian masih bisa memegang komitmennya mencintaiku, itu sudah cukup membuatku percaya padanya, jika dia akan tetap setia dan tidak akan mendua.


Namun mendengar ucapan Utari, Bian justru mengangkat bahunya, mengisyaratkan jika dia tidak tahu, dan merasa malas untuk membahas tentang gadis itu. Tentu saja.... apalagi ada aku disini. Bian tidak mungkin membahas tentang gadis lain di depanku. Bian menatap Utari dengan kesal, cara bicara Utari seperti anak kecil yang ceplas-ceplos tanpa di saring, tidak memikirkan perasaan lawan bicaranya dan orang-orang yang berada di sekitarnya.


" Sherly yang kasih tau tentang restoran ini, karena yang punya restoran ini sepupunya. Tapi alasan dia rekomendasikan bukan karena itu sih, melainkan karena masakan disini memang sangat enak", ujar Utari, dia kembali menyebut nama Sherly teman kuliahnya yang naksir sama Bian, padahal Bian sudah memberi isyarat dengan matanya pada Utari, tapi sepertinya Utari tidak peka, dan terus membicarakan tentang orang yang tidak ingin Bian bahas.


Aku menatap Bian yang masih merasa kikuk padaku, sedangkan Yoga nampak menarik sedikit bibirnya, seolah tersenyum karena lagi-lagi Utari membahas tentang gadis dikehidupan Bian di masa lalu.


Pantas saja Utari tetap menyukai Yoga yang sudah bersikap acuh padanya, ternyata Utari tipe orang yang tidak peka dengan isyarat dan gelagat orang disekitarnya. Aku kira seorang dokter itu bukan hanya cerdas di pelajaran, tapi di kehidupan sehari-hari juga akan peka, tapi tidak dengan Utari, sikapnya hari ini tidak mencerminkan jika dirinya seorang gadis berpendidikan.


" Lumayan sih, dari aroma dan tampilannya terlihat menarik dan melihat ekspresi kalian semua sepertinya rasanya memang lumayan enak. Tapi menurutku masih enak makanan di restoran milik Bian, atau mungkin karena aku kurang suka olahan seafood", gumam Yoga ikut bersuara.


" Apa kamu nggak suka seafood Steve?, atau kamu alergi makan seafood?", Utari bertanya sambil melihat nasi di piring Yoga yang hanya berkurang satu suapan saja. Ternyata Yoga tidak terlalu suka olahan seafood, tadi dia sempat menyendok sesuap nasi dengan capcai, namun hanya satu suap , Yoga langsung meletakkan sendoknya dengan posisi dibalik ke bawah, yang dalam ilmu table maner itu berarti dia sudah selesai makan.


Padahal nasi yang diambilkan Utari masih banyak di piring Yoga, dan itu tidak dimakannya. Seandainya aku tidak sedang jaga image, tentu nasi itu akan aku makan, dari pada mubadzir sudah di ambil, tapi tidak di makan.


Aku bisa melihat Yoga menggelengkan kepalanya. " Aku bisa makan seafood, nggak ada alergi, tapi aku kurang suka karena bau amisnya, entah sudah di beri jeruk, atau bumbu penghilang amis, bagiku tetap saja masakan itu bau amis. Kalian bertiga nikmati saja, kalau tidak habis, bisa minta di bungkus kan?, siapa tahu keluarga kalian di rumah akan senang di bawain oleh-oleh masakan hasil olahan seafood".


" Waah.... benar juga, pasti orang di rumah akan senang jika dibawakan oleh-oleh makanan olahan seafood. Apa boleh ini di bungkus jika tidak habis ?", tanyaku, karena aku tidak mau makanan yang sudah dibayar dan dengan harga yang mahal itu hanya akan di buang ke tempat sampah.


Bian menatapku, " Aku bisa beliin kamu semua makanan ini Ra, nggak perlu kamu membawa sisa makanan yang sudah kita makan", ucap Bian merasa tidak enak karena aku hendak membawa makanan sisa makan siang kami. Yang sebenarnya masih terlalu banyak jika disebut dengan sisa, karena tidak semua makanan di cicipi, hanya sedikit saja yang kami makan. Dan masih ada beberapa piring yang makanannya masih utuh.


" Bukan begitu Bi... sebenarnya aku hanya merasa kasihan pada makanan ini, sayang sekali kalau sudah dibayar kemudian hanya untuk di buang di tempat sampah. Chef yang sudah memasak ini juga pasti akan sangat kecewa jika mengetahui masakan yang mereka masak tidak dimakan, bahkan dibuang. Aku tahu dan paham karena bekerja di restoran juga, dan pernah beberapa kali mendengarkan curhatan dari teman yang menjadi koki restoran, jika sebenarnya mereka sangat sedih jika makanan yang mereka buat, tidak dimakan oleh si pemesan".


" Aku tahu kamu sangat mampu untuk membelikan semua makanan di restoran ini. Aku hanya berusaha menyelamatkan semua makanan ini, sudah itu saja", ucapku berusaha menjelaskan.


Tiba-tiba saja Yoga bertepuk tangan, membuat aku, Bian dan Utari menatapnya bingung.


" Bijaksana sekali pola pikir calon istrimu Bi.... kamu harusnya bersyukur dapat calon istri yang dewasa pemikiran nya, bisa makin sukses dan makin kaya raya kamu menikahi calon istri yang cara berpikir nya seperti Raya", gumam Yoga.


" Aku perhatikan sejak beberapa kali bertemu dan pergi bersama dengan kalian berdua, calon istri kamu itu tidak boros, dan tidak suka belanja. Mungkin kelak uang belanja darimu akan di simpannya di tabungan".


Entah sedang memuji atau menyindirku, Yoga yang jarang sekali bicara saat bersama Utari, justru sekalinya bicara, dia terus membicarakan aku. Aku merasa tidak enak pada Utari, karena sejak Yoga bersuara, Utari yang sejak tadi begitu cerewet, justru langsung bungkam dan menanggapi ucapan Yoga hanya dengan senyuman yang dipaksa.


Mungkin Utari yang sampai tadi masih menyukaiku dan banyak bicara padaku, akan berubah sikap karena ucapan Yoga barusan. Yoga memang keterlaluan, dia selalu saja membuatku terkena masalah.


Bian yang tadinya malu karena aku yang membahas tentang membungkus makanan, kini berubah sikap. Dia kini menatapku dengan lekat, sesekali menganggukkan kepalanya, entah apa yang sedang dipikirkan olehnya setelah mendengar ucapan Yoga barusan.


" Aku sudah kenyang, dan entah mengapa tiba-tiba selera makan ku menghilang. Sebaiknya kita pulang saja sekarang. Tadinya aku ingin mengajak kalian semua jalan-jalan dan bermain di pantai bersama, menikmati masa pacaran sebelum kita sama-sama berubah status setelah menikah besok".


" Tapi sepertinya mood ku mendadak berubah menjadi buruk, lebih baik kita pulang saja", ucap Utari.


Aku baru pernah melihat Utari seperti itu, jadi dia tidak suka jika Yoga memuji perempuan lain. Aku memaklumi hal itu. Mungkin jika aku berada di posisinya, aku akan merasakan hal yang sama, semisal Bian memuji gadis lain di depanku, aku juga akan merasa kesal dan cemburu.