
" Bentar-bentar Ra... Aku mau dong foto dulu sama kamu, kan belum tentu saat pernikahan kamu besok aku bisa hadir. Jadi buat menyimpan momen ini, aku mau ambil foto bareng sama kamu", ucap Utari menghentikan langkahku menuju kamar ganti.
" Ayo Steve, Bian, kalian mau sekalian foto juga sama kita kan?, buruan", Utari menarik tangan Yoga dan berdiri di sampingku. Begitu juga dengan Bian yang bergabung dan berdiri di sampingku juga.
" Tapi aneh tau, aku kan nggak pakai make up, cuma nyoba kebaya, kenapa malah foto bareng begini, kan jadi aneh", tolakku sambil mundur selangkah menjauh dari mereka bertiga.
" Aduh.... nggak papa Ra, kamu belum di make up juga sudah cantik kok, iya kan Bi?", Utari kembali meminta persetujuan Bian.
" Iya, cantik banget, calon istri siapa dulu, tentu saja cantik", tukas Bian.
Mereka bertiga ini aneh sekali, seperti anak kecil, merengek meminta berfoto. Padahal aku hanya pakai kebaya, tapi tanpa make up maupun riasan apapun.
" Ya sudah terserah kalian saja", aku akhirnya mengalah dan menuruti keinginan mereka untuk foto bersama.
" Mba tolong fotoin kita berempat ya, ambil gambar sebanyak-banyaknya", Utari menyerahkan ponselnya pada seorang pegawai butik, agar mengambil foto kami.
Lumayan banyak foto yang diambil, dengan berbagai macam gaya. Rasanya Utari begitu polos dan lugu, seperti anak kecil. Semoga saja dia tidak mengetahui kebenaran masa lalu calon suaminya di kemudian hari. Semoga saja Tuhan tetap menjadikan masa laluku dan Yoga menjadi sebuah rahasia hingga akhir hayat kami.
" Ya sudah aku mau kamu pakai kebaya ini saat akad kita nanti, nyewa juga nggak papa, soalnya aku sudah merasa sreg saat melihat kamu memakainya", ucap Bian.
Aku tersenyum tipis, akhirnya Bian menuruti kemauan ku juga. Meski sebelumnya kami sempat berdebat cukup alot.
" Habis dari sini kita jalan bareng yuk?, sepertinya seru kalau kita double date", ajak Utari, saat aku sudah selesai berganti pakaian biasa lagi.
Bian sedang mengobrol dengan pemilik butik sambil menunjuk kebaya yang aku pakai tadi. Ternyata kami mendapatkan diskon khusus, karena pemilik butik adalah kenalan dan langganan keluarga Utari dan Yoga, satu harga untuk menyewa dua baju. Satu kebaya putih itu, dan satu lagi gaun pengantin yang sangat indah berwarna gold. Dua setel baju dengan harga sewa satu baju, tentu saja dengan senang hati aku menerima.
" Nanti dulu, aku tanya Bian, dia setuju apa nggak, soalnya ini tadi kita berangkat dari restoran. Aku lagi kerja, Bian juga sama, karena hari libur ku hari Jum'at, bukan hari ini. Kemarin pas libur, kami pakai waktu liburan buat daftar ke KUA", jawabku.
Sebenarnya itu hanya alasanku saja, karena sejujurnya aku sangat malas harus pergi bersama dengan Yoga dan Utari, rasanya risih diliatin terus sama Yoga, jadi nggak bebas bergerak.
" Bi, kita double date yuk... nonton atau piknik gitu, aku tanya sama Raya, dia bilang kalian pergi kesini dari tempat kerja. Kan kamu bos nya, jadi nggak masalah kan kalo kamu dan Raya nggak balik ke restoran?", tanya Utari, dengan nada sedikit memaksa.
" Sebenarnya nggak masalah si, ada Riko juga di restoran. Dia bisa handle semuanya sendiri. Boleh juga nonton film, soalnya sejak aku dan Raya jadian, kita berdua belum pernah nonton film berdua", ujar Bian.
" Serius Ra?, kalian belum pernah nonton berdua?, wah itu sih kebangetan, soalnya sesibuk-sibuknya Steve, kami berdua sudah pernah dua kali nonton bareng. Ini sih memang hari ini kalian harus bolos kerja nih", Utari menertawakan aku dan Bian yang belum pernah nonton bareng.
Apanya yang salah dengan hal itu?, pacaran tidak harus dengan pergi nonton atau jalan-jalan di mall kan?, malah bikin boros dan capek. Mending di rumah, ngobrol santai dan pendekatan sama keluarga. Lagian buat apa nonton dan jalan, kalau tiap hari aku dan Bian selalu bertemu di tempat kerja. Nggak perlu kemana-mana, yang penting kebersamaannya.
" Ngapain nonton, ngapain jalan, kalau hanya untuk alasan ketemu. Kita berdua bisa ketemu tiap hari di tempat kerja, jadi nggak perlu nonton atau jalan-jalan dan semacamnya Ri...", ujarku menanggapi Utari yang menertawakan kami berdua.
Utari langsung berhenti tertawa, " Wah... bener juga ucapan kamu Ra, kalian hampir tiap hari bisa bareng-bareng, nggak perlu cari alasan buat ketemu. Pasti seru ya kerja bareng satu tempat sama kekasih hati. Nggak ada curiga mencurigai, soalnya tiap hari lihat kegiatannya. Nggak ada yang namanya kesal karena sehari nggak ketemu. Terus... bisa berangkat dan pulang kerja bareng. Seandainya saja Steve dulu setuju dengan permintaan ibunya yang menyuruh dia kuliah di kedokteran. Mungkin sekarang kita kerja satu tempat. Pasti menyenangkan", khayal Utari.
" Ya sudah sekarang kita mau nonton dimana nih?, aku sudah kabari Riko kalau aku dan Raya bakalan balik ke restoran agak siangan".
Utari menyebut nama sebuah mall yang ada gedung bioskop nya di sana. Aku dan Bian masuk ke mobil Bian, mengikuti mobil Yoga yang mengarah ke salah satu mall terbesar di kota ini.
Karena tidak di rencanakan dan semuanya mendadak, kami akhirnya menonton film yang akan segera di putar, meski sepertinya Utari kurang setuju karena film yang kami tonton ber genre horor. Tapi akhirnya Utari ngikut juga, meski dengan berat hati.
" Maaf ya Ri, kalau nunggu film bergenre romance seperti yang kamu mau baru akan di putar dua jam lagi, kelamaan nungguinnya. Soalnya aku dan Bian habis ini harus balik ke restoran lagi'.
Utari mengangguk lemah, " Nggak papa, sekali-kali nonton film horor, kan ada Steve yang nemenin, jadi nggak masalah", ucap Utari tersenyum dipaksa.
Saat aku, Bian dan Utari membeli tiket, Yoga pergi membeli popcorn dan minuman dingin untuk kami berempat. Kami pun masuk kedalam gedung tepat saat film akan segera di mulai.
Aku sengaja duduk di tengah, sebelah Bian dan Utari, sehingga Yoga duduk di samping Utari. Memang ini pertama kali aku nonton bareng Bian, tapi sebelumnya aku juga sudah pernah nonton film beberapa kali nemenin Rita, saat kami ada uang lebih, tentu saja bukan di tempat ini, di bioskop yang harga tiketnya lebih terjangkau.
Pemutaran film selama 2 jam lebih membuat tanganku sakit karena Utari berulang kali mencengkeram tanganku jika merasa kaget, padahal kukunya panjang-panjang, sedangkan di film ini cukup banyak since yang mendebarkan. Namun karena merasa tidak enak padaku, di tengah pemutaran film, Utari tukeran tempat duduk dengan Yoga, Yoga jadi duduk persis di sampingku.
Setelah suasana terasa agak tenang, karena tak ada lagi cengkeraman dari Utari. Penonton yang duduk persis di depan ku dan Yoga, justru melakukan french kiss cukup lama, membuatku jadi tidak bisa fokus lagi menonton film itu. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana kedua orang di depan kami menikmati ciuman mereka. Aku juga bisa melihat Yoga sempat melihat ke arahku setelah melihat kedua insan didepan kami.
Dan nggak tahu kenapa, bukannya berdebar karena lagi nonton film horor, justru saat ini jantungku berdebar lebih kencang karena duduk di antara dua pria yang paling berpengaruh dalam hidupku.
Tangan kirik ku yang terus di genggam oleh Bian sepanjang pemutaran film. Dan lengan kanan ku yang terus bersinggungan dengan Yoga tiap kali aku akan mengambil minum atau mencomot popcorn.
Harusnya aku tidak seperti ini, harusnya aku fokus nonton dan menikmati setiap pertunjukan, namun justru saat ini otakku lebih fokus pada dua insan yang sedang berciuman di depanku, dan dua lelaki yang ada di sebelah ku.
Mungkinkah Yoga juga merasakan debaran yang sama seperti yang aku rasakan saat ini?, tapi kenapa harus berdebar secepat ini, aku tidak lagi mencintainya, aku tidak lagi menginginkannya. Tapi aku merasa malu melihat adegan ciuman secara live bersama-sama dengan nya.
Perlahan kurasakan ada telapak kaki mengelus kakiku pelan dan lembut. Membuatku geli, namun aku tahan. Berani-beraninya Yoga melakukan hal ini di saat aku duduk di samping Bian, tapi keadaan gedung yang gelap memang membuat kelakuannya tidak bisa dilihat oleh Bian. Aku hanya menggeser kakiku menjauh dari sampingnya.
Apa maksud Yoga melakukan hal itu, apa dia ingin cari perkara?. Sudah ku jauhkan posisi kakiku dari posisinya, tapi karena kakinya yang panjang, dia masih saja bisa mencapai betis ku, dan kembali mengusap-usap kan jempol kakinya. Sungguh membuat aku hampir meledakan kemarahan ku, hanya saja aku masih menahan kesabaran.
Aku sempat melirik ke arahnya sambil melotot, tapi justru Yoga tersenyum puas karena berhasil membuatku marah.
Hingga lampu gedung dinyalakan saat film usai, baru Yoga menurunkan kakinya dan memijak ke lantai. Aku benar-benar sudah sangat geram dengan tingkahnya.
" Aku jadi merasa lapar habis nonton film serem kayak gini. Kita mampir makan di restorannya Bian yuk Steve", pinta Utari.
" Boleh juga, sudah waktunya makan siang, kita ke restoran Bian", ucap Yoga.
Ya Tuhan haruskah mereka mengikuti kami sampai ke restoran juga, aku sudah muak dan malas sekali terus melihat Yoga.