
Aku mematikan ponsel dan meletakkan di atas meja rias yang ada di kamarku, dan berusaha untuk tidur, namun entah mengapa aku tidak bisa tidur juga. Bayangan kejadian tadi siang bersama Bian dan bayangan kejadian bersama Yoga membuat otakku terus memikirkan mereka berdua.
15 hari lagi aku akan menikah dengan Bian, aku harap aku tidak berubah pikiran karena kebaikan yang Yoga lakukan padaku. Bagaimanapun Yoga baik karena aku sudah merawat putranya hingga sebesar ini.
Bukan... tapi bukan karena itu, Yoga memang selalu berusaha baik meski ujung-ujungnya justru membuatku menjadi kesal. Dan lagi dia juga akan segera menikah, sama denganku, entah perasaan apa ini yang muncul di hatiku. Seolah ada rasa tidak rela karena ayah dari putraku hendak melangsungkan pernikahan bersama wanita lain.
Aku ini kenapa ?, padahal aku sendiri juga akan segera menikah dengan laki-laki lain. Dan aku juga yang menyuruh Yoga untuk tidak lagi mengganggu hidupku. Tapi mengapa sekarang hatiku merasa gelisah...
Apa karena transferan sebesar 50 juta tadi aku jadi seperti ini ?, apa aku semudah itu terpengaruh hanya karena kiriman uang dari Yoga. Apa aku sama seperti perempuan lain yang materialistis?.
Tidak...tidak seperti itu, bukan karena uang itu aku jadi merasa seperti ini, tapi karena sikap Yoga dan niat baiknya yang masih memikirkan Shaka, itulah yang membuat aku menjadi seperti ini. Aku yang mengira Yoga itu pria yang menyebalkan, ternyata ada sisi baik dari dirinya.
Karena tidak bisa tidur juga aku kembali mengambil HP ku dan berselancar di dunia Maya, ku buka foto-foto saat aku mendaki di Rinjani, dan baru kusadari, di setiap waktu ternyata Yoga selalu saja melihat kearah ku. Apa teman-teman yang lain tidak mencurigai nya, atau mereka tidak sadar dengan sikap dan tatapan Yoga.
Riko dan Haidar sudah tahu kalau akulah cinta pertama Yoga, dan mereka setuju untuk tidak membahas masalah itu lagi demi kebaikan bersama. Dan aku bersyukur karena hal itu.
Mereka ber empat, semoga saja akan tetap menjadi sahabat rasa saudara hingga akhir hayat mereka. Rasanya aku sangat tidak pantas menjadi penyebab kerusakan hubungan persahabatan mereka. Dan aku tidak boleh merasa simpati sedikitpun dengan semua perlakuan Yoga padaku. Sebaik apapun sikapnya, aku harus tetap menjaga hatiku untuk Bian. Yah... Bian calon suamiku.
Aku pun tak sadar memejamkan mata dan akhirnya bisa tidur dengan lelap.
_
_
Pagi hari seperti biasanya aku berangkat ke
restoran bersama dengan Bian, Bian menjemputku agak kesiangan, membuat kami sampai di restoran juga kesiangan.
Saat aku sampai, Riko sudah memulai breefing di ruang meeting. Aku merasa tidak enak pada yang lain, tapi seperti biasa, tidak ada yang berani menegurku, karena supir pribadiku adalah bos mereka. Jika berani menyalahkan, supirnya lah yang bersalah karena terlambat menjemputku.
Hari ini ada banyak permintaan delivery order, seperti biasa, delivery order hari senin yang sangat banyak, karena hari senin adalah hari dimana semua orang sibuk beraktivitas setelah liburan akhir pekan, dan kebanyakan dari mereka sibuk mempersiapkan pekerjaan dan tidak sempat masak. Jadilah hari Senin juga begitu menyibukkan bagi karyawan restoran seperti kami.
Semua sudah mendapatkan pemberitahuan tentang pekerjaan masing-masing, aku yang datang terlambat harus bertanya pada Riko dan Riko hanya memberikan daftar tugasku mengirimkan makanan.
Ternyata ada pesanan dari perusahaan milik Yoga, aku harus bagaimana, apa iya aku kesana sekalian mengucapkan terimakasih untuk transferan uang kemari, atau aku minta tukar tugas dengan yang lain saja, tapi aku merasa tidak enak, raut wajah teman-teman yang lain saja sudah tidak menyenangkan sejak awal. Mungkin karena aku terlambat datang dan tidak ikut bersih-bersih pagi tadi.
Mau minta tukar tempat pengiriman makanan juga jadi merasa tidak enak. Ya sudah lah, akhirnya aku setuju saja dengan tugas mengirim makanan ke kantor milik Yoga.
Jam 10 aku sudah bersiap Dangan motor yang ada di restoran, teman-teman yang lain juga melakukan hal yang sama. Ada 4 tempat yang harus aku datangi satu kali jalan, dan kantor Yoga menjadi tujuan yang terakhir karena letaknya paling jauh.
Riko dan Bian juga sudah pergi sejak pagi tadi, ada pertemuan dengan sebuah perusahaan besar untuk bekerja sama menyiapkan hidangan untuk acara ulang tahun perusahaan itu.
Satu persatu ku antar pesanan para pemesan, dan tinggal satu tempat lagi ke kantor Yoga, pemesannya bukan lah sekertaris Yoga, karena namanya berbeda dari sebelumnya, mungkin salah satu karyawan Yoga yang memesan. Dan aku berharap aku tidak bertemu dengan Yoga nanti.
Aku menyerahkan pesanan pada pembeli, tak lupa beserta kwitansi bukti pembayaran. Orang itu berterimakasih sambil menatapku lekat.
" Mbak nya kok mirip sama cewek yang ada di foto yang di upload sama calon istrinya Tuan Steve ya?, benar-benar mirip, atau memang benar mbaknya orang itu?, semua karyawan selalu mengikuti postingan dari Bos muda kami, karena begitu banyak yang mengidolakan sosok CEO muda pemilik perusahaan yang sangat tampan seperti Tuan Steve".
" Banyak yang ingin bisa dekat dengan Tuan Steve, sampai berbagai macam cara dilakukan para karyawan perempuan yang begitu mengagumi nya, tapi tuan Steve itu sangat dingin dan selalu cuek, seandainya dia belum bertunangan dan hampir menikah dengan dokter gigi itu, pasti karyawati sini bakalan semangat mendekati bos muda itu".
Aku hanya mendengarkan orang itu bicara tanpa menanggapinya, mungkin orang itu memang tipe penggosip, sehingga pada orang yang baru bertemu saja diajak bergosip tentang bos nya.
" Maaf mba, saya permisi dulu, masih harus kembali ke restoran, takut di marahi sama atasan kalau kelamaan nggak balik-balik", ucapku menyetop ucapan orang itu.
" Iya mba balik saja, mba Susi memang tukang gosip, nggak bakalan selesai-selesai kalau dengerin dia bergosip", gumam karyawan laki-laki yang meja kerjanya di samping mba yang namanya Susi itu.
Aku hanya tersenyum.
" Heh Tomi, kalau ngomong biasa saja, emang situ beda apa gimana?, sama saja tukang gosip juga", protes Mba Susi pada karyawan yang duduk di meja sebelahnya.
Aku pun pergi meninggalkan kedua karyawan Yoga yang masih berdebat, mumpung mereka nggak kembali bertanya tentang aku yang mirip dengan gadis yang ada di foto bersama Yoga. Untung saja orang itu tidak kembali mempertanyakannya.
Saat sampai di depan resepsionis, aku melihat Yoga yang keluar dari lift bersama sekertaris dan seorang karyawan laki-laki yang sedang membicarakan sesuatu dengan Yoga.
" Sudah Tuan, kemarin sudah beres semuanya. Yang tuan suruh sudah saya kerjakan", ucap karyawan laki-laki itu. Aku bisa mendengar nya.
Aku sengaja berjalan cepat agar tidak berpapasan dengan Yoga, namun sayangnya karyawan laki-laki itu bisa melihat dan mengenaliku. Entah siapa orang itu, tapi dia yang memberi tahu Yoga keberadaan ku di sini.
" Nona Raya bisa berhenti sebentar!", seru pria itu sambil mengejar ku dan menghentikan langkah cepat ku.
Aku melihat Yoga bicara dengan sekretarisnya dan mereka berpisah. Yoga menarik tanganku berjalan ke depan, sudah ada mobilnya disana, dan supir yang ada di dalam langsung Yoga suruh keluar.
" Aku nggak bisa ikut sama kamu Ga, aku harus kembali ke tempat kerja", ucapku sedikit panik, karena Yoga langsung tancap gas menuju ke luar kantor.
" Tapi kita harus bicara Ra, aku baru tahu jika anak kita itu sudah sekolah di SMP, aku mau kamu sedikit bercerita tentang putraku".
" Selama ini aku tidak tahu apa-apa tentang putraku Ra... Aku tidak akan memaksa kamu mengatakan jika aku ayahnya, tapi kamu harus jelaskan kenapa putra kita justru menjadi anak dari orang tuamu?".
Aku tidak kaget jika Yoga akhirnya tahu tentang Shaka, mungkin saja dia menyuruh orang untuk menyelidiki kehidupanku. Dan dia sudah mengetahui fakta jika putraku memanggilku kakak.
Yoga menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Dan menatapku yang sejak tadi sibuk berfikir harus menjelaskan atau tidak pada Yoga.
" Aku tidak akan menjelaskan apapun sama kamu Ga, tidak sekarang ataupun di waktu yang lain, sebaiknya kita kembali ke kantormu sekarang juga Ga, aku harus kembali ke restoran secepatnya, atau Bian akan menyadari aku tidak kembali-kembali sejak tadi".
" Tolong mengertilah posisiku sekarang, aku tidak akan menceritakan sama kamu tentang apapun, karena bagiku, kamu bukan siapa-siapa. Dan kamu tidak berhak menanyakan apapun tentang anakku".
" Jangan mentang-mentang kamu sudah mentransfer uang yang cukup banyak, dan kamu berfikir kamu berhak atas anakku. Aku ibunya, dan hanya aku orang tuanya. Akan aku kembalikan uang yang kamu kirim kemarin, tenang saja semuanya masih utuh dan tidak akan aku pakai sepeserpun".
Aku berusaha membuka pintu mobil Yoga, namun ternyata terkunci.
" Baiklah aku tidak akan bertanya sama kamu, tapi jangan salahkan aku jika aku mencari informasi dengan caraku sendiri", ucap Yoga sambil melajukan kembali mobilnya dan membawaku entah kemana, aku tak asing dengan jalanan ini. Seperti jalan menuju SMP tempat Shaka Sekolah. Jangan bilang Yoga mau mengajakku bertemu dengan Shaka. Tidak, aku tidak mau rahasia yang sudah ku simpan belasan tahun akan terkuak begitu saja.
Aku berusaha menghentikan Yoga yang terus melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sebenarnya aku tidak ingin memberikan penjelasan apapun pada Yoga, tapi aku bingung, aku nggak mau Yoga bertemu dengan Shaka, ini semua membuatku dilema....
" Aku nggak mau ke sekolahan Shaka Ga... dia nggak tahu apa-apa tentang kita, dia hanya tahu kalau aku kakak perempuannya. Sudah belasan tahun aku berusaha menyimpan rahasia ini. Tolong jangan bongkar semua yang sudah ku simpan dengan susah payah. Yoga !, oke kamu mau apa aku turuti, tapi jangan libatkan Shaka !".
Yoga langsung membanting setir ke kiri dan mengerem dengan mendadak. Membuat jantungku hampir copot saking takutnya mendengar decitan ban mobil yang di rem mendadak.