
" Sebenarnya kalian berdua ini kenapa sih?, kok tiba-tiba membahas hal yang aneh seperti itu. Ini semua hanyalah semisal kan?, tidak benar-benar terjadi?. Misal Steve punya anak, misal Raya punya anak, semua cuma misal, jadi kita nggak perlu bersitegang begini".
Utari protes karena suasana di mobil mendadak berubah menjadi menegangkan, sejak tadi Bian dan Yoga saling berdebat, dan memperdebatkan hal yang tak Utari ketahui.
Karena itulah Utari protes, sebenarnya aku juga merasa tidak nyaman dengan perdebatan merek berdua. Ini baru pernah terjadi selama ini. Yoga dan Bian adalah dua sahabat yang paling dekat ketimbang dengan yang lain, mereka berdua benar-benar sudah seperti saudara. Semoga saja tidak ada yang lepas kendali. Aku khawatir mereka membeberkan kebenarannya, dan Utari akan sangat shock mendengar kenyataan yang sangat mengejutkannya.
" Iya itu cuma semisal, jadi kalau suatu saat tiba-tiba kamu mendengar hal seperti itu menjadi sebuah kenyataan, kamu tidak perlu kaget Ri", ujar Bian dengan ketus.
Utari masih tetap bingung dengan perkataan Bian.
" Hidup itu tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan, kadang Tuhan berkehendak lain, apa yang kita mau, belum tentu itu terbaik buat kita, dan yang tidak kita inginkan, justru itulah yang baik untuk kita".
" Jadi apapun yang kelak terjadi di masa depan, semoga kita bisa menerimanya degan hati lapang. Memaafkan semua kesalahan di masa lalu. Agar hidup bisa berjalan lebih indah dan hati menjadi lebih tenang. Karena yang namanya masa lalu itu berarti sudah terjadi, tidak bisa dirubah, seandainya saja ada lorong waktu yang bisa membawa seseorang kembali ke masa lalu, pasti tiap orang punya keinginan untuk kembali ke satu waktu, dimana mereka membuat kesalahan, dan ingin merubah semuanya menjadi lebih baik".
Bian dan Yoga langsung diam saat aku memberanikan diri untuk bicara. Hanya itu yang bisa aku lakukan agar mereka berdua sedikit lebih tenang.
Kini suasana kembali hening, semua terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hujan hanya tinggal menyisakan gerimis saja, sebentar lagi kami sampai di butik. Rasanya perjalanan yang hanya dua jam terasa lebih lama, karena suasana hati kami yang sama-sama kacau.
...🎶Ku jaga hati ini untukmu sampai nanti...
...Ku relakan jiwaku merindu terlalu...
...Kau tinggalkan aku rasa merindu begitu perihnya...
...Merentang malam meredup...
...Aku musafir cinta yang menanti bersama...
...Ku merasakan sepi di keramaian dunia ini...
...Walaupun waktu menjauh ku peluk cintaku yang utuh...
...Walau ku tak sampai padamu...
...Biarlah aku menangggung semua ini...
...Walau sedih menyiksa hati ini...
...Ku patuhi semua suratan ini...
...Walaupun aku jauh dari sempurna...
...Aku tetap menanti sepasang mata...
...Matamu yang penuh cinta...
...Ayat ayat cintaku setia menunggu...
...Bisakah seperti dulu bersujud bersama...
...Ampuni aku oh Tuhan bila hati kecil ini...
...Tak mau pergi dari kenangan dengannya...
...ho hu u u 🎶...
Lagu milik Krisdayanti, mengalun merdu menjadi penghilang sunyi di dalam mobil, hingga mobil sampai di parkiran butik.
_
_
" Makasih buat tumpangannya, apa yang kita lakukan hari ini tidak akan pernah aku lupakan", ucapku saat turun dari mobil. Dan Bian sudah turun lebih dulu karena terlihat sangat muak berada di dalam satu mobil bersama Yoga.
" Kamu pulang lebih dulu saja Ri, aku akan bicara dengan Bian, tidak perlu menungguku, kamu langsung pulang sekarang", perintah Yoga dengan nada tinggi.
Yoga menarik tanganku agar turun, tidak masuk ke mobil Bian. Saat itu Bian sudah duduk di bangku kemudi, dia semakin marah karena melihat sikap Yoga yang menurut Bian bersikap kurang ajar kepadaku.
" Lepasin aku Ga, kamu tahu Bian lagi marah, tapi kamu malah sengaja memancing amarahnya semakin menjadi, jangan kaya anak kecil begini dong Ga, dan lihat Utari masih ada disini, kamu mau membuat nya semakin bingung melihat sikap kamu yang seperti ini?", aku berusaha membujuk Yoga melepaskan aku.
Bian turun dan menutup pintu mobilnya dengan kasar, berjalan penuh amarah menghampiriku yang saat ini masih berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Yoga.
" Lepasin Raya ", Bian menyuruh Yoga melepaskan aku, masih dengan nada yang sedang, tapi Yoga tak mengindahkan ucapan Bian. Yoga masih saja menggenggam tanganku.
" Aku bilang lepasin Raya brengsek!", kini Bian sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya, dengan kasar Bian menarik tanganku yang sedang di genggam Yoga hingga terlepas. Bahkan sampai tanganku berwarna merah, dan terasa sakit.
" Jadi kamu bener-bener mau mengacaukan rencana pernikahanmu besok!, lihat calon istrimu masih disini, apa harus kamu menunjukkan sikap rendahan seperti ini di hadapannya?, sedikit saja pakai hati kamu buat melihat Utari, dia terlalu baik untuk menikah dengan laki-laki brengsek seperti kamu!, sayangnya dia sudah cinta mati sama kamu. Jadi jangan sakiti hatinya dengan bersikap brengsek seperti ini!".
Bian membukakan pintu mobilnya dan memintaku masuk dan duduk di dalam. Namun saat Bian hendak memutar dan masuk ke dalam mobil, suara Yoga menahannya untuk masuk.
" Kamu sendiri kan yang tadi bilang kalau kamu akan merelakan Raya jika Raya lebih memilih laki-laki dari masa lalunya. Lalu kenapa kamu tidak coba bertanya padanya sekarang, dia mau memilih siapa?. Apa kamu khawatir Raya akan meninggalkan kamu?".
Seru Yoga mencoba membuat Bian semakin terbakar emosi. Kenapa semua jadi begini?, harus bagaimana aku sekarang?. Aku semakin bingung.
" Brengsek!, nggak perlu nanya, jelas Raya bakalan milih aku lah, mana mungkin dia akan memilih laki-laki brengsek seperti kamu yang bisanya cuma nyari enaknya saja, dan nggak mau bertanggung jawab setelah meneguk kenikmatannya. Cuma laki-laki brengsek kaya kamu yang bisa ngelakuin hal itu!". Bian semakin lepas kendali dan kini tangannya mencengkeram baju Yoga.
Yoga memang sedikit lebih tinggi dari Bian, tapi bukan berarti Bian itu pendek, mereka sama-sama laki-laki bertubuh tinggi, hanya selisih beberapa senti saja. Hanya saja Yoga sedikit lebih berotot, dibanding Bian yang lebih slim.
Aku tetap duduk didalam mobil, tak berniat untuk keluar. Apalagi mereka berdua sedang sama-sama emosi, dan penyebabnya adalah aku. Jika aku keluar, mungkin mereka berdua kembali menyakiti aku, ini saja tanganku masih sakit karena tadi saling tarik.
Ku telepon Juna agar dia menjemputku, mungkin Bian dan Yoga akan terus berseteru, sampai mereka saling baku hantam, dan babak belur. Baru mereka berdua akan berhenti saling menyindir. Dan kebetulan sekali Juna ternyata sedang berada dekat dari butik, dia sedang nongkrong bersama teman-teman masa SMA nya di kafe yang berada beberapa blok dari butik.
Saat Bian dan Yoga benar-benar mulai baku hantam, aku keluar dari mobil dan berjalan menjauh dari parkiran butik. Biarlah masih ada Utari disana, pasti Utari akan berusaha melerai mereka berdua. Saat ini kesabaranku sudah habis untuk menghadapi tingkah mereka berdua.
Aku berjalan keluar dari butik, dan berjalan menyusuri pinggiran jalan raya. Ku lihat Juna datang membawa motor tanpa memakai mantel, padahal masih gerimis. Juna langsung menghampiriku saat melihat aku melambaikan tangan.
" Kak Bian mana?, kok minta di jemput sama aku sih kak, nggak pulang sama kak Bian?", tanya Juna sambil mengulurkan helm yang dipakainya untukku.
" Kamu aja yang pakai helm, kakak kan bonceng, jadi aman, ada kamu yang jadi pelindung. Bian masih ada urusan yang harus diselesaikan di dalam", jawabku seperlunya.
Aku bisa mendengar suara Utari yang berteriak dari parkiran butik, tapi aku berpura-pura seolah tidak mendengar apa-apa.
" Buruan jalan, sudah mau maghrib, nanti kamu telat berjamaah di masjid", ucapku sengaja bersikap biasa.
Juna juga tak curiga sama sekali, dan tidak menduga jika di balik tembok keliling di samping kami, sedang ada pergulatan hebat, baku hantam antara Bian dan Yoga yang sejak tadi sama-sama sudah berusaha menahan emosi.
***
Aku sampai dirumah tepat saat adzan maghrib berkumandang. Entah Bian dan Yoga sudah berhenti saling memukul dan menyakiti, atau masih saja saling meluapkan emosi mereka masing-masing. Aku lebih memilih kabur, yang mengatakan aku pengecut, memang benar aku pengecut.
Tidak apa kan seorang perempuan menjadi pengecut dan penakut, apalagi jika berada diposisi ku yang menjadi penyebab kedua laki-laki itu berkelahi. Pasti semua akan menyalahkan aku. Siapa lagi yang paling tepat disalahkan jika bukan aku.
" Loh, mana gaun dan kebaya pengantinnya?, kok nggak dibawa pulang Ra?, mama dari siang sudah penasaran pengen liat seperti apa kebaya dan gaun yang akan kamu pakai, malah nggak dibawa pulang, terus ngapain kamu seharian di butik?. Terus, ini baju siapa yang kamu pakai?, seperti baju pantai?", mama langsung mengajukan serentetan pertanyaan.
" Baju masih di mobil Bian ma..., Bian masih di butik, masih ada urusan yang harus dia selesaikan. Jadi mama nggak usah telepon-telepon Bian lagi. Cukup tadi siang mama nelepon Bian. Raya mau sholat maghrib dulu, nanti baru lanjut interogasi nya", ucapku sambil berlalu melewati mama mengambil air wudhu di belakang.
Ku lihat mama mengernyitkan dahinya.
" Apa kamu bilang tadi?, mama nelepon Bian tadi siang?", tanya Mama saat aku selesai maghrib dan keluar dari kamarku.
" Iya, Bian bilang dia ditelepon sama Mama tadi siang, nyuruh raya supaya cepet-cepet balik", ujarku.
Mama langsung menatapku heran, " mama nggak telepon Bian sama sekali, apa mungkin papa yang telepon Bian?, coba mama tanyakan dulu ke papa nanti, lah itu dia orangnya, sudah pulang dari masjid", mama langsung menghampiri papa dan menanyakan padanya apa papa menelepon Bian atau tidak tadi siang. Dan ternyata jawabannya adalah tidak.
Jadi Bian naik ke lantai atas di rumah Yoga bukan karena dapat telepon dari mama, jawaban yang di berikan Bian pada Yoga adalah sebuah kebohongan. Lalu apa yang Bian lakukan di lantai atas rumah Yoga?, mungkinkah dia sengaja menyelidiki rumah itu dan menemukan kamar yang ada banyak foto wajahku?.
Bian mengatakan jika dia mendengar percakapan ku dengan Yoga di ruang tamu, itu berarti dia langsung mencari tahu kebenarannya dan menelepon seseorang. Tapi siapa yang diteleponnya?, aku semakin penasaran.