Healing

Healing
49. Tanggung Jawab



Shaka yang pertama menyambut kepulangan ku bersama Bian, mama langsung mengambil air putih untuk kami berdua, sepertinya sudah tiga hari aku tinggalkan, mama sudah tidak punya uang untuk sekedar membeli teh dan gula pasir. Memang seperti itulah mama, yang tidak pernah mengeluh meski penghasilan papa hanya cukup untuk makan.


Aku duduk dan mengambil lima piring dan sendok di dapur, " Ayo kita makan bareng-bareng, ini Kak Bian sudah beli nasi goreng untuk kita". Ku lihat papa yang baru sampai rumah sedang memarkir motornya, melepas helm berwarna hijau dan juga jaket dengan warna yang sama.


Seperti biasa, Papa mengucapkan salam sebelum masuk, dan kami yang sudah duduk berempat di ruang tamu menjawab salam secara serempak.


" Sudah pulang Ra, baru sampai ya?", tanya Papa saat melihat ransel besar yang masih tergeletak di samping pintu kamarku.


" Iya Pa, baru saja sampai, ayo kita makan bareng pa, Bian beliin nasi goreng pas mau kesini tadi", ujarku, sambil mencium tangan papa, begitu juga dengan Bian yang melakukan hal yang sama.


" Baru pulang Om?, maaf cuma beli nasi goreng, tadi belum sempet makan siang pas di perjalanan dari bandara, jadi nyari makannya senemunya", ucap Bian.


Papa mengangguk menanggapi ucapan Bian, wajah papa nampak sangat lelah setelah seharian narik ojek, usianya yang sudah hampir 50 tahun memang seharusnya sudah tidak narik ojek lagi, karena gampang lelah dan kesemutan, juga masuk angin.


Tapi mau bagaimana lagi, papa tidak mau hanya mengandalkan aku sebagai tulang punggung keluarga. Papa merasa tidak enak jika semua kebutuhan sehari-hari akulah yang mengurusnya.


" Papa cuci tangan dan muka sebentar kebelakang", ucap Papa sambil berjalan masuk.


Mama mengikuti langkah papa masuk kedalam. Sedangkan Shaka terlihat sudah tidak sabar ingin menyantap nasi goreng miliknya yang sudah dibuka bungkusnya.


" Papa lama banget sih cuci tangannya, aku sudah laper banget pengen makan enak nih", gumam Shaka sambil memainkan sendok makan yang sudah di pegangnya sejak tadi.


" Lihatlah putramu Ga... makan nasi goreng yang beli dipinggiran jalan saja dia bilang makan enak. Begitu receh kebahagiaan yang didapatnya", batinku menatap Shaka yang masih memainkan sendoknya.


" Jangan berisik begitu Ka... Papa kan cuma cuci tangan sebentar", gumam Mama untuk menghentikan tingkah Shaka yang sejak tadi berisik memainkan sendoknya.


" Ayo kita makan, dari aromanya, sepertinya enak sekali nasi gorengnya", ucap Papa yang baru keluar dan bergabung duduk di sebelah mama.


Kami makan bersama-sama di ruang tamu, tentu saja Shaka yang paling cepat selesai makannya diantara yang lain. Dia sudah sangat bersemangat sejak awal, karena ternyata hari ini mama hanya masak nasi dan tempe goreng saja.


Wajar Shaka mengatakan makan nasi goreng itu makan enak, karena di rumah, paling-paling tiap hari makan dengan lauk sayur, tempe atau tahu saja.


Usai makan, Bian ikut sholat maghrib berjamaah ke masjid bersama papa dan Shaka, aku Maghrib dirumah, dan berniat mengeluarkan barang-barang bawaan dari dalam ransel. Saat pertama aku membukanya aku tersenyum karena melihat baju baru pemberian Bian untuk orang tuaku dan putraku. Namun saat terus ku keluarkan barang-barang ku, ada beberapa benda lain yang membuatku merasa curiga pada seseorang. Ya pada siapa lagi kalau bukan Yoga.


Ada topi dan baju panjang berwarna krem yang masih baru, seukuran badanku, masih terbungkus plastik dan terlipat rapi di dalam tas. Aku tidak merasa membelinya bersama Bian, dan ini juga bukan pemberian Bian, karena itu pikiranku langsung tertuju pada Yoga.


Saat aku selesai memisah pakaian kotor yang harus di bawa ke belakang, dengan pakaian bersih yang masih terbungkus rapi di kemasan plastiknya. Aku memilih menyimpan terlebih dahulu baju dan topi berwarna krem itu. Bukan apa, aku hanya ingin memastikan terlebih dahulu, itu dari siapa, dan aku tidak mau Bian melihat barang-barang itu.


Dreeeet.....


Ponselku bergetar dan ada beberapa foto masuk dari nomor baru, ternyata itu nomor Yoga, dia mengirimkan foto saat aku berada di atas batu dengan background bintang bertaburan. Ternyata Yoga benar-benar mengirimkan foto ini.


Ku dengar suara Shaka yang bercanda dengan Bian sepulang dari masjid. Ku letakkan ponselku di atas meja rias yang ada di dalam kamar. Lalu ku bawa ke belakang pakaian kotor yang besok hendak ku cuci.


" Nggak papa kan kalau Kak Raya tinggalnya di rumah mas Bian?, Shaka juga boleh ikut kalau Shaka mau".


Aku sempat mendengar kalimat Bian pada Shaka. Saat aku keluar, kulihat Shaka sedang menggelengkan kepalanya.


" Aku mau tinggal sama Mama dan Papa saja disini, meski rumahnya sempit, tapi Shaka betah tinggal disini, karena ini rumah mama dan papanya Shaka".


" Makanya sekolah dan belajar yang rajin, biar pinter, nanti kakak bantu biayaain sampai ke perguruan tinggi, biar kamu punya bekal ilmu yang banyak, bisa membuka usaha sendiri, atau bekerja di perusahaan besar", ucapku menyemangati Shaka.


Aku tahu Shaka pasti tidak mau ikut tinggal denganku, karena memang dia hanya menganggap aku kakak perempuannya, seperti tetangga lain yang punya kakak perempuan yang akan menikah dan dibawa pergi oleh suaminya. Sebagai adik Shaka tidak mungkin ikut bersama kakak perempuannya. Yang ada Shaka akan tetap tinggal disini bersama mama dan papa.


Karena itulah... niatku meski nantinya aku sudah menikah, aku ingin tetap bekerja di restoran, supaya aku tetap berpenghasilan, dan bisa membiayai Shaka sampai dia sekolah setinggi-tingginya. Aku tidak mau Shaka menjadi beban hidup kedua orang tuaku, meski nantinya Shaka akan tetap tinggal bersama mama dan papa, tapi aku yang akan mencukupi semua kebutuhan hidupnya.


" Tentu saja kak Raya, kan Shaka memang pinter, buktinya tiap tahun Shaka selalu dapat rangking pertama. Pasti karena turunan dari mama dan papa, ya kan ma?", Shaka langsung meminta persetujuan dari mama yang keluar dari dapur sambil membawa pisang kukus yang uapnya masih mengepul, tanda masih panas, dan juga teh manis hangat.


Aku yang membeli gula dan teh di warung tadi sebelum aku sholat maghrib, sekalian membeli satu sisir pisang kapok untuk teman ngeteh. Aku tahu Bian tidak akan langsung pulang, karena seperti kata Riko, Bian sudah seperti ekorku yang selalu mengikuti kemana aku pergi.


" Shaka pinter karena rajin belajar, mama dan papa itu nggak pinter-pinter amat, jarang juara kelas juga, nggak seperti Shaka sekarang, makanya kita nggak jadi orang kaya, coba kalau mama dan papa pinternya kayak Shaka, pasti Shaka nggak akan hidup susah seperti sekarang ini. Maaf ya sayang, mama dan papa nggak bisa membahagiakan kamu. Kami hanya bisa berusaha semampu kami, tapi ya memang cuma segitu hasilnya".


Ucapan mama membuatku merasa tak enak hati karena ada Bian di sini, tapi Bian menyikapinya dengan santai dan biasa-biasa saja.


" Diminum tehnya, maaf cuma ditemani pisang rebus, mama tinggal ke dalam dulu ya Bi, ayo Shaka juga masuk, kan Shaka belum belajar", ajak mama sambil merangkul Shaka ke dalam rumah. Kini tinggal aku dan Bian di ruang tamu.


" Maaf ya Bi.... Mama malah jadi curhat pas lagi ada kamu disini", ucapku merasa nggak enak pada Bian.


" Nggak papa, justru aku senang karena mama sudah bersikap terbuka seperti itu saat ada aku, toh sebentar lagi aku jadi suami kamu, berarti aku juga jadi anak mama, jadi memang sebagai ibu dan anak, sebaiknya tidak ada yang di rahasiakan".


Kalimat Bian sungguh bijaksana, kenapa ada laki-laki sebaik Bian, terimakasih ya Rabb telah menghadirkan Bian dalam hidupku. Entah mengapa aku selalu merasa bersyukur karena Bian yang akan menjadi calon imamku.


***


Pagi tiba, semalam Bian pulang dari rumahku jam 9. Tentu dengan sedikit drama karena enggan pergi. Tapi aku punya cara ampuh untuk menyuruhnya pulang.


Aku janjikan hari jumat besok, saat aku libur kerja, kami berdua akan mendaftarkan pernikahan kami ke kantor KUA. Aku menyuruh Bian cepat pulang dan mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan.


Dan esok harinya Bian sampai dirumah pagi-pagi sekali, menjemputku berangkat ke restoran sudah dengan membawa beberapa surat-surat penting yang akan menjadi persyaratan pernikahan kami.


Tak ku sangka sebegitu antusiasnya dia untuk mendaftarkan pernikahan kami, semalam papa baru bilang apa saja persyaratan yang diperlukan dan paginya Bian sudah membawa semua berkas yang diperlukan.


Aku sampai tertawa sendiri melihat sikap Bian yang sangat gerak cepat.


" Sini biar aku simpan di kamarku dulu, kita kerumah pak RT dan pak RW nya nanti sepulang kerja. Sudah 3 hari aku tidak berangkat, nanti gajihku bisa dipotong terlalu banyak sama bosnya", candaku sambil mengambil berkas yang ada di tangan Bian dan menyimpannya di atas meja rias yang ada di kamarku.


" Tenang saja Ra... kalau bos kamu motong gajinya terlalu banyak, nanti aku kasih ganti rugi kekurangan gajih kamu, kan aku yang ngajakin kamu ikut pendakian ke Rinjani, jadi aku bakalan tanggung jawab".


Aku langsung tertawa mendengar perkataan Bian.


Hari ini Bian membawa mobil karena cuaca mendung, khawatir hujan saat di jalan, apalagi dia membawa surat-surat penting sebagai persyaratan pendaftaran pernikahan kami.


Kami harus berjalan menuju mobil, keluar dari gang kecil yang menuju rumahku.


Ada pesan WhatsApp masuk lagi dari nomor Yoga, tapi sengaja belum aku buka. Hanya ku intip dari layar ponselku dan kembali kumasukkan ponsel kedalam tas. Aku tidak mau Bian penasaran dan mengecek pesan-pesan yang masuk, karena aku belum sempat membersihkan pesan dari Yoga semalam dari ponselku.


" Silahkan masuk tuan putri", ucapan Bian membuat aku yang sedang mematikan ponsel jadi tersentak, karena ternyata dia membukakan pintu mobil untukku. Ku ucapkan terimakasih sambil menarik resleting tas yang kubawa agar ponselku aman.