E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 95 - Penyergapan



...- Wilayah Iblis -


...


Dalam sebuah hutan di sebelah sungai yang cukup lebar namun dangkal itu, sekitar 3.000 prajurit sedang bersembunyi di dalamnya.


Sekitar 500 diantaranya merupakan prajurit jarak dekat dengan senjata tombak dan perisai. Sedangkan sisanya yaitu 2.500 prajurit merupakan pemanah.


Semuanya menunggu dalam diam. Memperhatikan barisan Iblis yang berjalan untuk melewati sungai itu.


"Masih belum dalam jangkauan. Tunggu sebentar lagi." Ucap Feris kepada komandan yang ada di sebelahnya. Ia terlihat mengangkat tangan kanannya, menandakan untuk pasukan tetap diam.


Beberapa saat berlalu.


Dan tepat setelah sebagian besar dari legiun iblis itu memasuki sungai....


'Sreett!'


Feris mengayunkan lengannya ke bawah. Menandakan semua pemanah untuk menembak. Secara bersamaan, ribuan anak panah melesat dengan cepat, menembus dedaunan di hutan itu dan mengarah tepat ke arah legiun iblis.


Dalam sekejap, sebagian besar dari semua panah itu menancap di tubuh parah Iblis. Sebagian kecil yang terkena di bagian tubuh vital mereka terlihat mulai tergeletak. Sedangkan para komandan Iblis itu nampak panik atas apa yang sebenarnya terjadi.


"Varas dur? Goshak rug varas!" Teriak komandan Iblis itu dengan bahasa yang sama sekali tak bisa dipahami oleh manusia.


Tapi semua pasukan iblis memahaminya dan segera mengangkat perisai kayu mereka ke atas.


'Syyuuuttt!!!'


Gelombang kedua dari tembakan panah itu telah melesat dan mengarah ke barisan yang sama.


Tapi kali ini, para Iblis itu sudah siap dan sebagian besar dari mereka mampu menahannya dengan perisai kayu itu.


'Jleeb! Klukk! Kretaakk!'


Suara anak panah yang menancap ke perisai kayu itu terdengar cukup membisingkan. Beberapa perisai nampak menerima terlalu banyak serangan hingga patah.


Sedangkan beberapa yang lain bahkan terlihat tidak menerima satu pun panah.


Dari dalam hutan, Feris masih terdiam. Berusaha untuk memilah dari seluruh iblis itu, mencari sosok yang bisa dikatakan sebagai pimpinan utama.


'Cih, ras mereka terlalu beragam hingga sulit untuk membedakan mana bawahan dan atasan.' Keluh Feris dalam hatinya sambil terus melihat ke arah barisan pasukan iblis yang masih sejauh ratusan meter itu.


Memang benar bahwa legiun iblis ini tersusun atas berbagai ras. Pada barisan depan, terlihat goblin dengan tubuh yang kecil dan senjata yang buruk berlari menyusuri sungai itu dengan cukup mudah.


Di sisi lain, serigala dengan tubuh yang setinggi manusia itu juga berlari kencang sambil ditunggangi oleh Orc.


Tak hanya itu, monster dengan tubuh setinggi 6 meter terlihat berjalan dengan lambat. Tubuhnya terlihat dipenuhi dengan rantai sedangkan pada bagian kepalanya, sosok iblis berbadan kecil terlihat seakan sedang mengendalikannya seperti seekor kuda.


Mencari pemimpin dari legiun ini dalam situasi seperti ini sangatlah mustahil. Bahkan dengan penglihatan Feris sekalipun.


Oleh karena itu....


Saat ini....


"Nona Feris, kita akan kehabisan anak panah sekitar 8 tembakan lagi." Ucap komandan yang ada di sebelahnya.


Feris yang sedari tadi masih sibuk dengan dirinya sendiri mulai kembali ke dunia nyata.


"Tak masalah. Lanjutkan tapi sisakan 1 anak panah dan kita akan melanjutkannya ke tahap berikutnya." Balas Feris singkat dengan wajah yang terlihat sedikit kesal.


"Baik, Nona Feris." Balas komandan itu yang dengan segera memberikan perintah itu kepada beberapa kapten lainnya yang saat ini sedang bersamanya.


'Syyyuuutt!! Syuuttt!!'


Pasukan Feris terus menerus menembakkan anak panah dari balik perlindungan hutan ke arah para iblis yang berada di tempat terbuka itu. Tanpa adanya perlindungan selain perisai di tangan kiri mereka.


Dan kini, setelah tepat 29 tembakan anak panah, Feris segera berteriak dengan sekuat tenaga.


"Semuanya! Mundur secepat mungkin! Divisi tombak! Jangan lupakan apa yang harus kalian lakukan!"


Feris beserta beberapa komandan lainnya nampak mulai menunggangi kuda mereka.


Suara teriakannya kemudian diulangi oleh beberapa kapten dari tiap divisi yang mendengarnya. Tak berselang lama, pasukan di bawah komandan Feris itu segera berlari mundur.


Para Iblis yang melihat mereka dengan cepat mengejarnya. Mengetahui bahwa jumlah mereka jauh lebih unggul.


'Sruuugg! Srruugg!'


Pengejaran yang terjadi di dalam hutan ini cukup mengerikan. Pada baris depan, Feris dan para komandan serta divisi pemanah telah berlari sekuat tenaga.


Sedangkan divisi tombak masih berada di belakang. Mereka nampak menebar suatu bubuk dengan warna kekuningan di berbagai tempat. Bahkan jumlahnya sangat banyak.


Tapi karena itulah, pergerakan mereka menjadi sedikit melambat. Mereka kini mulai terkejar oleh para Orc penunggang serigala yang membantai mereka satu per satu dengan kapak besarnya.


"Tidak!"


"Komandan!"


"Siapapun bantu aku!"


Feris yang berada di garis depan mulai memperhatikan kekacauan yang terjadi di belakangnya.


Dengan kata lain, tombak.


Akan tetapi....


'Cih, pasukan dari luar benteng selalu seperti ini.' Pikir Feris dalam hatinya.


Apa yang dimaksudkan olehnya adalah kenyataan bahwa mereka memiliki mental yang lemah dan mudah panik.


Sebenarnya, jika mereka melihat barisan penunggang serigala itu datang, mereka bisa membentuk formasi tombak dan mencegah para serigala itu untuk menembus pertahanan mereka.


Terlebih lagi di dalam hutan yang cukup lebat ini, pasukan penunggang sedikit lebih dirugikan karena medan yang buruk.


Bahkan Feris sendiri sudah memberitahukan mereka mengenai strategi itu.


Hanya saja....


Ketika mental sudah melemah dan kepanikan telah menguasai, pasukan yang masih baru itu takkan bisa bereaksi sesuai dengan yang diharapkan.


Yang terjadi di sana hanyalah pembantaian dengan sebagian besar prajurit yang lari karena rasa takut. Meninggalkan rekannya dimana hal itu semakin mengacaukan barisan mereka.


"Kalian lanjutkan rencananya. Aku akan menahannya disini." Ucap Feris yang segera berhenti dan turun dari kudanya.


"Tapi Nona Feris! Itu terlalu...."


"Kalau begitu 3 orang tinggal di sini dan bantu aku. Sisanya lanjutkan rencana." Balas Feris memotong perkataan komandan itu.


Tanpa sedikit pun keraguan, komandan itu beserta dua bawahannya segera turun dari kudanya dan memutuskan untuk tinggal. Menahan serangan iblis itu dengan Feris.


"Kalian semua! Dengarkan perintah Nona Feris! Tepat setelah kalian berada di posisi, segera tembakkan panah terakhir kalian dengan api!" Teriak komandan itu.


Beberapa kapten terlihat menganggukkan kepala mereka dan menyebarkan informasi itu pada sekitarnya.


Dan kini....


Feris terlihat berdiri dengan tenang di padang rumput yang luas ini. Berdiri bersama dengan 3 orang pria berzirah besi tebal. Sedangkan dirinya sendiri masih mengenakan seragamnya yang biasa.


Di kejauhan, tepatnya di bagian terluar dari hutan itu, terlihat puluhan prajurit berlari ketakutan. Mereka bahkan terlihat telah membuang senjatanya dan tak lagi bisa bertahan dari pembantaian Orc penunggang serigala itu.


Dengan ayunan kapak yang besar itu, para Orc penunggang kuda dapat dengan mudah memenggal kepala pada prajurit itu.


"Pemandangan yang sungguh buruk." Ucap komandan itu sambil mempererat genggamannya pada pedang di pinggangnya itu.


Dua bawahannya terlihat telah mengangkat perisai dan tombak mereka. Sedangkan Feris sendiri....


"Hanya sekitar 50 penunggang serigala. Jika mereka berbaris dengan baik maka ini takkan terjadi." Balas Feris singkat.


"Prajurit dari wilayah di luar kastil Eastfort memang tak bisa diharapkan, sama seperti dengan prediksi Anda."


Kini, beberapa penunggang serigala nampak mulai mendekat. Tiga orang itu telah mempersiapkan senjata dan perisai mereka.


Tapi Feris hanya berdiri dengan tenang. Bahkan sama sekali tak menyentuh pedang yang ada di pinggang kirinya.


"Grrooaaaarr!!!"


"Vatum!" Teriak Orc itu yang entah apa artinya sambil mengayunkan kapaknya ke arah leher Feris.


Meski tepat berada di ujung maut, Feris tetap tenang. Bahkan komandan dan 2 prajurit itu sudah mulai panik.


Dalam sekejap....


'Sreeettt! Blaaarrr!!!'


Feris menarik lengan kanan Orc dengan tubuh yang besar itu lalu membantingnya di tanah. Sedangkan serigala yang ditungganginya masih terus berlari melewati barisan Feris dan bawahannya.


Dengan tatapan yang masih datar dan juga dingin, Feris menginjak dada Orc itu sebelum menarik lengan kanannya sekuat tenaga.


'Sraaakk! Kraaakk!'


"Gaaaaahh!!!'


Lengan besar dan berotot itu seakan putus dengan mudah. Membuat Orc itu merasakan rasa sakit yang luarbiasa.


Tak berhenti di sana, Feris mengambil alih kapak besar Orc itu dan segera memenggal leher Orc yang telah terbaring lemas di tanah.


'Zraaasshh!'


Komandan dan dua prajurit itu benar-benar terkejut. Mereka sama sekali tak tahu bahwa Feris bisa melakukan pertarungan jarak dekat sebaik ini. Bahkan melampaui Orc dengan mudah, yang selalu dikenal sebagai ras dengan fisik yang sangat kuat.


"Hmm.... Ini buruk, tapi sudah cukup untuk memburu sisanya." Ucap Feris sambil memandangi kapak besar itu.


Dalam pikiran sang komandan, Ia mulai bertanya-tanya.


Siapa sosok yang sebenarnya dari Feris ini? Bukankah dia dikenal tak pernah bertarung? Bukankah dia seharusnya hanyalah sosok pemikir yang butuh perlindungan?


Lalu....


Kenapa Ia sama sekali tak menarik pedangnya?